Bacaan: Matius 16 : 21 – 28 | Pujian: KJ. 372
Nats: “Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah, Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Ayat 23)
Tuntutan dunia yang serba cepat dan budaya zaman sekarang yang serba instant pada akhirnya menumbuhkan sifat tidak sabar pada diri manusia. Segala sesuatu dilakukan secara terburu-buru tanpa ada pertimbangan yang matang. Karena itu, ungkapan bijak “berpikir sebelum bertindak” perlu diserukan kembali agar manusia lebih sabar, berhati-hati dalam memilih, dan mempertimbangkan segala sesuatunya dengan bijaksana, sebelum melakukan sebuah tindakan agar tidak ada penyesalan di akhir.
Bacaan kita memperlihatkan situasi yang tragis, dimana Petrus yang baru saja dipuji Yesus dengan menyebutnya sebagai “batu karang” kini menjadi “batu sandungan”. Sikap dan pikiran Petrus dalam merespons pernyataan Yesus tentang penderitaan-Nya justru mengarah Petrus pada pikiran manusia. Petrus sedang menggumuli keyakinannya bahwa Yesus adalah Mesias yang tidak akan mengalami penderitaan, sebab Dialah yang akan membebaskan bangsa Yahudi. Maka mustahil jika Yesus akan mengalami penderitaan. Karena tidak berhati-hati dalam merespons, justru pikiran dan tindakan Petrus ini menciptakan jurang antara kehendak Allah dengan manusia. Dalam percakapan Yesus bersama para murid, Yesus menekankan kembali bahwa mengikuti-Nya berarti ia harus menyangkal diri, memikul salib, bahkan kehilangan nyawanya (Ay. 25-26). Ini semua adalah cara Yesus mengajar para murid-Nya untuk memahami bagaimana misi Allah dinyatakan bagi manusia.
Kisah Petrus bersama Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk lebih berhati-hati dalam berpikir. Bukan hanya dengan menghindari pikiran negatif saja tetapi kita berupaya menjaga pikiran kita agar seturut dengan kehendak Allah. Memang benar, situasi kehidupan di dunia saat ini dapat mempengaruhi pikiran, emosional, bahkan tindakan kita. Untuk merespons situasi dan kondisi dunia yang meresahkan saat ini, kita perlu membentengi diri kita dengan pikiran dan tindakan yang positif agar diri kita tidak menjadi batu sandungan. Mari kita memusatkan hati dan pikiran kita hanya tertuju pada Kristus. Kita terus belajar menyangkal diri dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan Yesus agar kita mampu berjalan seturut dengan kehendak-Nya. Amin. [YN].
“Kristus adalah pusat kendali pikiran, tindakan dan kehidupan kita.”