Minggu Biasa 7 | Syukur Yk
Stola Hijau
Bacaan 1: Yesaya 65 : 1 – 9
Mazmur: Mazmur 22 : 20 – 29
Bacaan 2: Galatia 3 : 23 – 29
Bacaan 3: Lukas 8 : 26 – 39
Tema Liturgis: Memperjuangkan Kesehatan yang Utuh
Tema Khotbah: GKJW Sehat, GKJW Menjadi Berkat
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 65 : 1 – 9
Kitab Yesaya ditulis pada abad ke-8 hingga ke-7 SM, pada masa pemerintahan raja-raja Yehuda, seperti Uzia, Yotam, Ahaz dan Hizkia. Yesaya adalah seorang nabi yang hidup di Yerusalem dan mengalami berbagai perubahan politik dan sosial di kerajaan Yehuda. Pada masa itu, Yehuda menghadapi ancaman dari kerajaan-kerajaan besar seperti Asyur dan Babilonia. Ada ketidakstabilan politik dan spiritual di kerajaan, serta korupsi dan penyembahan berhala di kalangan rakyat.
Dalam pasal 65:1-9, pesan Tuhan menggambarkan penghukuman terhadap ketidaktaatan dan penyembahan berhala dari umat-Nya. Namun, dibalik penghukuman itu, ada janji pemulihan dan keberhasilan untuk sisa umat-Nya yang setia. Secara keseluruhan, Yesaya 65 berisi gambaran tentang waktu akhir dan pemulihan yang akan datang. Tuhan menegaskan bahwa Dia telah berusaha menyampaikan firman-Nya, tetapi mereka seringkali menolak dan tidak taat. Namun, ada harapan untuk sisa umat yang setia yang akan mengalami berkah dan pemulihan.
Galatia 3 : 23 – 29
Surat Paulus kepada jemaat di Galatia ini ditulis oleh Rasul Paulus sekitar tahun 48-55 M. Surat ini ditujukan kepada jemaat-jemaat di wilayah Galatia, yang terdiri dari daerah-daerah di Anatolia (sekarang bagian dari Turki). Paulus mendirikan gereja-gereja di Galatia selama perjalanan misinya (bdk. Kis. 13-14). Setelah Paulus meninggalkan Galatia, beberapa pengajar palsu datang dan mengajarkan bahwa orang-orang Kristen harus mematuhi hukum Taurat (hukum Yahudi) untuk diselamatkan. Hal ini menimbulkan kebingungan di antara jemaat tentang hubungan antara iman dan hukum.
Dalam perikop ini, Paulus menjelaskan bahwa hukum Taurat berfungsi sebagai pengawal yang membawa umat manusia kepada Kristus. Hukum itu tidak dapat menyelamatkan, tetapi mengarahkan orang untuk memahami kebutuhan mereka akan Kristus. Paulus menjelaskan bahwa sebelum datangnya iman, manusia berada di bawah pengawasan hukum Taurat yang bertindak sebagai “penuntun” (dalam bahasa Yunani, παιδαγωγός “paidagogos”). Namun, setelah iman datang, mereka tidak lagi perlu berada di bawah pengawasan hukum itu, karena Kristus telah datang untuk memberikan jalan keselamatan yang baru dan universal.
Lukas 8 : 26 – 39
Lokasi peristiwa ini adalah di daerah yang disebut Gerasa atau Gadara, bagian dari wilayah Dekapolis. Dekapolis adalah konfederasi dari sepuluh kota yang sebagian besar dihuni oleh orang-orang non-Yahudi (Gentiles) dan terletak di sebelah timur Sungai Yordan. Ini adalah wilayah yang cukup Hellenistik, dipengaruhi oleh budaya Yunani-Romawi. Kehadiran kawanan babi menunjukkan bahwa wilayah ini mungkin dihuni oleh orang-orang non-Yahudi, karena babi adalah hewan haram menurut hukum Yahudi.
Orang yang kerasukan dalam kisah ini digambarkan sebagai orang yang sangat menderita dan diasingkan dari masyarakat. Dia tinggal di kuburan, ini menunjukkan tingkat penderitaannya dan keterasingannya dari masyarakat yang lebih luas. Dalam tradisi Yahudi, roh jahat atau setan sering dikaitkan dengan penderitaan fisik dan mental. Kisah ini menunjukkan kekuasaan Yesus atas kekuatan-kekuatan jahat yang dianggap mengendalikan dunia ini. Ketika Yesus berhadapan dengan orang yang kerasukan, roh-roh jahat mengenali-Nya sebagai Anak Allah dan memohon agar tidak disiksa. Ini menegaskan identitas ilahi Yesus dan kekuasaan-Nya atas roh-roh jahat. Mukjizat ini menunjukkan bahwa kuasa penyelamatan Yesus tidak terbatas hanya pada orang Yahudi, tetapi juga menjangkau orang-orang non-Yahudi. Setelah disembuhkan, orang yang sebelumnya kerasukan setan ini ingin mengikuti Yesus, tetapi Yesus memerintahkannya untuk kembali ke rumah dan menceritakan apa yang telah terjadi kepadanya, yang juga menunjukkan bahwa keselamatan harus disaksikan kepada semua orang.
Masyarakat setempat merasa ketakutan dan meminta Yesus untuk meninggalkan wilayah mereka. Ini mungkin disebabkan oleh hilangnya kawanan babi, yang merupakan sumber penghasilan mereka, atau karena ketakutan akan kuasa yang baru saja mereka saksikan. Meskipun orang-orang setempat menolak Yesus, orang yang disembuhkan tersebut menjadi saksi bagi mereka, menyebarkan berita tentang kuasa Yesus di wilayah non-Yahudi.
Lukas 8:26-39 menggambarkan kuasa Yesus atas roh-roh jahat dan menegaskan bahwa misi-Nya melampaui batas-batas etnis dan geografis. Kisah ini menunjukkan bahwa kuasa penyelamatan Yesus tersedia bagi semua orang, termasuk mereka yang berada di luar komunitas Yahudi. Ini adalah bagian dari narasi yang lebih besar tentang Yesus sebagai Mesias yang membawa penyelamatan dan pembebasan dari segala bentuk penindasan, baik fisik, spiritual, maupun sosial.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Ketiga teks ini bersama-sama menekankan bahwa Allah menawarkan keselamatan dan pembaruan kepada semua orang tanpa memandang latar belakang mereka. Yesaya menunjukkan bahwa Allah merindukan hubungan dengan semua orang, bahkan mereka yang awalnya tidak mencari-Nya. Galatia menegaskan bahwa dalam Kristus, semua orang dapat menjadi satu dan menerima warisan keselamatan. Lukas menampilkan kuasa penyelamatan dan pembebasan Yesus yang mencapai mereka yang dianggap terbuang atau terbelenggu oleh kekuatan jahat. Secara keseluruhan, ketiga bagian ini mencerminkan inklusivitas dan universalitas keselamatan Allah yang merangkul semua orang dan memanggil mereka untuk diperbarui dan disatukan dalam kasih-Nya.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Bayangkan ada sebuah gereja kecil di sebuah desa yang sangat unik. Gereja ini sangat istimewa karena anggotanya bukan hanya manusia, tetapi juga beberapa hewan. Setiap hari Minggu, warga desa dan hewan-hewan ini berkumpul untuk kebaktian. Di sana, ada Pak Sapi yang selalu datang lebih awal untuk memastikan lonceng gereja berbunyi tepat waktu. Ibu Ayam bertugas mengumpulkan persembahan, dan dia selalu mengumpulkan dengan teliti, memastikan semua koin disimpan dengan baik di keranjang. Kambing Kecil yang sangat suka bermain selalu bertugas mengatur kursi, meskipun kadang dia terlalu asyik bermain sampai kursinya tertata miring. Namun, semua orang di gereja ini menerimanya dengan senyuman.
Suatu hari, si Kucing merasa gereja mereka perlu lebih sehat. Dia berpikir, “Kalau gereja ini mau jadi berkat, kita harus bekerja sama dengan lebih baik!” Jadi, Kucing mulai berbicara dengan teman-temannya. Dia berkata kepada Pak Sapi, “Pak Sapi, bagaimana kalau kita berbagi tugas? Kamu bisa membantu Kambing Kecil dengan kursi, agar lebih rapi.” Pak Sapi setuju. Dia mulai membantu Kambing Kecil dan ternyata kursi-kursi jadi tertata dengan rapi setiap Minggu. Ibu Ayam juga setuju untuk berbagi tugas dengan si Kucing, jadi persembahan tidak hanya dikumpulkan, tetapi juga dihitung dengan teliti dan disampaikan kepada mereka yang membutuhkan.
Minggu berikutnya, kebaktian berjalan lancar dan semua terlihat lebih rapi. Pendeta gereja, seekor burung hantu bijaksana, memperhatikan perubahan ini. Dia berkata, “Lihatlah, ketika kita bekerja sama, gereja kita menjadi lebih sehat. Dan karena kita lebih sehat, kita bisa menjadi berkat yang lebih besar bagi semua orang!” Semenjak itu, gereja kecil di desa itu menjadi tempat dimana manusia dan hewan hidup rukun, saling membantu, dan bekerja sama. Mereka tidak hanya merasakan berkat di antara mereka sendiri, tetapi seluruh desa juga ikut merasakan sukacita dan berkat dari gereja tersebut.
Isi
Setiap gereja dipanggil untuk menjadi komunitas yang sehat, dimana setiap anggotanya mengalami kasih dan pertumbuhan rohani, serta menjadi berkat bagi orang lain. GKJW begitu juga Yayasan Kesehatan (YK) GKJW yang sehat adalah gereja (selanjutnya dapat juga dibaca organisasi YK GKJW) yang dipulihkan oleh kasih Kristus dan hidup dalam panggilan-Nya untuk membawa perubahan di dunia. Dari ketiga ketiga bacaan Alkitab hari ini, kita dapat belajar tentang ciri-ciri gereja yang sehat dan bagaimana gereja dapat menjadi berkat bagi dunia.
- Gereja Sehat adalah Gereja yang Terbuka untuk Semua Orang (Yes. 65:1-9)
Yesaya 65:1-2 menggambarkan Allah yang mencari umat-Nya, bahkan ketika mereka tidak mencari-Nya. Ini adalah gambaran dari gereja yang sehat, dimana gereja harus menjadi tempat yang terbuka bagi semua orang, tidak peduli latar belakang atau status mereka. Ayat 8-9 menunjukkan bahwa meskipun ada yang memberontak, masih ada sisa umat yang setia dari mereka, Allah akan memulihkan dan memberkati mereka. Gereja sehat harus fokus pada pemulihan, bukan penghakiman, menjadi komunitas yang meneguhkan dan membangun, bukan yang eksklusif. Sebagai gereja atau organisasi, GKJW maupun YK GKJW dipanggil untuk menjadi komunitas yang inklusif, yang merangkul semua orang dan menuntun mereka kepada Allah. GKJW juga YK GKJW harus menghapus batasan-batasan yang memisahkan dan membuka diri untuk menjadi rumah bagi semua orang yang mencari Tuhan. - Gereja Sehat adalah Gereja yang Bersatu dalam Kristus (Gal. 3:23-29)
Galatia 3:26-28 menegaskan bahwa dalam Kristus, kita semua adalah anak-anak Allah. Tidak ada lagi perbedaan antara Yahudi atau Yunani, budak atau orang merdeka, laki-laki atau perempuan. Semua adalah satu di dalam Kristus. GKJW yang sehat adalah GKJW yang menekankan kesatuan dalam Kristus, di mana perbedaan dihargai namun tidak memecah-belah. Kesatuan ini adalah pondasi bagi GKJW yang bisa menjadi berkat karena dalam kesatuan, kita dapat bekerja bersama untuk tujuan yang lebih besar. GKJW harus menjaga kesatuan dalam gereja dengan saling mengasihi dan menghargai perbedaan. Gereja yang terpecah tidak bisa menjadi berkat, tetapi gereja yang bersatu dapat mencapai hal-hal besar dalam nama Kristus. - Gereja Sehat adalah Gereja yang Membawa Pembebasan dan Pemulihan (Luk. 8:26-39)
Lukas 8:26-39 menceritakan kisah Yesus yang membebaskan seorang pria dari roh-roh jahat. Ini menunjukkan bahwa gereja sehat adalah gereja yang terlibat dalam pelayanan pembebasan dan pemulihan bagi mereka yang terbelenggu. Yesus tidak hanya membebaskan pria itu, tetapi juga mengutusnya untuk menjadi saksi bagi orang-orang di sekitarnya. GKJW yang sehat tidak hanya fokus pada penyembuhan internal, tetapi juga memberkati dan membawa pemulihan ke dunia di sekitarnya. GKJW harus aktif dalam pelayanan yang membawa pemulihan, baik secara fisik, mental, maupun spiritual. Ini bisa melalui program-program pelayanan, konseling, atau dukungan bagi mereka yang sedang mengalami penderitaan. Dengan cara ini, GKJW menjadi saluran berkat bagi dunia.
Penutup
Belajar dari ilustrasi gereja margasatwa di atas, gereja yang sehat adalah gereja di mana semua anggotanya, dengan berbagai karunia dan kemampuan mereka, bekerja sama untuk tujuan yang lebih besar. Ketika kita saling membantu dan mendukung, kita tidak hanya menjadi lebih kuat sebagai komunitas, tetapi juga menjadi berkat yang lebih besar bagi dunia di sekitar kita.
Yayasan Kesehatan (YK) GKJW dan GKJW (MA) yang sehat adalah organisasi dan gereja yang terbuka bagi semua orang, bersatu dalam kasih Kristus, dan aktif membawa pembebasan serta pemulihan bagi dunia. Ketika organisasi kesehatan dan gereja hidup dalam panggilan ini, ia akan menjadi berkat, tidak hanya bagi anggotanya tetapi juga bagi masyarakat luas. Marilah kita terus membangun YK GKJW dan GKJW menjadi komunitas yang sehat, di mana kasih Kristus nyata dan membawa perubahan yang berdampak positif bagi dunia di sekitar kita. Amin. [tes].
Pujian: KJ. 58 : 1, 2 Mahakasih Yang Ilahi
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Ing sawijining dusun alit, wonten greja ingkang benten kaliyan sanesipun. Greja punika gadhah warga pasamuwan mboten namung manungsa, nanging ugi sato kewan. Saben dinten Minggu, warga dusun saha sato kewan punika ngempal mangun pangabekti. Ing ngriku, wonten Pak Sapi ingkang tansah dugi ngrumiyin kangge mratelakaken lonceng greja mungel pas wancinipun. Ibu Ayam kajibah ngempalaken pisungsung, saha niti priksa kanthi teliti, sadaya kasimpen kanthi primpen ing kranjang. Mendha alit kang remen sanget dolanan, kajibah mranata kursi, senadyan asring miring barisan kursinipun. Nanging, sadaya priyantun ing greja punika nampi ayahanipun kanthi eseman.
Ing sawijining dinten, si Kucing rumaos greja punika kedah langkung sehat. Kucing mbatin, “Menawa greja iki arep dadi berkat, kudune kabeh wong nyambut gawe luwih tumemen!”. Dados, Kucing milai cecaturan kaliyan rencang-rencangipun. Kucing matur dhateng Pak Sapi, “Pak Sapi, pripun menawi kita andum peladosan? Panjenengan saged mbiyantu Mendha Alit mranata kursi, supados langkung tata.” Pak Sapi sarujuk. Pak Sapi milai mbiyantu Mendha Alit lan kasunyatan kursi-kursi dados langkung tata saben Minggu. Ibu Ayam ugi sarujuk andum peladosan kaliyan si Kucing, dados pisungsung mboten namung dipun kempalaken, nanging ugi dipun etang kanthi teliti saha dipun andum kangge sinten kemawon ingkang mbetahaken. Minggu salajengipun, pangabekti kalampahan kanthi lancar lan sadaya ketingal langkung sae lan tata. Pendita pasamuwan, Peksi Medi kang wasis, mirsa ewah-ewahan punika, matur, “Monggo sami nggatosaken pasamuwan punika, rikala kita nyambut damel sesarengan, greja kita dados langkung sehat. Amargi kita langkung sehat, kita saged dados berkat ingkang langkung ageng kangge tiyang kathah!” Wiwit dinten punika, greja ing dusun alit dados panggenan manungsa lan sato kewan gesang rukun, sami mbiyantoni lan nyambut damel sesarengan. Sadaya warga pasamuwan mboten namung ngraosaken berkat kangge dhirinipun piyambak, nanging sadaya warga dusun ugi nampi suka bingah lan berkat saking greja punika.
Isi
Para sedherek ingkang kinasih, saben greja dipun timbali kangge dados pakempalan ingkang sehat, inggih punika saben warganipun ngraosaken katresnan lan mindhaking karohanen ingkang utami imanipun, sarta dados berkat kangge liyan. GKJW mekaten ugi Yayasan Kesehatan (YK) GKJW ingkang sehat, inggih punika greja (selajengipun saged ugi dipun waos organisasi YK GKJW) ingkang dipun pulihaken dening katresnanipun Kristus lan gesang ing sajroning timbalaning Gusti kangge pangewahing donya ing kawilujenganipun Gusti Yesus. Wonten ing tigang waosan Kitab Suci punika, kita saged sinau bab titi cirinipun greja ingkang sehat lan kadospundi greja dados berkat kangge donya:
- Greja kang Sehat punika Greja kang Kabikak kangge Sadaya Tiyang (Yesaya 65:1-9)
Wonten waosan Kitab Suci ingkang kaping sepisan, nedahaken Gusti Allah ingkang madosi umat kagunganipun, senadyan umatipun mboten madosi Gusti Allah. Punika mratelakaken greja ingkang sehat, greja ingkang kedah dados panggenan ingkang nampi sadaya tiyang, mboten peduli sangkan paranipun lan silah-silahipun. Ayat 8-9 nedahaken bilih senaosa wonten ingkang pengkuh, nanging taksih wonten umat ingkang setya tuhu, lan saking bangsa punika, Gusti Allah badhe mulihaken lan mberkahi. Greja ingkang sehat kedah tumuju ing pemulihan, sanes dados hakim kangge tiyang ingkang lepat. Greja dados pakempalan ingkang mantebaken lan mbangun, sanes nebih saking donya. Minangka greja utawi organisasi, GKJW ugi YK GKJW, dipun timbali dados pakempalan ingkang mlebet ing donya, ngrangkul sadaya tiyang lan nuntun sadaya tiyang punika tumuju Gusti Allah lan Gusti Yesus. GKJW ugi YK GKJW kedah nerak pager-pager ingkang nebihaken lan bikak dhirinipun kangge dedalem sinten kemawon ing madosi Gusti. - Greja ingkang Sehat punika Greja ingkang Nyatunggil ing Sang Kristus (Galatia 3:23-29)
Waosan kaping kalih, nedahaken bilih ing sajroning Sang Kristus, kita sadaya dados putraning Allah. Mboten wonten malih bentenipun antawis tiyang Yahudi utawi Yunani, batur utawi tiyang mardika, jaler utawi estri. Sadaya nyatunggil ing salebeting Sang Kristus. GKJW ingkang sehat inggih punika GKJW ingkang nedahaken patunggilan ing Sang Kristus, ing pundi rubeda punika dipun ajeni nanging mboten mecah patunggilan punika. Patunggilan punika dados pondasi kangge GKJW dados berkah ing pundi kita saged makarya sesarengan kanthi tujuan ingkang ageng. GKJW kedah njagi patunggilan ing greja srana tresna tinresnan lan ngajeni rubeda. Greja ingkang pecah mboten saged dados berkah, nanging Greja ingkang nyatunggil saged mujudaken prekawis-prekawis ingkang ageng ing Gusti Yesus. - Greja ingkang Sehat punika Greja ingkang Ngluwaraken lan Mulihaken (Lukas 8:26-39)
Lukas 8:26-39 nyariosaken Gusti Yesus ingkang ngluwaraken roh-roh jahat saking salah satunggaling priyantun jaler. Punika nedahaken bilih greja utawi organisasi peladosan kados YK GKJW, kedah sengkut ing salebeting peladosan ngluwaraken saha mulihaken kangge tiyang ingkang katindes. Gusti Yesus mboten namung ngluwaraken tiyang jaler punika, nanging ugi ngutus dados seksi kangge tetiyang ing celakipun. GKJW ugi YK GKJW ingkang sehat mboten namung kangge ngentasaken bab kesarasan ing salebetipun, nanging ugi mberkahi saha mulihaken donya sakcelakipun. GKJW lan YK GKJW kedah sengkut ing peladosan ingkang mbeta pamulihan, sae raga, jiwa, mekaten ugi karohanen. Punika saged dipun pratelakaken miyos program-program peladosan, konseling, utawi panyengkuyungan kangge tiyang ingkang nandang lara-lopa. Kanthi margi punika, GKJW ugi YK GKJW dados talanging berkah kangge donya.
Panutup
Sinau saking cerita gereja sato kewan ing nginggil, gereja ugi YK GKJW ingkang sehat inggih punika gereja utawi organisasi ingkang sadaya prabotipun, kanthi sadaya peperingipun lan dayanipun, sengkut ing peladosan kanthi sesarengan nyambut damel kangge tujuan ingkang langkung ageng. Rikala kita sesarengan ing bot repoting gesang pasamuwan, kita mboten namung langkung kiyat minangka pakempalan, nanging ugi dados berkah ingkang langkung ageng kangge donya sadayanipun.
YK GKJW lan GKJW ingkang sehat minangka organisasi saha greja ingkang binikak kangge sadaya tiyang, nyatunggil ing katresnaning Sang Kristus, saha sengkut ing salebeting pangluwaran sarta pamulihan kangge donya. Rikala organisasi kesehatan lan greja gesang ing timbalan punika, piyambakipun dados berkah, mboten namung kangge praboting piyambak nanging ugi kangge masyarakat sadaya. Mangga kita lajengaken mbangun YK GKJW lan GKJW dados pakempalan ingkang sehat, ingkang mratelakaken katresnaning Sang Kristus saha dados pangewah-ewahing kasaenan kangge saindenging donya kita. Amin. [tes].
Pamuji: KPJ. 448 : 1 – 3 Pra Prajurite Gusti