Menjadi Saksi Dan Pelayan Kristus Secara Kreatif dan Dinamis, Agar Tetap Aktual Khotbah Minggu 21 Mei 2023

8 May 2023

Minggu Paskah 7  | Bulan Kesaksian dan Pelayanan
Stola Putih

Bacaan 1: Kisah Para Rasul 1 : 6 – 14
Bacaan 2: 1 Petrus 4 : 12 – 14;  5 : 6 – 11
Bacaan 3: Yohanes 17 : 1 – 11

Tema Liturgis:  GKJW Menjadi Saksi Dan Pelayan Kristus Di Tengah Perubahan
Tema Khotbah:  Menjadi Saksi Dan Pelayan Kristus Secara Kreatif dan Dinamis, Agar Tetap Aktual

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah).

Kisah Para Rasul 1 : 6 – 14
Selama tahun-tahun misi Tuhan Yesus di bumi, para murid secara terus-menerus dibuat takjub tentang kerajaan-Nya, sehingga memunculkan tanya: “Kapan hal itu akan tiba? Apakah kira-kira peran mereka?” (Ay. 6). Dalam pandangan tradisi umat Israel, Mesias akan datang sebagai penakluk secara duniawi dan akan membebaskan umat Israel dari penguasa Romawi. Tetapi bagi Tuhan Yesus perihal kerajaan-Nya itu lebih mengutamakan pada hal spiritual/rohani yang ditempatkan di hati dan hidup orang percaya (Luk. 17:21). Kehadiran dan kekuatan Allah tinggal di dalam diri orang percaya melalui Roh Kudus.

Dalam penderitaan di bawah penguasa Romawi, para murid ingin Yesus membebaskan bangsanya dan kemudian menjadikan Yesus sebagai Raja mereka. Yesus menanggapi bahwa Allah Bapa mengatur segala kejadian pada waktu-Nya, baik wilayah dunia, nasional, maupun pribadi (Ay. 7). Kekuatan Roh Kudus tidak hanya tentang kekuatan yang menakjubkan, tetapi juga meliputi keteguhan hati, keberanian, kepercayaan, wawasan, kemampuan, dan kekuasaan (Ay. 8). Para murid membutuhkan ini semua untuk melaksanakan misi-Nya.

Yesus berjanji kepada para murid bahwa mereka akan menerima kuasa untuk bersaksi setelah mereka menerima Roh Kudus. Ada sebuah perkembangan: (1) Mereka akan menerima Roh Kudus, (2) Tuhan Yesus akan memberi mereka kuasa, dan (3) Mereka akan bersaksi dengan hasil yang luar biasa. Tuhan Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk bersaksi kepada segala bangsa tentang Dia. Tetapi mereka pertama-tama disuruh menantikan Roh Kudus (Luk. 24:49). Ayat 8 ini menggambarkan Injil disebarkan, secara geografi mulai dari Yerusalem, ke Yudea dan Samaria, dan akhirnya ke seluruh dunia. Hal itu dimulai dengan kesalehan para orang Yahudi di Yerusalem dan Samaria, kemudian tersebar ke ras/ rumpun bangsa campuran di Samaria, dan akhirnya ditawarkan ke para orang asing di seluruh wilayah di bumi.

Adalah penting bagi para murid untuk melihat Yesus naik ke surga (Ay. 9), agar mereka tahu tanpa ragu bahwa Ia adalah Allah dan rumah-Nya ada di surga. Setelah 40 hari dengan para murid-Nya (Kis.1:3), Yesus kembali ke surga. Dua pria berpakaian putih adalah malaikat yang mewartakan kepada para murid bahwa suatu hari nanti Yesus akan kembali dengan cara yang sama saat Ia pergi, yakni secara ragawi dan kelihatan. Sejarah berjalan maju ke sebuah titik khusus, yaitu kedatangan kembali Yesus untuk mengadili dan memerintah atas bumi. Setelah Kristus naik ke surga, para murid segera kembali ke Yerusalem dan mengadakan persekutuan doa (Ay. 12-13). Yesus pernah berkata bahwa mereka akan dibaptis dengan Roh Kudus dalam waktu dekat, untuk itu mereka perlu menunggu dan berdoa.

Pada waktu itu, saudara-saudara lelaki Yesus ada bersama dengan para murid (Ay. 14). Sepanjang hidup Yesus, mereka tidak percaya bahwa Ia adalah Mesias (Yoh. 7:5), tetapi kebangkitan-Nya meyakinkan mereka. Penampakkan khusus Yesus pada Yakobus, salah satu saudara-Nya, merupakan sebuah peristiwa penting teristimewa bagi perubahan mereka. (lih. 1 Kor. 15:7).

1 Petrus 4 : 12 – 14 & 1 Petrus 5:6-11

  • 1 Petrus 4 : 12 – 14
    Petrus mengangkat pesan Sabda Yesus: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat” (Mat. 5:11). Kristus akan mengirim roh-Nya untuk menguatkan mereka yang dianiaya karena iman mereka. Orang Kristen saat itu mengalami penderitaan. (Ay. 13) Melalui penderitaan itu mereka dapat merasakan penderitaan Kristus. Mereka menderita karena nama Kristus dan melalui penderitaan itu, Tuhan dimuliakan. (Ay. 14). Penderitaan dapat dilihat sebagai upaya Allah memurnikan dan mengokohkan iman umat-Nya.
  • 1 Petrus 5:6-11
    Kita sering ragu tentang posisi dan status kita dan berharap mendapat pengakuan yang sepadan untuk apa yang kita lakukan (Ay. 6). Tetapi Petrus menasihati kita untuk mengingat bahwa pengakuan Allah, porsinya melebihi pujian manusia, yaitu kemuliaan. Memikul kekuatiran, stres, dan pergulatan hidup dengan mengandalkan diri sendiri menunjukkan bahwa kita tidak mempercayai Allah secara penuh dalam hidup kita (Ay. 7). Dibutuhkan kerendahan hati, sebab bagaimanapun kita harus mengakui bahwa Allah peduli, memperhatikan kebutuhan kita, dan memberi kesempatan kepada sesama dalam keluarga Allah untuk menolong kita. Biarkan Allah datang mengangkat kegelisahan kita, sampaikan pergumulan kita pada Tuhan yang memerintah alam semesta ini.Singa (iblis) menyerang yang lemah, muda, sendirian, dan tanpa penjaga (Ay. 8-9). Petrus memperingatkan kita untuk berhati-hati pada iblis saat kita menderita atau dianiaya. Merasa sendiri, lemah, tanpa pertolongan, dan terputus dengan para orang percaya, terlalu fokus pada kesulitan sehingga lupa memperhatikan bahaya, kita secara sendiri mudah diserang iblis. Selama masa penderitaan, carilah dukungan kepada sesama orang Kristen, tetap memandang Kristus, dan melawan kejahatan. Kemudian Yakobus berkata: ‘…maka ia akan lari dari padamu!’ (Yak. 4:7).Saat kita menderita, sering kita merasa seolah penderitaan kita tidak akan berakhir (Ay. 10). Petrus memberi para orang Kristen yang penuh iman ini sebuah perspektif, dibandingkan dengan kekekalan, penderitaan mereka hanya ‘sebentar saja’. Semua para orang beriman pada Allah dijamin hidup kekal dengan Kristus dimana disana tidak ada penderitaan (Why.21:4).

Yohanes 17 : 1 – 11
Pasal ini merupakan doa Yesus untuk para murid-Nya. Dari doa ini kita belajar bahwa dunia adalah sebuah medan pertempuran yang hebat dimana kekuatan-kekuatan di bawah kekuasaan setan dan kekuatan-kekuatan di bawah otoritas Allah sedang berperang. Setan dan kekuatan-kekuatannya didorong oleh kebencian sengit pada Kristus dan kekuatan-Nya. Sedangkan Yesus berdoa bagi para murid-Nya, termasuk kita yang mengikuti-Nya kini. Ia berdoa agar Tuhan Allah memelihara para orang percaya agar dapat selamat dari kekuatan setan. Ia berdoa agar Allah menempatkan mereka secara khusus dan menjadikan mereka kudus, serta menyatukan mereka dalam kebenaran-Nya.

Bagaimana kita memperoleh hidup kekal? Yesus menjelaskan bahwa hal itu hanya diperoleh melalui pengetahuan/pengenalan akan Allah Bapa melalui Anak-Nya, Yesus Kristus (Ay. 3). Hidup kekal membutuhkan keterlibatan diri dalam sebuah hubungan pribadi dengan Allah dalam Yesus Kristus. Sebelum Yesus datang ke bumi, Ia satu dengan Allah (Ay. 5). Pada titik ini, saat misi-Nya di bumi hampir berakhir, Yesus memohon pada Bapa-Nya agar memulihkan-Nya ke tempat-Nya semula, yaitu kemuliaan. Kebangkitan dan kenaikan Yesus, dan seruan Stefanus (Kis.7:56), membuktikan bahwa Yesus kembali ke posisi mulia di tangan kanan Allah.

Apa yang Yesus maksudkan ketika Ia berkata, “Aku telah dipermuliakan di dalam mereka?” (Ay. 10). Kemuliaan Allah adalah penyataan karakter dan kehadiran-Nya. Kehidupan para murid Yesus adalah menyatakan karakter-Nya, dan Ia hadir ke dunia melalui mereka. Yesus meminta para murid disatukan dalam harmoni/keselarasan dan kasih, seperti Bapa, Putera, dan Roh Kudus adalah satu, sebuah kesatuan yang paling kuat dari semua penyatuan (Ay. 11).

Benang Merah Tiga Bacaan:
Ada tiga hal yang menghubungkan ketiga bacaan kita, yaitu:

  1. Status sebagai murid membuahkan hubungan mereka dengan Sang Guru sedemikian dekat/erat, sehingga mereka mendapat kesempatan selain menerima pengajaran-Nya, juga menyaksikan peristiwa-peristiwa ajaib yang terjadi atas Sang Guru, yaitu kenaikan-Nya ke surga dan rencana kedatangan-Nya.
  2. Tugas mulia sebagai murid adalah menjadi saksi dan pelayan-Nya di bumi ini secara nyata, yaitu kepada manusia yang tinggal dan hidup di Yerusalem, di seluruh Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi.
  3. Sebagai murid, Tuhan mengharuskan mereka untuk setia menantikan janji penyertaan-Nya. Para murid diminta untuk saling menguatkan dengan bertekun dan sehati dalam doa, sebab tantangan berat yang mereka hadapi, dimana kekuatan Iblis dan kekuatan Allah bertemu, antara lain berupa cela, aniaya, dan fitnah.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan kotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Tema Liturgis di Bulan Kesaksian dan Pelayanan (Kespel) tanggal 18 Mei 2023 – 21 Juni 2023 adalah: “GKJW menjadi Saksi dan Pelayan Kristus di Tengah Perubahan”. Tema khotbah dalam ibadah Minggu ini adalah: “Menjadi Saksi dan Pelayan Kristus secara Kreatif dan Dinamis, agar Tetap Aktual.” (Kreatif = memiliki daya cipta; dinamis = penuh semangat; aktual = betul-betul ada/ terjadi).

 Di naskah Tata Kelola Aset GKJW yang disusun oleh PLH-PHMA, dalam Himpunan Laporan Sidang ke-119/2022 Majelis Agung GKJW, dokumen 01/119/2022, halaman 156 (C. Kesaksian dan D. Cinta Kasih), tertulis demikian:

C.Kesaksian.
Pelayanan bidang kesaksian bertugas mengadakan pembinaan bagi warga jemaat agar mampu menyatakan jati dirinya sebagai orang percaya terutama di tengah kehidupannya bersama dengan orang-orang lain. Diharapkan melalui cara hidup yang baik dan benar, kehadirannya di masyarakat dapat menjadi saksi akan kasih Tuhan Yesus. Pada hakekatnya semua orang percaya terpanggil untuk bisa menjadi saksi Kristus di dalam hidupnya.

D. Cinta Kasih.
Pelayanan di bidang cinta kasih menangani pelayanan untuk mewujudkan cinta kasih Tuhan Allah kepada dunia dan segala isinya agar terwujud kesejahteraan lahir batin. Hal utama dalam pelayanan ini adalah upaya gereja/orang-orang percaya untuk turut serta bekerja bersama dengan Tuhan, agar bumi ini benar-benar disuasanai oleh kasih, sukacita, keadilan, kebenaran, dan damai sejahtera bagi seluruh dunia. Pelayanan di bidang ini bukan hanya memberi sesuatu yang cepat habis bagi yang kekurangan (karitatif), namun juga termasuk kedisiplinan untuk turut serta menjaga memelihara keutuhan ciptaan seperti yang disepakati dalam JPIC (Justice, Peace, and Integrity of Creation = Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan).

Isi
Apakah yang kita butuhkan agar kita dapat memenuhi isi naskah Tata Kelola Aset GKJW tersebut dan agar dapat menjadi saksi dan pelayan Kristus yang kreatif, dinamis, dan tetap aktual? Pertama adalah status kita harus jelas, yaitu sebagai murid-murid Tuhan Yesus Kristus. Status sebagai murid menjadikan kita memiliki hubungan yang sedemikian dekat/erat dengan Tuhan Yesus Kristus. Sebagai murid-murid-Nya, kita mendapat kesempatan, selain menerima pengajaran-Nya, juga mengamini peristiwa-peristiwa ajaib yang terjadi atas diri Tuhan Yesus Kristus, yaitu kenaikan-Nya ke surga dan rencana kedatangan-Nya. Adalah penting bagi para murid untuk melihat Tuhan Yesus naik ke surga (Kis. 1:9), agar mereka tahu tanpa ragu bahwa Ia adalah Allah dan rumah-Nya ada di surga. Sepanjang hidup dan pelayanan Tuhan Yesus, saudara-saudara-Nya sendiri tidak percaya bahwa Ia adalah Mesias (Yoh.7:5), tetapi kebangkitan-Nya meyakinkan mereka. Penampakan khusus Tuhan Yesus kepada Yakobus, salah seorang saudara-Nya, merupakan sebuah peristiwa penting/berarti, teristimewa bagi perubahan mereka (lih. 1 Kor.15:7). Apakah peran dan kontribusi kita sebagai murid-murid-Nya agar lebih banyak orang yang bisa menghayati hidupnya sebagai murid-murid-Nya? Kerajaan Tuhan Yesus pertama-tama dan yang utama berkaitan dengan kehidupan spiritual/rohani yang ditanam di dalam hati dan hidup para orang percaya (Luk. 17:21). Kehadiran dan kekuatan Allah tinggal di dalam diri para orang percaya oleh karya Roh Kudus.

Kedua, maksud Tuhan Yesus menjadikan kita sebagai murid-murid-Nya adalah agar kita menjadi saksi dan pelayan-Nya. Status sebagai murid-Nya, membuahkan tugas mulia bagi kita, yaitu menjadi saksi dan pelayan-Nya di bumi ini secara nyata/konkrit.  Seperti para murid yang menjadi saksi dan pelayan Kristus yang dimulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria hingga sampai ke ujung bumi. Dimulai dengan kesalehan para orang Yahudi di Yerusalem dan Samaria, tersebar ke ras/rumpun bangsa campuran di Samaria, dan akhirnya ditawarkan ke para orang asing di seluruh wilayah di bumi. Injil Allah tidak akan mencapai tujuan akhirnya jika seseorang dalam keluarga kita, di tempat kerja kita, di sekolah kita, atau di komunitas kita belum mendengar tentang Tuhan Yesus Kristus dan karya-Nya. Maka pastikan bahwa kita berkontribusi dalam berbagai cara untuk perluasan lingkaran misi kasih Allah ini.

Ketiga adalah tentang waktu Allah. Seperti orang Yahudi lainnya, para murid menderita di bawah aturan-aturan penguasa Romawi. Mereka ingin Tuhan Yesus membebaskan mereka/ Israel dari kekuasaan Romawi dan kemudian menjadikan Dia sebagai Raja mereka (Kis. 1:6-7). Tuhan Yesus menanggapi bahwa Allah Bapa mengatur segala peristiwa pada waktu-Nya, baik wilayah dunia, nasional, maupun pribadi. Jika kita ingin mengubah sesuatu dan merasa bahwa Allah tidak mengubahnya sesuai dengan harapan kita, jangan kita menjadi tidak sabar, melainkan percayakan perubahan itu pada waktu Allah.

Setelah 40 hari dengan para murid-Nya (Kis. 1:3), Tuhan Yesus kembali ke surga (Kis. 1:9-11). Suatu hari nanti Tuhan Yesus akan kembali dengan cara yang sama saat Ia pergi, yakni secara ragawi dan kelihatan. Kedatangan kembali Tuhan Yesus untuk mengadili dan memerintah atas bumi. Kita sebaiknya siap bagi kedatangan-Nya kembali yang tidak kita ketahui saatnya   (1 Tes. 5:2). Jangan hanya berhenti tengadah ‘melihat ke langit’, melainkan mulailah bekerja keras untuk berbagi Injil agar orang lain mendapat dan dapat berbagi berkat-berkat besar Allah.

Keempat adalah penyertaan-Nya. Status sebagai murid mengharuskan kita untuk setia menantikan janji penyertaan-Nya yang menguatkan. Kita menanti janji Tuhan dengan bertekun dan sehati dalam doa, sebab tantangan di depan yang kita hadapi akan semakin berat, antara lain berupa cela, aniaya, dan fitnah. ‘Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat’ (Mat. 5:11). Tuhan Yesus Kristus akan mengirim Roh-Nya untuk menguatkan mereka yang dianiaya karena iman mereka. Ini tidak berarti bahwa semua penderitaan adalah hasil/akibat dari tingkah laku baik orang Kristen. Kadang orang dengan cepat mengeluh: “ia mengusik/ mengganggu saya sebab saya seorang Kristen”. Secara positif, hal itu membuat kita lebih berhati-hati dan agar kita dapat menemukan sebab riil atas penderitaan kita. Kita memperoleh jaminan bahwa kapan saja kita menderita karena kesetiaan kita kepada Kristus, Ia akan bersama kita dengan segala cara.

Memikul kekuatiran, stres, dan pergulatan hidup dengan mengandalkan diri sendiri menunjukkan bahwa kita tidak mempercayai Allah secara penuh dalam hidup kita (Kis. 1:7). Kita harus mengakui bahwa Allah peduli, memperhatikan kebutuhan kita, dan memberi kesempatan kepada sesama untuk menolong kita. Biarkan Allah datang mengangkat kegelisahan kita, sampaikan pergumulan kita pada Tuhan yang memerintah alam semesta ini.

Singa (iblis) menyerang yang lemah, muda, sendirian, dan tidak terjaga (1 Ptr. 5:8-9). Petrus memperingatkan kita untuk berhati-hati pada iblis saat kita menderita atau dianiaya. Merasa sendiri, lemah, tanpa pertolongan, dan terputus dengan komunitas orang percaya, sedemikian fokus pada kesulitan kita, sehingga kita lupa memperhatikan bahaya dan saat seperti itulah kita mudah diserang iblis. Selama masa penderitaan, carilah dukungan kepada sesama orang Kristen, tetap memandang Kristus, dan lawanlah kejahatan. Yakobus berkata: ‘… maka ia akan lari dari padamu!’ (Yak .4:7). Saat kita menderita, sering kita merasa seolah penderitaan kita tidak akan berakhir (1 Ptr. 5:10). Petrus memberi para orang Kristen sebuah perspektif, dibandingkan dengan kekekalan, penderitaan mereka hanya ‘sebentar saja’. Semua orang yang beriman pada Allah dijamin memperoleh hidup kekal dengan Kristus, dimana disana tidak ada penderitaan (Why.21:4).

Kekuatan Roh Kudus tidak terbatas hanya tentang peristiwa yang menakjubkan saja, sebab kekuatan Roh Kudus juga meliputi keteguhan hati, keberanian, kepercayaan, wawasan, kemampuan, dan kekuasaan (Kis.1:8). Kita sebagai murid-Nya membutuhkan anugerah ini semua untuk melaksanakan misi-Nya. Tuhan Yesus berjanji kepada para murid bahwa mereka akan menerima kuasa untuk bersaksi setelah mereka menerima Roh Kudus (Kis. 1:8). Sebuah progres: (1) Mereka akan menerima Roh Kudus, (2) Ia akan memberi mereka kuasa, dan (3) Mereka akan bersaksi dengan hasil yang luar biasa. Sering kita mencoba untuk melakukan kebalikannya, yaitu bersaksi dengan kekuatan dan kekuasaan kita sendiri. Bersaksi bukanlah mempertontonkan apa yang bisa kita lakukan bagi Allah, melainkan mempertontonkan dan menceritakan apa yang Allah telah lakukan untuk kita.

Tuhan Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk bersaksi ke segala bangsa tentang Dia (Mat. 28:19,20). Tetapi mereka pertama-tama disuruh menantikan Roh Kudus (Luk. 24:49). Allah memiliki tugas penting untuk kita lakukan bagi-Nya, tetapi kita harus melakukannya oleh kuat kuasa Roh Kudus. Seringkali kita suka melakukan tugas secepat yang kita mau, dengan mendahului waktu Allah. Ingat, menunggu kadang merupakan bagian dari rencana Allah. Apakah kita setia menunggu dan mendengar perintah Allah secara lengkap? Kita membutuhkan waktu dan kuasa Allah untuk benar-benar bisa berhasil guna.

Setelah Tuhan Yesus Kristus naik ke surga, para murid segera kembali ke Yerusalem dan mengadakan persekutuan doa (Kis. 1:12-13). Tuhan Yesus pernah berkata bahwa mereka akan dibaptis dengan Roh Kudus dalam waktu dekat, untuk itu mereka perlu menunggu dan berdoa. Jika kita menghadapi sebuah tugas sulit, masalah berat, atau harus mengambil sebuah keputusan penting, langkah pertama kita sebaiknya berdoa mohon kuat kuasa dan bimbingan Roh Kudus.

Kelima adalah Doa Tuhan Yesus untuk para murid-Nya. Yoh.17:1-11 ini merupakan doa Tuhan Yesus, berisi pengajaran bahwa dunia adalah sebuah medan pertempuran hebat dimana kekuatan-kekuatan di bawah kekuasaan iblis dan kekuatan-kekuatan di bawah otoritas Allah bertemu. Iblis dan kekuatannya didorong oleh kebencian sengit pada Kristus dan kekuatan-Nya. Tuhan Yesus berdoa bagi para murid-Nya, termasuk kita yang mengikuti-Nya kini. Ia berdoa agar Allah memelihara kita dan selamat dari kekuatan iblis. Tuhan Yesus juga memohon agar Allah menempatkan kita terpisah sebagai umat pilihan-Nya yang kudus, dan menyatukan kita dalam kebenaran-Nya.

Bagaimana kita dapat memperoleh hidup kekal? Tuhan Yesus menjelaskannya di sini, yakni dengan mengenal Allah Bapa melalui Putera-Nya, Yesus Kristus (Yoh. 17:3). Hidup kekal membutuhkan keterlibatan diri dalam sebuah hubungan pribadi dengan Allah dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Sebelum Tuhan Yesus datang ke bumi, Ia satu dengan Allah (Yoh. 17:5). Pada titik ini, ketika misi-Nya di bumi hampir berakhir, Tuhan Yesus memohon pada Bapa-Nya agar memulihkan-Nya ke tempat-Nya yang semula, yaitu kemuliaan. Kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus, dan seruan Stefanus (Kis.7:56), membuktikan bahwa Tuhan Yesus kembali ke posisi mulia di tangan kanan Allah.

Apa yang Tuhan Yesus maksudkan ketika Ia berkata, ‘Aku telah dipermuliakan di dalam mereka’? (Yoh. 17:10). Kemuliaan Allah merupakan penyataan karakter-Nya dan kehadiran-Nya. Kehidupan para murid Tuhan Yesus seharusnya menyatakan karakter-Nya, dan kehadiran-Nya di dunia ini nyata melalui para murid-Nya. Sudahkah hidup kita menyatakan karakter dan kehadiran Tuhan Yesus? Tuhan Yesus berdoa agar para murid disatukan dalam harmoni dan kasih sebagaimana Bapa, Putera, dan Roh Kudus menjadi satu, yaitu sebuah kesatuan yang paling kuat dari semua penyatuan.

Penutup
Demikian Firman Tuhan membekali kita untuk bisa menunaikan tugas sebagai saksi dan pelayan-Nya yang kreatif dan dinamis agar tetap  aktual. Sebuah dialog di sebuah WAG (Whatsapp Grup) tertulis demikian:

Mengapa hal-hal buruk juga menimpa orang baik?

  • Jika orang memiliki iman, semua hal yang terjadi mempunyai makna/arti.
    Mengapa Tuhan membiarkan hal-hal buruk (penderitaan/tragedi) terjadi?
  • Ketika saya berdoa memohon kuat, Tuhan menghadirkan kesulitan-kesulitan supaya saya kuat.
  • Ketika saya memohon kebijaksanaan, Tuhan menghadirkan masalah-masalah agar saya bisa mengatasinya/memecahkan masalah.
  • Ketika saya memohon keberanian/keteguhan hati, Tuhan menghadirkan bahaya agar saya bisa menanggulanginya.
  • Ketika saya memohon kasih (love), Tuhan Allah memberi kesukaran, kesusahan, dan mengirim orang yang harus ditolong.

Dengan demikian doa-doa saya terjawab! Amin. [Esha].

 

Pujian: KJ. 432 : 1, 2 Jika Padaku Ditanyakan

 

Rancangan Khotah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Tema Liturgis ing Wulan kesaksian dan pelayanan (Kespel) tanggal 18 Mei 2023 – 21 Juni 2023 inggih punika: “GKJW Dados Saksi lan Peladosipun Sang Kristus ing Satengahing Ewah-ewahaning Zaman.” Tema Khotbah ing salebeting pangibadah Minggu punika, ungelipun: “Dados Saksi lan Peladosipun Sang Kristus sacara Kreatif lan Dinamis, supados Tetep Aktual.”

(Kreatif = memiliki daya cipta; dinamis = penuh semangat; aktual = betul-betul ada/terjadi).

Ing salebeting Naskah Tata Kelola Aset GKJW ingkang kaserat dening PLH-PHMA, wonten ing Himpunan Laporan Sidang ke-119/2022 Majelis Agung GKJW, dokumen 01/119/2022, halaman 156 (C. Kesaksian dan D. Cinta Kasih), kaserat mekaten (Bahasa Indonesia):

C. Kesaksian.
Pelayanan bidang kesaksian bertugas mengadakan pembinaan bagi warga jemaat agar mampu menyatakan jati dirinya sebagai orang percaya terutama ditengah kehidupannya bersama dengan orang-orang lain. Diharapkan melalui cara hidup yang baik dan benar kehadirannya di masyarakat dapat menjadi saksi akan kasih Tuhan Yesus. Pada hakekatnya semua orang percaya terpanggil untuk bisa menjadi saksi Kristus didalam hidupnya.

D. Cinta Kasih.
Pelayanan di bidang cinta kasih menangani pelayanan untuk mewujudkan cinta kasih Tuhan Allah kepada dunia dan segala isinya agar terwujud kesejahteraan lahir batin. Hal utama dalam pelayanan ini adalah upaya gereja/orang-orang percaya untuk turut serta bekerja Bersama dengan Tuhan agar bumi ini benar-benar disuasanai oleh kasih, sukacita, keadilan, kebenaran dan damai sejahtera bagi seluruh dunia. Pelayanan di bidang ini bukan hanya memberi sesuatu yang cepat habis bagi yang kekurangan (karitatif), namun juga termasuk kedisiplinan untuk turut serta menjaga memelihara keutuhan ciptaan seperti yang disepakati dalam JPIC (Justice, Peace, and Integrity of Creation = Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan).

Isi
Punapa ingkang kita betahaken supados kita saged nindakaken isi naskah Tata Kelola Aset GKJW kasebat lan supados saged dados saksi lan peladosipun Sang Kristus ingkang kreatif lan dinamis, supados tetep aktual?

Sepisan inggih punika: status kita perlu cetha/jelas, minangka para muridipun Gusti Yesus Kristus. Status minangka murid ndadosaken kita gadhah sesambetan ingkang celak lan raket kaliyan Gusti Yesus Kristus. Minangka murid-muridipun, kita nggadhah kesempatan, sak-sanesipun nampi piwulangipun, ugi ngamini prastawa-prastawa ajaib ingkang kedadosan tumrap dhirinipun Gusti Yesus Kristus, inggih punika sumengkanipun dhateng swarga lan rencana rawuhipun malih. Penting kangge para murid nekseni/ningali Gusti Yesus sumengka dhateng swarga (PR 1:9), supados sami sumerep tanpa ragu bilih Panjenenganipun punika Gusti Allah lan dalemipun wonten ing swarga. Sak-dangunipun Gusti Yesus makarya lan lelados, para sadherekipun piyambak sami mboten pitados bilih Panjenenganipun punika Sang Mesias (Yok. 7:5), ananging wungunipun Gusti Yesus ngyakinaken para sadherekipun. Anggenipun Gusti Yesus sacara khusus ngetingal dhateng Yakobus, salah satunggaling sadherekipun, dados prastawa penting/ngemu arti, khususipun kangge ngrebah pangertosan lan kapitadosanipun para sadherekipun Gusti Yesus (1 Kor.15:7).

Punapa peran lan kontribusi kita minangka para muridipun Gusti Yesus, supados langkung kathah tiyang ingkang saged ngraosaken endahing gesang dados murid-muridipun? Kratonipun Gusti Yesus ingkang utami punika gegayutan kaliyan gesang spiritual/karohanen ingkang dipun dhedher/tanem ing manah lan gesangipun para tiyang pitados (Luk. 17:21). Rawuh lan kekiyatanipun Gusti Allah adedalem ing salebeting dhirinipun para tiyang pitados karana pakaryanipun Sang Roh Suci.

Kaping kalih inggih punika maksud/karsanipun Gusti Yesus ndadosaken kita minangka para muridipun supados kita dados saksi lan peladosipun. Status dados muridipun, nampi tugas mulya minangka saksi lan peladosipun ing bumi punika sacara nyata/konkrit, inggih punika kangge manungsa ingkang mapan lan gesang ing Yerusalem lan ing satanah Yudea sarta ing tanah Samaria tuwin tumeka ing pungkasaning bumi. PR. 1:8 punika nggambaraken satunggaling lingkaran-lingkaran perluasan ingkang sak-leresipun. Injil kasebaraken, sacara geografi, saking Yerusalem, dhateng Yudea lan Samaria, sarta pungkasanipun ngantos dumugi saindhenging jagad. Bab punika dipun wiwiti wontenipun tiyang Yahudi ingkang saleh (para tiyang Zelot) ing Yerusalem lan Samaria, nyebar dhateng ras/rumpun bangsa campuran ing Samaria, lan pungkasanipun dipun sodhoraken/tawekaken dhateng bangsa manca ing salumahing bumi.

Injilipun Gusti Allah mboten badhe dumugi tujuan akhiripun yen wonten setunggal tiyang kemawon ing brayat kita, ing papan kita nyambut damel, ing sekolah kita, utawi ing komunitas kita, ingkang dereng mireng bab Gusti Yesus Kristus lan pakaryanipun. Sumangga kita tetep semangat lan gadhah tekad, tumut cawe-cawe berkontribusi kanthi maneka warni cara kangge langkung jembaring kebabaring katresnanipun Gusti Allah.

Kaping tiga inggih punika bab wekdalipun Gusti Allah. Kados tiyang Yahudi sanesipun, para murid sangsara gesangipun ing reh-rehanipun panguwaos penguasa Romawi. Sami kepengin kersaa Gusti Yesus mbebasaken bangsanipun/Israel saking panguwaos Romawi lan ndadosaken Panjenenganipun minangka Ratunipun (PR. 1:6-7). Gusti Yesus paring jawaban bilih Gusti Allah Sang Rama ingkang ngatur sedaya prastawa miturut wekdal ingkang katamtokaken dening Panjenenganipun, sae ing tlatah jagad, nasional, mekaten ugi sacara pribadi. Menawi kita kepengin ngrebah punapa kemawon lan rumaos yen Gusti Allah mboten ngrebah kados ingkang kita pikajengaken, sampun ngantos kita mboten sabar, ananging kita pasrahaken bab punika dhumateng Gusti Allah miturut wekdalipun Gusti Allah.

Sak-sampunipun 40 dinten laminipun nunggil kaliyan para muridipun (PR. 1:3), Gusti Yesus sumengka dhateng swarga (PR. 1:9-11). Ing satunggaling dinten mangke Gusti Yesus badhe rawuh kanthi cara ingkang sami kaliyan ing wekdal Panjenenganipun sumengka, inggih punika sacara ragawi lan saged dipun tingali. Rawuhipun malih Gusti Yesus kangge ngadili jagad. Kita prayoginipun tansah siyaga mapag rawuhipun, ing wekdal ingkang mboten kita sumerepi kapan Panjenenganipun rawuh (1 Tes. 5:2). Sampun ngantos namung mandheg ngadeg ‘tumenga ing langit’, ananging makarya/tandang-damel kangge nyebaraken Injil supados tiyang sanes ugi nampi berkah ageng saking Gusti Allah.

Kaping sekawan inggih punika panganthinipun Gusti Allah. Status minangka murid wajib setya ngajeng-ajeng janji panganthinipun ingkang ngiyataken, kanthi tekun lan nunggil ing pandonga, awit tantangan awrat ingkang kita adhepi, ing pundi kekiyatan iblis lan kekiyatanipun Gusti Allah aben-ajeng, antawisipun arupi dipun wewada, dikaniaya, lan dipitenah. ‘Rahayu kowe, manawa marga saka Aku kowe diwewada lan dikaniaya sarta dipitenah’ (Mat. 5:11). Gusti Yesus Kristus badhe ngutus Roh-ipun kangge ngiyataken saben tiyang ingkang dikaniaya awit iman pitadosipun. Bab punika mboten ateges bilih sedaya kasangsaran hasil/akibat saking tumindak sae para tiyang Kristen. Kadhang tiyang cepet ngeluh: “wong iku ngganggu aku sabab aku wong Kristen.”. Sacara positif, bab punika ndadosaken kita langkung ati-ati lan supados kita saged manggihaken sabab nyata tumraping kasangsaran kita. Kita nampi jaminan bilih ing salebeting kita nandhang kasangsaran awit kasetyan kita dhumateng Sang Kristus, Panjenenganipun badhe nganthi kita klayan maneka warni cara. Mikul raos kuwatir, stres, lan pergulatan gesang klayan ngendelaken dhiri kita piyambak, nedahaken bilih kita dereng pitados dhumateng Gusti Allah ing sawetahipun (PR. 1:7). Kita perlu ngakeni bilih Gusti Allah punika perduli, migatosaken kabetahan kita, lan maringi kesempatan dhateng sesami kangge mitulungi kita.

Singa (iblis) nyerang tiyang ingkang ringkih, nem, piyambakan, lan mboten wonten ingkang njagi (1 Ptr. 5:8-9). Petrus ngengetaken kita supados ati-ati ngadhepi iblis, khususipun ing wekdal kita sangsara utawi dikaniaya. Rumaos piyambakan, ringkih, tanpa pitulungan, lan pedhot saking patunggilanipun tiyang pitados, namung fokus dhateng masalah kemawon, ngantos kita kesupen nggatosaken bebaya, nah kawontenan ingkang mekaten punika kita gampil dipun serang iblis. Ing wekdal nandhang sangsara, prayoginipun pados dukungan dhateng sesami tiyang Kristen, tetep mandeng dhateng Sang Kristus, lan nglawan kejahatan. Yakobus dhawuh: ‘…temahan bakal lumayu nglungani kowe!’ (Yak. 4:7).

Ing salebeting nandhang kasangsaran, asring kita rumaos kados-kados kasangsaran punika mboten badhe wonten pungkasanipun (1 Ptr. 5:10). Petrus maringi dhateng para tiyang Kristen punika satunggaling perspektif/sudut pandang ingkang langkung jembar. Kabandingaken kaliyan bab kalanggengan, kasangsaran punika namung ‘sekedhap kemawon’. Sedaya tiyang ingkang pitados dhumateng Gusti Allah dipun jamin nampi gesang langgeng kaliyan Sang Kristus, lan ing ngrika mboten wonten kasangsaran (Why 21:4).

Kekiyatan Sang Roh Suci mboten winates namung gegayutan kaliyan bab-bab/prastawa ingkang spektakuler/ngedap-edapi kemawon, sabab kekiyatan Roh Suci ugi nglimputi tekading manah, keberanian, kapitadosan, wawasan, kemampuan, lan kekuasaan/kasekten (PR 1:8). Kita minangka para muridipun mbetahaken peparing/anugerah punika sedaya kangge nindakaken pakaryanipun Sang Kristus. Gusti Yesus aprajanji dhateng para murid bilih para murid badhe nampi kasekten supados saged dados saksi sak-sampunipun sami nampi Roh Suci (PR. 1:8). Tahapanipun: (1) Badhe nampi Roh Suci, (2) Panjenenganipun badhe maringi kasekten, lan (3) Sami badhe dados saksi kanthi woh ingkang sae/luar biasa. Asring kita nyobi nindakaken minangka saksi ngangge cara kosok-wangsulipun, inggih punika bersaksi ngangge kekiyatan lan kasekten kita piyambak. Bersaksi punika sanes ngetingalaken punapa ingkang saged kita tindakaken kagem Gusti Allah, ananging ngetingalaken lan nyariyosaken punapa ingkang sampun katindakaken dening Gusti Allah kangge kita.

Gusti Yesus ngutus para muridipun supados bersaksi dhateng sedaya bangsa bab Panjenenganipun (Mat. 28:19,20). Ananging ingkang wiwitan para murid kadhawuhan ngantos-antos Sang Roh Suci (Luk. 24:49). Gusti Allah kagungan tugas penting supados kita tindakaken kagem Panjenenganipun, ananging kita kedah nindakaken karana pangwaosipun Sang Roh Suci. Asring kita nindakaken kanthi cara kebat-kliwat/pokoke cepet, ngrumiyini wekdal ingkang katamtokaken dening Gusti Allah. Enget, nengga punika kadhang dados bageyan rancanganipun Gusti Allah. Punapa kita setya nengga lan mirengaken prentahipun Gusti Allah sacara lengkap? Kita mbetahaken wekdal lan pangwaosipun Gusti Allah supados saestu saged efektif/berhasil guna.

Sak-sampunipun Gusti Yesus Kristus sumengka dhateng swarga, para murid enggal wangsul dhateng Yerusalem lan ngawontenaken patunggilan pandonga (PR. 1:12-13). Gusti Yesus nate dhawuh bilih para murid badhe kabaptis ngangge Roh Suci, kangge punika para murid perlu nengga lan ndedonga. Menawi kita ngadhepi tugas awrat, masalah awrat, utawi kedah mutusaken keputusan penting, langkah wiwitan kita inggih punika ndedonga nyuwun kekiyatan, kasekten, lan panganthinipun Sang Roh Suci.

Kaping gangsal inggih punika pandonganipun Gusti Yesus kangge para murid. Ing Yokanan 17:1-11 punika pandonganipun Gusti Yesus, isi piwulang bilih jagad punika dados medan pertempuran hebat ing pundi kekiyatanipun iblis lan kekiyatanipun Gusti Allah pepanggihan. Iblis lan kekiyatanipun kasurung raos benci dhumateng Sang Kristus lan pangwaosipun. Gusti Yesus ndedonga kangge para muridipun, kalebet kangge kita ingkang dados pandherekipun Gusti Yesus ing wekdal punika. Panjenenganipun ndedonga bilih Gusti Allah badhe ngrimati para tiyang pitados, nguwalaken/milujengaken saking pangwaosipun iblis, para murid kasengkeraken dados umat pilihanipun ingkang suci, lan nunggilaken para murid ing salebeting kayekten/kebenaran.

Kadospundi kita angsal gesang langgeng? Gusti Yesus njelasaken:  wanuh kaliyan Gusti Allah Sang Rama lumantar Sang Putra, Yesus Kristus (Yok. 17:3). Gesang langgeng mbetahaken sesambetan ingkang asipat pribadi kaliyan Gusti Allah wonten ing Gusti Yesus Kristus. Sak-derengipun Gusti Yesus rawuh ing jagad, Panjenenganipun nunggil kaliyan Gusti Allah (Yok. 17:5). Adhedhasar kapitadosan punika, rikala pakaryanipun ing jagad badhe rampung, Gusti Yesus nyuwun dhumateng Sang Rama supados dipun pulihaken dhateng papan sakawit/semula, inggih punika kamulyan. Wungunipun lan sumengkanipun Gusti Yesus, sarta paseksinipun Stefanus ing PR. 7:56, mbuktekaken bilih Gusti Yesus kondur ing papan sakawit, ing sisih tengenipun Gusti Allah.

Punapa ingkang dipun kersakaken dening Gusti Yesus rikala Panjenenganipun ngendika: ‘… saha Kawula sampun kaluhuraken wonten ing tiyang-tiyang punika?’ (Yok. 17:10). Kamulyanipun Gusti Allah punika nedahaken karakter lan kehadiran-ipun Gusti Yesus. Gesangipun para muridipun Gusti Yesus prayoginipun ugi ngetingalaken karakter lan kehadiran-ipun Gusti Yesus ing jagad punika langkung nyata. Punapa gesang kita sampun ngetingalaken karakter lan kehadiran-ipun Gusti Yesus? Gusti Yesus ndedonga supados para murid katunggilaken ing swasana harmoni/keselarasan lan katresnan kadosdene Allah Sang Rama, Sang Putra, tuwin Sang Roh Suci dados satunggal, inggih punika patunggilan ingkang paling kiyat.

Panutup
Lah mekaten Sabdanipun Gusti paring sangu kangge kita supados saged nindakaken tugas minangka saksi lan peladosipun. Satunggiling dialog ing WAG (Whatsapp Grup) kaserat mekaten (Bahasa Indonesia):

Mengapa hal-hal buruk juga menimpa orang baik?

  • Jika orang memiliki iman, semua hal yang terjadi mempunyai makna/arti.
    Mengapa Tuhan membiarkan hal-hal buruk: penderitaan/tragedi terjadi?
  • Ketika saya berdoa memohon kuat, Tuhan menghadirkan kesulitan-kesulitan supaya saya kuat.
  • Ketika saya memohon kebijaksanaan, Tuhan menghadirkan masalah-masalah agar saya bisa mengatasinya/memecahkan masalah.
  • Ketika saya memohon keberanian/keteguhan hati, Tuhan menghadirkan bahaya agar saya bisa menanggulanginya.
  • Ketika saya memohon kasih (love), Tuhan Allah memberi kesukaran, kesusahan, dan mengirim orang yang harus ditolong.

Dengan demikian doa-doa saya terjawab! Amin. [Esha].

 

Pamuji: KPJ.  450 : 1 – 3   Sumangga Makarya

Renungan Harian

Renungan Harian Anak