Konsisten Bersaksi Dan Melayani Pasca Pandemi Khotbah Ibadah Kenaikan Yesus Kristus 18 Mei 2023

8 May 2023

Kenaikan Yesus Kristus  | Pembukaan Bulan Kesaksian dan Pelayanan
Stola Putih

Bacaan 1: Kisah Para Rasul 1 : 1 – 11
Bacaan 2: Efesus 1 : 15 – 23
Bacaan 3: Lukas 24 : 44 – 53

Tema Liturgis: GKJW Menjadi Saksi Dan Pelayan Kristus Di Tengah Perubahan
Tema Khotbah: Konsisten Bersaksi Dan Melayani Pasca Pandemi

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 1 : 1 – 11
Kisah Para Rasul adalah bagian kedua dari karya penulis Injil Lukas. Dalam Injil Lukas dituliskan segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan oleh Yesus sampai pada hari Ia terangkat ke surga. Sedangkan dalam Kisah Para Rasul dimulai dari saat Yesus terangkat ke surga serta menceritakan tentang penyebarluasan Pekabaran Injil. Yesus telah mempersiapkan para murid untuk tugas perutusan dengan mengajar mereka selama Ia hidup dan saat menampakkan diri sekitar 40 hari setelah kebangkitan-Nya. Sebelum Yesus terangkat ke surga, Ia memberikan tugas kepada para murid yang telah dipersiapkan-Nya itu. Yesus memerintahkan kepada para murid agar menanti di Yerusalem sampai mereka diperlengkapi kuasa oleh Roh Kudus yang akan memberi mereka kuasa menjadi saksi Kristus di Yerusalem (Kis. 2-7), seluruh Yudea dan Samaria (Kis. 8-12) dan sampai ke ujung bumi (Kis. 13-26). Kuasa dari Roh Kudus itu memberikan perubahan baru di dalam kehidupan mereka. Kuasa (Yunani : δυναμισ : dunamis) bukan sekedar kekuatan atau kemampuan akan tetapi kuasa yang berkuasa dan bertindak  (bersifat aktif) termasuk kuasa untuk mengusir roh jahat dan menyembuhkan orang sakit. Kuasa dari Roh Kudus ini juga memberikan kekuatan dan kemampuan kepada mereka untuk bersaksi dan menaati perintah serta pengajaran dari Yesus. Para murid menjadi saksi yang otentik, karena mereka melihat dan mendengar Yesus bangkit dari kematian.

Efesus 1 : 15 – 23
Surat Efesus ditulis dengan tujuan memberi penekanan bahwa mereka adalah persekutuan orang-orang percaya yang dipanggil keluar untuk bersaksi dan melayani. Efesus 1:15-23 adalah bagian dari doa syukur dan permohonan Paulus untuk kehidupan iman orang-orang Efesus. Paulus bersyukur karena saat mengenal Yesus, orang percaya di Efesus memiliki perubahan di dalam kehidupannya. Mereka semakin kuat di dalam iman secara pribadi sekaligus mereka memahami bahwa mereka dipilih dan dipanggil sebagai saksi Kristus, sehingga mereka juga memiliki kasih kepada sesamanya. Oleh karena apa yang mereka lakukan itu, Paulus menaikkan doa syukur atas keberadaan mereka yang telah menjadi saksi Kristus dan melayani dalam kasih bagi sasama, sekaligus memohonkan supaya mereka senantiasa mendapatkan hikmat dan wahyu agar terus dapat mengenal Kristus dengan benar. Hikmat yang mereka dapatkan akan memampukan mereka untuk memahami pengharapan dalam panggilan Kristus untuk mereka, kemuliaan yang diberikan untuk orang-orang kudus, serta kuasa bagi orang-orang percaya (Ay. 18-19). Dengan itu semua, mereka akan semakin berhikmat untuk terus bersaksi tentang Kristus dan melayani dalam kasih bagi sesama.

Lukas 24 : 44 – 53
Yesus menampakkan diri kepada para murid dan membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci (Ay. 45). Saat pikiran mereka terbuka dan mengerti Kitab Suci, maka ada perubahan dalam kehidupan mereka. Mereka mengerti akan tugasnya, yaitu menyampaikan berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa. Yesus memberikan perintah kepada para murid untuk menjadi saksi-Nya dimulai dari Yerusalem sampai kepada segala bangsa. Akan tetapi sebelum mereka berangkat menjalankan tugas sebagai saksi Kristus, mereka terlebih dahulu harus tinggal di Yerusalem sampai diperlengkapi dengan kuasa Roh Kudus (Yunani: δυναμισ : dunamis). Kuasa yang diterima para murid yang tertulis di ayat 49 sama dengan kuasa untuk para murid yang tertulis pada Kisah Para Rasul 1:8 (karena memiliki akar kata yang sama). Para murid adalah orang Yahudi yang setia, sehingga perutusan mereka awal mulanya masih tetap di Yerusalem sampai mereka dibimbing oleh kuasa yang akan diberikan kepada mereka melalui Roh Kudus. Kuasa yang akan menjadikan mereka kuat dan setia untuk bersaksi akan Kristus dan melayani sesama seperti halnya Kristus. Mereka akan melakukan tugas pelayanan yang  besar dan berat, karena akan ada perlawanan yang akan mereka hadapi dan mereka akan mengalami banyak penderitaan. Namun, kuasa itu akan menguatkan mereka dan menjadikan mereka berani, karena kuasa yang mereka terima bersifat aktif.

Setelah memberikan tugas itu, Yesus mengangkat tangan-Nya dan memberkati para murid-Nya. Berkat Tuhan menyatakan penyerahan perutusan-Nya kepada para murid sekaligus janji untuk mendampingi mereka melakukan tugas sebagai saksi-Nya. Para murid sujud untuk menghormati Yesus dan menerima tugas perutusan itu. Para murid tidaklah sedih atas kepergian Yesus ke surga, hal ini tentu berbeda saat kematian-Nya, para murid merasa sangat ketakutan, sehingga bersembunyi di ruang atas sebuah rumah. Mereka penuh kegembiraan kembali ke Yerusalem, karena memahami pemenuhan perutusan Yesus untuk menjadi saksi-Nya dan menantikan karunia yang dijanjikan-Nya, yaitu kuasa yang akan memperlengkapi mereka bersaksi tentang Kristus dan melayani sesama seperti yang diperbuat Kristus.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Ketiga bacaan menggarisbawahi tentang perubahan kehidupan manusia setelah mengenal Yesus dan siap menerima tugas perutusan sebagai saksi Kristus dan melayani sesama seperti yang diperbuat Kristus. Para murid telah dipersiapkan sebagai saksi Kristus dengan pengajaran-pengajaran yang diberikan Yesus selama kehidupan-Nya dan melalui penampakan diri-Nya. Pada akhirnya para murid mengalami perubahan hidup dan pemahaman, setelah pikiran mereka dibukakan untuk mengerti Kitab Suci dan menerima janji akan mendapatkan kuasa yang menyertai tugas mereka. Mereka benar-benar siap menjadi saksi dan pelayan Kristus. Orang-orang percaya di Efesus pun mengalami perubahan hidup dan pemahaman setelah mereka mengenal Kristus. Mereka semakin kuat di dalam iman, menjadi saksi Kristus, dan melayani sesama dengan kasih. Pengenalan akan Yesus mengubah kehidupan manusia, sehingga menjadikannya siap untuk menjadi saksi Kristus dan melayani seperti yang diperbuat Kristus.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Tiada yang abadi di dunia ini, setiap saat kehidupan manusia berubah dan bahkan tidak bisa mengulang kembali apa yang telah terjadi sebelumnya. Kalaupun diulang pasti tidak akan sama persis, semua sudah berubah. Oleh karena itu, Heracletos, seorang filsuf Yunani kuno mengatakan, “Tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri”. Pengenalan kita akan Yesus juga dapat mengubah kehidupan kita. Perubahan besar dalam kehidupan sejak mengenal Yesus dialami oleh seorang polisi bernama Fowler seperti yang disaksikan dalam PKJ.239 dengan judul Perubahan Besar (bisa dinyanyikan bersama jemaat).

Perubahan besar di kehidupanku
sejak Yesus di hatiku;
di jiwaku bersinar terang yang cerlang
sejak Yesus di hatiku.

Refrein:
Sejak Yesus di hatiku,
sejak Yesus di hatiku,
jiwaku bergemar, bagai ombak besar
sejak Yesus di hatiku.

Lagu ini ditulis oleh seseorang bernama Rufus. Rufus adalah seorang pendeta asal Ohio dan melayani di Christian Church Disciples of Christ. Lagu ini dia buat pada tahun 1914, ketika ia dan istrinya Margaret Dragoo kehilangan seorang anak mereka yang bernama Herschel. Lirik lagu ini kemudian digubah oleh Charles H. Gabriel dan pada tahun berikutnya diperdengarkan pada sebuah kebaktian “Billy Sunday”. Dan pada saat yang sama, ada seorang polisi bernama Fowler mengikuti kebaktian tersebut, kemudian ia memutuskan untuk menerima dan mengikut Yesus. Selanjutnya terjadi “perubahan ajaib”, yaitu ratusan rekan Fowler yang sesama polisi datang dan menerima Yesus Kristus dalam hidup mereka, bahkan keluarga mereka. Di dalam lagu tersebut nyata termaktub sebuah pengakuan bahwa ada perubahan dalam hidupnya ketika ia membiarkan Yesus menguasai hatinya. Dikatakan bahwa jiwanya bersinar terang, jiwanya bergemar bagai ombak besar, jiwanya segar, dan ia riang gembira berjalan terus menapaki kehidupan ini bersama dengan Yesus yang bertahta di hatinya. Kalau kita amati, maka perubahan besar yang dimaksudkan oleh si pembuat lagu bukanlah sebuah perubahan lahiriah yang sifatnya permukaan saja, tetapi sebuah perubahan yang bermula dari hati, bersumber pada jiwa terdalam seseorang yang jiwanya disentuh oleh kasih Yesus.

Isi
Perubahan besar dalam kehidupan sejak mengenal dan mengikuti Yesus dengan setia juga dialami oleh para murid Yesus dan juga orang-orang percaya di Efesus. Yesus telah mempersiapkan para murid untuk tugas perutusan dengan mengajar mereka selama Ia hidup dan saat menampakkan diri sekitar 40 hari setelah kebangkitan-Nya. Sebelum Yesus terangkat ke surga, Ia memberikan tugas kepada para murid yang telah dipersiapkan-Nya itu. Yesus memerintahkan kepada para murid agar menanti di Yerusalem sampai mereka diperlengkapi kuasa oleh Roh Kudus yang akan memberi mereka kuasa menjadi saksi Kristus di Yerusalem (Kis. 2-7), seluruh Yudea dan Samaria (Kis. 8-12) dan sampai ke ujung bumi (Kis. 13-26). Kuasa dari Roh Kudus itu memberikan perubahan baru di dalam kehidupan mereka. Kuasa (Yunani: δυναμισ : dunamis) bukan sekedar kekuatan atau kemampuan, akan tetapi kuasa yang berkuasa dan bertindak (bersifat aktif) termasuk kuasa untuk mengusir roh jahat dan menyembuhkan orang sakit. Kuasa dari Roh Kudus ini juga memberikan kekuatan dan kemampuan kepada mereka untuk bersaksi dan menaati perintah serta pengajaran dari Yesus. Para murid menjadi saksi yang otentik, karena mereka melihat dan mendengarkan sendiri, Yesus yang bangkit dari kematian.

Paulus bersyukur karena saat mengenal Yesus, orang percaya di Efesus memiliki perubahan di dalam kehidupannya. Mereka semakin kuat di dalam iman secara pribadi sekaligus mereka memahami bahwa mereka dipilih dan dipanggil sebagai saksi Kristus, sehingga mereka juga memiliki kasih kepada sesamanya. Oleh karena apa yang mereka lakukan itu, Paulus menaikkan doa syukur kepada Tuhan atas keberadaan mereka yang telah menjadi saksi Kristus dan melayani dalam kasih bagi sasama. Paulus juga memohonkan kepada Tuhan supaya mereka senantiasa mendapatkan hikmat dan wahyu, agar mereka dapat terus mengenal Kristus dengan benar. Hikmat yang mereka dapatkan akan memampukan mereka memahami pengharapan dalam panggilan Kristus untuk mereka, memahami kemuliaan yang diberikan untuk orang-orang kudus serta kuasa bagi orang-orang percaya (Ay. 18-19). Dengan itu semua, mereka akan semakin berhikmat untuk terus bersaksi tentang Kristus dan melayani dalam kasih kepada sesama.

Yesus menampakkan diri-Nya kepada para murid dan membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci (Ay. 45). Saat pikiran mereka terbuka dan mengerti Kitab Suci, maka ada perubahan dalam kehidupan mereka. Mereka mengerti akan tugas mereka, yaitu menyampaikan berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa. Yesus memberikan perintah kepada para murid untuk menjadi saksi-Nya dimulai dari Yerusalem sampai kepada segala bangsa. Akan tetapi sebelum mereka menjalankan tugas sebagai saksi Kristus, mereka terlebih dahulu harus tinggal di Yerusalem sampai diperlengkapi dengan kuasa Roh Kudus (Yunani : δυναμισ : dunamis). Kuasa yang diterima para murid yang tertulis di ayat 49 sama dengan kuasa untuk para murid yang tertulis pada Kisah Para Rasul 1:8 (karena memiliki akar kata yang sama). Para murid adalah orang Yahudi yang setia, sehingga perutusan mereka awal mulanya masih tetap di Yerusalem sampai mereka dibimbing oleh kuasa yang akan diberikan kepada mereka melalui Roh Kudus. Kuasa yang akan menjadikan mereka kuat dan setia untuk bersaksi akan Kristus dan melayani sesama seperti halnya Kristus. Mengingat tugas yang mereka lakukan sangat besar dan berat karena akan ada perlawanan yang akan mereka hadapi dan penderitaan yang mereka alami. Akan tetapi kuasa itu akan menguatkan mereka dan menjadikan mereka berani, karena kuasa yang mereka terima bersifat aktif.

Setelah memberikan tugas itu, Yesus mengangkat tangan-Nya dan memberkati para murid. Berkat Tuhan menyatakan penyerahan perutusan-Nya kepada para murid sekaligus janji untuk mendampingi mereka melakukan tugas sebagai saksi-Nya. Para murid sujud untuk menghormati Yesus dan menerima tugas perutusan itu. Para murid tidaklah sedih atas kepergian Yesus ke surga. Hal ini tentu berbeda saat kematian-Nya, para murid merasa sangat ketakutan, sehingga bersembunyi di ruang atas sebuah rumah. Mereka dengan penuh kegembiraan kembali ke Yerusalem. Mereka memahami pemenuhan perutusan Yesus untuk menjadi saksi-Nya dan menantikan karunia yang dijanjikan-Nya, yaitu kuasa yang akan memperlengkapi mereka bersaksi tentang Kristus dan melayani sesama seperti yang diperbuat Kristus.

Penutup
Dari ketiga bacaan kita jelas sekali bahwa pengenalan yang sempurna akan Yesus dapat mengubah kehidupan para murid dan juga orang-orang percaya di Efesus. Mereka yang dulunya tidak memahami Kitab Suci, akhirnya paham Kitab Suci dan juga segala pengajaran Yesus. Bahkan setelah Yesus terangkat ke surga, mereka terus setia dan penuh keberanian bersaksi tentang Kristus serta melayani sesama seperti yang diperbuat oleh Kristus. Ada perubahan baik dalam kehidupan mereka. Demikian juga yang menjadi panggilan dan tanggungjawab kita sebagai orang percaya. Ada perubahan baik dalam kehidupan kita, karena pengenalan kita akan Yesus.

Membuka Bulan Keksaksian dan Pelayanan, kita diingatkan bahwa kita sebagai orang percaya adalah saksi Kristus yang setia dan pelayan Kristus yang penuh kasih untuk sesama. Akan tetapi yang menjadi tantangan dalam kesaksian dan pelayanan kita saat ini adalah dunia telah berubah sejak pandemi Covid-19 melanda. Iya dunia sedang berubah, dari kondisi yang baik-baik saja menuju pandemi dan sekarang kita berada dalam situasi pasca pandemi.

Di masa pandemi, kita sebagai gereja tidak bisa leluasa bergerak keluar, bahkan harus “memenjara diri” demi memelihara kehidupan diri sendiri dan sesama. Di masa pasca pandemi, kita sebagai gereja menjadi komunitas terluka yang harus keluar dari lubang persembunyian. Akan tetapi di tengah luka dan kerapuhan yang kita alami, kita harus juga menjumpai orang-orang lain yang juga rapuh dan terluka, orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita. Lalu bagaimana wujud kesaksian dan pelayanan kita sebagai orang terluka. Kita diingatkan oleh para murid, mereka yang ditinggalkan oleh Yesus untuk naik ke surga. Mereka menghadapinya bukan dengan sedih atau ketakutan, tetapi dengan penuh kegembiraan, karena ada pengharapan, yaitu kuasa yang akan diberikan Roh Kudus atas diri mereka. Demikian juga kita di tengah luka dan kerapuhan, kita memiliki pengharapan pemulihan kehidupan, pemulihan persekutuan, dan pemulihan ekonomi pasca pandemi.

Pdt.Joas Adiprasetyo dalam bukunya “Gereja Pasca Pandemi, Merengkuh Kerapuhan” menawarkan model gereja proflektif sebagai cara bersaksi dan melayani pasca pandemi. Proflektif adalah keterarahan kepada yang lain (lawan dari reflektif yang selalu terarah pada diri sendiri). Gereja proflektif seperti halnya yang dilakukan para murid setelah Yesus naik ke surga. Alih-alih mereka meratapi kehilangan dan ketakutan mereka, akan tetapi mereka bergembira, bersukacita, dan dengan penuh keberanian bersaksi dan melayani sesama di Yerusalem, Yudea, Samaria, bahkan sampai ke ujung dunia. Di tengah luka dan kerapuhan pasca pandemi, kita tidak lagi meratapi luka, kerapuhan dan kehilangan itu, tetapi memandang kepada pengharapan akan kuasa yang diberikan Yesus melalui Roh Kudus. Kita harus terus konsisten, setia menjadi saksi Kristus serta melayani seperti yang Kristus lakukan. Bahwa ada perubahan kehidupan saat kita mengenal Yesus, dari luka dan rapuh menjadi penuh kuasa dan keberanian untuk bersaksi dan melayani. Selamat menjadi Saksi Kristus dan melayani seperti yang Kristus lakukan. Amin. [cha].

 

Pujian:

  • PKJ. 239 : 1, 2   Perubahan Besar
  • 227 : 1, 2   Umat-Mu Bersembah Sujud

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Mboten wonten ingkang langgeng ing alam donya punika, saben wekdal wonten ewah-ewahan wonten ing gesangipun manungsa lan mboten saged dipun ambali malih. Menawi wonten ingkang saged dipun ambali  tamtunipun mboten saged sami persis, sampun wonten ewah-ewahanipun. Heracletos, salah satunggaling filsuf Yunani dhawuh, “Mboten wonten ingkang mboten ewah kajaba ewah-ewahan punika piyambak”. Nalika kita tepang kaliyan Gusti Yesus wonten ewah-ewahan ing gesang kita. Ewah-ewahan ageng wonten ing satengahipun gesang punika dipun alami dening salah satunggaling polisi ingkang naminipun Fowler. Kados ingkang kaserat wonten ing PKJ. 239 kanthi irah-irahan Perubahan Besar (saged dipun pujekaken kaliyan pasamuwan).

Perubahan besar di kehidupanku
sejak Yesus di hatiku;
di jiwaku bersinar terang yang cerlang
sejak Yesus di hatiku.

Refrein:
Sejak Yesus di hatiku,
sejak Yesus di hatiku,
jiwaku bergemar, bagai ombak besar
sejak Yesus di hatiku.

Lagu punika diserat dening Rufus, Pendeta saking Ohio ingkang leladi wonten ing Christian Church Disciples of Christ. Lagu punika dipun serat ing taun 1914, nalika piyambakipun lan garwanipun Margaret Dragoo kecalan salah satunggaling putranipun, Herschel. Lirik lagu punika dipun gubah dening Charles H.Gabriel lan ing taun salajengipun dipun pujekaken wonten ing kebaktian “Billy Sunday”. Nalika semanten polisi Fowler rawuh ing pangabekti punika lajeng mutusaken nampi lan nderek Gusti Yesus nalika mirengaken lagu punika. Salajengipun wonten ewah-ewahan ingkang ajaib, atusan rencang damelipun Fowler rawuh lan nampi Gusti Yesus ing gesangipun, mekaten ugi brayatipun. Ing lirik lagu punika kaserat pangaken wonten ewah-ewahan ing gesangipun tiyang pitados nalika Gusti Yesus wonten ing manahipun. Kaserat bilih jiwanipun sumunar padhang, jiwanipun bingah kados alun ingkang ageng, jiwanipun seger lan ngraosaken kabingahan karana mlampah sesarengan kaliyan Gusti Yesus ing gesangipun. Menawi kita pirsani, ewah-ewahan ingkang dipun serat wonten lagu punika sanes ewah-ewahan sacara kajasmanen, ananging ewah-ewahan ingkang asalipun saking manah, saking jiwanipun manungsa ingkang nampi katresnanipun Gusti Yesus.

Isi
Tuwuh ewah-ewahan ingkang ageng ing gesang, sabibaripun para sakabat lan pasamuwan ing Efesus tepang lan nderek Gusti Yesus kanthi setya tuhu. Gusti Yesus nyawisaken para sakabat kagem nampi tugas lan tanggel jawab peladosan minangka saksiNipun. Nalika taksih gesang, Gusti Yesus mucal para sakabatipun kalajengaken Gusti Yesus ngatingal dhateng para sakabat, 40 dinten dangunipun. Saderengipun mekrad dhateng swarga, Gusti Yesus paring tugas dhateng para sakabat, supados para sakabat ngrantos wonten ing Yerusalem ngantos dipun jangkepi kaliyan kuwaos saking Roh Suci ingkang ndadosaken saksinipun Kristus ing Yerusalem (Kis. 2-7), Yudea lan Samaria (Kis. 8-12) ngantos ing pungkasaning bumi (Kis. 13-26). Kuwaos saking Roh Suci punika dadosaken ewah-ewahan wonten ing gesangipun para sakabat. Kuwaos (Yunani : δυναμισ : dunamis) mboten namung arupi kakiyatan lan kasagedan, ananging kuwaos ingkang asifat aktif kalebet ngusir dhemit lan nyarasaken tiyang sakit. Kuwaos saking Roh Suci punika maringi kekiyatan saha kasagedan dados saksinipun Gusti Yesus lan ugi setya dhateng piwucalipun Gusti Yesus. Para sakabat dados saksi ingkang otentik, karana mirsani lan mirengaken Gusti Yesus wungu.

Paulus saos sokur dhumateng Gusti karana tiyang Efesus ingkang sampun tepang kaliyan Gusti Yesus nggadhahi ewah-ewahan ing gesangipun. Sangsaya kiyat wonten ing iman kapitadosanipun lan ugi mangertosi bilih piyambakipun kapiji lan dipun timbali dados seksinipun Kristus matemah saged nggadhahi katresnan dhateng sedherek-sedherek sanesipun. Karana gesang ingkang dipun lampahi tiyang Efesus punika, Paulus ngunjukaken pamuji sokur, karana tiyang-tiyang punika dados saksinipun Kristus lan leladi kanthi kebak katresnan. Paulus ugi nyuwun supados tiyang-tiyang punika kaparingan kawicaksanan lan wahyu supados tansah nderek Gusti Yesus kanthi setya tuhu. Kawicaksanakan punika ndadosaken tiyang-tiyang punika saged mangertosi pangajeng-pangajeng wonten ing timbalanipun Kristus, kamulyan kagem tiyang-tiyang suci sarta kuwaos kagem tiyang pitados (Ay. 18-19). Kanthi mekaten sedaya tiyang pitados ing Efesus nggadhahi kawicaksanan supados saged kiyat dados saksinipun Kristus lan setya tuhu leladi dhateng sesami kanthi katresnan ingkang ageng.

Gusti Yesus manggihi para sakabat lan mbikak pamanggihipun supados saged mangertosi Kitab Suci (Ay. 45). Nalika pamanggipun kabikak lan mangertosi Kitab Suci, wonten ewah-ewahan wonten ing gesangipun. Para sakabat mangertosi tugas lan tanggel jawabipun nggih punika martosaken pamratobat lan pangapuraning dosa. Gusti Yesus maringi prentah supados para sakabat dados seksinipun wiwit saking Yerusalem ngantos sedaya bangsa. Ananging saderengipun leladi dados seksinipun Kristus, para sakabat kedah ngrantos wonten ing Yerusalem ngantos nampi kuwaos saking Roh Suci (Yunani: δυναμισ : dunamis). Kuwaos ingkang kaserat wonten ing ayat 49 punika sami kaliyan kuwaos ingkang kaserat wonten ing Kisah 1:8 (nggadahi tembung ingkang sami). Para sakabat punika tiyang Yahudi ingkang setya, matemah tugas ingkang wiwitan taksih wonten ing Yerusalem ngantos piyambakipun nampi kuwaos saking Roh Suci. Kuwaos ingkang ndadosaken para sakabat kiyat lan setya dados saksinipun Kristus lan leladi dhateng sesami kados Sang Kristus. Tugas lan tanggeljawabipun para sakabat punika ageng sanget lan awrat karana wonten pepalang lan kasangsaran ingkang badhe dipun alami. Ananging kuwaos ingkang dipun tampi tansah ngiyataken para sakabat lan ndadosaken wantun dados seksinipun Kristus karana kuwaos punika asifat aktif.

Sabibaripun maringi tugas punika, Gusti Yesus ngangkat AstaNipun lan mberkahi para sakabat. Berkah ingkang dipun paringaken punika nggadhahi arti bilih Gusti Yesus sampun masrahaken saestu tanggel jawab dhateng para sakabat lan paring janji tansah nyarengi nalika para sakabat dados seksinipun  ing alam donya. Para sakabat sujud, paring pakurmatan dhateng Gusti Yesus. Para sakabat mboten sedih nalika dipuntilar Gusti Yesus mekrad dhateng surga. Punika benten nalika Gusti Yesus seda sinalib, para sakabat ngraosaken ajrih lan singitan ing ruangan kang katutup. Samangke para sakabat ngraosaken kabingahan lajeng wangsul dhateng Yerusalem karana pirsa bilih Gusti tansah nganthi nalika piyambakipun dados seksi lan ngrantos kuwaos ingkang dipun janjiaken supados saged njangkepi para sakabat dados saksi Kristus lan leladi kados Sang Kristus.

Penutup
Saking tigang waosan punika kita sumerap bilih tepang kaliyan Gusti Yesus kanthi sampurna saged ndadosaken ewah-ewahan ing gesangipun para sakabat lan ugi tiyang pitados ing Efesus. Tiyang-tiyang punika ingkang saderengipun mboten mangertosi Kitab Suci, dados paham lan mangertos Kitab Suci sarta sedaya ingkang dipun wucalaken dening Gusti Yesus. Sabibaripun Gusti Yesus mekrad dhateng Swarga, tiyang-tiyang punika tansah setya lan wantun dados saksinipun Kristus lan leladi kados Sang Kristus. Wonten ewah-ewahan ingkang sae wonten ing gesangipun. Mekaten ugi ingkang dados timbalan lan tanggeljawabipun kita sedaya tiyang pitados, wonten ewah-ewahan ingkang sae karana kita tepang lan nderek Gusti Yesus.

Dinten punika kita sesarengan mbikak Wulan Kesaksian lan Pelayanan, kita sedaya dipun engetaken bilih kita ingkang dados tiyang pitados punika kedah dados saksinipun Kristus lan ugi leladi kados Sang Kristus kanthi kebak katresnan. Ananging kita ugi ngadepi pambengan wonten ing kesaksian lan peladosan kita nggih punika alam donya ingkang ewah sabibaripun wonten pandemi Covid-19. Nggih, alam donya punika ewah, saking kahanan ingkang sae dados pandemi lan samangke kita sedaya wonten ing masa pasca pandemi.

Wonten ing masa pandemi, kita bagian greja mboten saged gerak kanthi bebas malahan kedah “memenjara diri” supados saged njagi pigesangan kita piyambak lan ugi sesami. Wonten ing masa pasca pandemi punika, kita bagian greja dados komunitas ingkang nggadhahi tatu lan kedah medal saking panggenan kita. Ananging ing satengahing tatu lan raos rapuh ingkang kita alami, kita manggihi sedherek-sedherek ingkang ugi ngraosaken tatu lan rapuh sarta mbetahaken pitulungan. Lajeng kados pundi wujudipun kesaksian lan peladosan kita karana kita punika tiyang ingkang ngalami tatu. Kita dipun engetaken dening para sakabat, tiyang ingkang dipun tilar Gusti Yesus mekrad dhateng Swarga. Para sakabat mboten sedih utawi ajrih ananging kanthi kebak kabingahan ngadepi sedayanipun karana pirsa bilih wonten pangajeng-ajeng nggih punika kuasa saking Roh Suci ingkang badhe dipun paringaken dhateng piyambakipun. Mekaten ugi kita wonten ing raos tatu lan rapuh punika, kita nggadhahi pangajeng-ajeng, saged pulih ing gesang kita, pulih ing pasamuwan lan ugi ekonomi sabibaripun pandemi.

Pdt. Joas Adiprasetyo wonten ing bukunipun “Gereja Pasca Pandemi, Merengkuh Kerapuhan” nawarake model gereja proflektif  dados cara kita paring paseksi lan peladosan pasca pandemi. Proflektif punika pusatipun dhateng tiyang sanes (kosokwangsulipun reflektif ingkang pusatipun diri piyambak). Greja proflektif kados ingkang sampun dipun lampahi para sakabat nalika Gusti Yesus mekrad dhateng Swarga. Tiyang-tiyang punika mboten keranta-ranta karana sedih dipun tilar dening Gusti Yesus, mboten ngraosaken ajrih malih. Ananging para sakabat ngraosaken kabingahan ageng lan ugi ngraosaken kekiyatan ingkang tansah nganthi piyambakipun dados saksinipun Kristus lan leladi kados Sang Kristus wonten ing Yerusalem, Yudea, Samaria lan ngantos pungkasaning bumi. Wonten ing raos tatu lan rapuh pasca pandemi, kita mboten keranta-ranta nangisi raos tatu, rapuh lan kecalan sakabat.  Ananging kanthi tumemen mirsani pangajeng-ajeng, nggih punika kuwaos saking Yesus ingkang awujud Roh Suci. Matemah kita saged konsisten, setya dados saksinipun Kristus sarta leladi kados Sang Kristus. Bilih wonten ewah-ewahan wonten ing gesang kita nalika tepang lan nderek Gusti Yesus, inggih punika saking raos tatu lan rapuh dados kebak kuwaos lan kebak kawicaksanan supados saged dados saksi Kristus lan leladi kados Sang Kristus. Amin. [cha].

 

Pamuji: KPJ. 452 : 1 – 4  Tekading Manah Kawula

Renungan Harian

Renungan Harian Anak