Memberi Tanpa Pamrih itu Mencintai Semesta Khotbah Minggu 20 September 2026

7 September 2026

Minggu Biasa | Bulan Kitab Suci
Stola Hijau

Bacaan 1: Yunus 3  : 10 – 4 : 11
Mazmur: Mazmur 145 : 1 – 8
Bacaan 2: Filipi 1 : 21 – 30
Bacaan 3: Matius 20 : 1 – 16

Tema Liturgis: Alkitab Menuntun pada Pertobatan Ekologis
Tema Khotbah: Memberi Tanpa Pamrih itu Mencintai Semesta

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yunus 3 : 10 – 4 : 11
Belas Kasihan Allah atas Niniwe dan Yunus
Allah membatalkan hukuman atas Niniwe karena pertobatan mereka. Yunus justru marah, karena belas kasihan Allah yang ia alami sendiri saat di dalam perut ikan, kini diberikan kepada musuh Israel. Allah menegur Yunus dengan menggunakan contoh pohon jarak yang tidak ditanamnya, tetapi dinikmatinya, untuk menunjukkan bahwa kepedulian Allah mencakup seluruh ciptaan-Nya,  di mana manusia dan hewan adalah karya tangan-Nya.

Filipi 1 : 21 – 30
Hidup bagi Kristus dalam Komunitas
Paulus menyatakan bahwa hidup adalah Kristus. Hidup dalam tubuh ini adalah untuk menghasilkan buah melalui pelayanan dan kesaksian. Keyakinan ini diwujudnyatakan dalam kehidupan jemaat: ”Hidup berpadanan dengan Injil,” berdiri teguh dalam satu roh, dan berjuang bersama sebagai satu komunitas untuk iman yang berasal dari Injil.

Matius 20 : 1 – 16
Perumpamaan tentang Pekerja di Kebun Anggur
Yesus menggambarkan Kerajaan Surga seperti tuan rumah yang merekrut pekerja dari pagi hingga sore hari, namun sang tuan memberi upah yang sama, baik yang datang awal (pagi), maupun yang terakhir datang (sore). Ini menegaskan bahwa keselamatan dan kasih karunia Allah bukan transaksi berdasarkan prestasi atau jasa, melainkan pemberian berupa kemurahan dan menunjukkan kedaulatan Allah sendiri. Fokusnya di sini bukan pada “hak” manusia, tetapi pada kebaikan dan kemurahhatian sang tuan dalam hal ini Allah dan bukan manusia.

Benang Merah Ketiga Bacaan
Kedaulatan kasih Allah mengubah relasi dari pertobatan pribadi sampai pemulihan seluruh ciptaan. Ketiga perikop ini sama-sama membongkar paradigma ego-sentris (berpusat pada diri/kelompok sendiri) manusia dan membawanya pada teosentris (berpusat pada Allah) dan meluas secara ekologis. Pertobatan sejati yang Allah kehendaki bukan hanya perubahan perilaku moral individual tetapi pergeseran radikal dalam cara kita memandang, menghargai, dan terhubung dengan seluruh ciptaan yang dikasihi Allah.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Seorang tetangga waktu penulis masih SD, terlihat menanam pohon Durian di samping rumahnya. Dalam hati penulis bertanya-tanya, “Mengapa dia sudah tua kok malah menanam pohon Durian yang lama berbuahnya? Apakah beliau masih bisa menikmati buah Durian itu saat panen?” Ternyata tidak. Penanam Durian ini sudah dipanggil Tuhan sebelum pohon tersebut berbunga. Siapa yang menikmati, tidak lain adalah anak-anak dan cucu-cucunya. Ternyata penanam pohon Durian itu tidak menanam tanaman itu untuk dirinya sendiri, dia mempersiapkan pohon Durian itu untuk generasi yang akan datang, yang bahkan dirinya tidak mengetahuinya.

Isi
Dalam hidup, kita juga menikmati buah atau kemudahan yang sudah ditanam oleh orang yang tidak kita kenal dan telah wafat. Mereka juga memikirkan generasi setelah mereka ada. Kita menikmati jembatan yang nyaman, jalan tol yang mempercepat kita sampai ke tujuan, peralatan rice cooker, sampai temuan komputer dan HP yang kita gunakan untuk bekerja dan hiburan, semua adalah warisan dari orang lain. Orang yang  telah bekerja jauh sebelum kita ada dan mewariskan agar umat manusia semakin enak, nyaman, dan kehidupan pun lebih berarti. Mereka rela memberi talentanya tanpa meminta balasan. Itu adalah ucapan syukur tanpa pamrih yang memperindah kehidupan dan semesta.

Kita mengenal Yunus sebagaimana di bacaan pertama yang marah kepada Tuhan karena Tuhan berbelas kasih kepada orang-orang Niniwe yang pengenalan akan kebenaran itu lemah (4:11). Mereka tidak tahu membedakan tangan kanan dan kiri, bukan secara fisik, mereka hidup dalam kejahatan, penyembahan berhala, melakukan penindasan kepada sesamanya, dan tidak takut akan Tuhan. Menarik bahwa Yunus menginginkan keadilan Tuhan atas musuhnya, namun ia tidak bisa menerima belas kasih Tuhan atas orang-orang Niniwe. Kemarahan Yunus kepada Tuhan sampai ke relung hati karena melihat sepertinya Tuhan tidak konsisten, dari Tuhan yang memberi hukuman kini berubah menjadi Tuhan yang pengasih dan penyayang, serta menyesali malapetaka yang hendak didatangkan-Nya (4:2). Sampai akhirnya Yunus meninggalkan kota itu dan diberikan peristiwa ajaib pohon jarak yang bertumbuh namun kemudian layu. Dia senang ketika mendapatkan kenyamanan saat berteduh di bawah pohon Jarak yang rindang, namun menjadi marah karena ada ulat dan panas terik sehingga pohon itu layu (4:7).

Pada bacaan kedua, diungkapkan tentang bagaimana hidup berpadanan dengan Injil. Injil sendiri adalah berita bahagia bahwa  Allah menjelma menjadi  manusia untuk menyelamatkan ciptaan-Nya. Panggilan umat beriman milik Kristus adalah hidup meniru Kristus (imitatio Kristi), yaitu tidak memikirkan diri sendiri, memiliki gaya hidup seturut Kristus dengan misi memulihkan seluruh ciptaan, bahkan mendamaikan seluruh semesta (bdk. Kol. 1:20). Kesaksian kita bukan lagi hanya untuk menyelamatkan jiwa-jiwa manusia, namun memulihkan hubungan manusia dengan Allah, dengan sesama, dan dengan alam semesta.  Pemulihan semesta inilah yang menjadi fokus utama kita. Apakah yang sudah kita buat bersama untuk memperindah alam dan melestarikannya di bumi yang adalah milik  Tuhan ini?

Kita hidup ini selalu tergantung dengan alam, mulai manusia yang melahirkan kita, merawat dengan memberikan makanan dan minuman sehat sampai kita dewasa. Kita belajar mulai TK, SD bahkan sampai Perguruan Tinggi, tentu bukan hanya orang tua kita yang melakukannya. Nyatanya ada orang lain bahkan sampai dunia kerja, mulai pendaftaran, seleksi sampai magang dan bekerja. Nyatanya mereka semua sudah mempersiapkan segala sesuatunya, bukan kita. Kita banyak berhutang budi dengan banyak pihak, termasuk alam semesta ini. Kisah Durian yang ditanam oleh orang tua di atas memberikan gambaran betapa kebaikan itu dibagikan tanpa pamrih. Itu yang membuat dunia ini menjadi jauh lebih indah dan membahagiakan. Sama persis dengan kebahagiaan seorang pekerja yang datang terlambat, namun diberikan upah yang sama dengan yang datang lebih awal.

Tuhan Yesus menunjukkan justru di sinilah keadilan sang tuan, meski kita melihatnya mungkin merasa tidak adil, seperti yang dilakukan oleh orang pertama (Mat. 20:11-12). Keadilan Tuhan justru memberikan rahmat bagi semua orang yang ikut bekerja di ladang-Nya. Mereka mendapatkan upah sebagai bekal kehidupan untuk sehari. Tidak lebih sedikit tetapi juga tak lebih banyak, cukup. Kita kadang meminta lebih banyak, namun berdoanya minta rezeki secukupnya dalam Doa Bapa Kami. Keadilan Tuhan memenuhi hak dasar seluruh umat bahkan ciptaan-Nya, bukan hanya untuk mereka yang lebih kuat atau lebih dulu, atau malah yang lebih pintar dan berpengalaman. Jika itu yang menjadi ukuran maka yang diselamatkan Tuhan adalah mereka yang lebih baik secara rohani, berkecukupan, bukan mereka yang tersisih dan menjadi korban karena ketidakmampuan finansial atau disabilitas tubuh. Berkat dan anugerah Tuhan melintasi keadaan atau situasi manusia. Menariknya tak ada yang bisa menolak atau menyangkal bukan? Betapa indah jika kita memahami Tuhan menyayangi semua ciptaan tanpa diganggu dengan kepentingan diri kita sendiri.

Di Niniwe tak hanya manusia saja yang diselamatkan, namun semua hewan ternak milik penduduk di sana (Yun. 4:11). Meskipun Yunus memprotes keadilan Tuhan, sebenarnya dia mengakui bahwa Tuhan pengasih dan penyayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia, serta menyesal atas malapetaka yang hendak didatangkan-Nya (Yun. 4:2). Di sinilah terjadi ketegangan antara pengakuan iman dengan keadaan manusia duniawi. Antara kasih sayang Tuhan dan egoisme manusia dalam diri kita, tak hanya Yunus ataupun pekerja yang datang awal. Tantangan kita sekarang adalah melakukan pertobatan atas kelemahan hati dan tidak mengakui bahwa Tuhan Allah adalah Tuhan yang penuh cinta pada semesta. Hidup berpadanan dengan Kristus yang tegap berdiri dalam satu roh sejati dan sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari berita Injil adalah panggilan kita. (Filipi 1:27).  Berita Injil adalah kesukaan dan keselamatan semesta, termasuk alam di mana kita ada di bumi yang sama, di bawah matahari yang sama.

Pertobatan yang kita lakukan ini sekaligus merupakan pertobatan ekologis,  yakni memenuhi panggilan iman yang mengalir dari pengenalan akan Allah yang berdaulat dalam kemurahan-Nya atas seluruh ciptaan, sekaligus kita respons dengan hidup berpusat pada Kristus dalam kebersamaan dengan sesama makhluk serta mewujudkannya dalam tata kelola yang adil dan murah hati atas “kebun anggur” dunia ini.

Inilah panggilan untuk bertobat dari ego-antroposentrisme menuju gaya hidup yang penuh belas kasih dan mencerminkan belas kasihan Pencipta (Compasionate God) kepada semua yang dijadikan-Nya “amat baik” (Kej. 1:31) dan membawa hidup ini menjadi lebih indah, bukan karena kita hebat, namun karena Tuhan lebih dulu memberikan nikmat ini kepada kita semua.

Penutup
Tak seorangpun dari manusia yang bisa terlepas dari alam, sikap dan perlakuan kita terhadap alam mencerminkan cinta Tuhan di dalamnya. Alam dan semesta telah memberikan kita tempat bahkan kehidupan sejak sebelum kita ada. Kehadiran Kristus menjadi manusia, menyelamatkan, dan memulihkan manusia sebagai gambar Allah merupakan panggilan kita semua umat tertebus untuk merawat alam, bukan untuk diri sendiri, namun untuk generasi yang akan datang. Merekalah yang akan melanjutkan kehidupan dan kedamaian di bumi yang sama dan sudah diberikan lebih dulu oleh Tuhan untuk kita juga untuk generasi yang akan datang. Amin. [LUV].

 

Pujian:

  • 211 Gunakan Waktu
  • 61 Sungguh Indah Alam

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Wonten setunggaling priyayi sepuh nalika kula taksih SD, katingal nanem wit Duren wonten ing sakngajengipun griyanipun. Ing salebeting manah, kula nggadhahi pitakenan, “Kenging punapa tiyang ingkang sampun sepuh kados mekaten, kok malah nanem wit Duren ingkang dangu sanget ngasilaken woh? Punapa panjenenganipun taksih saged ngraosaken woh Duren punika nalika panen?”  Kasunyatanipun mboten. Tiyang ingkang nanem Duren punika sampun katimbalan dening Gusti sakderengipun wit Duren punika kembang lan nuwuhaken woh. Tiyang ingkang ngraosaken inggih punika para putra lan para wayahipun. Estunipun tiyang sepuh punika mboten nanem kangge dhirinipun piyambak, nanging piyambakipun nyawisaken kangge generasi ingkang badhe dhateng, senadyan piyambakipun mboten ngraosaken lan mangertosi woh Duren ing dinten samangke.

Isi
Wonten ing gesang punika, kita ugi ngraosaken woh utawi kamirahanipun Gusti ingkang sampun dipun tandur dening tiyang ingkang mboten kita tepangi lan sampun seda senaosa priyantun punika mboten menangi generasi ingkang lair ing jaman samangke. Kita saged lumampah lancar ing kreteg ingkang nyaman, margi tol ingkang nggampilaken kita dumugi ing tujuan, mekaten ugi piranti rice cooker, ngantos komputer lan HP ingkang kita ginakaken saben dinten kangge nyambut damel lan pados kabar ugi hiburan.

Sadaya punika warisan saking tiyang sanes. Tiyang ingkang sampun nyambut damel tebih saderengipun kita wonten, lan marisaken supados  gesanging manungsa punika saya mindhak sekeca, nyaman, lan piyambakipun namung leladi supados gesangipun langkung nggadhahi teges ing alam donya punika. Para leluhur kita rila maringaken talenta tanpa nyuwun piwales, lan punika mujudaken raos sokur tanpa pamrih kagem ngendahaken gesang lan jagad raya punika.

Kita mirsani nabi Yunus kados dene ingkang wonten waosan sepindah, ingkang nesu amargi Gusti Allah nggadhahi welas asih dhumateng tiyang Niniwe. Tiyang Niniwe punika mboten nggadah pangertosan babagan kaleresan lan kapitadosan ingkang taksih ringkih. (Yun. 4:11). Tiyang-tiyang punika mboten saged mbedakaken tangan tengen lan kiwa, tegesipun mboten sacara fisik, nanging gesangipun wonten ing salebeting kanisthan, nyembah brahala, lan nindhes sesami sarta mboten nggadhahi raos ajrih dhumateng Gusti.

Punika ndadosaken kawigatosanipun nabi Yunus ingkang nggadhahi pepenginan kaadilaning Gusti Allah kangge mengsahipun. Piyambakipun mboten saged nampi welas asihipun Gusti Allah dhateng tiyang Niniwe. Nesunipun Yunus dhateng Gusti Allah ngantos dumugi lebeting manah lan batos amargi kados-kados Gusti Allah mboten konsisten; saking maringi paukuman sapunika gantos dados asih sarta tresna lan mboten siyos dawahaken bilai (Yun. 4:2). Ngantos pungkasanipun Yunus nilaraken kitha punika lan dipun paringi prastawa elok arupi wit Jarak ingkang tuwuh nanging lajeng alum. Piyambakipun bingah nalika angsal pangayoman ing saandhaping wit Jarak ingkang rimbun, nanging malah nesu amargi wonten uler lan hawa ingkang benter lan njalari wit punika alum. (Yun. 4:7).

Ing waosan kaping kalih, dipun andharaken babagan kados pundi gesang ingkang selaras kaliyan Injil. Injil piyambak inggih punika pawarta kabingahan bilih Gusti Allah manjalma dados manungsa kagem nylametaken titahipun. Timbalan para pitados kagungipun Sang Kristus, inggih punika gesang nuladha Kristus (imitatio Kristi), inggih punika mboten namung menggalih dhiri piyambak, ananging nggadhahi lampah gesang manut Sang Kristus. Inggih punika mulihaken sadaya titah, malah ugi ndamel rukunipun jagad raya kados dene Gusti Yesus sampun nelakaken lumantar gesang sinalib (bdk. Kol. 1:20). Paseksi kita mboten namung kangge nylametaken nyawa manungsa, nanging mulihaken sesambetaning manungsa kaliyan Gusti Allah, manungsa dhateng sesami, dalasan manungsa kaliyan alam semesta. Pamulihan jagad raya punika ingkang dados punjering kawigatosan kita. Punapa ingkang sampun kita tindakaken sesarengan kangge ngendahaken alam, sarta njagi lestarinipun bumi ingkang dados kagunganipun Gusti punika?

Kita gesang punika tansah gumantung kaliyan alam, wiwit saking ibu ingkang nglairaken kita, ngrimati kanthi maringi tetedhan lan unjukan sehat ngantos kita diwasa. Kita sinau wiwit TK, SD ngantos pawiyatan luhur, tamtunipun mboten namung tiyang sepuh kita ingkang nindakaken pamucal. Kasunyatanipun tiyang sanes, ngantos dumugi ing pandamelan, wiwit saking pendaftaran, seleksi, ngantos magang, lan nyambut damel.

Tiyang sanes ingkang sampun nyawisaken sadayanipun, sanes kita. Kita nggadhahi kathah utang budi kaliyan maneka warni pihak, kalebet alam semesta punika. Cariyos Duren ingkang dipun tandur dening tiyang sepuh ing nginggil, ngaturi gegambaran kados pundi kasaenan lan katresnan punika dipun bagekaken tanpa pamrih. Lampah punika ingkang ndamel donya punika dados langkung endah lan kita ngraosaken bingah. Sami persis kaliyan kabingahanipun buruh ing kebon anggur ingkang dugi telat, nanging dipun paringi bayaran ingkang sami kaliyan ingkang dugi langkung rumiyin.

Gusti Yesus nedahaken bilih wonten ing ngriki kaadilanipun Sang Bendara, senadyan mbok menawi kita galih kraos mboten adil, kados dene ingkang dipun tindakaken dening tiyang ingkang mlebet enjang (Mat. 20:11,12). Kaadilanipun Gusti ingkang kagambaraken Sang Bendara nalika maringi rahmat kangge sadaya tiyang ingkang ndherek nyambut damel wonten ing kebon angguripun. Para buruh angsal bayaran minangka sangu kangge gesang sedinten. Mboten kirang nanging ugi mboten langkung, sadaya cekap. Kita kadhangkala nyuwun langkung kathah, nanging wonten ing pandonga nyuwun rejeki ingkang sacekapipun ing donga “Romo Kawula.”

Kaadilanipun Gusti punika nyekapi hak dhasar sadaya umat dalah titahipun, mboten namung kangge tiyang ingkang langkung kiyat utawi langkung rumiyin, utawi malah ingkang langkung pinter lan nggadhahi pengalaman. Menawi punika ingkang dados ukuran, mila ingkang dipun slametaken dening Gusti inggih punika tiyang ingkang langkung sae kanthi rohani, cekap ing bandha, sanes tiyang ingkang kasingkir lan dados kurban amargi mboten nggadhahi bandha utawi cacat fisik. Berkah lan kanugrahaning Gusti Allah punika nglangkungi kahananipun manungsa. Lan sadaya punika panguwaosing Gusti Allah piyambak ingkang mboten saged kita nampik utawi malah meksa. Saestu endah menawi kita mangertosi bilih Gusti Allah nresnani sadaya titah tanpa linambaran kaliyan pikajeng dhiri kita piyambak.

Wonten ing Niniwe mboten namung manungsa ingkang dipun slametaken, nanging sadaya kewan ingon-ingon kagungipun warga ing ngrika (Yun. 4:11). Senadyan Yunus protes dhateng Gusti, estunipun piyambakipun ngakeni bilih Gusti Allah punika asih darma lan estu tresna, sabar lan luber ing sih kadarman, ugi mboten siyos dhumawahaken bilai (Yun. 4:2). Ing ngriki wonten sesambetan ingkang lebet antawisipun pangakenan iman kaliyan kahanan manungsa donya. Antawisipun sih katresnanipun Gusti lan egoisme ing dhiri kita, mboten namung Yunus utawi buruh ingkang dhateng rumiyin nanging ugi kita samangke.

Tantangan kita samangke inggih punika mratobat saking ringkihipun manah lan ngakeni bilih Gusti Allah punika Gusti ingkang kebak tresna dhateng jagad raya. Gesang selaras kaliyan Kristus ingkang jumeneng wonten ing satunggal roh lan setunggal jiwa mbudidaya kagem iman ingkang tuwuh saking pawarta Injil punika dados timbalan kita. (Filipi 1:27). Pawartos Injil ingkang wujud kabingahan lan kawilujengan jagad raya, sageda dumados ing alam, ing pundi kita sadaya gesang, ing bumi ingkang sami, ing saandhaping surya ingkang sami ugi.

Mratobat ingkang kita tindakaken punika mujudaken mratobat ekologis, inggih punika timbalan iman lan pangertosan babagan Gusti Allah ingkang kuwaos kanthi kamirahanipun dhateng sadaya titah. Kita lampahi kanthi gesang sesarengan sesami mahluk lan punjeripun namung dhateng Sang Kristus. Inggih namung Sang Kristus ingkang sampun dados manungsa paring kawilujengan dhateng sadaya jagad, lan nelakaken gesang ingkang adil lan loman wonten ing kebun anggur, inggih ing donya punika.

Punika timbalan kangge mratobat saking ego-antroposentrisme tumuju lampah gesang ingkang kebak welas asih (Compasionate God). Karana Panjenenganipun ingkang sampun yasa damel “prayoga linuwih/sae sanget” (Purwaning Dumadi 1:31) temahan kita sadaya kabereg sami ndadosaken gesang dados langkung endah, sanes amargi kita hebat, nanging amargi Gusti Allah langkung rumiyin maringi kanugrahan punika dhumateng kita sadaya.

Panutup
Mboten wonten satunggal manungsa ingkang saged uwal saking alam. Tumindak lan laku kita dhumateng alam nggambaraken katresnanipun Gusti Allah wonten ing gesang kita. Alam lan jagad raya sampun maringi kita papan malah ugi gesang wiwit saderengipun kita lair lan gesang. Rawuhipun Gusti Yesus Kristus dados manungsa, nylametaken, lan mulihaken kita dados pasuryaning Allah. Sumangga kita wujudaken timbalan punika, kita sadaya minangka umat ingkang katebus ingatag ngrimati alam, mboten namung kangge dhiri kita piyambak, nanging ugi kangge generasi ingkang badhe dhateng. Kita udi gesang lan katentreman ing bumi ingkang sami, ingkang sampun dipun paringaken dening Gusti kangge kita lan ugi kangge para anak lan putu kita ing wekdal ingkang wonten punika. Amin. [LUV].

 

Pamuji: KPJ. 445  Gusti Mugi Karsa Angutus

Renungan Harian

Renungan Harian Anak