Bacaan: Hakim-hakim 16 : 23 – 31 | Pujian: KJ. 26
Nats: “Lalu berserulah Simson kepada TUHAN, “Ya Tuhan ALLAH, ingatlah aku dan buatlah aku kuat sekali ini saja, ya Allah, supaya dengan suatu pembalasan saja kubalas kedua mataku itu terhadap orang Filistin.” (Ayat 28)
Saya teringat masa kecil saya di sebuah dusun, dimana saat saya berbuat salah atau hendak melakukan kesalahan selalu disertai dengan ancaman lisan, yaitu dosa dan masuk neraka. Contohnya: ketika saya mau berbohong tidak mengembalikan uang kembalian belanja ibu, pasti ada yang bilang, “nanti dosa loh …, masuk neraka!”. Perihal ancaman lisan tentang dosa dan neraka itu ternyata bisa membuat saya merasa takut dan enggan untuk berbuat salah. Tetapi apakah nuansa seperti itu juga masih terasa pada zaman ini?
Kisah hidup Simson merupakan gambaran orang percaya yang hidup dalam ketidaktaatan. Takut terhadap dosa karena meninggalkan Allah dapat dikalahkan oleh rayuan dunia. Kelemahan Simson dalam mengendalikan diri menjadi celah dosa yang menjatuhkannya. Akibatnya Tuhan meninggalkan dia (Ay. 20) dan ia mengalami berbagai macam kepahitan di sepanjang hidupnya. Kekuatannya hilang, matanya dicungkil, ia diperbudak, bahkan menjadi hiburan bagi para raja kota Filistin. Karena menyadari akan kekuatan besar yang ia miliki berasal dari TUHAN, maka Simson kembali berseru kepada TUHAN dengan sungguh dan tulus. Ia memohon kekuatan supaya ia dapat mengalahkan orang Filistin (Ay. 28). Hidup Simson pun berakhir pahit namun juga manis. Pahit karena tragis tetapi berbuah manis karena di akhir hidupnya, Allah menjawab doanya hingga ia mendapatkan kembali kekuatannya, mencapai kemenangan atas orang Filistin dan berhasil menyelamatkan bangsa Israel dari bahaya penindasan. Ini adalah proses pertobatan manis yang dilakukan oleh Simson dalam hidupnya. Ia masih menyadari bahwa ia perlu kekuatan dan pertolongan TUHAN.
Dari kisah Simson ini kita dapat belajar bagaimana memaknai kehidupan pemberian Tuhan dengan sungguh-sungguh. Banyak potensi dan anugerah yang dapat kita pakai untuk mendatangkan buah manis bagi kehidupan. Kisah tragis Simson menjadi peringatan supaya kita tidak menganggap kelemahan dan dosa sebagai hal yang sepele. Nyatanya, karena dosa, manusia hidup dalam kebinasaan. Karena itu, mari kita senantiasa hidup dalam pertobatan. Karena pertobatan yang sejati dan tulus kepada TUHAN pasti mendatangkan buah yang manis dalam hidup kita. Amin. [YN].
“TUHAN menyediakan banyak celah dan ruang bagi kita untuk bertobat.”