Minggu Kristu Raja | Penutupan Bulan Budaya
Stola Putih
Bacaan 1: Yeremia 23 : 1 – 6
Bacaan 2: Kolose 1 : 11 – 20
Bacaan 3: Lukas 23 : 33 – 43
Tema Liturgis: Budayakan Hidup Benar dan Baik di Tengah Kejahatan!
Tema Khotbah: Hidup di dalam Kristus Sang Raja
Penjelasan Teks Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yeremia 23 : 1 – 6
Allah yang kita sembah, bukanlah Allah yang melupakan dan meninggalkan kita. Allah yang kita sembah adalah Allah yang selau mencari dan mengumpulkan kita. Ayat 3 menegaskan hal itu bahwa Ia sendiri akan “mengumpulkan sisa-sisa … dan Aku akan membawa mereka kembali ke padang mereka” serta mengangkat gembala-gembala yang menggembalakan mereka dengan sepantasnya. Konteks bacaan kita kali ini adalah ketika negara Yehuda menghadapi kehancuran.
Kata “para gembala” di Yehuda yang dimaksudkan adalah para raja, imam, dan nabi yang harus bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa ini (baca lagi dan maknai ayat 1-2). Mereka tidak hanya membiarkan kambing dombanya tersesat, tetapi menggiring mereka untuk menjalani hidup yang sesat dan tercela di hadapan Allah. Allah tidak dapat lagi mempercayai para pemimpin yang tidak bertanggung jawab (Ay. 3-4).
Allah lalu mengambil alih peran para gembala itu, Ia sendiri yang akan turun tangan untuk mengumpulkan “kambing domba” yakni umat-Nya yang sudah tercerai-berai dan memimpin mereka kembali ke padang. Kemudian Allah juga akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang baru demi pembaharuan hidup kambing domba-Nya.
Kolose 1 : 11 – 20
Melalui doa, Paulus ingin mengajak kita saat ini menyadari bahwa kita memiliki Allah yang begitu mengasihi kita yaitu Yesus Kristus. Dengan kasih-Nya itu “melayakkan kita untuk mendapat bagian dalam kerajaan-Nya sebagai orang-orang kudus”. Dia “melayakkan – melepaskan – memindahkan – menebus – mengampuni” bahwa Allah di dalam Yesus Kristus berbuat untuk keselamatan kita. Itulah Allah yang kita imani dan yang kita kenal.
Maka dari itu, dengan pengenalan seperti itu kita diarahkan untuk dapat memahami apapun kondisi kehidupan yang sedang kita hadapi dan apapun yang akan terjadi, kita pasti akan menanggungnya dengan “tekun, sabar, bersyukur, dan bersukacita” (Ay. 11-12). Bahwa sukacita seorang Kristen itu adalah sukacita di dalam setiap keadaan. Iman akan semakin kuat dan bertumbuh ketika kita mengandalkan iman atas setiap situasi hidup yang kita lalui. “Tekun, sabar, bersyukur, dan bersukacita” harus nyata bagi kita dalam menjalani kehidupan ini. Sebab tidak ada alasan untuk tidak berbuat seperti itu karena iman kita kepada Allah yang memberi jaminan atas keselamatan kita. Maka apapun kondisi dan situasi yang kita hadapi keempat hal di atas akan tetap bergelora dalam kehidupan kita.
Maka disini Paulus mendefenisikan hubungan kita dengan Allah adalah hubungan yang organik yaitu Kristus adalah kepala dan kita tubuh-Nya. Menandakan hubungan yang begitu erat yang ‘tak terpisahkan’. Sebagaimana Paulus menuliskannya di Roma 8:35, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”. Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari Tuhan, sekalipun itu maut sebab dengan kesatuan kita dengan Kristus, sebagaimana Kristus bangkit dari antara orang mati, demikian juga kita akan dibangkitkan-Nya dari kematian. Sehingga nats ini mengarahkan kita bahwa selama kita masih hidup dalam dunia ini, tetaplah untuk: “Tekun” di atas dasar iman yang telah terbangun dalam diri kita, walau apapun yang akan terjadi ‘tak akan memisahkan kita dari Tuhan’. “Maka demi nyawamu, bertekunlah mengasihi Tuhan Allahmu” (Yosua 23:11). “Sabar” menahan diri tidak gegabah, tetap menguasai diri dalam terang Firman Tuhan, sebab akan tiba waktunya kita menerima buah dari kesabaran kita. “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota” (Amsal 16:32). “Bersyukur” atas apapun yang ada dalam hidup kita, sebab bersyukur akan membuat kita mampu melewati hal yang sukar, bersyukur akan membuat kita senantiasa memandang Allah dan menjauh kita dari ketakutan, sebagaimana Paulus mengatakan: “Mengucap syukurlah dalam segala hal.” (1 Tes. 5:18). “Bersukacita” adalah sikap kita merespon atas apapun yang terjadi, sebab sukacita tidak datang dari perasaan atau pikiran kita tetapi sukacita adalah sinar dari iman yang menyinari hidup kita. “Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan, sekali lagi kukatakan: bersukacitalah” (Filipi 4:4).
Lukas 23 : 33 – 43
Saat penyaliban-Nya, Yesus menyatakan kebenaran dan kemuliaan-Nya. Pada saat itu, Ia digantung di salib, hanya mulut-Nya yang masih bebas berkata-kata dan apa yang Ia katakan merupakan keistimewaan. Penyiksaan dan kekejian yang dilakukan pada-Nya tidak mampu merubah diri-Nya. Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Yang Yesus ungkapkan ini bukan untuk mereka yang tidak bertobat dan menolak Injil. Tidak serta merta orang-orang yang keji ini diampuni tanpa syarat dan Tuhan menyetujui keberdosaan mereka. Tetapi pengampunan disediakan bagi mereka yang bertobat dan percaya pada Kristus. Doa Yesus ini merupakan ungkapan betapa kejinya perbuatan mereka, kalau mereka tahu siapa Yesus sebenarnya tentu mereka tidak berani melakukan hal ini.
Orang banyak menonton kematian-Nya. Kematian ini menyenangkan bagi mereka. Mereka mencemooh Yesus dengan mengatakan, “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.” Mereka menuduh pekerjaan baik yang dilakukan Yesus sebagai kejahatan. Tetapi dari ungkapan mereka tersirat bahwa mereka mengakui ‘orang lain Ia selamatkan’ dan mau melihat bagaimana Ia menyelamatkan diri-Nya. Mereka merayakan peristiwa ini, bahwa mereka telah menaklukkan Yesus, mereka menganggap Yesus tidak berdaya. Padahal inti penyaliban ini bukan ketidak-berdayaan tetapi kerelaan untuk berkorban.
Para prajurit Romawi membuat kalimat ejekan bahwa orang ini mengaku sebagai Raja Orang Yahudi. Tetapi hal ini adalah kebenaran, bukan hanya Raja Orang Yahudi tetapi Raja Gereja, Tuhan membuat hal ini menjadi deklarasi tentang diri-Nya yang sesungguhnya. Tulisan ini dibuat lengkap karena ditulis dalam tiga bahasa yaitu bahasa Ibrani, Latin, dan Yunani. Ini merupakan proklamasi Injil supaya semua bangsa tahu siapa Dia. Mereka tidak menyadari bahwa mereka dipakai Tuhan untuk menuliskan pernyataan Injil. Bahwa kerajaan Yesus melampaui kerajaan yang orang banyak pikirkan.
Maka Yesus menunjukkan kuasa yang ada pada-Nya. Di atas salib pun Yesus masih mempunyai kuasa untuk mengampuni dan menentukan kemana seseorang akan pergi. Hal ini bukan karena kebaikan hati penjahat yang di sebelah kanan-Nya tetapi semata-mata karena kebaikan hati Yesus. Siapa yang membuat dirinya sadar diri sebagai orang berdosa yang layak mendapatkan kematian yang hina dan menyadari siapa Yesus? Adakah kemampuan pada dirinya sendiri? Sedangkan selama hidupnya ia tidak mampu tetapi pada saat akhir hidupnya ia dimampukan. Yesus memberikan jaminan luar biasa bagi orang ini bahwa baginya diberi tempat di Surga bersama-sama dengan Yesus. Walaupun pada saat yang singkat, pertobatan di atas salib, tetapi orang ini sungguh-sungguh memberikan kemuliaan pada Yesus. Kesaksiannya terdengar sampai sekarang, bahwa ia berbeda dengan orang-orang di sekitarnya, walau semua orang menghina Yesus tetapi ia berani menyatakan kebenaran.
Kematian Yesus Kristus adalah untuk membuka pintu kerajaan Surga bagi semua orang yang bertobat dan percaya kepada-Nya. Yohanes 10:17-18 “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.”
Kata Yesus kepada penjahat yang di sebelah kanan-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Paulus memahami kematian dengan kalimat “aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus.” (Flp. 1:23). Kata-kata ini bukan mengatakan pada suatu hari nanti, tetapi segera, saat ia mati ia langsung bersama dengan Kristus. Maka mati di dalam Tuhan bukan kengerian tetapi mendapat perhentian dan kehidupan di dalam Tuhan.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Kehidupan diwarnai oleh berbagai macam kenyataan. Ada sebagian yang sedemikian bersemangat memberikan kesaksian melalui pewartaan firman yang disiarkan melalui stasiun radio, televisi, maupun media sosial. Ada yang berkesaksian melalui perbuatan baik dan benar serta bentuk-bentuk kepedulian terhadap sesama sebagai bukti kehidupannya telah diberkati oleh Tuhan Yesus Kristus secara berkelimpahan. Sudah semestinya jika hidup kita mengidentifikasikan diri sebagai Anak Raja yang baik sebagaimana yang dinasihatkan oleh Kristus Raja. Pancaran kehidupan itu harus tampak, kasih Allah di dalam Kristus menjadikan umat Kristen menjadi pribadi yang tangguh, tekun, sabar dalam menghadapi segala dinamika kehidupan. Hidup yang memaklumkan bahwa Yesus Kristus adalah Raja atas kehidupan.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Pada Minggu saat ini kita tengah merayakan puncak liturgi peribadahan kita yakni Minggu Kristus Raja. Maksudnya merayakan bahwa Tuhan Yesus Kristus setelah menyelesaikan karya penyelamatan-Nya di atas kayu salib, Dia telah menang dan kembali naik takhta Kerajaan-Nya yang bersifat kekal. Kita sebagai umat beriman mestinya juga menghayati sebagai anak-anak Kerajaan Kristus. Selain dari keyakinan akan mendapat bagian dalam Kerajaan-Nya juga memiliki mental anak-anak raja selama menantikan kegenapan-Nya. Menjadi anak-anak raja tidak lantas diekspresikan dalam euphoria kesukacitaan melainkan dengan kesaksian hidup yang penuh sukacita sebagaimana sesama-pun ikut mengalami sukacita tersebut.
Sebagian orang Kristen sedemikian bersemangat di dalam kesaksian verbal atau melalui tutur kata di mimbar khotbah atau kesaksian pribadi bahkan di tengah pergaulan sehari-harinya yang terkadang membuat risih orang yang mendengarnya karena seakan-akan sudah tidak ada pergumulan hidup yang harus diembannya. Hidup adalah sukses dan nihil masalah. Benarkah demikian? Tentu tidak.
Isi
Allah yang kita sembah, bukanlah Allah yang melupakan dan meninggalkan kita. Allah yang kita sembah adalah Allah yang selau mencari dan mengumpulkan kita. Melalui Yeremia 23:3, kita mendapatkan gambaran bahwa Ia sendiri akan “mengumpulkan sisa-sisa … dan Aku akan membawa mereka kembali ke padang mereka” serta mengangkat gembala-gembala yang menggembalakan mereka dengan sepantasnya. Penandasan akan hal ini, mengingatkan kita kepada konteks ketika Yehuda menghadapi kehancuran. Kata ”para gembala” yang dimaksudkan adalah para raja, imam, dan nabi yang harus bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa yang tengah dihadapi oleh Yehuda. Mereka tidak hanya membiarkan kambing dombanya tersesat, tetapi menggiring mereka untuk menjalani hidup yang sesat dan tercela di hadapan Allah. Allah tidak dapat lagi mempercayai para pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Allah lalu mengambil alih peran “para gembala” itu, Ia sendiri yang akan turun tangan untuk mengumpulkan “kambing domba” yakni umat-Nya yang sudah tercerai-berai dan memimpin mereka kembali ke padang. Kemudian Allah juga akan mengangkat pemimpin yang baru demi pembaharuan hidup kambing domba-Nya.
Melalui doa Paulus, sebagaimana tertuang pada bacaan kedua hari ini, dia ingin mengajak kita untuk menyadari bahwa kita memiliki Allah yang begitu mengasihi kita yaitu Yesus Kristus. Dengan kasih-Nya itu “melayakkan kita untuk mendapat bagian dalam kerajaan-Nya sebagai orang-orang kudus”. Dia “melayakkan – melepaskan – memindahkan – menebus – mengampuni”, bahwa Allah di dalam Yesus Kristus berbuat untuk keselamatan kita. Itulah Allah yang kita imani dan yang kita kenal.
Maka dari itu, dengan pengenalan seperti itu kita diarahkan untuk dapat memahami apapun kondisi kehidupan yang sedang kita hadapi dan apapun yang akan terjadi, kita pasti akan menanggungnya dengan “tekun, sabar, bersyukur, dan bersukacita” (Ay. 11-12). Bahwa sukacita seorang Kristen itu adalah sukacita di dalam setiap keadaan. Iman akan semakin kuat dan bertumbuh ketika kita mengandalkan iman atas setiap situasi hidup yang kita lalui. “Tekun, sabar, bersyukur, dan bersukacita” harus nyata bagi kita dalam menjalani kehidupan ini. Sebab tidak ada alasan untuk tidak berbuat seperti itu karena iman kita kepada Allah yang memberi jaminan atas keselamatan kita. Maka apapun kondisi dan situasi yang kita hadapi keempat hal di atas akan tetap bergelora dalam kehidupan kita.
Maka di sini Paulus mendefenisikan hubungan kita dengan Allah adalah hubungan yang organik, yaitu Kristus adalah kepala dan kita tubuh-Nya. Menandakan hubungan yang begitu erat yang ‘tak terpisahkan. Sebagaimana Paulus menuliskannya di Roma 8:35, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari Tuhan, sekalipun itu maut sebab dengan kesatuan kita dengan Kristus, sebagaimana Kristus bangkit dari antara orang mati demikian juga kita akan dibangkitkan-Nya dari kematian. Kematian Yesus diatur sedemikian mengerikan yaitu disalibkan pada tiang kayu, yang melambangkan langit dan bumi tidak menerima-Nya. Selain itu, Ia disalibkan di antara penjahat, untuk menyatakan bahwa Ia sama atau bahkan lebih jahat dari penjahat di sebelah kiri dan kanan-Nya. Sedemikian keji penghakiman manusia terhadap Tuhan Yesus, yang menempatkan kesalahan dalam semua perbuatan-Nya.
Namun, betapapun manusia sedemikian jahatnya, Ia tetap menyatakan kebenaran dan kemuliaan-Nya. Penyiksaan dan kekejian yang dilakukan kepada-Nya tidak merubah diri-Nya. Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Apa yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus hendak menandaskan bahwa pengampunan diberikan bagi setiap orang yang percaya dan bertobat kepada Kristus. Sungguh, hanya oleh kasih sejati yang sanggup melakukan hal itu.
Para prajurit Romawi membuat kalimat ejekan bahwa orang ini mengaku sebagai Raja Orang Yahudi. Tetapi justru melalui kalimat itu pula telah dinyatakan sebuah kebenaran, bukan hanya Orang Yahudi tetapi Raja Gereja, Tuhan berkuasa mengubahkan yang semula sebagai kalimat ejekan menjadi pengungkapan kebenaran, sebuah deklarasi tentang Yesus Kristus yang sesungguhnya. Yesus adalah Raja atas kehidupan. Sebagai Raja atas kehidupan, Yesus pun menunjukkan kuasa yang ada pada-Nya. Ia mengampuni, Ia berkuasa menentukan arah ke mana seseorang hendak pergi. Ia punya kuasa memberikan jaminan bagi setiap orang bertobat, ia diberikan tempat di sorga bersama-sama dengan Tuhan Yesus.
Penutup
Dalam sejarah dunia ini, ada ribuan atau jutaan rakyat mati untuk membela rajanya. Sebaliknya kita menghayati Raja yang mati untuk umat milik-Nya. Dialah Raja yang sejati marilah kita mempermuliakan Raja kita yang telah memberi nyawa-Nya bagi kita. Penjahat yang di sebelah kanan Kristus saja mempermuliakan Tuhan dalam waktu yang singkat di atas salib dan kesaksiannya hidup sampai sekarang. Kita yang masih diberi kesempatan hidup maka muliakan Tuhan dalam hidup kita.
Pelajaran yang kita dapatkan dari sikap Yesus mendoakan orang-orang yang menyalibkan-Nya, bahwa Dia tidak mempunyai kebencian atas mereka, dengan demikian Dia menunjukkan kemuliaan-Nya. Kita sebagai orang Kristen juga seharusnya tidak membenci orang-orang yang memusuhi kita supaya kita tidak sama dengan mereka dan untuk memperlihatkan kebenaran Kristus yang telah dikenakan pada kita.
Harapan Yesus tentunya supaya dimanapun orang-orang yang melakukan kebenaran jangan hendaknya dikorbankan. Ketaatan agama yang buta membuat penyaliban atau kekejian. Kalau kekristenan tanpa Kristus juga akan mengorbankan orang lain, sebaliknya dengan berpusat pada Kristus, kita mau berkorban untuk orang lain. Amin. [AS].
Pujian: KJ. 397 : 1, 2 Terpuji Engkau, Allah Maha Besar
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Salebeting pangibadah wekdal punika, kita sami mahargya pucaking liturgi pangibadahan inggih minangka Minggu Kristus Sang Raja. Pahargyan punika sedya mratelakaken bilih Gusti Yesus Kristus punika sasampunipun ngrampungaken pakaryan kawilujengan ing kajeng salib, Panjenenganipun sampun unggul lan kepareng lenggah ing kaprabonipun ingkang asipat langgeng.
Kita minangka jejering tiyang pitados inggih ngraosaken minangka jejering putra-putra Kratoning Sang Kristus. Kajawi gadhah kapitadosan nampi berkahing Kratoni-Pun, ugi supados kita gadhah sikep ingkang kiyat minangka putra-putraning Sang Ratu. Dados putra-putra Kratoning Sang Kristus boten lajeng dipun ketingalaken kanthi bingah-bingah tanpa tata, nanging dipun seksekaken salebeting gesang ingkang kebak ing kabingahan kanthi pangangkah sesami inggih badhe kasawaban kabingahan kita punika.
Namung kemawon sawetawis tiyang Kristen anggenipun mitadosi dados para putra Kratoning Sang Kristus kanthi sakelangkung greget salebeting mratelakaken paseksinipun lumantar pocapan utawi wedharan khotbah, makaten ugi ing paseksening pribadi wonten pasrawungan ingkang adhakanipun njalari sungkanipun tiyang sanes awit tanpa tedheng aling-aling. Kadosipun gesang punika tanpa masalah/ prekawis babar pisan. Gesang dipun anggep boten nate wonten masalah. Punapa bab punika leres? Tamtunipun boten makaten!
Isi
Gusti Allah ingkang kita puji, inggih Gusti Allah ingkang boten badhe nglirwakaken para abdiniPun. Gusti Allah ingkang tansah nimbali para kagunganiPun, kados gegambaran lumantar nabi Yeremia ingkang ngandharaken bilih Gusti Allah “lan Ingsun piyambak bakal ngempalake kekarene wedhus-wedhusingSun saka ing tanah anggoningSun mbuyarake lan bakal nggiring bali menyang ing pangonane maneh; iku banjur bakal tangkar-tumangkar lan wuwuh akeh”. Gusti Allah pribadi ingkang badhe jumeneng minangka Pangarsaning Pasamuwan, paring panuntun tumrap menda-menda ngen-ngenaniPun.
Lumantar pandonganipun Rasul Paulus, kados ingkang sinerat salebeting waosan kaping kalih dinten punika, bilih katresnaniPun Gusti Allah ingkang linangkung dening ageng sarana rawuhipun Gusti Yesus ingkang jumeneng minangka Ratuning Gesang. Lumantar katresnaniPun ndadosaken kita nampi peranganing Kratoning Swarga minangka tetiyang ingkang sinucekaken dening Gusti.
Lumantar katresnaniPun ingkang sampun binabar punika, gesang kita pinaringan pangatag supados saged ngetingalaken gesang ingkang kebak kasantosan, tumemen, sabar, lan ugi saos sokur. Kolose 1:11-12 “…lan maneh kowe padha kasantosakna sarana kakuwatan panguwasaning kamulyane Pangeran, supaya bab anggonmu ngrasakake samubarang kabeh kalawan tumemen lan sabar. Sabanjure padha saosa sokur kanthi bungah marang Sang Rama, kang wus memantes marang kowe bisane kapanduman apa kang wus katamtokake tumrap marang para suci kang ana ing kratoning pepadhang.”
Pramila lajeng Rasul Paulus ngandharaken sesambetan ing antawisipun kita para kagunganiPun kaliyan Gusti Yesus, ingkang jumeneng Ratuning Gesang kita. Kados ingkang kaserat wonten serat Rum 8:35-37, “Sapa kang bakal megatake kita saka ing sihe Sang Kristus? Apa panganiaya, apa rupeking ati, apa panguya-uya, apa kaluwen, apa kawudan, apa bebaya, apa pedhang? Kaya kang wus katulisan: “Margi saking Paduka, kawula sami wonten ing salebeting bebaya pejah sadinten muput, kawula sami kaanggep kados menda sembelehan.” Nanging mungguhing bab iku mau kabeh, kita padha ngungkuli wong kang padha menang, jalaran saka Panjenengane kang wus ngasihi kita.”
Lumantar Injil dinten punika, paring pangenget dhateng kita bilih dhateng sok sintena ingkang karsa mbikak korining manah, mandeng dhumateng Gusti, mratobat, tiyang kalawau kapitulungan rahayu. Kadosdene durjana ingkang kasalib sesarengan Gusti Yesus, tiyang kalawau pitados bilih Gusti Yesus sanes durjana kados piyambakipun. Tiyang kalawau nyuwun pitulungan dhumateng Gusti Yesus, lan inggih awit kapitadosanipun tiyang kalawau dalasan panguwaosipun Gusti Yesus lajeng durjana punika kapitulungan rahayu. Punika mratelakaken kasunyatan bilih Gusti Yesus punika Allah, Ratuning Gesang ingkang kagungan panguwaos mranata lampah gesangipun manungsa dumugi kalanggengan.
Kula lan panjenengan punika, minangka pasamuwanipun Gusti Yesus ing wekdal sapunika inggih tinimbalan supados ngetingalaken lan mbuktekaken minangka para putraning Sang Raja. Pambudidaya ngetingalaken lan mbuktekaken bab punika kanthi nggesangaken iman kapitadosan dhumateng Gusti. Ing sisih sanes nggadhahi kekendelan lan eklasing gesang wonten satengah-tengahipun masyarakat ingkang adhakanipun taksih nyepelekaken utawi nampi kita dados tiyang Kristen, nanging kanthi wigah-wigih awit pangertosan ingkang klentu. Bab punika saged njalari tiyang Kristen minder, ajrih lan lingsem mratelakaken kapitadosanipun.
Panutup
Tiyang Kristen wonten satengah-tengahipun masyarakat gadhah drajat ingkang sami lan jajar kaliyan warga masyarakat sanesipun punapa kemawon agamanipun. Kapitadosan dhateng kayektosan bilih Gusti Yesus punika Sang Raja, punika inggih saged dados daya kangge mratelakaken paseksi sacara tumata lan njagi kaurmatan gesang sesarengan. Kapitadosan manawi gesangipun tiyang pitados tansah winengku dening Gusti kalebet sedaya umat ing salumahing bumi.
Mila saged dados daya anggen ngupadi kayektosan, kaadilan, gesang ingkang sajajar, sih katresnan saha sih pangapunten kangge sedaya titah. Kanthi paseksen ingkang makaten punika mugi Kratoning Gusti kepareng ginelar, tentrem rahayunipun kababar tumrap sedaya titah. Kapitadosan ingkang gesang mboten kanthi mameraken simbol lan cara ngibadah, nanging gesang ingkang dados berkah tumrap diri lan sesamining agesang. Amin. [AS].
Pamuji: KPJ. 417 : 1, 2 Sauruting Laku