Khotbah Minggu 20 Agustus 2017

Bulan Pembangunan GKJW
Stola  Putih

Bacaan 1         : Kejadian 45:1-15
Bacaan 2         : Roma 11:29-32
Bacaan 3         : Matius 15:21-28

Tema Liturgis  : Kekuatan Iman, Menguatkan Kita Membangun GKJW
Tema Khotbah : Membangun dengan Penerimaan dan Pemaafan

 

Keterangan Bacaan

(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 45:1-15

  1. Tergugah oleh ucapan Yehuda (Kejadian 44: 18-34) tentang betapa akan sedihnya Yakub kehilangan Benyamin (setelah dulu pernah kehilangan Yusuf), hingga Yehuda sendiri bersedia menggantikan posisi Benyamin menjadi budak Yusuf, maka Yusuf tidak dapat lagi menahan emosinya. Dia mengungkapkan siapakah dirinya. Keterkejutan lantas beralih pada para saudaranya. Dan tak lama berselang rasa terkejut itu digantikan oleh ketakutan atas dosa masa lalu mereka kepada Yusuf. Maka sesudahnya sebuah episode mengharukan terjadi antar saudara itu, yang mengingatkan kita pada perjumpaan tak direncanakan Yakub dengan Esau dahulu. Sebuah kisah menyentuh hati terjadi: sebuah pemaafan dan perdamaian.
  2. Ada beberapa perubahan yang terjadi pada diri anak-anak Yakub setelah sekian tahun:
    Anak-anak Lea yang dulu dipenuhi rasa iri dan kesal kepada perlakuan Yakub atas Yusuf berubah menjadi orang yang memerhatikan bapanya, hingga mereka rela mengorbankan dirinya agar bapanya bersukacita dan merasakan hari tuanya. Mereka bukan lagi anak-anak muda penuh kemarahan dan kedengkian. Keadaan kritis dalam kehidupan dan pengalaman buruk menjadikan mereka memaknai hidup mereka kembali.
    Yusuf yang setia kepada Tuhan dalam penderitaan akhirnya bisa menjadi penolong bagi saudaranya. Pengalaman buruk tidak membuatnya menjadi pembenci, tetapi sebaliknya keadaan kritis membuatnya menjadi pribadi yang tangguh dan penuh belas kasihan.
  3. Di dalam Tuhan, hal paling buruk pun bisa berubah menjadi sebuah kebaikan. Para saudara dulu pernah berbuat jahat kepada Yusuf, namun tanpa itu, Yusuf tidak akan di tempatnya saat itu. Tanpa peristiwa Yusuf yang melukai hati bapanya, anak-anak Lea tidak akan berubah menjadi pribadi yang lebih memerhatikan orang lain lebih dari diri mereka sendiri. Tuhan mengubah kecelakaan menjadi berkat.
  4. Pemaafan dan Perdamaian memutus rantai permusuhan.

 

Roma 11:29-32

Hubungan manusia dengan Tuhan mempunyai pola:

A : Tuhan mengasihi manusia

B : Manusia memberontak dan tidak taat kepada Tuhan

C :  Manusia mengalami kesulitan dan masa kritis, menengok kepada Tuhan

      B’: Manusia kembali kepada Tuhan memohon pertolongan

A’ : Tuhan mengampuni dan menerima kembali manusia

Dari pola tersebut kita menemukan bahwa kesulitan dan masa kritis dalam hidup manusia mempunyai peran penting dalam hidup seseorang. Pertobatan tidak terjadi dengan begitu saja, pertobatan membutuhkan suatu keadaan ‘tersadarkan’. Dan kesadaran itu tidak lahir dari keadaan baik, tetapi dalam keterpurukan. Pertobatan membutuhkan masa kritis dan menengok ke belakang.

Hal tersebut terjadi pula dalam hubungan manusia yang telah menerima anugerah Tuhan dengan mereka yang masih tidak taat.

A : Manusia telah dikasihi oleh Tuhan dan menjadi taat

B : Manusia melihat saudaranya yang masih tidak taat

C : Terjadi pertentangan antara yang sudah taat dan tidak taat, yang sudah taat diingatkan bahwa mereka pun pernah menjadi orang yang tidak taat

B’: Manusia menerima saudaranya yang tidak taat

A: Saudara yang tidak taat dikasihi oleh manusia, sebagaimana Tuhan mengasihi mereka

Jika dalam  hubungan manusia dengan Tuhan, krisis terjadi dalam iman mereka; dalam perjumpaan manusia dengan saudaranya krisis itu terjadi dalam hubungannya dengan sesamanya.

Dengan demikian pertobatan itu mempunyai sebuah pola: (1) krisis dan (2) melihat kepada kasih Tuhan.

 

Matius 15:21-28

  1. Kisah ini merupakan salah satu kisah menarik dalam karya Yesus. Yesus agaknya pernah membatasi diriNya dan karyaNya pada kelompok umat pilihan (Yahudi), tetapi perempuan Kanaan (bukan Yahudi) yang rela menyamakan dirinya dengan anjing yang rela memakan remah sisa makanan tuannya mengingatkan Yesus pribadi bahwa iman bukan hanya dimiliki oleh umat pilihan. Iman kepada Yesus dimiliki oleh
  2. Iman dan penyelamatan lahir dari: keadaan krisis (anak yang kerasukan setan) dan harapan ketika melihat kepada Tuhan (karya mujizat Yesus).
  3. Karya mukjizat dan kesembuhan Yesus selalu menyeluruh: menyembuhkan fisik dan menyembuhkan hati/ menyelamatkan jiwa. Anak sang perempuan Kanaan sembuh (fisik), sekaligus peniadaan batas Yahudi bukan Yahudi, ketidaknyamanan bahkan permusuhan antara Yahudi dan bukan Yahudi patah. Hbungan antar sesama pulih (hati/ jiwa).

 

BENANG MERAH TIGA BACAAN

Pertobatan terjadi ketika terjadi 2 hal: (1) masa krisis (baik pribadi maupun krisis relasi/ krisis kepercayaan/ permusuhan) dan (2) melihat kasih Tuhan. Jalan pertobatannya adalah penerimaan dan pemaafan.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan. . . bisa dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

Pendahuluan

Seorang anak mencuri uang orang tuanya. Karena terjadi beberapa kali, akhirnya orang tuanya pun tahu. Anak itu dipanggil dan ditanyai, “Apakah kamu mencuri uang bapak?” Awalnya anak itu tidak mengaku, tetapi setelah sang bapak menunjukkan bukti-bukti, anak itu tidak bisa mengelak lagi. Dia merasa ketakutan. Bapaknya mengambil sebuah tongkat kayu. Ketakutannya semakin menjadi-jadi. Sang bapak melihat anak itu, anak itu tidak berani membalas tatapan bapaknya. Lalu hening di antara mereka.

Sang bapak lalu mengulurkan tongkat itu kepada anaknya. “Ambillah ini.” Lalu kembali hening. Beberapa saat kemudian sang bapak melanjutkan, “Pukulkan tongkat itu ke tangan bapak sepuluh kali. Setiap kali kamu mengambil uang bapak atau ibuk, kamu boleh memukul tangan kami sepuluh kali.” Mendengar itu, sang anak tidak berdaya, tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis dan meminta maaf. Dan sang bapak memeluknya, “Jangan diulang lagi ya!”

Isi

Orang kadang berpikir bahwa orang bisa berubah menjadi baik dengan hukuman, sanksi, atau pemberian efek jera -bisa jadi itu benar- tapi lebih banyak orang menjadi baik justru karena menerima kebaikan dari orang lain.

Hukuman, sanksi, dan pemberian efek jera akan menimbulkan ketakutan. Banyak orang yang menjadi patuh dan taat karena takut. Tapi banyak dari antara mereka lalu meneruskan tradisi ketakutan itu kepada orang yang lebih kecil daripada mereka. Kita tentu mengingat tradisi masa orientasi di kampus-kampus atau sekolah-sekolah jaman dulu (mungkin jaman sekarang masih ada), ketika siswa/ mahasiswa baru diperlakukan dengan sok disiplin (sebenarnya menuju tidak manusiawi), dengan alasan sederhana: bahwa sang kakak tingkat mengalami hal yang sama ketika mereka dulu siswa/ mahasiswa baru. Mereka meneruskan tradisi kematian yang diajarkan oleh generasi sebelumnya. Kita melihat bahwa di balik hukuman, diam-diam selalu tersimpan dendam yang tidak selesai. Hukuman tidak pernah mengajarkan kebaikan dengan tuntas.

Yusuf bisa menghukum saudara-saudaranya atas apa yang mereka lakukan dulu pada masa mudanya. Paulus bisa mengajarkan orang-orang Roma untuk menolak saudara-saudara yang tidak taat. Namun mereka melihat sesuatu yang lebih besar: Mereka melihat kesulitan hidup yang pernah mereka alami, krisis yang terjadi dalam hidup mereka (Yusuf menjadi budak bahkan tahanan di Mesir, Paulus buta dalam perjalanan ke Damaskus). Dalam masa krisis itu, Tuhan tidak menghukum dan meninggalkan mereka, tetapi Tuhan menerima dan menolong mereka. Kebaikan Tuhan mengubah mereka. Dari sana, mereka tidak menjadi orang yang melanjutkan dendam dan hukuman, mereka melanjutkan penerimaan dan pemaafan, melanjutkan kebaikan Tuhan.

Perubahan hidup menjadi baik, atau yang biasa kita kenal dengan bahasa: pertobatan, biasanya tidak terjadi dalam keadaan baik-baik saja. Orang bertobat karena orang tersebut sudah jatuh. Bahkan jatuh yang sangat dalam. Dia menyesal, bersedih, dan merasa dihukum oleh perbuatannya sendiri atau keadaan hidupnya yang berat. Pertobatan terjadi ketika seseorang berada dalam masa kritis tetapi pada masa itu … dia diampuni. Jika dalam masa kritis seseorang tidak diampuni, tetapi dihukum, bisa jadi yang lahir malah kepahitan.

Menengok sejarah GKJW pada masa Jepang, atau bahkan GKJW pada saat ini dengan segala keterbatasannya dalam pelayanan, kita mungkin bisa melihatnya dengan sinis. Tapi ada cara lain yang diajarkan oleh Yusuf dan Paulus: lihatlah  melampaui kesulitan dan lukanya, maka kita akan menemukan pengampunan dan pertolongan Tuhan di sana.

Begitu juga dengan hidup kita sehari-hari, kita bisa menilai orang dengan negatif atas perbuatan buruk yang telah atau pernah dilakukannya, atas perbedaan antara kita dengan orang itu. Namun, lihatlah melampaui itu, lihatlah bahwa kita, pun dia, adalah orang-orang yang dikasihi Tuhan, diterima dan diampuni apa adanya. Jika kita melihat hidup dengan mata dendam, maka dendam dan ketidakpercayaan yang terus-menerus lahir dan diperanakkan. Tapi jika kita melihat dengan mata penerimaan dan pemaafan, sebagaimana Tuhan yang merangkul dan mengasihi semuanya, maka semuanya adalah saudara. Seperti Tuhan Yesus yang menerima perempuan Kanaan dalam bacaan Injil kita, perempuan itu berbeda dengan Tuhan Yesus, namun Tuhan Yesus tidak melihat perbedaan itu, Dia melihat ketulusan iman sang perempuan. Dia rela menerima bahkan jika pun dia dianggap sama seperti anjing. Dan itu menggugah hati Tuhan Yesus untuk menolong anaknya yang kerasukan. Dan lahirlah persaudaraan melampaui batas perbedaan di sana.

Penutup

Orang tidak bertobat dan berubah dengan tuntas karena dihukum, namun karena diterima, dimaafkan, dan dikasihi. Maka kita yang telah dikasihi Tuhan, marilah meneruskan tradisi penerimaan dan pemaafan ini dalam hidup kita sehari-hari. Apakah itu berarti kita harus mengasihi dan mengampuni tetangga yang rajin ngrasani kita? Apakah kita harus mengasihi orang yang telah meninggalkan kita dengan luka batin? Apakah kita harus memaafkan pengkhotbah culas di televisi yang menimbulkan perpecahan? Apakah kita harus memaafkan orang yang selalu memutar balik kata-kata untuk membenarkan dirinya sendiri dan menyalahkan kita? Apakah kita tetap harus menerima orang yang kita tolong tetapi malah memanfaatkan kebaikan kita? Apakah kita tetap harus merangkul orang yang senang membuat masalah di gereja? Dengan orang yang menggunakan dana gereja untuk kepentingannya sendiri? Jawabannya, ya.

Tanpa penerimaan dan pemaafan, upaya untuk membangun keadilan dan kesejahteraan, upaya membangun GKJW menjadi lebih baik, bahkan membangun bangsa, bahkan yang bertujuan paling mulia sekalipun, hanya akan menyisakan sebuah cerita yang tidak tuntas. Dengan penerimaan dan pemaafan, sebuah jalan yang baik, jalan harapan terbuka. Amin. [Gide]

 

Nyanyian: KJ 249, KJ 462, NKB 188, Melayani/ Mengasihi Lebih Sungguh


RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pembuka

Wonten salah satunggal putra alit ingkang nyolong artanipun tiyang sepuhipun. Awit prekawis punika sampun kedadosan ngantos makaping-kaping, tiyang sepuhipun lajeng mangertos. Putra punika dipun timbali, dipun lenggahaken, “Apa kowe njupuk dhuwite bapak?” Wiwitanipun kang putra punika boten purun ngakeni, nanging sasampunipan sang bapak nedahaken bukti-bukti, lare punika boten saged selak malih. Lare punika rumaos ajrih sanget. Bapakipun mundhut pang kayu radi ageng, ajrihipun kang putra tansaya ndadi. Sang bapak mandeng kang putra, piyambakipun boten wantun ndhangak. Lajeng sepi ing antawisipun tiyang kekalih punika.

Sang bapak lajeng ngangkat pang kayu punika, lan maringaken dhateng putranipun. “Iki jupuken, saben kowe njupuk dhuwite bapak, bapak ora bakal ngukum kowe. Kowe sing ngukum bapak. Gepukna pang kayu iki ping sepuluh menyang tangane bapak saben kowe njupuk dhuwit maneh. Kowe ora digepuk, nanging kowe sing nggepuk bapak.” Kang putra lajeng mular, ngrumaosi lepatipun. Piyambakipun lajeng nyuwun pangapunten kanthi sanget. Lan sang bapak ngrangkul kang putra, “Aja dibaleni maneh ya!”

Isi

Tiyang kadhang nggadhahi pamanggih bilih tiyang saged dados sae nalika dipun ukum, dipun paringi sanksi, utawi dipun paringi efek jera. Punika saged kemawon leres. Nanging langkung kathah tiyang ingkang dados sae malah awit nampi kasaenan saking tiyang sanes.

Paukuman, sanksi, efek jera punika ndadosaken tiyang ajrih. Kathah tiyang ingkang lajeng dados manut awit raos ajrih. Nanging kathah ing antawisipun tiyang punika lajeng nerusaken tradisi paukuman lan dadosaken tiyang sanes ingkang langkung alit tinimbang piyambakipun. Kita tamtu emut tradisi masa orientasi ing sekolah utawi ing kampus-kampus rikala jaman rumiyin (mbokbilih jaman samangke ugi taksih wonten), nalika siswa/ mahasiswa enggal lumebet ing papan pawiyatan enggal, awit alesan kadhisiplinan, piyambakipun dipun sentak, dipun dukani, kengingi aturan utawi paukuman ingkang boten umum. Ingkang menawi dipun runut sejatosipun awit kakak tingkatipun ngalami lelampahan ingkang sami. Tradisi punika lajeng dipun terusaken dhateng adhik tingkatipun. Saking ngriku kita saged ningali, bilih tradisi ukuman punika sejatosipun boten rampung. Paukuman punika boten mucal kasaenan kanthi tuntas.

Yusup saged kemawon males para sedherekipun awit punapa ingkang nalika rumiyin dipun tindakaken dening para sedherekipun nalika taksih nem-neman. Paulus saged kemawon mucal tiyang ing kitha Rum supados boten nampi para seherek ingkang boten gesang kanthi sae. Nanging Yusup lan Paulus mirsani prekawis ingkang langkung ageng: rumiyin piyambakipun nate ngalami krisis lan masalah ngantos awrat sanget (Yusuf dipun kunjara, Paulus ngantos wuta ing margi dhateng Damasyik) nanging Gusti boten ngukum lan nilar, Gusti malah paring pitulungan. Katresnan lan kasaenan saking Gusti punika ngewahi gesangipun. Saking ngriku Yusup lan Paulus boten nglajengaken tradisi dendam lan paukuman, nanging mujudaken gesang ingkang kebak panampi lan pangapunten, kados ingkang dipun tindakaken dening Gusti tumrap gesangipun.

Tiyang saged dados sae utawi saged mratobat biasanipun boten awit gesangipun biasa-biasa kemawon. Tiyang mratobat nalika tiyang punika sampun dhawah, lan dhawahipun sanget. Piyambakipun keduwung (menyesal), sedhih, lan rumaos kaukum dening tumindakipun piyambak utawi dening kawontenan gesang ingkang awrat. Pamratobat dumados nalika tiyang punika ngalami krisis; nanging ing wekdal krisis punika, piyambakipun boten dipun ukum, malah dipun paringi pangapunten. Menawi tiyang ingkang krisis kaukum, biasanipun ingkang lair malah kepaitan.

Menawi kita mengo, ningali sejarahipun GKJW ing mangsa Jepang, utawi mbokbilih kita niti priksa kawontenanipun GKJW ing mangsa samangke, kita mbokbilih saged rumaos sinis. Nanging wonten cara sanes ingkang dipun wucalaken dening Yusup lan Paulus: Mangga sami ningali nglangkungi laranipun, nglakungi sakitipun, lan kita badhe ningali pangapunten lan pitulangipun Gusti ing ngriku.

Mekaten ugi kaliyan gesang padintenan kita. Kita saged kemawon ningali tiyang sanes negatip awit tumindak lepat ingkang dipun tindakaken utawi saking sejarah awon gesangipun, awit kita kaliyan tiyang punika benten ing panggalih. Nanging menawi kita saged ningali nglangkungi punika, kita badhe saged ningali kanthi cetha kados pundi kita ugi tiyang punika boten sanes kejawi tiyang ingkang dipun tresnani, dipun tampi, lan dipun paringi pangapunten dening Gusti. Menawi kita ningali kanthi dhendham, ingkang lair nggih dhendham lan boten pitados setunggal kaliyan sanes. Menawi kita ningali kanthi panampi lan pangapunten, kados Gusti ingkang ngrangkul saha nresnani kita, ingkang lair ugi prekawis punika. Kados Gusti Yesus ingkang mirsani tiyang estri saking Kanaan ing waosan Injil kita kala wau. Gusti boten mirsani bilih Panjenenganipun benten kaliyan tiyang estri punika, ingkang dipun pirsani tulusing manahipun ngantos purun dipun sebut segawon. Saking ngriku lair pasedherekan ingkang nglangkuni perbedaan.

Panutup

Tiyang mratobat kanthi tuntas sanes awit paukuman, nanging awit dipun tampi, dipun apunten, lan dipun tresnani. Pramila mangga nindakaken prekawis punika lan ndadosaken punika tradisi ing gesang kita padintenan. Punapa punika ateges kita kedah nresnani lan paring pangapunten dhateng tiyang ingkang saben dinten ngrasani kita, malah mitnah kita? Punapa kita kedah paring pangapunten dhateng pengkotbah-pengkhotbah culas ing tivi ingkang malah ndadosaken tiyang dados crah? Kados pundi kangge tiyang ingkang ndadosaken batin kita tatu? Kados pundi dhateng tiyang ingkang memutar balik kasunyatan kangge mbeneraken dhirinipin piyambak? Punapa kita kedah nampi tiyang ingkang kita tulung malah menthung kita? Tiyang ingkang asring damel masalah ing greja? Tiyang ingkang ngginakaken dana greja kangge kabetahanipun piyambak? Wangsulanipun: Inggih, kita kedah nresnani lan paring pangapunten kanthi tulus.

Tanpa panampi lan pangapunten, usaha mangun kaadilan saha kesejahteraan, pangupadi mangun GKJW supados langkung sae, malah ugi mangun nagari, pangupadi ingkang ngemu tujuan paling mulya menawi boten dipun landhesi panampi lan pangapunten, namung badhe nilar masalah ingkang boten tuntas. Kanthi panampi lan pangapunten, wonten margi ingkang kabikak. Margi sae, margi pangajeng-ajeng. Amin. [Gide]

 

Pamuji: KPJ 357, Kidung Kontekstual 148

 

Bagikan Entri Ini: