GKJW Sebagai Mitra Allah Khotbah Minggu 2 Agustus 2020

20 July 2020

Minggu Biasa – Perjamuan Kudus Pembangunan GKJW
Stola Putih

Bacaan 1         :  Kejadian 32 : 22 – 32
Bacaan 2         : 
Roma 9 : 1 – 5
Bacaan 3         : 
Matius 14 : 13 – 21

Tema Liturgis :  Hidup Menurut Jalan yang Ditunjukkan Tuhan
Tema Khotbah: 
GKJW sebagai Mitra Allah

Penjelasan Teks Bacaan :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 32 : 22 – 32
Cerita perikop ini menunda perjumpaan Yakub dengan Esau secara teologis ditulis oleh kaum Yahwis. Dikisahkan setelah menyeberangkan istri dan anak-anaknya, Yakub mengalami pergulatan dengan “seseorang”. Ia bergumul sampai fajar dan tidak diketahui siapa yang menang. Orang itu tidak dapat mengalahkan Yakub (ayat 25) dan terpaksa melukainya dengan daya magis. Namun dalam ayat 26, ia meminta supaya dilepaskan, seakan-akan ia tidak dapat mengalahkan Yakub. Yakub menuntut berkat, tetapi kepadanya diberikan nama baru. Ketika Yakub menanyakan nama musuh misterius tersebut, pertanyaan tersebut tidak hiraukan. Berdasar ayat 29-30, rupanya Yakub menang, ia terkejut ketika tahu bahwa telah melihat Allah namun tetap hidup. Namun orang misterius tersebut diidentifikasikan sebagai Allah (ayat 31).

Beberapa ahli tafsir menyatakan bahwa cerita ini menggabungkan beberapa unsur yang berasal dari sumber-sumber kuno. Tema tentang dewa sungai yang mempunyai wewenang atas penyeberangan merupakan tema umum. Juga keyakinan bahwa kekuatan mahkluk atas kodrati hanya bertahan dalam gelap adalah keyakinan masyarakat kuno. Mereka akan dikalahkan bila fajar menyingsing. Tetapi cerita ini hanya dapat menjelaskan bagian tertentu dari kisah ini. Pertanyaan mengenai hubungan cerita ini dengan keseluruhan lingkaran kisah Yakub tetap tak terjawab.

Pasti cerita ini menyimpan maksud tersendiri. Perjuangan Yakub dikenal melalui nama barunya, Israel yang segera popular diartikan sebagai “orang yang menghadapi Allah”. Juga memuat peraturan pantang bagi orang Israel tidak boleh makan daging pangkal paha, untuk mengenang paha Yakub yang terluka. Namun peraturan ini tidak ditemukan dalam bagian lain Perjanjian Lama. Israel pun tidak menaatinya.

Pesan yang disampaikan oleh penulis Yahwis adalah bahwa Yakub yang sudah berhadapan dengan Laban dan Esau, kini berhadapan dengan Allah sendiri. Sejak saat itu Yakub berubah. Sifat Yakub secara mendasar berubah karena pengalaman. Yakub sebagai Israel dalam hidupnya mengungkapkan perjuangan Israel dengan Allah selaku bangsa yang mempunyai perjanjian (Bergan dan Karris; 2002).

Roma 9 : 1 – 5
Dalam uraian singkat ini, saya perlu menyampaikan beberapa persoalan yang muncul dan sekaligus melatarbelakangi luapan hati Paulus dalam teks bacaan kita. Saya mengutip van den End (2008), paling tidak ada tiga tantangan pelayanan yang dihadapi Paulus dalam mengabarkan Injil kepada Jemaat di Roma. Pertama, orang-orang Yahudi menolak Injil yang diberitakan Paulus. Hal ini dikarenakan mereka memandang Paulus sebagai orang yang murtad dan karenanya merebut upaya proselitisme Yahudi. Banyak orang non-Yahudi yang menaruh minat pada agama Yahudi dan menerima sunat, kini berpaling percaya kepada Yesus (Kristen). Karena alasan inilah mereka merencanakan pembunuhan terhadap Paulus.

Kedua, orang Kristen asal Yahudi menolak ajaran Paulus bahwa Injil meniadakan kedudukan eksklusif Israel selaku umat Allah. Menurut mereka kedatangan Kristus tidak mengubah status Israel sebagai umat Allah yang eksklusif dan juga tidak meniadakan kewajiban orang percaya untuk memelihara hukum Taurat. Selain itu mereka menuntut orang non-Yahudi yang telah percaya kepada Yesus dan menjadi Kristen masuk menjadi anggota Yahudi dengan jalan disunat.

Terakhir, Jemaat Kristen non-Yahudi memiliki pemahaman bahwa setelah orang Yahudi menjadi percaya kepada Kristus, mereka kehilangan status istimewa sebagai “Israel”. Mereka sudah tidak masuk perhitungan lagi (11:17- dst) dan karenanya dianggap rendah ketika masih merasa wajib memelihara berbagai aturan ritual Yudaisme (14:1-15:13).

Tantangan sosio-teologis terhadap iman kepada Kristus Yesus inilah yang menyebabkan Paulus meluapkan isi hatinya yang terekam dalam Roma 9:1-5. “Aku mengatakan kebenaran” (ayat 1) menandakan kesadaran diri Paulus akan banyak orang, baik orang Yahudi maupun orang Kristen yang meragukan kesungguhan hatinya. Ingat bahwa Paulus seringkali mengalami kesengsaraan bahkan rencana pembunuhan terhadapanya (Kis. 20:3). Hal ini terjadi – dimungkinkan – berkaitan dengan perubahan orientasi kehidupan spiritualnya pasca peristiwa Damsyik. (Kis. 9:1-18).

Paulus menguatkan kesungguhan hatinya akan kebenaran yang dinyatakan dengan mengatakan “dalam Kristus aku tidak berdusta” (ayat 1, bdk. 2 Kor. 12:19). Maksud ucapan ini menyatakan bahwa ia berbicara sesuai dengan kaidah yang berlaku bagi seorang yang berada dalam Kristus, yang hidup bersatu dengan Kristus (bdk. 6:11- dst) dan dengan demikian harus mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap Kristus.

Selanjutnya Paulus menambahkan “suara hatiku turut bersaksi” (ayat 1), ini menegaskan ia layak dipercaya. Kita tahu dari pengalaman sendiri bahwa suara hati (bdk. 2:15) dapat menyusahkan kita jikalau kita telah berbohong. Sebaliknya suara hati Paulus tenang, tidak menyusahkan dia, bahkan turut bersaksi bahwa perkataannya benar. Hanya perlu dicatat bahwa suara hati itu tidak selalu merupakan saksi yang layak dipercaya. Bilamana “hati menjadi gelap” (1:21) dan dipenuhi “pikiran terkutuk” (1:28) suara hati pun tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Tetapi bilamana “budi sudah diperbarui” (12:2), manusia “dapat membedakan manakah kehendak Allah”, sehingga suara hati menjadi peka terhadap kehendak itu. Penambahan kata “dalam Roh Kudus” dalam ayat 1 menunjukan bahwa suara hati yang memberi kesaksian itu telah diperbarui oleh Roh Kudus dan diterangi oleh sinar cahaya-Nya.

Luapan hati Paulus nampak dalam kesungguhan dan kepercayaannya dengan mengatakan “Aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani” (ayat 3). Ia bersedia dikutuk jika itu dapat menolong mereka. Hal yang paling berharga dalam seluruh kehidupan Paulus ialah fakta bahwa tak ada yang dapat memisahkannya dari kasih Allah di dalam Kristus Yesus; tetapi jika hal ini berguna demi keselamatan saudara sebangsanya, ia bahkan bersedia menerima kutuk Allah, dipisahkan dari ikatan kasih Allah itu. (Barclay, 1999).

Paulus menegaskan, “Israel telah menerima kemuliaan dan diangkat menjadi anak” (ayat 4) dan sebagai puncaknya, dari merekalah datangnya Mesias. Kristus datang dalam rupa Insan Yesus. Ia adalah Allah yang harus dipuji untuk selama-lamanya. Segala sesuatu telah dipersiapkan untuk menyambut Kristus, tetapi mereka menolaknya. Disitulah tragedinya, dimana usaha dan pengharapan dalam kasih disia-siakan.

Matius 14 : 13 – 21
Teks Yesus memberi makan lima ribu orang merupakan teks yang sudah dikenal secara umum. Kisah ini juga disampaikan oleh penulis Injil yang lain, seperti Markus, Lukas dan Yohanes. Kita perlu membacanya secara berbeda, karena penulisnya berbeda, pastilah amanatnya pun demikian.

Latar belakang cerita ini (sangat dimungkinkan) dipengaruhi oleh pengalaman bangsa Israel semasa perjalanan dari Mesir menuju Kanaan. Cerita tentang roti “Manna” dapat dijumpai dalam Keluaran 16 dan Bilangan 11. Kedua teks tersebut mengisahkan bagaimana bangsa Israel dalam perjalanan di padang gurun dikenyangkan dengan “roti yang turun dari langit” (Kel. 16:4). Satu lagi kisah mukjizat yang ditulis dalam 2 Raja 4:1-7 dan 42-44, bagaimana Elisa menggandakan minyak bagi seorang janda dan “dua puluh roti jelai dan gandum baru dalam sebuah kantong” (ayat 42) menjadi cukup untuk seratus orang.

Injil Matius yang mempunyai “kedekatan” dengan orang-orang Kristen Yahudi. Penulis Injil Matius menuliskan kisah pemberian makan lima ribu orang yang dilakukan Yesus sebagai penggenapan akan kerinduan umat Yahudi dalam menantikan kedatangan nabi sebagaimana yang menjadi nubuatan. Jika dibandingkan dengan Markus, Matius menuliskannya lebih singkat dan menempatkan para murid dalam keadaan lebih baik. Matius 14:16-18 menunjukkan sikap para murid yang dengan mudah memahami pesan yang disampaikan oleh Yesus jika dibandingkan dengan Markus 6:37-38. Para murid ditempatkan dalam posisi sebagai partner, rowang gawe Yesus dan turut mengambil bagian dalam pemberian makan kepada orang banyak. Bahasa yang digunakan dalam ayat 19 bila disejajarkan dengan pasal 26:26, mengisyaratkan bahwa pemberian makan dipandang sebagai antisipasi atau bayangan dari Perjamuan terakhir (Bergan dan Karris; 2002).

Benang Merah Tiga Bacaan :
Pergulatan Yakub dengan Tuhan di sungai Yabok membawa perubahan besar dalam kehidupannya dikemudian hari. Namanya berubah menjadi Israel yang mengikat perjanjian dengan Tuhan. Demikianlah corak kehidupan jemaat Kristen di Roma, dengan suara hati jemaat merubah pemikiran eksklusivitasnya sebagai kelompok tertentu menjadi gereja universal. Mereka menyatu sebagai satu kesatuan dalam komunitas murid Tuhan sebagai rekan kerja Kristus dan yang kemudian disempurnakan dalam Perjamuan Tuhan.

 

RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Cerita tentang Yesus yang memberi makan lima ribu orang (Matius 14:13-21) adalah sebuah cerita yang sangat akrab di telinga jemaat. Sejak anak-anak sampai dengan saat ini, sudah puluhan kali kita mendengar mukjizat yang dilakukan Yesus dengan lima roti dan dua ikan menjadi cukup bagi kebutuhan makan lima ribu orang. – itupun yang dihitung hanya lelaki saja, ibu dan anak tidak termasuk bilangan di dalamnya. Dalam perenungan Perjamuan Kudus Pembangunan GKJW tahun 2020 ini saya ingin mengajak warga Jemaat sekalian untuk memaknai kisah Yesus memberi makan lima ribu orang ini dari sisi yang berbeda. Saya melihat ada tiga hal yang menjadi perenungan kita, yang akan menghantar kita menghayati Perjamuan Pembangunan GKJW.

Isi
Pertama, Yesus menganggap para murid sebagai mitra. Keempat Kitab Injil – Matius, Markus, Lukas dan Yohanes – menceritakan kisah yang sama, meskipun isi dan amanat yang disampaikan berbeda. Yohanes mencatat bahwa yang menginisiasi akan kebutuhan makan malam orang banyak adalah Yesus. Itupun dengan maksud mencobai para murid, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” (Yoh. 6:5). Tetapi ketiga Injil Sinoptik menyampaikan “ide makan malam” berawal dari kegundahan hati para murid (Mat. 14:15; Mrk. 6:35-36; Luk. 9:12). Soal siapa pemilik roti dan ikan? Injil Yohanes menuturkan bahwa yang memiliki roti untuk diserahkan kepada Yesus adalah seorang anak (Yoh. 6:9). Ini berbeda sekali dengan yang dikisahkan Injil Sinoptik, pemilik ikan dan roti adalah para murid (Mat.14:17; Mrk. 6:24; Luk. 9:13).

Jika dibandingkan dengan Markus, teks bacaan kita, Matius menuliskannya lebih singkat dan menempatkan para murid dalam keadaan lebih baik. Matius 14:16-18 menunjukan sikap para murid yang dengan mudah memahami pesan yang disampaikan oleh Yesus jika dibandingkan dengan Markus 6:37-38. Para murid ditempatkan dalam posisi sebagai mitra, rowang gawe Yesus dan turut mengambil bagian dalam pemberian makan kepada orang banyak. Ketika Yesus merespon permintaan para murid, “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa”. Ia mengatakan, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan”. Para murid tidak menghindar dari perintah Yesus apalagi menolaknya, “Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” (Mrk. 6:37), tetapi dengan sigap dan cekatan mereka berucap siap, “yang ada pada kami hanya lima roti dan dua ikan” (Mat. 14:17).

Sikap positif yang ditunjukkan Yesus terhadap para murid, dengan tidak menganggapnya sebagai objek pembelajaran, murid yang tidak lebih pintar dari gurunya segera menular pada diri para murid. Para murid segera menyerahkan roti dan ikan kepada Yesus (ayat 18) dan mempersiapkan pekerjaan selanjutnya menyiapkan “makan malam” bagi orang banyak. Pada poin ini Yesus melihat murid-murid-Nya, demikian juga selanjutnya orang banyak yang mengikuti kegiatan pelayanannya sebagai mitra. Mereka adalah mitra, saling berkelindan yang mempunyai peran besar terhadap keberhasilan pelayanan. Mereka pula yang memberikan dukungan dan sekaligus menjadi motivasi gerakan Yesus.

Karenanya dalam Perjamuan Kudus Pembangunan GKJW sekarang ini kita diingatkan akan jati diri dan keberadaan kita sebagai mitra Allah. Warga Jemaat bukanlah objek pelayanan, “sapi perahan” dalam mengumpulkan pundi-pundi yang bernama persembahan, tetapi kawan sekerja, elemen terpenting dalam menghadirkan kedamaian. Warga jemaatlah yang turut ambil bagian laksana murid-murid yang memberi makan banyak orang.

Kedua, kesediaan para murid menjadi agen pembaharu. Kesediaan para murid menyerahkan bekal bawaannya (roti dan ikan) untuk dibagikan kepada orang banyak menunjukkan adanya transformasi, perubahan pemahaman teologis dan sikap yang dimiliki. Menyerahkan apa yang “dimilikinya” untuk orang lain, berarti para murid memahami konsekuensi yang akan terjadi. Bekal makanan mereka akan habis dan tidak ada yang bisa dikonsumsi lagi. Sama halnya dengan siap untuk menanggung rasa lapar dan dahaga.

Secara psikologis dan teologis para murid siap menjadi agen pembaharu. Apa itu? Ia memperbarui pemikiran dan pemahaman yang selama ini dianutnya. Sebagai pekerja (nelayan, pemungut cukai-pemungut pajak) orientasi ekonomis, keuntungan pribadi untuk kepentingan diri yang dipahami sepanjang mereka bekerja berubah. Orientasi hidup mereka berubah dari orientasi diri menuju orientasi sosial, dari mengedepankan kepentingan pribadi beralih untuk kepentingan bersama (komunal).

Paulus dalam teks Roma 9:1-5, mengajak jemaat Kristen di Roma untuk melakukan pembaruan pola pikir dan kehidupan. Komunitas Kristen di Roma yang berasal dari komunitas Yahudi dan non-Yahudi berusaha mempertahankan eksklusivitas masing-masing. Komunitas Yahudi berharap merekalah penerima janji Tuhan sebagaimana yang terekam dalam Perjanjian Lama, sehingga orang Kristen non Yahudi ketika menjadi Kristen, mereka harus hidup menurut adat istiadat keyahudian. Sebaliknya orang Kristen non Yahudi berpendapat bahwa orang Yahudi yang sudah menjadi Kristen, mereka harus meninggalkan “keyahudiannya”. Eksklusivitasnya sebagai “umat Allah” telah berakhir bersamaan dengan menjadi Kristen. Kedua komunitas ini berpikir dalam sudut yang sempit, hanya untuk komunitasnya saja.

Curahan hati Paulus yang sangat dalam membuka pemikiran mereka, bahwa Kristus adalah kegenapan hukum Taurat bagi Yahudi dan kebenaran bagi orang Kristen. Mereka bergerak dari sukuisme (Yahudi – non Yahudi) ke arah gereja Kristen yang universal. Dari eksklusivitas kelompok-isme menuju persekutuan yang am (umum).

Perubahan diri sebagai agen pembaharu juga nampak dalam kehidupan Yakub di bacaan pertama. Yakub gigih memperjuangkan hidupnya, merubah karakter diri dari egoisme, melakukan apa saja demi keuntungan pribadi misalnya dengan melakukan penipuan (Kej. 27:36) menjadi Israel yang telah mengikat perjanjian setia dengan Tuhan. Sejak saat itu Yakub berubah. Sifat Yakub secara mendasar berubah karena pengalaman. Yakub sebagai Israel dalam hidupnya mengungkapkan perjuangan Israel dengan Allah selaku bangsa yang mempunyai perjanjian.

Demikian juga bergereja dalam konteks GKJW. Perjamuan Kudus Pembangunan saat ini mengingatkan kita akan egoisme kelompok dan lokalitas jemaat, atau bahkan egoisme Majelis Daerah. Menurut saya, sekaranglah momen yang tepat untuk kita berefleksi dan melanjutkan aksi sebagai pembawa perubahan. Cita-cita besar GKJW yang mandiri dan menjadi berkat pasti dapat kita capai, ketika GKJW yang besar, merasakan GKJW sebagai Mitra Allah membuang eksklusivitas lokalitas menuju inklusivitas dan universalitas sinodal GKJW. Cita-cita GKJW mandiri dan menjadi berkat harus kita pahami sebagai yang sudah terjadi dan akan terus disempurnakan secara eskatologis dalam tuntunan Roh Kudus.

Penutup
Terakhir, Perjamuan Kudus Pembangunan GKJW sebagai Perjamuan Tuhan. Bahasa yang digunakan dalam ayat 19, “Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya …” bila disejajarkan dengan Matius 26:26, “Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata, “Ambillah, makanlah, inilah tubuhKu” mengisyaratkan bahwa pemberian makan dipandang sebagai antisipasi atau bayangan dari Perjamuan terakhir.

Perjamuan Kudus Pembangunan GKJW adalah perjamuan yang Tuhan adakan melalui gereja-Nya. Ia mengundang setiap umat-Nya, warga-Nya untuk menghayati panggilannya sebagai warga Kerajaan Allah dalam Greja Kristen Jawi Wetan. Setiap anggota dipersekutukan dalam pemahaman GKJW sebagai Mitra Allah, meninggalkan pikiran sempit nan picik, “meninggalkan” lokalitas Jemaat menuju kehidupan komunal GKJW demi merengkuh GKJW yang mandiri dan menjadi berkat. Selamat menerima roti dan anggur perjamuan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. (IT)

 

Nyanyian :  PKJ. 157 : 1, 2  Perjamuan Yang Kudus

RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi

Pambuka
Cariyos bab Gusti Yesus maringi tetedhan dhateng 5000 tiyang punika cariyos ingkang sampun asring kita pirengaken. Wiwit anak-anak ngantos sapunika, kita sampun mirengaken cariyos mujizat Gusti Yesus lumantar 5 roti lan 2 ulam ngantos kaping puluhan. Ing Bujana Suci Pembangunan GKJW taun 2020 punika, kula pengin ngajak dhateng warganing pasamuan sedayanipun kangge ngraosaken maknanipun cariyos Gusti Yesus maringi tetedhan 5000 tiyang punika saking sisi ingkang benten. Kula ningali wonten 3 prekawis ingkang dados reraosan kita sapunika, ingkang saged nuntun kita ngraosaken Bujana Suci Pembangunan GKJW punika.

Isi
Ingkang sepisan, Gusti Yesus mandheng para sakabatipun minangka mitranipun. Ing Injil – Matius, Markus, Lukas lan Yokanan – nyariosaken cariyos ingkang sami, senajan isi lan pesen ingkang wonten lebetipun benten. Injil Yokanan nyerat bilih ingkang ngersaaken maringi tetedhan kangge tiyang kathah punika Gusti Yesus piyambak. Punika katindakaken kanthi maksud nguji dhateng para sakabatipun, “Ing ngendi anggon kita arep tuku roti, supaya wong-wong iki bisa mangan?” (Yok. 6:5). Ananging tiga Injil sinoptik mratelaaken bilih “ide maringi tetedhan” punika pinangkanipun saking  para sakabatipun Gusti ingkang sami kuwatos (Mat. 14:15; Mrk. 6:35-36; Luk. 9:12). Prekawis sinten ingkang kagungan roti lan ulam? Injil Yokanan nedhaaken bilih ingkang nggadhahi roti lajeng dipun pasrahaken dhateng Gusti Yesus inggih punika salah setunggaling lare (Yok.6:9). Punika benten kaliyan cariyos wonten Injil Sinoptik, ingkang kagungan roti lan ulam punika para sakabat (Mat. 14:17; Mrk. 6:24; Luk. 9:13).

Bilih dipun bandingaken kaliyan Markus, waosan kita ing Injil Matius nyerat langkung singkat lan mapanaken para sakabat ing kahanan ingkang langkung sae. Matius 14:16-18 nedahaken sikap saking para sakabat ingkang kanthi cetha nampi pesen ingkang dipun aturaken Gusti Yesus dipun bandingaken kaliyan Markus 6:37-38. Para sakabat dipun papanaken minangka mitranipun Gusti, dados rowang damelipun Gusti Yesus sarta tumut makarya mbagi tetedhan punika dhateng tiyang kathah.  Nalika Gusti Yesus nanggepi panyuwunipun para sakabat, “Panggenan punika samun tur sampun wiwit peteng. Tiyang kathah punika prayogi kadhawuhan kesah tumbas tedha dhateng ing dhusun-dhusun”. Lajeng Gusti Yesus ngendikan, “Ora usah padha lunga, kowe bae padha menehana mangan.” Saking pangandikanipun Gusti punika, para sakabat boten selak saking perintahipun Gusti Yesus punika, para sakabat punika kanthi siap lan tanggap engal mangsuli, “Punika namung wonten roti gangsal kaliyan ulam loh kalih.” (Mat.14:17).

Gusti Yesus ngetingalaken sikap ingkang positif dhateng para sakabatipun, Gusti Yesus boten mandeng para sakabat minangka objek, sakabatipun Gusti ingkang mangertos karsanipun Gusti ugi dipun tanggepi kaliyan para sakabat sanesipun. Para sakabat enggal masrahaken roti lan ulam dhumateng Gusti Yesus (ayat 18) lan nyawisaken pakaryan selajengipun mbagi lan ngaturi tetedhan (roti lan ulam) kangge tiyang kathah punika. Ing ngriki Gusti Yesus ningali para sakabat lan tiyang kathah ingkang  ngestoaken peladosanipun Gusti Yesus minangka mitra.  Para sakabat punika kawastanan mitranipun Gusti, awit saking peranipun tumrap kasilipun peladosanipun Gusti Yesus. Para sakabat punika dukung lan dados motivasi anggenipun Gusti Yesus makarya.

Karana punika ing Bujana Suci Pembangunan GKJW, kita dipun emutaken tumrap jati diri lan kawontenan kita minangka mitraning Gusti Allah. Warga pasamuwan punika sanes objek peladosan, “sapi perahan” nalika ngempalaken pisungsung, ananging minangka rowang damelipun Gusti Allah, pungkasanipun kawontenanipun warga pasamuan saged nuwuhaken katentreman dan karukunan. Warga pasamuwan ingkang purun makarya ing peladosan kados dene para sakabat ingkang purun maringi tetedhan dhateng tiyang kathah.

Kaping kalih, para sakabat purun dados agen pembaharu. Nalika para sakabat masrahaken roti lan ulam kagunganipun kangge dipun bagiaken dhateng tiyang kathah, punika nedahaken wontenipun transformasi, perubahan pemanggih teologisipun lan sikapipun. Masrahaken punapa ingkang dados kagunganipun kangge tiyang sanes, tegesipun para sakabat mengertos akibat ingkang badhe kelampahan. Bilih tetedhanipun para sakabat punika telas, para sakabat boten saged nedha, lan badhe ngraosaken kaluwen lan ngelak.

Sacara psikologis lan teologis, para sakabat sampun siap dados agen pembaharu. Punapa punika? Inggih punika para sakabat purun ngenggalaken pemanggihipun. Minangka nelayan, juru mupu bea asring para sakabat nggadahi pemanggih pados kauntungan pribadi kangge nyekapi kabetahanipun piyambak, pemanggih ingkang mekaten berubah. Tujuan gesangipun para sakabat sanes katujuaken kangge diri pribadi ananging langkung katujuaken kengge kepentingan sesarengan (komunal).

Rasul Paul ing serat Rum 9:1-5, ngajak dhateng pasamuan Rum saged ngenggalaken pola pikir lan gesangipun. Pasamuan Kristen ing Rum punika asal pinangkanipun saking tiyang-tiyang Yahudi lan tiyang-tiyang non Yahudi. Sae tiyang-tiyang Yahudi lan tiyang-tiyang non-Yahudi, kekalihipun sami ngugemi tradisinipun piyambak-piyambak. Tiyang-tiyang Yahudi ingkang rumaos nampi prajanjinipun Gusti Allah kados ingkang kaserat ing Kitab Prajanjian Lami, mandheng tiyang Kristen non Yahudi nalika dados tiyang Kristen kedah gesang miturut adi cara lan budaya Yahudi. Kosokwangsulipun kanggenipun tiyang –tiyang Kristen non Yahudi nggadhahi pemanggih bilih tiyang Yahudi dados tiyang Kristen, tiyang Yahudi punika kedah nilaraken “adat Yahudinipun”. Pangaken minangka “umat pilihan Gusti Allah” sampun purna nalika dados tiyang Kristen. Kekalih kelompok punika namung saged galih pemanggih ingkang sempit, inggih punika pemanggih miturut kelompokipun piyambak.

Rasul Paulus ngengetaken pasamuan ing Rum bilih Yesus Kristus punika kagenepan hukum Toret kanggenipun tiyang Yahudi lan kaleresan kanggenipun tiyang Kristen. Kalih kelompok ing pasamuan Rum punika lumampah saking sukuisme (Yahudi – non Yahudi) tumuju dados greja Kristen ingkang universal. Saking raos eksklusivitas kelompokisme tumuju patunggilan ingkang am (umum).

Agen pembaharu punika ugi katingal ing gesanging Rama Yakub ing waosan sepisan. Rama Yakub netingalaken upayanipun kanthi temen anggenipun gesang, piyambakipun saged ngrubah watakipun saking tiyang ingkang egoisme, nindakaken punapa kemawon kangge kauntungan pribadi ngantos ngapusi (Purwaning Dumadi 27:36), dados Israel, tiyang ingkang netepi prajanji setya dhateng Gusti Allah. Sajek punika Yakub berubah. Sifatipun Rama Yakub saged gumantos awit karana pengalaman, Rama Yakub ingkang kasebat Israel nedahaken bilih salebeting gesangipun tansah setya dhateng Gusti Allah.

Mekaten anggenipun kita nindakaken gesang ing pasamuwan GKJW. Bujana Suci Pembangunan GKJW sapunika ngengetaken kita  tumrap egoisme kelompok lan lokalitas pasamuan utawi egoisme Majelis Daerah. Miturut kula, sapunika wekdal ingkang pas kangge kita sami ningali kawontenan kita piyambak-piyambak lan nglajengaken aksi minangka tiyang ingkang saged mbeta perubahan ing gesang pasamuan. Pangajeng-ajeng ageng GKJW ingkang mandiri lan dados berkat tamtu saged kelampahan, nalika GKJW ingkang ageng punika ngraosaken timbalanipun minangka Mitranipun Gusti Allah, purun mbucal raos eksklusivitas lokalitasipun tumuju inklusivitas lan universalitas sinodal GKJW. Pengajeng-ajeng GKJW mandiri lan dados berkat kedah kita mangertosi sampun kelampahan lan badhe terus kasampurnaaken sacara Eskatologis ing tuntunaning Sang Roh Suci.

Panutup
Ingkang pungkasan, Bujana Suci Pembangunan GKJW punika minangka Bujananipun Gusti. Basa ingkang dipun ginaaken ing ayat 19 nyebataken,”… Gusti Yesus banjur tumenga marang ing langit ndedonga nyuwun berkah, tumuli rotine dicuwil-cuwil diparingake marang para sakabat …”. Bilih dipun sejajaraken kaliyan Matius 26:26, “… Gusti Yesus mundhut roti, lan sawise diberkahi, banjur dicuwil-cuwil sarta diparingake marang para sakabate, pangandikane : “Padha tampanana, panganen, iki badanKu.” Tembung punika nedahaken bilih ngaturi tetedhan dipun pandeng minangka antisipasi saking Bujana ingkang pungkasan.

Bujana Suci Pembangunan GKJW punika bujana ingkang dipun tetepaken Gusti Allah lumantar grejanipun. Gusti Allah kersa ngundang sedaya umat kagunganipun supados saged ngestoaken timbalanipun minangka warga Kratoning Allah ing GKJW. Kita minangka warga GKJW katunggilaken kanthi pemanggil GKJW minangka Mitranipun Gusti Allah. Kita kedah purun nilaraken pamikiran ingkang sempit lan awon, “nilaraken” lokalitas pasamuan tumuju gesang ing patunggilan GKJW supados pangajeng-ajeng GKJW ingkang mandiri lan dados berkah saged kasembadan. Sugeng nampi roti lan anggur bujananipun Gusti. Gusti Yesus tansah mberkahi. (Terj. AR).

 

Pamuji  : KPJ.  301  Bujana Suci

Renungan Harian

Renungan Harian Anak