Firman Tuhan yang Menuntun Perubahan Pola Pikir Khotbah Minggu 19 September 2021

6 September 2021

Minggu Biasa – Bulan Kitab Suci
Stola Hijau

Bacaan 1 : Yeremia 11 : 18 – 20
Bacaan 2
:
Yakobus 3 : 13 – 4 : 3, 7 – 8a
Bacaan 3 : Markus 9 : 30 – 37

Tema Liturgis : Firman Tuhan Penuntun Kehidupan
Tema Khotbah: Firman Tuhan yang Menuntun Perubahan Pola Pikir

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yeremia 11 : 18 – 20
Situasi bangsa Israel dalam masa pelayanan Yeremia sebagai Nabi memang sangatlah tidak baik. Tantangan luar biasa dialami oleh Yeremia ketika ia berusaha membawa pembaruan dalam kehidupan bagi bangsa Israel. Yeremia bahkan mendapat ancaman pembunuhan atas apa yang ia beritakan. Ancaman ini justru terjadi di Anatot tempat dimana Yeremia dilahirkan. Dari sini kita semakin memahami bagaimana situasi Israel saat itu terkait respon mereka terhadap kehendak Allah yang diberitakan oleh Yeremia. Dalam situasi yang sulit ini Yeremia menunjukkan sikap yang luar biasa. Ia tidak menyerah tetapi berserah seperti yang tertulis pada ayat 20. Ia menyerahkan seluruh perkaranya kepada Tuhan karena ia yakin bahwa Allah akan menunjukkan kuasa-Nya.

Yeremia sadar bahwa ketika memulai pelayanannya sebagai Nabi, ia tidak tahu akan menghadapi situasi sulit yang seperti ini (ayat 19). Tidak terbayangkan sama sekali bahwa ia akan menghadapi tantangan berat sampai ancaman pembunuhan. Namun demikian Yeremia tidak pernah menyerah karena ia yakin bahwa Allah pasti akan menolongnya. Sebagai Nabi, keyakinan inilah yang menjadi kesaksian di tengah kehidupan orang Israel yang lebih mementingkan dirinya sendiri. Situasi yang sulit ini membentuk mental dan iman Yeremia. Ketika awal memulai pelayanan ia menggambarkan dirinya seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih, tapi sekarang mungkin dirinya sudah menjadi lebih baik dalam melihat dan memahami situasi yang ada di tengah bangsa Israel.

Yakobus 3 : 13 – 4 : 3, 7 – 8a
Bacaan ini diawali dengan sebuah pertanyaan siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi luhur? Pertanyaan ini kemudian diikuti dengan jawaban yang menjelaskan tentang bagaimana cara hidup manusia yang berhikmat (Yak. 3:14-18). Penjelasan tentang cara hidup berdasarkan hikmat dari atas ini tidak lepas dari tujuan penulisan surat ini yaitu kepada orang Yahudi Kristen di tanah perantauan. Hikmat ini didasarkan pada sikap hidup yang telah diteladankan oleh Tuhan Yesus sendiri. Para pembaca surat ini tentu masih mengetahui pemahaman Yahudi dalam menjalani kehidupan. Sebagai orang Yahudi yang juga Kristen ada hal-hal yang harus dijembatani dalam hidup mereka.

Dalam suratnya ini Yakobus ingin menjembataninya dengan menjelaskan terkait makna hikmat dari atas. Hikmat ini tidak lagi fokus pada diri sendiri dan Hikmat ini akan membuahkan kedamaian dalam kehidupan manusia. Hikmat dari atas membuat manusia memiliki perhatian khusus terhadap yang lain. Dalam situasi ini diharapkan manusia dapat semakin mendekatkan dirinya kepada Allah.

Markus 9 : 30 – 37
Membaca Injil kita akan banyak disuguhi cerita perjalanan Yesus dengan para murid-Nya, dimana banyak dinamika iman yang kemudian terjadi. Khususnya dalam bacaan kita yang ketiga ini (Markus 9:30-37). Teks ini dibagi menjadi dua perikop yang sekilas nampak bertolak belakang namun jika kita melihat lebih detil maka akan terlihat benang merah dari kedua perikop ini.

Dalam perikop pertama (ayat 30-32), diceritakan Tuhan Yesus memberitahukan untuk kedua kalinya tentang penderitaan yang akan Ia alami. Namun tetap saja para murid belum mengerti tentang maksud dari penderitaan itu. Mereka sebagai orang Yahudi masih memiliki pemahaman Yesus sebagai Mesias akan menjadi penguasa yang mengalahkan semua pemerintah yang ada sehingga Ia menjadi Raja di atas segala Raja. Pemahaman ini yang nampaknya menghalangi para murid untuk dapat memahami makna tentang penderitaan Yesus.

Dalam perikop yang kedua (ayat 33-37), pemahaman para murid yang salah tentang Yesus sebagai Mesias ini semakin jelas. Setelah Yesus memberitahukan tentang penderitaan yang tidak mampu mereka pahami, kini mereka malah berebut untuk menjadi yang terbesar. Dalam menanggapi hal ini Yesus justru berkata, “… Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya (ayat 35). Jawaban ini sangat bertentangan dengan apa yang diperdebatkan oleh para murid. Tetapi inilah yang menjadi poin penting dari teks di kedua perikop ini. Karya keselamatan yang dilakukan oleh Yesus tidak hanya terjadi melalui penderitaan-Nya saja melainkan juga melalui perubahan pola pikir yang menuntun pada kehidupan yang lebih baik. Meskipun perubahan pola pikir dari para murid ini baru terjadi setelah Yesus naik ke sorga namun perubahan itu terjadi karena proses panjang yang sudah terjadi.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Perubahan pola pikir menjadi hal yang menonjol dalam kehidupan kita karena perubahan ini memang harus terjadi. Dengan adanya perubahan pola pikir ini diharapkan kehidupan kita sebagai manusia bisa menjadi lebih baik. Tentu perubahan yang baik ini dapat terjadi apabila didasari dengan hal baik seperti yang terjadi pada Yeremia dan yang ditanamkan Yesus pada para murid-Nya sehingga perubahan itu membuat manusia menjadi pribadi yang penuh hikmat.

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Setiap manusia pasti mengalami perubahan dalam dirinya. Perubahan bisa terjadi dalam banyak hal, mulai perubahan fisik, pemahaman, perilaku dll. Perubahan yang terjadipun tidak dapat selalu diprediksi. Semua bisa berubah entah menjadi lebih baik atau berubah menjadi lebih buruk. Ibaratnya dalam hidup ini kita berada di titik abu-abu antara hitam dan putih. Kemana kita berjalan itulah yang menentukan perubahan hidup kita. Contoh: jika sejak muda kita menjaga tubuh kita dengan baik melalui pola hidup yang sehat ada kemungkinan akan membuat proses penuaan akan berjalan lambat meskipun pasti semua akan menua dan kondisi fisik juga akan menurun namun dengan pola hidup yang sehat mungkin hidup kita akan kita jalani dengan baik. Dengan kata lain cara kita menjalani hidup akan menentukan ke arah mana perubahan kita.

Kita perlu menyadari bahwa kehidupan iman kita juga terus berubah. Selalu ada dinamika dalam iman yang biasanya dipengaruhi pengalaman hidup dan pola pikir masing-masing orang dalam menyikapi setiap hal yang terjadi dalam hidupnya. Ada kalanya kita merasa sangat dekat dengan Tuhan namun mungkin kita juga pernah merasakan saat-saat dimana kita jauh dari Tuhan. Perubahan memang harus terus terjadi namun marilah kita membuat perubahan yang lebih baik dalam hidup kita.

Isi
Bacaan kita yang pertama (Yeremia 11:18–20), menjelaskan tentang tantangan berat yang dihadapi oleh Yeremia, namun dibalik tantangan itu terdapat hal penting, yaitu terkait pola pikir. Orang Israel yang tidak mau merubah pola pikirnya untuk mendengarkan Yeremia lebih memilih untuk menghalau Yeremia dengan memberikan ancaman. Hal sebaliknya terjadi dalam diri Yeremia yang berada di bawah ancaman namun ia justru menemukan siapa dirinya dahulu dan bagaimana sekarang ia menjalani kehidupannya saat ini. Ia yang menggambarkan dirinya dulu ibarat domba jinak yang dibawa untuk disembelih (ayat 19), akan tetapi ia menyadari bahwa Allah pasti akan menghakimi dengan adil serta menguji batin dan hati (ayat 20). Dengan demikian Yeremia memiliki kekuatan baru, yaitu pola pikirnya yang senantiasa tertuju pada Allah dan ia menyadari keberadaan dirinya yang tidak berdaya tanpa pertolongan Tuhan, ibarat domba jinak yang dibawa untuk disembelih.

Perubahan pola pikir juga menjadi titik tekan Tuhan Yesus dalam kisah-Nya bersama para murid. Yesus ingin meluruskan pemahaman para murid tentang Sang Mesias yang selama ini dipahami. Para murid adalah orang Yahudi yang sudah memiliki pemahaman bahwa Mesias adalah sosok yang berkuasa, yang akan menjadi raja dengan kekuatan yang besar. Pemahaman ini kemudian mempengaruhi cara berpikir dan kehidupan orang Yahudi pada umumnya dan khususnya para murid. Pemahaman ini membuat mereka merasa superior dibandingkan yang lain, mereka merasa sebagai umat pilihan yang kemudian akan menguasai dunia karena Mesias akan datang dengan kekuatan dan kekuasaan yang besar dan menjadi raja di atas segala raja. Mereka sulit bahkan tidak mau menerima bahwa Sang Mesias yang datang adalah sosok yang sederhana.

Pola pikir mereka yang seperti itu nampak jelas ketika Yesus memberitakan untuk kedua kalinya tentang penderitaan-Nya namun tetap saja mereka tidak mampu memahami. Ketidakmampuan ini dikarenakan pikiran mereka sudah diisi dengan pemahaman bahwa Mesias adalah sosok yang berkuasa dan tidak mungkin Mesias akan menderita. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana menjadi murid yang baik sehingga ketika Yesus berkuasa mereka memiliki tempat yang baik pula. Pola pikir yang seperti ini yang mempengaruhi cara mereka bersikap. Di saat seharusnya mereka mempersiapkan diri untuk melanjutkan pelayanan Yesus ketika Yesus sudah kembali ke sorga, mereka malah menyibukkan diri untuk berdebat tentang siapa yang terbesar di antara mereka.

Yesus pun kembali menegaskan tentang pemahaman Mesias yang Ia bawa di tengah perdebatan para murid. Yesus mengatakan,Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (ayat 35). Perkataan Yesus ini kembali menegaskan bahwa Mesias yang datang bukanlah seperti yang mereka bayangkan. Mesias yang datang adalah sosok yang melakukan perubahan mendasar dalam kehidupan manusia melalui perubahan pola pikir dan perilaku keseharian. Mesias yang dimaksud Yesus, bukan mengubah melalui perlawanan besar namun mengubah melalui teladan tentang kehidupan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Yesus terus menggiring pola pikir para murid dengan berkata, “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku. (ayat 37) Lagi-lagi perkataan ini sangat bertolak belakang dengan pemahaman Mesias sebagai Raja, karena anak kecil adalah simbol dari orang-orang yang dianggap tidak mampu. Namun Yesus justru memberi penekanan di sini bahwa barang siapa menyambut anak kecil itu maka ia menyambut Yesus. Dalam arti barangsiapa memiliki kepedulian terhadap orang-orang yang dianggap tidak mampu atau dianggap lemah, dialah orang yang melakukan kehendak Allah.

Penutup
Perubahan pola pikir dari yang menganggap diri sebagai orang pilihan dan akan menguasai yang lain menjadi pribadi yang rendah hati dan memperhatikan orang lain menjadi tujuan Yesus dalam mendidik para murid-Nya. Harapan tentang perubahan pola pikir ini juga yang nampak dalam surat Yakobus dimana menekankan kepada pembacanya untuk menjadi pribadi yang berhikmat dengan menjadi pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Maka marilah menjadikan pola pikir kita senantiasa berdasarkan kehendak Tuhan yang kemudian akan mempengaruhi sikap hidup kita yang sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan dalam kehidupan kita. Amin. (Kuh.C)

Pujian: KJ. 432 : 1, 2 Jika Padaku Ditanyakan


Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Kawontenaning manungsa gesang punika tamtunipun nate owah salebeting gesangipun. Wujudipun saged owah badanipun, pangertosanipun, tindaktandhukipun, lsp. Bab owahipun manungsa punika mboten saged dipun titeni. Sadaya punika saged owah dados sae punapa owah dados awon. Gesanging manungsa punika kados titik klawu ing antawisipun cemeng lan pethak. Ing pundi kemawon anggenipun kita lumampah, punika nemtokaken owahing gesang kita. Contonipun, nalika kita taksih enem, kita sami jagi badan kita lumantar gesang sehat. Bab punika dadosaken proses penuaan kelampahan dangu, sanadyan kondisi fisik kita sansaya ringkih nanging kita taksih saged nglampahi gesang kanthi sehat. Ateges perkawis owahing badan punika gumantung cara anggenipun kita nglampahi gesang.

Kita kedah sadar bilih iman punika ugi saged owah. Owah-owahaning iman punika saged dipun pengaruhi kaliyan pengalaman gesang lan pola pikir kita piyambak-piyambak nanggepi sakatahing perkawis ingkang kedadosan ing gesang kita. Wonten wekdalipun, kita rumaos celak kaliyan Gusti nanging ugi wonten wekdalipun kita rumaos tebih kaliyan Gusti. Owahing gesang punika tamtu kelampahan, karana punika prayogi menawi gesang kita nedahaken owah-owahan ingkang sae salebeting gesang kita.

Isi
Waosan kita ingkang sepisan (Yer. 11:18-20) maringi pangertosan bilih Yeremia ngadepi perkawis awrat ngadepi bangsa Israel ingkang boten purun mirengaken piyambakipun, bangsa Israel malah ngancem piyambakipun. Senajan mekaten Yeremia nggadahi pemanggih ingkang sae. Yeremia saged mangertosi kawontenan gesangipun ing kala rumiyin lan kados pundi anggenipun nglampahi gesang sapunika. Yeremia saged gambaraken piyambakipun kados menda ingkang badhe dipun pragat (ayat 19), saking ngriku Yeremia sadar bilih Gusti Allah badhe ngadili sacara adil sarta nguji manah lan batosing manungsa (ayat 20). Kanthi mekaten Yeremia kagungan kakiyatan enggal, inggih punika pemanggih ingkang tansah katuju dhumateng Gusti Allah. Yeremia sadar bilih piyambakipun boten saged tumindak punapa-punapa tanpa pitulunganipun Gusti Allah, kados menda ingkang badhe dipun pragat.

Owahing pemanggih punika ugi dados kawigatosanipun Gusti Yesus salebeting gesang sesarengan kaliyan para sakabat. Gusti Yesus kepengin ngencengaken pemanggihipun para sakabat bab Sang Mesih. Para sakabat punika tiyang Yahudi ingkang nggadahi pemanggih bilih Sang Mesih punika sosok ingkang nggadahi panguwaos ingkang ageng sarta dados raja. Pemanggih kados punika ingkang dipun pahami kaliyan tiyang Yahudi mliginipun para sakabat. Pemanggih ingkang kados mekaten ndadosaken tiyang Yahudi punika rumaos langkung unggul tinimbang tiyang sanesipun karana piyambakipun rumaos dados umat pilihan ingkang badhe dados unggulan ing donya karana Sang Mesih ingkang dados rajaning para raja. Tiyang-tiyang punika mboten pitados bilih Sang Mesih ingkang rawuh punika sosok ingkang prasaja.

Pemanggihipun para sakabat ingkang selaras kaliyan tiyang Yahudi punika cetha katingal nalika Gusti Yesus martosaken bab Panjenenganipun badhe nandhang sangsara. Para Sakabat boten saged mangertos punapa ingkang dipun dawuhaken Gusti Yesus punika. Pemanggihipun para sakabat Sang Mesih punika piyantun ingkang nggadahi panguwaos ingkang ageng, lan mboten badhe nandhang sangsara tamtunipun. Pramila para sakabat punika pengen dados sakabat ingkang sae wonten ngarsanipun Gusti Yesus supados menawi Gusti Yesus dados panguwaos utawi raja, para sakabat saged angsal papan ingkang sae. Pemanggih ingkang kados mekaten punika ngaruh dateng sikap para sakabat anggenipun nglampahi gesang. Nalika para sakabat kedah nyawisaken diri kangge nglajengaken peladosaning Gusti Yesus saksampun sumengka ing swarga, para sakabat malah sami padu sinten ingkang unggul ing antawisipun para sakabat punika.

Gusti Yesus negesaken malih pemanggih bab Sang Mesih wonten ing satengahing padudoning para sakabat. Gusti Yesus dhawuh, “… Sing sapa kapengin dadi pangarep, iku dadia kang keri dhewe lan dadia paladene wong kabeh (ayat 35). Dhawuhipun Gusti Yesus punika negesaken bilih Sang Mesih ingkang rawuh punika mboten kados ingkang dipun mangertosi dening para sakabat. Sang Mesih ingkang rawuh punika nindakaken owahing pemanggih (pola pikir) lan tindak-tandhuking manungsa ing gesang padintenan. Gusti Yesus minangka Sang Mesih mboten ngubah manungsa lumantar kekerasan nanging lumantar tuladha ingkang dipun lampahi bab gesang ingkang cunduk kaliyan karsanipun Gusti Allah. Gusti Yesus ngrubah pemanggihipun para sakabat kanthi dhawuh, “Sing sapa nampani bocah pepadhane iki atas jenengKu, iku ateges Aku kang ditampani. Lan sing sapa nampani Aku, iku dudu Aku kang ditampani, nanging kang ngutus Aku.” (ayat 37). Dhawuhipun Gusti Yesus punika benten kaliyan pemanggih bab Sang Mesih ingkang dados rajaning para raja, karana bocah punika dados simbol tiyang ingkang mboten dipun anggep. Nanging Gusti Yesus malah ndadosaken bab punika wigati sanget karana sinten ingkang nampeni bocah punika ugi badhe nampeni Gusti Yesus. Ateges sinten kemawon ingkang peduli dateng tiyang ingkang mboten dianggep lan karemehaken, tiyang punika ingkang nglampahi karsanipun Allah.

Panutup
Owahing pemanggih ingkang nganggep diri minangka umat pilihan lan ngungguli tiyang sanes dados pribadi ingkang lembah sarta nggadahi kepedulian dhateng tiyang sanes punika dados tujuanipun Gusti Yesus nggulawenthah para sakabat. Pangajeng-ajeng bab owahing pemanggih punika ugi ketingal ing layangipun Yakobus ingkang negesaken supados kita dados pribadi ingkang wicaksana, dhemen rukun, sumlondhoh, mbangun turut, sugih kawelasan sarta nuwuhaken woh-wohing gesang kang becik, boten ilon-ilonen sarta boten lamis. Pramila sumangga, kita ndadosaken pikiran kita punika tansah adedhasar karsanipun Gusti Allah ingkang ngaruhi gesang kita supados gesang kita tansah cunduk ing ngarsanipun Gusti. Amin. (Kuh.C)

Pamuji: KPJ. 352 : 1, 2 Santosaning Tetunggilan

Renungan Harian

Renungan Harian Anak