Murid Kristus yang Taat dan Setia Khotbah Minggu 12 September 2021

30 August 2021

Minggu Biasa – Bulan Kitab Suci
Stola Hijau

Bacaan 1: Yesaya 50 : 4 – 9a
Bacaan 2: Yakobus 3 : 1 – 12
Bacaan 3: Markus 8 : 27 – 38

Tema Liturgis: Firman Tuhan Penuntun Kehidupan
Tema Khotbah: Murid Kristus yang Taat dan Setia

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 50 : 4 – 9a
Yesaya 50:4-9a adalah bagian dari Deutero Yesaya. Kitab Deutero Yesaya ditulis pada masa Israel ada di pembuangan dengan tema pokok tentang pengharapan akan datangnya hamba TUHAN (ebed-YHWH). Dalam Yesaya 50:4-9a secara khusus digambarkan tentang bagaimana ketaatan seorang hamba Tuhan. Dalam ayat 4 seorang hamba Tuhan diberikan lidah seorang murid yang dipanggil untuk mewartakan pengharapan dan semangat baru melalui perkataan yang ia sampaikan. Selain diberikan lidah yang menyampaikan perkataan yang memberikan semangat, seorang hamba Tuhan juga diberikan telinga yang memiliki kepatuhan dalam mendengarkan. Ketaatan seorang hamba Tuhan bahkan digambarkan dengan perkenannya untuk menerima berbagai penderitaan. Manakala punggungnya dipukul, pipi bahkan janggut hamba Tuhan dicabut, serta mukanya dinodai dan diludahi seorang hamba Tuhan akan tetap taat. Namun Tuhan akan menolong hamba Tuhan serta membebaskannya dari malu.

Yakobus 3 : 1 – 12
Surat Yakobus ditulis bagi orang Kristen Yahudi yang tersebar di penjuru Kekaisaran Romawi. Konteks surat Yakobus adalah adanya diskriminasi serta kesenjangan sosial yang menonjol antara si kaya dan si miskin (Yak. 5:1-6). Pada pasal 3, Yakobus memfokuskan suratnya pada para pengajar di jemaat Yahudi. Pada masa itu, pengajar memainkan peranan penting dalam kehidupan gereja mula-mula selain rasul dan nabi (2 Kor. 12:28). Pengajar jemaat mula-mula diberikan tugas penting dalam menyampaikan ajaran kekristenan (2 Tim. 2:2). Karena pada masa itu tidak banyak yang bisa membaca, maka posisi guru menjadi sangat penting dan mendapat kedudukan yang tinggi dalam masyarakat. Hal ini yang membuat orang berbondong-bondong untuk menjadi guru/ pengajar. Hal ini mendorong Yakobus untuk menekankan konsekuensi yang akan dihadapi guru karena elemen utama dalam mengajar adalah lewat perkataan. Yakobus menekankan tentang pentingnya mengendalikan lidah (perkataan). Dengan sangat ilustratif Yakobus menggambarkan peran pentingnya lidah (perkataan) yang dapat membawa dampak besar. Apabila perkataan yang dikeluarkan adalah perkataan yang membangun, tentu membawa dampak yang baik. Namun apabila sebaliknya, tentu hal ini membawa pula dampak yang negatif. Itulah mengapa mengendalikan lidah menjadi bagian yang penting untuk dilakukan, karena barangsiapa bisa mengendalikan lidah, maka ia bisa mengendalikan seluruh tubuhnya.

Markus 8 : 27 – 38
Dalam perjalanan Yesus dan para murid menuju Kaisarea, Yesus bertanya kepada para murid-Nya tentang pendapat mereka terhadap gurunya. Ada beberapa pendapat orang tentang Yesus, ada yang menyebut sebagai Yohanes Pembaptis, ada pula yang mengatakan Elia, dan ada pula yang menyebut sebagai nabi. Menjawab pertanyaan tersebut, Petrus dikisahkan sebagai murid yang menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban: Su ei ho Kristos (Engkau adalah Kristus). Yang menarik kemudian dalam ayat 30 Yesus justru memerintahkan kepada para murid untuk tidak menceritakan kepada siapapun tentang siapa Dia. Perintah ini tentu tidak bisa dipisahkan dengan perikop selanjutnya, di mana Yesus berkisah tentang penderitaan yang akan Dia alami sebagai bagian dari perutusan Yesus. Mendengar penderitaan yang akan dialami Yesus, Petrus bersegera mencegah Yesus untuk melanjutkan apa yang Ia sampaikan. Namun Yesus malah memarahi Petrus karena ia mencegah anak manusia mengalami salib.

Yesus menekankan bahwa seorang yang mengikut Yesus haruslah bersiap untuk menyangkal diri (aparnesastho eauton), memikul salib (apato ton stauron) dan mengikut Yesus (akoloutheiso moi). Tiga hal sebagai syarat mengikut Yesus ini tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Menyangkal diri dimaknai sebagai mengalahkan ego kita. Memikul salib sebagai kesediaan untuk mengalami penderitaan dan mengikut Yesus dimaknai sebagai kesediaan untuk hidup dalam ketaatan sebagai seorang murid. Ketaatan seorang murid bahkan ditunjukkan dengan kesediaan untuk menyerahkan nyawanya demi Injil.

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, bagi kita yang suka dengan cerita pewayangan tentu tidak asing dengan tokoh bernama Prabu Palgunadi atau Prabu Ekalawya. Bambang Ekalawya adalah seorang Raja dari Kerajaan Paranggelung. Ekalawya dikenal sebagai seorang ksatria yang memiliki kepiawaian dalam memainkan busur dan anak panah. Bahkan kepiawaian Ekalawya dalam memainkan panah setara dengan kemampuan Arjuna. Meskipun demikian, ia ingin berguru dari seorang begawan Durna yang terkenal sebagai pelatih panah yang piawai. Dengan keinginan yang kuat untuk menimba ilmu panah, ia datang ke Hastinapura untuk berguru langsung pada Durna, guru Pandawa dan Kurawa, bangsawan Kuru Pandawa dan Kurawa. Permohonannya ditolak, karena Durna khawatir bahwa kemampuannya bisa menandingi Arjuna, salah satu Pandawa. Di samping itu, Durna berjanji untuk menjadikan Arjuna sebagai satu-satunya ksatria pemanah paling unggul di dunia.

Penolakan Durna tidak menghalangi niatnya untuk memperdalam ilmu keprajuritan. Ia kemudian kembali masuk kehutan dan mulai belajar sendiri. Sebagai motivasi dan inspirasi, ia membuat patung berbentuk Durna dari tanah dan lumpur bekas pijakan Durna, serta memuja patung tersebut seakan-akan itu Durna yang asli. Berkat kegigihannya dalam berlatih, Ekalawya menjadi seorang prajurit dengan kecakapan dalam ilmu memanah, yang sejajar bahkan lebih pandai daripada Arjuna.

Suatu hari, saat ia sedang berlatih di tengah hutan, ia mendengar suara anjing menggonggong ke arahnya. Tanpa melihat sumber suara, Ekalawya melepaskan beberapa anak panah, dan tepat menyumpal mulut anjing tersebut. Anjing tersebut tidak terluka, tetapi sumpalan anak panak membuatnya tak bisa menggongong. Ia pun meninggalkan Ekalawya. Saat anjing yang tersumpal itu ditemukan oleh para Pandawa dan Durna, mereka kebingungan karena sejauh pengetahuan mereka, tidak ada orang yang mampu melakukan keterampilan memanah seperti itu, selain Arjuna. Kemudian mereka melihat Ekalawya, yang memperkenalkan dirinya sebagai murid dari Guru Durna. Mendengar pengakuan Ekalawya, timbul kegundahan dalam hati Arjuna, bahwa ia tidak lagi menjadi seorang prajurit terbaik di dunia. Perasaan gundah Arjuna juga terbaca oleh Durna, yang juga teringat akan janji untuk menjadikan Arjuna sebagai pemanah terhebat di dunia.

Saat bertemu Durna dan Arjuna, Ekalawya dengan sigap menyembah sang guru, tetapi ia malah mendapat amarah atas sikap yang dianggap tidak bermoral, yaitu lancang mengaku sebagai murid Durna meskipun dahulu sudah pernah ditolak untuk diterima sebagai murid. Dalam kesempatan itu pula Durna meminta Ekalawya untuk mempersembahkan  guru Dakshina apabila mau diakui sebagai murid. Itu merupakan tradisi pemberian sesuatu, sesuai permintaan guru kepada muridnya, sebagai tanda terima kasih dari seorang murid yang telah menyelesaikan pendidikan. Ekalawya mengaku bahwa ia tidak memiliki barang berharga apapun untuk diberikan. Tetapi, Durna meminta supaya ia memotong ibu jari tangan kanannya. Awalnya Ekalawya ragu, tetapi Durna tetap memintanya secara tegas. Lalu, permohonan Durna pun dilakukan oleh Ekalawya. Ia menyerahkan ibu jari tangan kanannya kepada Durna, meskipun dia tahu akan akibat dari pengorbanannya tersebut, yaitu kehilangan kemampuan dalam ilmu memanah.

Isi
Saudara-saudara, menjadi murid yang taat dan setia menuntut komitmen yang tinggi dari murid untuk memiliki ketaatan kepada sang guru. Kisah Ekalawya tadi menjadi salah satu contoh tentang ketaatan seorang murid yang bahkan merelakan apa yang paling berharga miliknya demi rasa hormatnya kepada Durna yang ia anggap sebagai gurunya. Dalam bacaan pertama kita hari ini (Yesaya 50:4-9a) digambarkan bagaimana ketaatan seorang hamba Tuhan. Seorang hamba Tuhan menyampaikan perkataan yang adalah kehendak dari Sang Guru. Seorang hamba Tuhan juga memiliki telinga yang mendengar dan taat. Seorang hamba Tuhan bahkan siap merelakan dirinya untuk menderita dan dihina. Ketaatan hamba Tuhan ini digambarakan sebagaimana ketaatan seorang murid.

Tentu saja ketaatan seorang murid tidak perlu dimaknai sebagai sikap yang tidak kritis terhadap pengajaran gurunya, melainkan ketaatan seorang murid yang dimaksudkan adalah sebuah sikap patuh kepada perintah Sang Guru dan meneladan apa yang telah ditampilkan oleh Sang Guru. Menjadi pengikut Kristus berarti bersiap untuk menjadi murid-Nya. Dan menjadi murid Kristus artinya siap untuk menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Dia. Kata menyangkal diri berasal dari kata aparnesastho eauton. Menyangkal diri berarti memiliki kemauan untuk melepas ego dan kepentingan diri sendiri serta menjadikan Tuhan sebagai pemimpin atas kehidupannya. Menahan diri tentu bukan hal yang sederhana dan mudah. Yakobus mencontohkan dalam Yak. 3:1-12 tentang bagaimana mengendalikan perkataan/ lidah. Untuk mengendalikan lidah yang kecil saja bukan perkara yang mudah dilakukan. Lidah digambarkan seperti halnya kemudi sebuah kapal yang hanya berukuran kecil namun membawa dampak yang sangat besar. Melalui kemudi yang kecil itu, kapal bisa digerakkan dan dibawa kemana pengemudi mau (Yak. 3:4). Maka dengan mengendalikan lidah, kita menguasai seluruh tubuh kita. Mengendalikan lidah menjadi salah satu tindakan menyangkal diri.

Syarat kedua menjadi murid Kristus adalah memikul salib (apato ton stauron). Memikul salib adalah kemauan untuk turut serta dalam perarakan penderitaan Kristus melalui beragam tantangan serta penderitaan yang akan kita alami manakala menjadi murid Kristus. Menjadi murid Kristus tidak berarti serta merta tantangan hidup akan lenyap. Menjadi murid Kristus berarti kemauan untuk memiliki kesadaran penuh menghadapi beragam tantangan hidup dengan taat dan tabah.

Adapun syarat ketiga dalam menjadi murid Kristus adalah mengikut Aku (akoloutheiso moi). Mengikut Yesus berarti memiliki kesetiaan dan kesanggupan untuk meneladan apa yang telah dilakukan oleh Yesus sebagai Sang Guru. Menjadi seorang murid yang taat dan meneladan Sang Guru adalah panggilan kita. Untuk mewujudkannya memanglah tidak mudah dan sederhana, dibutuhkan tekad dan kemauan untuk turut dalam perarakan pengorbanan, perjuangan, bahkan penderitaan Yesus.

Penutup
Seorang pendeta di Jerman bernama Dietrich Bonhoeffer menulis sebuah buku berjudul The Cost of Discipleship. Bonhoeffer mengingatkan bahwa ada harga yang harus dibayar untuk menjadi murid Kristus. Anugerah Tuhan tidak serta merta membuat kita hidup merdeka tanpa perjuangan sebagai murid Kristus. Menjadi murid Kristus berarti meneladan Sang Guru. Bagaimana kita mengetahui keteladanan Sang Guru? Tentu melalui pembacaan Kitab Suci. Di tengah-tengah bulan Kitab Suci, kita juga perlu menggalakkan kecintaan kepada pembacaan Kitab Suci sehingga kita mengetahui keteladanan Sang Guru. Amin. (ANS).

PUJIAN: KJ. 375 Saya Mau Ikut Yesus


Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Pasamuwan ingkang kinasih wonten ing patunggilanipun Gusti Yesus, kangge kita ingkang remen cariyos wayang temtu boten asing kaliyan satunggaling tokoh wayang inggih punika Palgunadi utawi Prabu Ekalawya. Bambang Ekalawya inggih punika Ratu saking Karajan Paranggelung. Ekalawya punik satunggaling satria ingkang wasis njemparing. Malah kepara kawasisan Ekalawya sami kados dene kawasisan Arjuna anggenipun terampil njemparing. Ewasemanten, Ekalawya nggadhahi gegayuhan sinau saking Begawan Durna ingkang kondang minangka guru ingkang wasis bab jemparing. Kanthi tekad ingkang kiyat anggenipun badhe sinau jemparing, mila piyambakipun sowan dhateng Astina temahan saged ngangsu kawruh kaliyan Durna. Ananging sowanipun Ekalawya katampik dening Durna. Durna ajrih bilih kawasisanipun Ekalawya saged nglangkungi kawasisanipun Arjuna, salah satunggaling Pandawa. Mekaten ugi Durna sampun prasetya bilih Arjuna mbenjangipun dados satria ingkang nggadahi kawasisan jemparing paling unggul ing donya.

Panampiking Durna mboten ndadosaken manahipun Ekalawya semplah anggenipun badhe gegladen. Piyambakipun lajeng lumebet ing satengahing wana lan sinau piyambakan. Kangge sumbering semangat, piyambakipun yasa satunggaling patung ingkang sami kados dene Durna, lajeng patung punika kaanggep kados dene gurunipun. Piyambakipun mempeng anggenipun gladi, pramila kawasisan anggenipun njemparing tansaya wasis.

Satunggaling dinten, nalika Ekalawya gladi ing satengahing wana, piyambakipun mireng suwanten asu. Tanpa nilingaken mripat dhateng asu kasebat, Ekalawya njemparing asu kasebat temahan mboten saged njegog malih. Nalika asu kasebat pinanggih dening Pandawa lan Durna, para Pandawa lan Durna eram awit boten wonten tiyang ingkang nggadhahi kawasisan njemparing kados mekaten kajawi Arjuna. Para Pandawa lan Durna lajeng pinanggih kalihan Ekalawya.

Nalika pinanggih kalihan Durna lan Pandawa, Ekalawya lajeng nyembah sang guru. Ananging piyambakipun malah dipun dukani dening Durna awit ngaku-aku minangka siswanipun Durna. Durna lajeng nyuwun supados Ekalawya misungsungaken guru dakshina menawi kepengin dipun akeni minangka siswa. Piyambakipun kasuwun misungsungaken gegadhanipun ingkang paling aji kagem Durna. Ekalawya munjuk atur bilih mboten anggadhahi punapa-punapa ingkang aji. Ananging Durna nyuwun supados Ekalawya misungsungaken jempolipun. Sewaunipun Ekalawya gojag-gajeg, ananging Durna tetep nyuwun pisungsung punika. Panyuwunan kasebat lajeng kasembadan dening Ekalawya. Ekalawya ngethok jempolipun tengen lan kapisungsungaken kagem Durna. Kanthi mekaten Ekalawya kecalan kawasisanipun njemparing.

Isi
Para sedherek ingkang kinasih, dados siswa ingkang setya mbetahaken tekad ingkang sayektos anggenipun mbangun miturut dhumateng sang guru. Carios Ekalawya ing ngajeng dados satunggaling conto kados pundi siswa ngeklasaken gegadhahanipun ingkang aji minangka raos urmat dhumateng Durna ingkang kaanggep minangka gurunipun. Wonten ing waosan kapisan (Yesaya 50:4-9a) kagambaraken kados pundi kasetyanipun abdinipun Allah. Abdinipun Allah mratelakaken pitembungan ingkang dados karsanipun Sang Guru. Abdinipun Allah nilingaken kupingipun mirengaken sabdanipun Sang Guru. Malah kepara abdnipun Allah sumadya nglampahi kasangsaran lan dipun kuya-kuya. Kasetyanipun abdinipun Gusti kagambaraken kados dene kasetyanipun siswa.

Temtu kemawon kasetyanipun siswa mboten perlu dipun mangertosi minangka sikep ingkang mboten kritis tumrap pangajaran sang guru, ananging kasetyanipun siswa inggih punika sikep mbangun miturut tumraping patuladhan sae saking sang guru. Dados pandherekipun Sang Kristus nggadahi teges bilih piyambakipun sumadya dados siswanipun Panjenenganipun. Dados siswanipun Sang Kristus atages sumadya nyingkur marang awake dewe, mikul salib lan ngetut wingking Panjenenganipun. Tembung nyingkur awakipun piyambak anggadahi teges mboten nengenaken pepenginan pribadi, ananging ndadosaken Sang Kristus minangka panuntun tumrap gesangipun. Temtu punika sanes perkawis ingkang gampil dipun tindakaken. Yakobus paring conto wonten ing Yak. 3:1-12 kados pundi kedah ngendaleni ilat utawi pitembungan kita. Kangge ngendaleni ilat ingkang alit kemawon sanes perkawis ingkang gampil katindakaken. Ilat kados dene setir kapal sanadyan alit ananging saged ngendaleni kapal mangiwa lan manengen. Ngendaleni ilat satunggaling conto nyingkur dhirinipun piyambak.

Dene timbalan ingkang kaping kalih inggih punika mikul salib. Mikul salib inggih punika sumadya ngadepi ruwet rentenging gesang lan marupi-rupi kasangsaran ingkang karaosaken minangka siswanipun Sang Kristus. Dados siswanipun Sang Kristus mboten ateges gesang kita mboten ngalami tantangan lan reribet. Dados siswanipun Sang Kristus mbetahaken manah ingkang sumadya ngadepi marupi-rupi pepalanging gesang.

Dene timbalan ingkang kaping tiga inggih punika ngetut buri Panjenenganipun. Ngetut buri Panjenenganipun nggadahi teges setya lan sumadya nuladha punapa ingkang katindakaken dening Gusti Yesus minangka Sang Guru. Nulad patuladhanipun Sang Guru minangka timbalan kita minangka sang siswa.

Panutup
Satunggaling pendita saking Jerman kanthi asma Dietrich Bonhoeffer yasa satunggaling buku kanthi jejer The Cost of Discipleship. Bonhoeffer ngemutaken dhateng kita bilih dados siswanipun Sang Kristus kedah wonten tekad ingkang kita tindakaken minangka siswanipun Sang Kristus. Kanugrahan ingkang kaparingaken dhateng kita mboten lajeng ndadosaken kita mardika tanpa nindakaken pangudi minangka siswa. Dados siswanipun Sang Kristus ateges nulad dhumateng Sang Guru. Kados pundi anggen kita mangertos patuladhanipun Sang Guru? Inggih punika lumantar pamaosing Kitab Suci. Ing satengah-tengahing wulan Sabda Suci punika, kita tinimbalan nggegilut Sabdanipun Gusti temahan kita saget nuladha Sang Guru. Amin. (ANS).

Pamuji: KPJ. 452 : 1, 2 Tekading Manah Kawula

Renungan Harian

Renungan Harian Anak