Khotbah Minggu 11 Juni 2017

Minggu Tritunggal Kudus
Stola Merah

 

Bacaan 1         : Kejadian 1: 1-2, 4a
Bacaan 2         : 2 Korintus 13: 11-14
Bacaan 3         : Matius 28: 16-20

Tema Liturgis : Kuasa Kristus memandirikan umatNya
Tema Kotbah  : Mewujudkan Asmanat Agung Tuhan Yesus di tengah dunia

 

Keterangan Bacaan

Kejadian 1:1-2:4a

Allah menciptakan langit dan bumi. Pada mulanya keadaannya adalah kacau balau (tohu wa bohu), tetapi Roh Allah melayang layang di atasnya, artinya mengatasi, menguasai alam semesta yang kacau balau. Penciptaan berarti pembebasan, pengaturan dan perkembangan menuju yang baik dan sejahtera. Setelah semuanya siap, manusia diciptakan menurut gambar Allah (imago Dei), artinya laki-laki dan perempuan itu dikaruniai potensi dan tabiat dasar yang mampu mencerminkan dan menggambarkan Allah dalam hidup mereka. Kemudian mereka dipanggil untuk beranak cucu dan mengelola bumi untuk kesejahteraan mereka bersama (band 2:15).

 

2 Korintus 13:11-14

Masalah Jemaat Korintus adalah mereka kaya dengan berbagai karunia, tetapi kekayaan itu justru menjadi sebab mereka saling meninggikan diri dan merendahkan yang lain. Akibatnya Jemaat selalu dalam ketegangan, bahkan konflik antar kelompok. Karena itu Paulus menasehati mereka untuk hidup sehati sepikir dan dalam damai sejahtera. Saling memberi salam antara satu dengan yang lain. Mereka dapat sehati sepikir jikalau tiap-tiap orang menjadikan Kristus sebagai pusat dan tujuan hidupnya. Sehingga pikiran Kiristus menjadi pikirannya dan hati Kristus menjadi hatinya.

 

Mat 28: 16-20

Dengan selesainya misi Kristus untuk menyatukan manusia dengan Tuhan dan dengan sesamanya, kini Dia menerima segala kuasa Allah itu. Yaitu kuasa pembebasan, pengaturan, pembaharuan dan penyejahteraan. Dia berkehendak bahwa kuasaNya itu dinikmati oleh seluruh umat manusia, bahkan alam semesta. Oleh karena itu Ia memanggil para muridNya untuk pergi: menjadikan semua bangsa murid-muridNya, membabtis mereka dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus serta mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang diperintahkan kepada mereka. Dia memberikan jaminan untuk senantiasa menyertai mereka sampai dengan akhir zaman.

 

BENANG MERAH TIGA BACAAN

Karya penciptaan adalah pembebasan, pengaturan dan penyejahteraan. Kuasa itu telah dimiliki oleh Tuhan Yesus dan atas dasar kuasa itu kita dipanggil untuk mengajar dan berbagi bagi alam semesta.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Hidup mewujudkan Amanat Agung Tuhan Yesus di tengah dunia

Pendahuluan

Bacaan Injil kita saat ini sering disebut Amanat Agung Tuhan Yesus, ditempatkan pada akhir Injil Mateus, sebagai kesimpulan akhir dari Injil Mateus yang berisi perintah Tuhan Yesus yang paling penting. Memang tidak salah, namun sayang teks ini sering kurang dipahami secara utuh, sehingga tafsirannya disempitkan menjadi tugas untuk mencari jiwa-jiwa atau mempengaruhi mereka menjadi orang Kristen. Bahkan menjadi anggota “gerejaku”, sehingga tidak jarang malah memunculkan saling curiga, ketegangan dan konflik antar gereja sendiri karena kasus-kasus “curi domba” atau “pancing memancing di kolam orang lain”. Tentulah bukan seperti  itu kehendak Kristus.

 

Isi

Karya Penciptaan adalah karya pembebasan, pengaturan dan penyejahteraan

Pada mulanya keadaan dunia adalah kacau balau (Ibrani: tohu wa bohu) dan Roh Allah atau kuasa Allah melayang-layang di tasnya. Artinya bahwa Roh Allah mengatasi dan menguasaai kekacauan itu. Mulailah penciptaan alam semesta dengan puncaknya penciptaan manusia selama 6 hari. Jikalau kita renungkan  dari hari pertama hingga ke 6, penciptaan berarti pemilahan dari keberadaan yang satu dengan keberadaan yang lain; pembebasan dari kuasa-kuasa kekacauan, kegelapan; pengaturan dari keadaan tidak baik menjadi lebih baik dan teratur; penyejahteraan sehingga langit dan bumi menjadi lebih sejahtera dan siap didiami oleh manusia.

Manusia diciptakan menurut gambar Allah (imago Dei), artinya manusia diciptakan dengan tabiat dasar dan potensi yang mampu mencerminkan Allah  melalui hidupnya. Allah Mahakasih, manusia dikaruniai kasih. Misalnya, Allah Mahakuasa, manusia dikaruniai kuasa supaya melalui semua itu manusia dapat mencerminkan kasih dan kuasa Allah. Karena itu manusia, yakni Adam dan Hawa dipanggil untuk beranak cucu dan diberi tugas untuk menguasai dan memelihara alam semesta (Kej 1:28 bandingkan 2:15).

Namun manusia jatuh kedalam dosa dan dosa merusak semua yang indah dan baik itu. Hubungan manusia dengan Allah terputus, yang berakibat rusaknya hubungan dengan sesama dan lingkungan hidupnya. Manusia tidak dapat lagi mencerminkan hakekat dan sifat-sifat Allah dalam hidupnya, akibatnya mereka tidak saling menyejahterakan, melainkan saling menghancurkan satu sama lain.

Kristus datang memperbarui dan membangun kembali apa yang telah rusak ini. Karena itu mengapa karya mujizat yang pertama, yang menjadi asas dari karya-karya lainnya adalah air menjadi anggur di tengah pesta perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11), dari kualitas yang rendah menjadikan kualitas yang lebih tinggi.

 

Pengutusan Kristus

Dalam konteks tersebut di atas “Amanat Agung” harus dipahami. Misi atau pengutusan Kristus adalah untuk membawa pembebasan, pengaturan, pengembangan kehidupan atau pembaharuan secara terus-menerus. Maka Amanat Agung itu diawali dengan proklamasi bahwa “segala kuasa telah diberikan kepada Ku”, artinya kuasa pembebasan, pengaturan, pembaharuan dan penyelamatan itu telah diberikan kepadaNya.

Atas dasar kuasaNya itu Ia memerintahkan murid-muridNya untuk pergi, melangkah, bertindak menjadikan semua bangsa murid Kristus. Artinya, menjadi orang-orang yang taat dan melakukan ajaran Kristus Sang Guru. Membaptiskan murid-murid itu, artinya memasukkan mereka semua ke dalam keselamatan Allah Tritunggal (Bapa, Putra dan Roh Kudus). Mengajarkan semua yang telah diajarkan oleh Sang Guru Kristus sendiri untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Demikianlah amanat Agung yang harus dilakukan dalam kesaksian dan Pekabaran Injil. Tugas itu begitu luas dan dalam. Bukan sekedar menjadikan orang menjadi Kristen, lebih-lebih menjadi “anggota gerejaku”, melainkan membawa pembebasan di tengah berbagai belenggu (kuasa yang represif: berbagai kuasa kegelapan, kebodohan, kemiskinan, sakit penyakit); pengaturan di tengah berbagai kekacauan, kerusakan, kehancuran; penyejahteraan di tengah penderitaan, pembaharuan di tengah kelapukan dan kehidupan di tengah kematian.

Untuk melaksanakan tugas itu Paulus menasehati: supaya ke dalam kita sehati, sepikir. Kita bisa sehati dan sepikir jikalau kita menaruh pikiran dan hati Kristus menjadi pikiran dan hati kita lebih dahulu dan menganggap yang lain lebih berarti daripada diri sendiri. Keluar hidup berdamai dengan sesama. Membagi salam dan damai sejahtera dalam dengan yang lain dalam kehidupan bersama.

Betapa sulitnya melaksanakan tugas itu di tengah masyarakat yang tidak mau berpikir rasional tetapi emosional, yang lebih suka kebathilan daripada kebenaran dan keadilan, yang lebih cinta kekacauan daripada keteraturan, lebih cinta kematian dan kehancuran daripada kehidupan dan kesejahteraan.

 

Penutup

Sungguh, bukan tugas main-main, bukan tugas yang dapat dilakukan sendiri, melainkan yang harus dilakukan bersama orang lain, siapapun yang bersedia melakukan damai sejahtera Tuhan. Oleh karena itu Tuhan Yesus menjamin bahwa Dia akan menyertai kita yang melaksanakan panggilan itu sampai selama-lamanya.  Amin. BRU.

 

Nyanyian: KJ 260: 1.2.3.

 —

RANCANGAN KOTBAH: Basa Jawi

Gesang maujudaken Amanat Agung ipun Sang Kristus ing tengahing jagad

Pambuka

Waosan kita punika asring kasebat “Amanat Agung” ingkang kapendhet saking perangan pungkasan Injil Mateus. Perangan kesimpulan ingkang isi pangatag nindakaken “Amanat Agung” saking Gusti Yesus Kristus. Perangan punika asring kaanggep minangka prentahipun Gusti Yesus ingkang paling penting. Mboten lepat, ananging kuciwanipun dhawuh punika asring kataksiraken kanthi cupet, inggih punika ngundhangaken Injilipun Gusti Yesus, ngupadosi miwah milujengaken jiwa-jiwa lan ndadosaken Kristen minangka warganing grejanipun. Mila mboten aneh menawi asring njalari kasus-kasus “colong-cinolong menda”, “pancing-pinancing ing blumbanging sanes”. Ingkang penting warganipun piyambak tambah kathah. Temahanipun, sesambetan antawisipun greja satunggal lan satunggalipun lajeng kebak ing raos sujana (curiga) lan pasulayan. Tamtu mboten mekaten kersanipun Gusti Yesus.

 

Isi

Penciptaan = pakaryan pangluwaran, pangaturan miwah tentrem rahayu.

Ing kala wiwitan kawontenanipun bumi campur bawur, worsuh lan suwung (tohu wa bohu). Ananging Rohing Allah nglayang ing sainggilipun toya utawi ingkang campur bawur punika. Artosipun bilih Rohipun Allah ngatasi miwah nguwaosi sadaya punika. Lajeng Allah nitahaken jagad saisinipun. Menawi kita raosaken pakaryan penciptaan punika inggih pakaryan pemilahan, pangluwaran (pembebasan), pengaturan miwah pakaryan maujudaken tentrem rahayu. Cobi ing dinten kapisan padhang kapisahaken saking peteng, dinten salajengipun langit kapisahaken saking bumi, dharatan kapisahaken saking seganten utawi toya. Bumi kauwalaken saking kawontenan worsuh lan campur bawur. Bumi sangsaya tumata, terus tuwuh ngrembaka sangsaya tentrem raharja.

Sasampunipun sadaya cumawis lajeng pungkasanipun manungsa katitahaken miturut pasemonipun (gambar) Allah (imago Dei). Wosipun manungsa katitahaken kanthi tabiat dhasar, sipat lan potensi ingkang saged nggambaraken Allah ing gesangipun. Contonipun Gusti Allah Maha asih, manungsa kaparingan sih katresnan supados ing gesangipun saged nggambaraken sih katresnanipun Allah lan mulyakaken asmanipun. Matemah kanthi ningali manungsa tiyang saged mangertosi Allah kanthi sipat-sipatipun. Mila manungsa lajeng katimbalan bebranahan, kaparingan jejibahan lan wewenang nelukaken lan nguwaosi sarta ngolah lan ngreksa bumi (Pd 1:28 bandingaken 2:15).

Cilakanipun dosa ndadosaken manungsa kapedhot sesambetanipun kaliyan Allah, kecalan kamulyanipun, dados risak, sipat miwah tumindakipun mboten saged malih nggambaraken citranipun Allah lumantar gesangipun. Sesambetanipun manungsa kaliyan sesami lan lingkungan gesangipun ugi dados risak.

Gusti Yesus rawuh ngrukunaken manungsa kaliyan Yehuwah Allah, mbangun malih punapa ingkang risak punika, ngenggalaken punapa ingkang gapuk, nggesangaken punapa ingkang pejah punika. Mila pratandha mukjijatipun Gusti ingkang kawitan ing kitha Kana ingkang dados asas pakaryan-pakaryan sanesipun inggih ndadosaken toya dados anggur. Kualitas gesang asor dados langkung inggil lan sae (Yoh 2:1-11).

 

Pengutusanipun Sang Kristus

Inggih ing kawontenan ingkang kados mekaten pengutusanipun Sang Kristus kedah kapapanaken. Misi utawi pengutusanipun Sang Kristus inggih ambekta pangluwaran (pembebasan), pengaturan, kawilujengan lan maujudaken tentrem rahayu ing jagad kanthi mboten wonten mandhegipun. Mila pangandikanipun Gusti Yesus: “Aku wus kaparingan sakabehing panguwasa ing swarga lan ing bumi”, artosipun panguwaos pangluwaran, pengaturan, pembaruan miwah tentrem rahayu.

Atas dhasar panguwaos punika Gusti lajeng ngutus para muridipun ngedum sadaya punika ing tengahing bebrayan kanthi kesah, ndadosaken sakathahing bangsa dados muridipun Sang Kristus ingkang manut dhateng kersanipun Sang Guru, nglebetaken ing patunggilan miwah kawilujenganipun Sang Rama, Sang Putra miwah Sang Roh Suci lan mucalaken sadaya ingkang sampun kadhawuhaken dening Gusti Yesus.

Mila Amanat Agung punika saestu jejibahan ingkang lebet miwah wiyar sanget tebanipun. Mboten namung ngabaraken Injil kanthi pitembungan lan ndadosaken tiyang sanes warganing “grejaku”, ananging mbabaraken pangluwaran, pangaturan lan karahayon ing tengahing marupi-rupi belenggu (ajrih, memengsahan, kebodhoan, kesrakatan, kasangsaran). Iba mboten gampilipun nindakaken sadaya punika. Langkung-langkung ing tengahing masyarakat ingkang emosional, mboten nalar, kebak sengit lan dendam katimbang rohing pasadherekan, remen memengsahan, pepejah lan karisakan katimbang sih-sinihan, miwah gesang raharja sesarengan.

 

Panutup

Saestu sanes jejibahan ingkang entheng, sanes jejibahan ingkang saged dipun tindakaken piyambak, ananging jejibahan ingkang kedah katindakaken kanthi estu-estu, mbetahaken saranduning kekiyatan, malahan gotong royong sesarengan kaliyan tiyang sanes, sinten kemawon ingkang remen nindakaken kaleresan, kaadilan lan karahayoning Gusti. Mila Gusti njamin lan prasetya bilih Panjenenganipun badhe nunggil miwah ngasta kita ingkang nindakaken timbalanipun punika ngantos dumugeng wekasanipun zaman. Amiin. [BRU]

 

Pamuji: KPK 17: 1,2,3.

 

Bagikan Entri Ini: