Sikap Batin Gereja Khotbah Minggu 17 Desember 2023

4 December 2023

Minggu Adven 3
Stola Ungu

Bacaan 1: Yesaya 61 : 1 – 4, 8 – 11
Bacaan 2: 1 Tesalonika 5 : 16 – 24
Bacaan 3: Yohanes 1 : 6 – 8, 19 – 28

Tema Liturgis: GKJW Bersiap Menyambut Kedatangan Kristus
Tema Khotbah: Sikap Batin Gereja

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah) 

Yesaya 61 : 1 – 4, 8 – 11
Secara histori kitab Yesaya secara keseluruhan memiliki gambaran yang berbeda, meskipun merupakan satu kesatuan yang integral. Yesaya 1-39 menggambarkan sebagian besar situasi paruh kedua abad ke-8 SZB, sedangkan dalam pasal 40-66 berisi petunjuk-petunjuk mengenai Koresy dan akhir pembuangan di Babel, jelas berasal dari abad ke 6-5 SZB. Yesaya pertama atau yang seringkali disebut Proto Yesaya adalah nabi yang hidup di kalangan istana di Yerusalem pada abad-8 SZB, dalam situasi ancaman bangsa Asyur dan Yehuda karena imannya kepada Tuhan berada dalam lindungan Tuhan. Sedang “Deutero Yesaya” adalah nabi dari periode pembuangan yang tidak dikenal, yang namanya tidak pernah disebutkan, yang menyaksikan kejatuhan Babel dan kemenangan Koresy raja Persia (Yes, 44:28; 45:1). Tema yang menonjol adalah pembangunan kembali Bait Allah. Yang terkahir adalah bagian yang seringkali disebut dengan “Trito Yesaya” (55-66). Ahli Alkitab menyebutnya, bagian ini gaya dan nadanya lebih kritis. Ia menyampaikan kabar keselamatan kepada umat Allah.

Yesaya 61:1-4 dan 8-11 merupakan bagian kecil dari rangkaian dari berita keselamatan yang tercantum dalam “Trito Yesaya”. Berita keselamatan yang harus diemban oleh seorang hamba yang benar-benar mengabdi kepada sang Tuan. Beberapa hal yang dapat diperhatikan dalam teks bacaan ini antara lain: Pertama, sadar diri (Ay. 1). Pengakuan bahwa “Roh Tuhan ada padaku”, “Tuhan mengurapi aku” dan keyakinan “Ia telah mengutus aku” mengingatkan pada peristiwa pemanggilan Yesaya. “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Dengan tegas Yesaya menjawab, “Ini aku, utuslah aku!” (6:8). Sadar diri bahwa dirinya telah diurapi dan diutus Tuhan, membawa Yesaya ke dalam pelaksanaan panggilan sebagai nabi yang bertanggungjawab untuk tetap setia menyampaikan kabar sukacita, merawat mereka yang teraniaya, mereka yang berduka, orang-orang miskin, dan umat yang terpenjara.

Kedua,pohon tarbantin kebenaran, tanaman Tuhan. Pohon tarbantin sering juga disebut “pohon besar”. Digambarkan pohon ini daunnya selalu hijau, pohonnya kokoh, kayunya kuat, dan umurnya panjang (Ensiklopedia Alkitab Masa Kini). Akar-akarnya dapat menjulur sampai kedalaman 45-65 meter, untuk mencari sumber mata air murni bagi pertumbuhannya (https://satelit.gkagloria.id). Penulis mengartikan “tarbantin kebenaran” atau “tanaman Tuhan” sebagai simbol abdi Allah yang memperlihatkan keagungan Tuhan. Tidak salah bahwa keberadaannya menjadi berkat bagi siapapun yang berteduh di bawahnya, tetapi satu hal yang utama adalah ia mendasarkan akar kekuatannya kepada hukum Tuhan (Ay. 8) dan mengenakan pakaian keselamatan (Ay. 10) dengan tetap berpegang pada kebenaran-Nya.

1 Tesalonika 5 : 16 – 24
Pada zaman Paulus, Tesalonika adalah ibukota propinsi Makedonia. Sebuah kota yang menjadi pusat perniagaan dan pemerintahan. Kebanyakan penduduk yang tinggal di kota tersebut berasal dari bangsa Yunani atau Romawi yang tidak memeluk agama Yahudi, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa di kota Makedonia juga terdapat banyak komunitas Yahudi. Mereka memiliki rumah ibadat, sinagoge yang menjadi pusat kegiatan rohani bagi orang Yahudi dan “Sejumlah besar orang Yunani yang takut kepada Allah, dan tidak sedikit perempuan-perempuan terkemuka (Kisah 17:1, 4) (Duyverman, 1996, p. 144).

Kisah Para Rasul pasal 17 menunjukan bahwa selama di Tesalonika Paulus, Silas, dan Timotius (1 Tes. 1:1) menumpang di rumah seseorang yang bernama Yason. Selama “tiga hari Sabat” berturut-turut Paulus menyampaikan pengajaran perihal bagian-bagian Kitab Suci dan kesaksiannya akan Mesias yang menderita, mati, dan dibangkitkan. Mesias yang dimaksukan adalah Yesus yang disebut Kristus.

Bagaimana kondisi Jemaat di Tesalonika setelah Paulus meninggalkan mereka? Paling tidak kondisi jemaat Tesalonika dapat digambarkan sebagai berikut: Pertama, Kisah Para Rasul menjelaskan kondisi Jemaat Tesalonika yang baru percaya kepada Yesus mengalami penderitaan oleh masyarakat yang ada di kota Tesalonika. Misal, penangkapan Yason dan beberpa orang percaya yang lain, yang dibawa ke hadapan pembesar-pembesar kota (17:6), menggambarkan adanya penganiayaan dan penindasan (1 Tes. 1:6; 2:2, 14). Situasi seperti ini menghadirkan kesulitan-kesulitan (1 Tes. 3:3-4) dalam menjalankan kehidupan keseharian dan tantangan bagi iman percaya jemaat Tesalonika.

Kedua, dalam kesusahan yang terjadi rupanya tidak membuat kehidupan iman jemaat menjadi loyo dan kendor. 1 Tesalonika mencatat kehidupan iman jemaat sangat baik. Orang-orang Kristen di Tesalonika menjadi teladan dalam hal kesetiaan kepada Tuhan. Mereka menjadi “penurut Tuhan”, meskipun dalam penindasan mereka tetap berada dalam tuntunan Roh Kudus (1:6). Mereka juga mempraktikan kehidupan cinta kasih kepada sesama di seluruh wilayah Makedonia (1 Tes. 4:9-10). Tindakan iman inilah yang membuat Paulus selalu bersyukur dan bangga membawa kehidupan jemaat di Tesalonika dalam doa dan syafaatnya (1 Tes. 1:2). Penulis merasa perlu juga untuk menyebutkan masalah parousia, isu kedatangan Tuhan sebagai persoalan yang turut menghadirkan kebingunan spiritual bagi jemaat di Tesalonika. Jemaat merasa gundah, karena banyak diantara mereka yang sudah meninggal, tetapi Kristus belum datang (1 Tes. 4:13-18). Penghayatan yang keliru terhadap peristiwa parousia ini di kemudian hari menimbulkan persoalan-persoalan sosial di tengah masyarakat.

Menjawab pergumulan umat di atas, Paulus memberikan nasihat praktis kepada jemaat di Tesalonika. Timothy A. Brookins (2021), menyarankan ada tiga nasihat yang dapat dirumuskan dalam bacaan 1 Tesalonika 5:16-24, tetapi saya menggabungkan nasihat yang kedua dan ketiga menjadi satu, sehingga terdapat dua nasihat. Pertama, Paulus menekankan sikap batin orang percaya. Orang Kristen harus memiliki sikap hati “selalu bersukacita”, “berdoa terus-menerus” dan “mengucap syukur dalam segala hal”. Dalam kehidupan gereja, Barclay (1999, p. 307) menyebutkan persekutuan Kristen harus memiliki ciri “gereja yang bersukacita”, “gereja yang berdoa” dan “gereja yang mengucap syukur”. Gereja yang bersukacita, yaitu gereja yang mampu menghadirkan suasana gembira yang membuat semua anggotanya merasa bersukacita bagaikan disinari cahaya matahari. Kekristenan sejati harus membawa sukacita, bukan sebaliknya menindih atau menyebabkan kesedihan sesama. “Gereja yang berdoa” harus mewujudkan doa-doa yang lebih efektif, doa-doa komunal sebagai persekutuan yang selalu mengandalkan Tuhan. Sedang “gereja yang mengucap syukur” merupakan gereja yang mengimani bahwa selalu ada sesuatu yang melayakan kita untuk mengucap syukur, bahkan pada hari yang gelap sekalipun pasti ada berkat-berkat Tuhan. Nasihat “selalu bersukacita”, “berdoa terus-menerus”, dan “mengucap syukur dalam segala hal” bukan sekadar basa-basi; itu bukan hanya lirik bahagia dari lagu anak-anak. Gereja dapat bersukacita, berdoa, dan bersyukur, bukan karena mereka makmur, tetapi meskipun faktanya tidak demikian, ada kebaikan masa depan yang melampaui keburukan saat ini.

Kedua, hubungan antar anggota gereja dan relasi dengan lingkungan masyarakat. Paulus mengingatkan kepada jemaat Tesalonika yang baru percaya kepada Yesus, bahwa gereja tidak dapat membiarkan siapapun anggota jemaat untuk hidup di luar persekutuan. Pemimpin jemaat mempunyai peran untuk “mengingatkan” umat, demikian juga semua orang percaya memiliki peran penting dalam pertumbuhan gereja. Pertumbuhan iman jemaat tidak dapat berkembang apabila berada di luar persekutuan dengan yang lain.

Dengan tegas Paulus memperingatkan jemaat di Tesalonika, “jangan padamkan Roh”, “jangan anggap rendah nubuatan” (19-20). Ia mengingatkan kaum skeptis (Eubank, 2019, pp. 211-212) akan karunia-karunia Allah untuk pembangunan jemaat. Karunia yang ada di jemaat bukan untuk saling meniadakan atau merendahkan, atau bahkan untuk mencari siapa yang paling hebat, melainkan bagaimana setiap karunia dan talenta itu menjadi berkat untuk membangun, menguatkan, dan menghibur (1 Kor. 14:3). Paulus mendorong orang-orang Tesalonika untuk menggunakan karunia kenabian mereka, tetapi juga untuk mengarahkan pesan-pesan yang dianggap kenabian dengan pengawasan kritis. Bukan untuk meremehkan nubuatan, tetapi untuk menguji segala sesuatu (Ay. 21), mempertahankan apa yang baik, dan menahan diri dari segala jenis kejahatan. Jika seorang saudara atau saudari mengaku berbicara secara profetik, jemaat tidak boleh menganggap remeh, tetapi sebaliknya menguji pekabaran itu berdasarkan apa yang mereka ketahui baik dan jahat (lih. 1 Kor. 14:29; 1 Yoh. 4:1).

Alangkan baiknya apabila kehidupan dan relasi dengan sesama anggota gereja ini yang saling membangun dan menjadi berkat dengan tetap memelihara kekritisan berpikir menjadi cerminan kehidupan dan hubungan warga jemaat dengan lingkungan masyarakat secara umum.

Yohanes 1 : 6 – 8, 19 – 28
Hal pertama yang patut diperhatikan, Yohanes Pembaptis adalah saksi yang diutus oleh Allah untuk memberikan kesaksian tentang terang sejati. Penulis Injil Yohanes juga menyebutkan bahwa Yohanes Pembaptis sebagai terang (5:35), meskipun bukanlah terang yang sesungguhnya. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, belum ada: Terang itu sedang datang. Tugas Yohanes Pembaptis adalah memberikan kesaksian tentang Dia, supaya oleh kesaksiannya itu orang menjadi percaya (1:7). Abineno (1997, p. 23) menjelaskan, Yohanes Pembaptis adalah bentara dari sang Mesias, yang telah ada, dan yang sekarang nampak sebagai Adam yang benar, sebagai Dia yang disaksikan oleh Habel, sebagai Nuh dari waktu penggenapan dan sebagai Yusuf yang sesungguhnya, yang akan memberikan roti kepada bangsa Israel dan bangsa-bangsa lain. Penulis Yohanes menyampaikan prolog tentang Mesias mengikuti jejak Matius dan Lukas dalam silsilah mereka. Tetapi ia tidak sampai pada Abraham (Mat. 1:1) dan Adam (Luk. 3:38), ia menarik garis itu sampai pada peristiwa penciptaan, bukan dalam arti historis, melainkan dalam arti kwalitatif: Sang Mesias lebih penting, lebih utama, dari segala yang ada.

Pada ayat 19-28 dikisahkan, pemimpin-pemimpin agama Yahudi mengirim delegasi ke tempat pelayanan Yohanes untuk menyelidiki apakah yang sedang terjadi di situ. Mereka ingin mengetahui apakah yang diperbuat oleh Yohanes Pembaptis dengan orang banyak di tempat itu dan peranan apakah yang dibuatnya. Apakah ia berpendapat bahwa ia adalah Mesias? Atau Elia? Atau nabi yang sama dengan Musa yang kedatangannya dinubuatkan dalam Ulangan 18:15? Atas pertanyaan mereka, ia menjawab bahwa dirinya bukanlah Mesias, bukan juga Elia dan nabi yang akan datang itu. Dengan tegas Yohanes Pembaptis mengafirmasi, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: luruskanlah jalan Tuhan! Seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya” (1:23).

Jawaban Yohanes Pembaptis memakai suatu “pesyer”, yaitu pemberitahuan, bahwa nubuat Perjanjian Lama sedang digenapi. Nubuatan dalam Yesaya 40:3, ketika pembuangan di Babel, nabi Yesaya membangunkan Israel untuk meninggalkan negeri pembuangan itu dan kembali ke Yerusalem. Ini adalah pertanda dan tindakan profetis yang akan diperoleh Israel (Abineno, (1997, p. 26). Itulah mengapa Yohanes menegaskan atas pertanyaan “Mengapa engkau membaptis, jikalau bukan Mesias, Elia atau nabi yang akan datang?” (Ay. 25). Ia menjawab, “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” (Ay. 26-27).

Apa yang dimaksudkan oleh Yohanes dengan kisah ini? Ia mengingatkan orang-orang Kristen, bahwa hanya orang-orang yang sudah menerima “pembasuhan”, “bersih” dan suci hatinya yang akan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Mereka yang tidak suci hatinya, akan dibinasakan seperti pohon yang tidak berbuah atau dibakar layaknya sekam – seperti yang disampaikan oleh Injil-Injil Sinoptik (baca: Mat. 3:11-12). Siapakah yang suci hatinya? Hati yang suci bukanlah karena pekerjaan manusia, melainkan pekerjaan Allah. Manusia tidak dapat menyucikan dirinya, karena itu Mesias datang. Ia adalah domba paskah yang menyucikan hati manusia. Dengan kata lain, orang-orang yang sudah diampuni, sudah bersih hatinya, yang dapat menyambut kehadiran Allah.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Dalam dunia yang semakin dikuasai oleh semangat individualis dan berbagai persoalan dunia yang menghadirkan keprihatinan, orang Kristen dipanggil untuk mewartakan sukacita, harapan (doa), dan kebersamaan sebagai natur gereja.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Masih ingatkah saudara dengan iklan sebuah produk tembakau “Nggak Ada Loe Nggak Rame”? (Pengkhotbah dapat mengisahkan kembali iklan tersebut sebagai ilustrasi pengantar khotbah). Iklan tersebut dapat dimaknai, secara bersama-sama akan lebih seru, berkesan, dan bermakna dari pada sendiri-sendiri. Dengan kata lain, tanpa kehadiran kamu (warga jemaat – pengkhotbah dapat menyebut nama salah satu warga) kebahagiaan ini tidak sempurna, oleh sebab itu mari kita kumpul dan bersukacita bersama. Makna dari kalimat tersebut mengacu kepada “kami lakukan ini atas dasar solidaritas yang tinggi untuk mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan bersama”.

Demikian juga gereja, tidak ada sukacita, ucapan syukur dan berkat tanpa kehadiran salah satu warga jemaat. Satu tidak hadir, rasanya kebahagiaan tidak sempurna.

Isi
Dua hal yang menjadi perenungan atas bacaan leksionari di atas:

1. Sikap Batin Orang Percaya
Orang Kristen harus memiliki sikap hati “selalu bersukacita”, “berdoa terus-menerus” dan “mengucap syukur dalam segala hal”. Gereja harus menjadikan dirinya sebagai persekutuan Kristen yang memiliki ciri “gereja yang bersukacita”, “gereja yang berdoa” dan “gereja yang mengucap syukur”. Gereja yang bersukacita yaitu gereja yang mampu menghadirkan suasana gembira yang membuat semua anggotanya merasa bersukacita. Bagaikan disinari cahaya matahari, Kekristenan sejati harus membawa sukacita, bukan sebaliknya menindih atau menyebabkan kesedihan sesama. “Gereja yang berdoa” harus mewujudkan doa-doa yang lebih efektif, doa-doa komunal sebagai persekutuan yang selalu mengandalkan Tuhan. Sedang “gereja yang mengucap syukur” merupakan gereja yang mengimani bahwa selalu ada sesuatu yang melayakkan kita untuk mengucap syukur, meskipun berada dalam situasi yang sulit sekali pun pasti ada berkat-berkat Tuhan.

Gereja sebagai persekutuan dan selanjutnya setiap anggota secara pribadi harus “selalu bersukacita”, “berdoa terus-menerus”, dan “mengucap syukur dalam segala hal” bukan sekadar basa-basi, ini disebabkan oleh kepercayaan dan pengakuan seperti yang dinyatakan nabi Yesaya, bahwa “Roh Tuhan ada padaku”, “Tuhan mengurapi aku” dan keyakinan “Ia telah mengutus aku”. Pengakuan dan kepercayaan “Roh Tuhan ada padaku” inilah yang membuat setiap anggota gereja sadar diri, bahwa dirinya telah diurapi Tuhan. Sama seperti Yohanes Pembaptis, sadar diri bahwa dirinya adalah utusan Allah, bentara Sang Mesias. Sebagai utusan ia sadar diri bahwa Sang Mesias lebih penting, lebih utama dari segala yang ada.

2. Nature Gereja Adalah Hidup Bersama
Sejak lahir, manusia memiliki nature homo socius, makhluk sosial, sehingga manusia tidak dapat hidup seorang diri. Manusia selalu membutuhkan orang lain. Demikian juga gereja, disebut gereja karena keberadaannya sebagai komunitas, persekutuan orang-orang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Sebagaimana panggilannya, Paulus mengingatkan kepada jemaat Tesalonika yang baru percaya kepada Yesus, bahwa gereja tidak dapat membiarkan siapapun anggota jemaat untuk hidup di luar persekutuan. Pemimpin jemaat mempunyai peranan untuk “mengingatkan” umat, demikian juga semua orang percaya memiliki peran penting dalam pertumbuhan gereja. Pertumbuhan iman jemaat tidak dapat berkembang apabila berada di luar persekutuan dengan yang lain.

Dengan tegas Paulus memperingatkan jemaat di Tesalonika, “jangan padamkan Roh”, “jangan anggap rendah nubuatan” (Ay. 19-20). Ia mengingatkan kaum skeptis akan karunia-karunia Allah untuk pembangunan jemaat. Karunia yang ada di jemaat bukan untuk saling meniadakan atau merendahkan, atau bahkan untuk mencari pembenaran diri, siapa yang paling hebat, melainkan bagaimana setiap karunia dan talenta itu menjadi berkat untuk membangun, menguatkan dan menghibur gereja (1 Kor. 14:3). Paulus mendorong orang-orang Tesalonika untuk menggunakan karunia kenabian mereka dan mengarahkan pesan-pesan kenabian dengan pengawasan kritis. Bukan untuk meremehkan nubuatan, tetapi untuk menguji segala sesuatu (Ay. 21), mempertahankan apa yang baik, dan menahan diri dari segala jenis kejahatan. Jika seorang saudara atau saudari mengaku berbicara secara profetik, jemaat tidak boleh menganggap remeh, tetapi sebaliknya menguji pekabaran itu berdasarkan apa yang mereka ketahui baik dan jahat.

Kita dapat belajar dari sikap rendah hati yang ditunjukan oleh Yohanes Pembaptis. Ketika utusan pemuka agama Yahudi bertanya kepadanya perihal siapa dirinya, apakah engkau Mesias? Atau Elia? Atau Musa? (band. Ul. 18:15). Ia menjawab bahwa dirinya bukanlah Mesias, bukan juga Elia dan nabi yang akan datang itu. Dengan tegas Yohanes Pembaptis mengafirmasi, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: luruskanlah jalan Tuhan! Seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya” (Yoh. 1:23). Dengan rendah hati, ia menyampaikan kebenaran dan maksud kedatangannya. Ia tidak mencari kesempatan untuk kenyamanan dirinya, melainkan ia mengambil resiko “menyelamatkan” banyak orang, memperingatkan orang lain untuk mendapatkan keselamatan yang sama dengan dirinya.

Penutup
Pada Minggu Adven ketiga sekarang ini, gereja diajak berefleksi kembali, menghayati jati diri sebagai gereja. Jati diri sebagai patunggilan kang nyawiji. Sejak awal berdirinya, gereja pada masa pelayanan para rasul sampai hari ini dan kapanpun, bahwa natur gereja adalah persekutuan. Gereja selalu menggambarkan kehidupan bersama: hidup saling membangun, saling menopang, saling menegur, mengingatkan, dan hal-hal positif lainnya. Bukan sebaliknya saling merendahkan atau menegasikan. Dan justru dalam naturnya sebagai komunitas, gereja dapat hidup dalam sukacita, terus-menerus saling mendukung dalam berdoa dan bersyukur. Mari terus merawat natur gereja sebagai patunggilan. Tuhan memberkati. Amin. [ITH].

 

Pujian: KJ. 249 : 1, 2   Serikat Persaudaraan

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, seged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Para sadherek punapa panjenengan taksih enget wonten salah satunggaling iklan rokok ingkang nyebataken ukara, “Nggak ada loe nggak rame.”? (Palados saged nyariosaken malih iklan punika minangka ilustrasi khotbah). Iklan punika saged dipun artosaken: gesang sesarengan punika langkung seru, nengsemaken lan maedahi tinimbang piyambak-piyambak. Utawi kanthi tembung sanes: tanpa tekane samean, bingah iki ora sampurna, mila ayo kumpul lan sukabingah bebarengan. Tegesipun ukara punika alandesan solidaritas kangge gayuh kasaenan lan kabingahan sesarengan.

Mekaten ugi greja, boten wonten kabingahan, saos sokur lan berkah, tanpa karawuhan salah satunggaling warga pasamuwan. Setunggal boten rawuh, kadosipun kabingahan punika boten sampurna. 

Isi
Wonten kalih prekawis ingkang saged dados reraosan kita saking waosan Leksionari ing inggil:

1. Sikep Batinipun Tiyang Pitados
Tiyang Kristen kedah kagungan sikep batin “tansah sukabingah”, “tansah ndedonga” lan “tansah saos sokur ing sadengah kahanan.” Greja kedahipun dados patunggilanipun tiyang Kristen ingkang kagungan ciri “greja ingkang tansah sukabingah”, “greja ingkang tansah ndedonga”, lan “greja ingkang tansah saos sokur.” “Greja ingkang tansah sukabingah” inggih punika greja ingkang saged nuwuhaken raos kabingahan dhateng para warganipun, ingkang dadosaken para warga punika tansah sukabingah, sanes dadosaken para warga punika rumaos sedhih. “Greja ingkang tansah ndedonga” inggih punika greja ingkang saged mujudaken pandonga-pandonga sacara efektif, pandonga-pandonga komunal minangka wujuding patunggilaning warga pasamuwan ingkang tansah ngandelaken Gusti. “Greja ingkang tansah saos sokur” inggih punika greja ingkang ngimani ing sadaya kahanan punapa kemawon, kita kedah saos sokur, awit saking berkah-berkahipun Gusti Allah kangge kita.

Greja minangka patunggilan lan ugi warga pasamuwan sacara pribadi kedah “sukabingah”, “ndedonga”, lan “saos sokur ing sadengah kahanan”, punika sanes basa-basi kemawon, nanging tansah dipun imani lan dipun tindakaken. Kados paseksinipun nabi Yesaya ingkang mekaten: “Rohing Gusti Allah ana ing aku”, “Gusti Allah njebati aku” lan yakin “Gusti Allah ingkang ngutus aku.” Pangaken lan kapitadosan “Rohing Gusti Allah ana ing aku” dadosaken warga pasamuwan sadar dhiri bilih piyambakipun punika utusaning Gusti Allah, bentara Sang Masih. Selajengipun minangka utusan, para warga sami sadar dhiri menawi Sang Masih punika langkung utami katimbang sadayanipun.

2. Nature Greja punika Gesang ing Patunggilan
Wiwit saking lair, manungsa punika kagungan sifat homo socius, makhluk sosial, saengga manunsa punika boten saged gesang piyambakan. Manungsa betahaken tiyang sanes. Mekaten ugi kaliyan greja, kasebat greja awit saking kawontenanipun minangka komunitas tiyang pitados, patunggilaning tiyang-tiyang pitados dhumateng Gusti Yesus minangka Gusti lan Juruwilujeng. Kadosdene timbalanipun Paulus, piyambakipun dipun timbali kangge ngengetaken pasamuwan Tesalonika ingkang nembe pitados dhumeteng Gusti Yesus, bilih greja punika boten saged ngeculaken anggotanipun, gesang ing sajawinipun patunggilan. Para pimpinan pasamuwan kagungan peran kangge ngengetaken para umat, bilih sadaya tiyang pitados kagungan peran penting kangge tuwuhing greja. Iman kapitadosan warga pasamuwan boten saged tuwuh lan ngrembaka ing sakjawining patunggilan.

Paulus ngengetaken pasamuwan Tesalonika kanthi teges: “Aja nyirep Sang Roh”, “Saja ngremehake pamedharing wangsit”. Paulus ngengetaken kaum skeptis tumrap sadaya peparingipun (karunia) Gusti Allah punika kangge mbangun pasamuwan. Peparing (Karunia) ing satengahing pasamuwan sanes kangge ngasoraken tiyang sanes utawi kangge mbeneraken dhiri rumaos paling kiyat, ananging ingkang wigati, kados pundi saben pepering (karunia) punika saged dados berkah kangge mbangun, ngiyataken saha nglipur ing antawisipun warga greja. Paulus ngengetaken supados warga pasamuwan Tesalonika migunakaken karunia nubuat punika kanthi pangawasan ingkang kritis. Punika boten ateges ngremehaken nubuatan, ananging sadaya punika kedah dipun uji, dipun pertahanaken ingkang sae, lan saged nahan dhiri saking tumindak jahat. Bilih wonten satunggaling warga ingkang saged mendhar wangsit, warga sanesipun boten angsal ngremehaken piyambakipun, nanging kedah nguji wangsitipun punika adedasar pangertosan: punapa wangsit punika sae punapa jahat?

Kita saged sinau sikep andhap asor saking Yokanan Pambaptis. Nalika utusan pradataning Yahudi atur pitakenan bab sinten piyambakipun, punapa Sang Masih? Elia? Musa? Ing ngriku Yokanan Pambaptis mangsuli bilih piyambakipun sanes Sang Masih, sanes Elia lan sanes nabi ingkang badhe rawuh. Yokanan Pambaptis nepangaken piyambakipun: “Aku iki swarane wong kang nguwuh-uwuh ana ing pasamunan: Padha ngencengna margi ambah-ambahane Pangeran! Kaya kang wus dipangandikakake dening Nabi Yesaya.” (Yok. 1:23). Kanthi anhap asoring manah, Yokanan Pambaptis ngaturaken kabeneran lan tujuan kawontenanipun. Piyambakipun boten pados kesempatan kangge dhirinipun piyambak, ananging Yokanan Pambaptis wantun nanggel risiko kangge kawilujenganipun tiyang kathah, sarana ngengetaken tiyang – tiyang punika, supados sami wilujeng kados piyambakipun.

Panutup
Ing Minggu Adven 3 punika, greja sami kaajak ningali kawontenanipun malih, sami ngraosaken jati dhirinipun minangka greja. Inggih punika jati dhiri minangka patunggilan kang nyawiji. Wiwit saking mulanipun, greja jamanipun para rasul ngantos ing dinten punika lan kapan kemawon, natur (hakikat) greja punika gesang ing patunggilan. Kawontenanipun greja tansah dipun gambaraken gesang sesarengan, gesang tansah bangun-binangun, tansah nyiyataken, tansah ngengetaken, lan bab-bab kasaenan sanesipun. Greja punika sanes komunitas ingkang ngasoraken utawi ngremehaken tiyang sanes. Greja minangka komunitas punika mawujud ing greja ingkang gesang kebak kabingahan, tansah donga dinonga lan tansah saos sokur. Sumangga kita terus nrimati natur (hakikat) greja minangka patunggilan. Gusti mberkahi kita. Amin. [Terj. AR].

 

Pamuji: KPJ. 336 : 1    Aneng Patunggilane Gusti

Renungan Harian

Renungan Harian Anak