Belajar Memahami Kristus yang Bangkit Khotbah Minggu 15 April 2018

Bacaan 1 : Kisah Para Rasul 3 : 11 – 19.
Bacaan 2 : I Yohanes 3 : 1 – 7.
Bacaan 3 : Lukas 24 : 36 – 49.

Tema Liturgis : “Kristus bangkit, percaya dan bersaksilah …. !”
Tema Khotbah :  Belajar Memahami Kristus Yang bangkit.

 

Keterangan Bacaan.
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 3 : 11 – 19.

Khotbah Petrus di Serambi Salomo bermula dari kejadian Petrus dan Yohanes menyembuhkan orang lumpuh di halaman Bait Allah. Peristiwa penyembuhan itu menimbulkan keheranan bagi orang banyak sehingga mereka mengikuti dan mengerumuni Petrus dan Yohanes. Petrus lalu menjelaskan bahwa peristiwa penyembuhan itu bukan terjadi karena kuasa Petrus secara pribadi, melainkan karena kuasa Tuhan Yesus Kristus. Dalam kesempatan itu pula Petrus mengingatkan orang banyak bahwa mereka telah melakukan kesalahan besar dengan menangkap, menyerahkan dan membunuh Yesus Kristus. Itu artinya mereka juga telah menolak “Yang Kudus dan Yang Benar’ (ayat 14). Yesus Kristus adalah pribadi yang benar dan kudus.

Petrus juga mengingatkan orang banyak itu bahwa apa yang mereka lakukan terhadap Yesus Kristus itu sebuah kesalahan. Meskipun Yesus Kristus tidak tinggal dalam kematian, melainkan telah bangkit dari kematian (ayat 15), tetapi orang banyak itu harus bertobat. Bertobat berarti berbalik kepada Allah. Petrus juga menyatakan bahwa dirinya dan Yohanes adalah saksi-saksi kebangkitan Kristus itu. Seruan untuk bertobat ini juga menjadi salah satu kesempatan bagi Petrus untuk bersaksi tentang siapa Kristus yang sesungguhnya. Siapapun yang bertobat selalu ada harapan akan diberi pengampunan, apalagi perbuatan mereka terjadi karena ketidak-tahuan (ayat 17, 19). Mereka tidak tahu bahwa Yesus Kristuslah Mesias yang sesungguhnya mereka harapkan kedatanganNya.

 

I Yohanes 3 : 1 – 7.

Anak-anak Allah merupakan sebutan bagi orang yang hidup sesuai kehendak Allah karena telah menerima penebusan dosa dari Kristus. Cara hidup anak-anak Allah memang kadang tidak bisa dipahami oleh dunia mengingat cara hidup yang berbeda dengan dunia. Orang-orang yang telah ditebus dari segala dosanya adalah orang-orang yang tidak lagi berbuat dosa, tidak melanggar hukum Allah. Penebusan oleh Kristuslah yang menjadikan seseorang menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah itu merupakan sebuah proses yang terus dan terus berlangsung hingga semakin serupa dengan cara hidup Kristus. Menjadi anak-anak Allah  bukan karena kemampuannya sendiri, tetapi karena kasih karunia Allah (ayat 1). Jika disebut sebagai kasih karunia, maka itu artinya bahwa predikat sebagai anak-anak Allah itu kita terima dari Allah sebagai pemberian cuma-cuma atau sebagai anugerah.

Predikat sebagai anak-anak Allah ini sungguh membanggakan karena itu menunjuk pada sebuah status / kedudukan. Predikat sebagai anak-anak Allah ini memotifasi seseorang untuk hanya berbuat yang benar di hadapan Allah karena Kristus itulah Sang Kebenaran sejati (ayat 7). Hidup benar berarti hidup serupa dengan cara hidup Kristus.

 

Lukas 24 : 36 – 49.

Penampakan Yesus secara langsung kepada para murid ternyata juga tidak secara otomatis bisa dipahami. Mereka terkejut, takut bahkan juga ragu-ragu (ayat 37). Tidaklah mudah dipahami oleh manusia pada umumnya bahwa ada orang yang sudah meninggal lalu hidup kembali. Para murid menjadi saksi dan memakamkan tubuh Yesus. Bagaimana mungkin sekarang di hadapan mereka Yesus hadir, berbicara dan menunjukkan tangan dan kakinya yang memang berdaging (bukan hantu). Tuhan Yesus kembali meyakinkan mereka dengan cara meminta makanan. Kalau para murid menyangka yang hadir itu hantu, tentunya tidak mungkin minta makanan. Bagi orang Yunani pada umumnya (tujuan Injil Lukas ditulis), kebangkitan daging merupakan hal yang tidak masuk akal. Karenanya Lukas menekankan kejasmanian Yesus dengan menunjukkan tangan dan kaki serta meminta makanan.

Seharusnya peristiwa kebangkitan Yesus bukan merupakan hal baru bagi para murid. Karena dalam pengajaranNya dan dalam kitab Taurat, kitab para nabi dan juga Mazmur, hal itu telah disampaikan. Artinya, sejak zaman Perjanjian Lama perihal Mesias yang akan menderita, mati dan bangki dari kematian itu sudah dinubuatkan. Para murid baru bisa memahaminya setelah Yesus membuka pikiran mereka (ayat 45, 46, 47). Mereka lalu bisa mengingat dan mengerti apa yang tertera dalam kitab-kitab itu. Untuk bisa memahami firman Tuhan memang diperlukan campur tangan Allah sendiri untuk menyatakannya. Roh Kudus memampukan manusia memahami Firman Allah. Para muridpun disadarkan bahwa mereka juga menjadi saksi kebangkitanNya.

Menjadi saksi kebangkitan Kristus berarti juga harus mewartakan kepada orang lain. Untuk menjadi saksi itu Yesus berjanji untuk memperlengkapi mereka (ayat 49). Mereka tidak dilepas / diutus tanpa bekal. Bekal / kelengkapan itu berupa kuasa yang akan Dia berikan. Dialah Sang Roh Kudus. Syaratnya, para murid harus tetap berada di kota itu (Yerusalem) sampai kuasa itu diberikan. Dan kuasa pemberianNya itulah yang akan memampukan para murid untuk bersaksi tentang kebangkitan Kristus.

 

BENANG MERAH TIGA BACAAN

Bersaksi tentang kebangkitan Kristus merupakan anugerah bagi orang percaya. Bersaksi tentang Yesus Kristus yang bangkit juga dilakukan dalam aktifitas sehari-hari, yaitu berbuat seperti yang Kristus kehendaki dan teladankan.

 

RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia.
(Ini hanya sebuah rancangan… bisa dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

KEJUTAN-KEJUTAN DALAM HIDUP.
(Nats : Lukas 24 : 38)

 

Pendahuluan

Dalam hidup ini memang banyak kejutan. Ada banyak hal yang bisa menjadi kejutan bagi kita. Kejutan bisa datang sebagai sesuatu yang tidak kita sangka bisa terjadi (mustahil). Atau bisa juga merupakan sesuatu yang dalam pemahaman kita itu tidak nyata (tidak riil), kenyataannya bisa terjadi. Kejutan juga bisa berupa sebuah kejadian yang tiba-tiba, sehingga kita tidak siap menghadapinya. Bisa juga merupakan kenyataan yang menurut kita teramat indah ataupun teramat buruk, yang tidak pernah kita bayangkan akan terjadi.

Apapun penyebabnya, yang jelas semua kejutan pasti akan menghasilkan respon yang bermacam-macam.

Kejutan-kejutan seperti itu juga dialami oleh para murid Yesus. Dalam peristiwa mujizat-mujizat yang diperbuat Yesus sepanjang karyanya di dunia, tentunya juga banyak menjadi kejutan bagi para murid. Demikian juga yang tertera pada bacaan hari ini menceritakan bagaimana para murid dibuat terkejut karena Yesus yang sudah disiksa, disalibkan, mati dan dikuburkan itu, tiba-tiba hadir berdiri di tengah-tengah mereka. Yesuspun mengucapkan salam : “Damai sejahtera bagi kamu!”  Para murid bukan hanya terkejut, tetapi juga takut dan ragu-ragu karena bagi mereka tidaklah mungkin orang yang sudah mati itu hidup kembali, tiba-tiba datang dan berkata-kata.

 

Isi

     Yesus yang bangkit dari kematian memang bisa menjadi kejutan bagi para murid. Seharusnya hal itu tidak lagi menjadi kejutan, apalagi ketakutan dan menyangka bahwa Yesus yang hadir itu adalah hantu. Karena dalam pengajaranNya, dalam kitab Taurat, kitab para nabi dan kitab Mazmurpun ternyata sudah dinubuatkan bahwa Mesias akan hadir, menderita, mati dan bangkit dari kematian. Ketidakmampuan mereka mengingat dan mengerti akan semua itu menjadikan mereka menyangka bahwa Yesus yang hadir itu adalah hantu. Tetapi bisa juga terjadi karena kesedihan yang mendalam karena kematian Yesus, sehingga mereka tidak mampu berpikir tentang Yesus yang bangkit. Selain itu, secara manusiawi tentunya mereka berpikir bahwa tidaklah mungkin ada manusia yang sudah mati kok hidup lagi.

Kejutan-kejutan yang dialami para murid tentunya bukan hanya saat Yesus menampakkan diri kepada mereka saja. Dalam bacaan 1 diceritakan tentang Petrus dan Yohanes yang menyembuhkan orang lumpuh di halaman Bait Allah tentunya juga merupakan kejutan bagi banyak orang yang ada di sana. Bukan saja bagi orang yang lumpuh, tetapi juga bagi yang melihatnya. Karena mereka tidak menyangka bahwa Petrus dan Yohanes sanggup melakukan hal itu. Sehingga ketika Petrus dan Yohanes diadili, para pemimpin Yahudi mempertanyakan dengan kuasa manakah Petrus dan Yohanes melakukan mujizat itu. Mereka tahu siapa Petrus dan Yohanes yang dianggap tidak memiliki keahlian apapun selain”hanya” menjadi pengikut Yesus. Bagi Petrus dan Yohanespun tentunya peristiwa itu juga bisa menjadi kejutan karena menyadari dan menyaksikan bahwa kuasa Kristus memampukan dirinya menyembuhkan orang sakit itu.

Kejutan lainnya juga bisa kita lihat dalam bacaan 2. Ketika kita menyadari bahwa diri kita berpredikat sebagai anak-anak Allah. Hal ini bisa menjadi kejutan karena tentunya kita berpikir bahwa hal itu tidaklah mungkin. Bagaimana mungkin kita yang penuh dosa ini menjadi anak-anak Allah yang adalah Maha Kudus itu ? Dalam bacaan 2 memang disebutkan bahwa bisa menjadi anak-anak Allah itu merupakan anugerah. Pemberian Allah secara cuma-cuma. Bagi orang percaya juga bisa dipahami sebagai kejutan karena secara akal manusia hal itu tidaklah mungkin. Ini menjadi mungkin karena Kristus yang telah bangkit dari kematian itulah yang menjadikan kita diselamatkan dan menjadi anak-anak Allah.

Pada bacaan 3 diceritakan bahwa Tuhan Yesus sangat memahami keterkejutan yang dialami oleh para murid. Karena itu Dia melakukan hal-hal berikut ini untuk menolong para murid memahami keberadaanNya :

  1. Tuhan Yesus menunjukkan hal-hal yang bersifat badani supaya mereka yakin bahwa Yesus yang hadir itu bukanlah hantu. Misalnya dengan menunjukkan tangan dan kakiNya supaya diraba. Karena hantu tentunya tidak berdaging dan bertulang. Tuhan Yesus juga meminta makanan supaya para murid semakin yakin bahwa yang datang itu adalah Yesus secara badani. Kalau hantu tentunya tidak mungkin meminta makanan.
  2. Tuhan Yesus mengingatkan para murid tentang pengajaranNya yang mengulangi kitab-kitab Perjanjian Lama, bahwa Mesias memang akan menderita mati dan bangkit kembali.
  3. Tuhan Yesus membuka pikiran para murid sehingga bisa mengingat dan memahami isi kitab suci. Dalam hal ini Tuhan Yesus sadar bahwa cara pertama dan kedua belum mampu membuat para murid untuk benar-benar mengenali diriNya. Dengan pikiran yang dibukakan, maka para murid juga terbuka dengan kebenaran Allah. Apa yang mereka alami, termasuk hal-hal yang mengejutkan dan menakutkan sekalipun mampu dipamahi dari sudut pandang Allah. Itulah belajar memahami keberadaan dan kehendak Allah.

Dari ketiga hal di atas, Tuhan Yesus masih menambahkan satu tugas lagi yang juga bisa menjadi kejutan bagi para murid. Yaitu tugas untuk bersaksi tentang Kristus yang bangkit dan juga menyampaikan berita pertobatan dan pengampunan dosa kepada segala bangsa mulai dari Yerusalem. Artinya mulai dari wilayah yang terdekat dengan kehidupan para murid (terdekat : bisa lingkup keluarga, teman, dll).

Tugas yang diberikan ini juga bisa menjadi kejutan dalam hidup para murid karena tentunya tidak ada seorangpun diantara mereka yang berpikir bahwa nantinya mereka akan menjadi pemberita Injil. Kita tahu bahwa sebagian besar murid Yesus itu berlatar belakang sebagai nelayan dan juga bukan dari kalangan cerdik pandai yang pintar mengajar.

Kejutan berikutnya masih akan dialami para murid sebagaimana Luk. 24:39. Bahwa untuk melaksanakan tugas sebagai saksi kebangkitan Kristus dan mewartakan berita pertobatan dan pengampunan dosa itu, Tuhan Yesus akan memperlengkapi para murid dengan apa yang telah dijanjikan BapaNya. Kita tahu bahwa itulah kuasa Roh Kudus. Menjadi sebuah kejutan lagi saat para murid tahu bahwa Roh Kudus berdiam dalam mereka saat melakukan tugas / perintah Tuhan. Allah memperlengkapi setiap orang yang melakukan perbuatan baik dan benar sesuai kehendakNya. Pemberian inipun merupakan anugerah Allah sebagaimana diceritakan dalam bacaan 2. Mengalami kejutan-kejutan dalam hidup juga dipahami sebagai anugerah Allah selama kita bisa belajar memahaminya sebagaimana yang Tuhan kehendaki.

Sebagaimana yang dialami oleh para murid, maka kejutan-kejutan dalam hidup ini tidak selalu membawa kita pada ketakutan, kekecewaan maupun kesedihan. Ada banyak kejutan dalam hidup ini yang membawa kita pada kesuka-citaan dan perasaan bersyukur karena merasa menerima anugerah dari Tuhan. Adapun wujud ucapan syukur karena menerima anugerah Allah itu antara lain diwujudkan dalam bentuk perbuatan baik dan saling mengasihi kepada sesama. Bersaksi tentang Kristus yang bangkit, memberitakan berita pertobatan dan pengampunan dosa juga salah satu wujud mengasihi sesama. Sehingga semua orang tetap memiliki pengharanan untuk menerima keselamatan dari Tuhan. Itulah kehadiran Kristus dalam hidup kita.

 

Penutup

Belajar memahami Kristus yang bangkit dan hidup itu merupakan proses yang tidak mengenal kata usai. Hal ini bisa terjadi melalui kejutan-kejutan yang kita alami dalam hidup kita. Kejutan-kejutan dalam hidup ini bisa saja Tuhan pakai sebagai salah satu sarana untuk memudahkan kita menyadari keberadaanNya dalam hidup kita. Oleh karena itu ketika menerima kejutan-kejutan dalam hidup ini kita tidak perlu merasa takut, ragu-ragu, atau sebaliknya menggerutu dan menyalahkan Tuhan. Apapun wujud dari kejutan-kejutan dalam hidup itu tidaklah lepas dari campur tangan Allah.

Untuk sesuatu yang menurut kita tidak mungkin kita lakukan karena diluar kemampuan kita, janganlah khawatir karena Allah memperlengkapi kita dengan RohNya sehingga kita mampu melakukannya. Seperti Petrus dan Yohanes yang dimampukan menyembuhkan orang lumpuh.

Jika kejutan itu berupa situasi yang menurut kita di luar nalar manusia pada umumnya (seperti saat Yesus menampakkan diri kepada semua murid), bersyukurlah karena Tuhan memberi anugerah berupa kesempatan untuk mengalami hal-hal diluar batas kewajaran manusia. Bersyukurlah karena kita memiliki Allah yang tiada batas kekuasaannya.

Sebagai orang percaya yang meyakini akan Yesus yang bangkit, mari kita selalu siap menerima kejutan-kejutan dalam hidup kita. Apapun wujudnya, marilah kita pakai sebagai sarana untuk lebih bisa menyadari kehadiran Tuhan dalam peristiwa itu. Selamat menerima kejutan !   Amin.  (YM)

 

Nyanyian  : KJ. 214 : 1, 3, 7.

RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi.

KAERAMAN-KAERAMAN ING GESANG KITA.
(Jejer : Lukas 24 : 38)

Pambuka.

Ing gesang kita  pancen kathah prekawis ingkang ndadosaken kita kaget. Kita saged kaget awit saking prekawis ingkang boten kanyana-nyana saged kedadosan (prekawis ingkang mustahil). Utawi prekawis ingkang kita wastani boten nyata (boten riil). Prekawis ingkang ngageti ugi saged arupi prekawis ingkang kita boten saged cecawis kangge ngadhepi. Saged ugi awujud prekawis ingkang miturut kita saestu endah utawi awon sanget, ingkang boten nate kita gambaraken badhe kelampahan. Punapa kemawon penyebabipun, ingkang cetha prekawis ingkang ngageti punika nuwuhaken respon ingkang werni-werni.

Prekawis ingkang ngageti kados punika inggih nate dipun alami dening para sakabatipun Gusti Yesus. Wonten ing kaelokan-kaelokan ingkang sampun katindakaken dening Gusti ing alam donya, temtunipun ugi kathah prekawis ingkang ngageti para sakabat. Mekaten ugi ingkang kaserat ing waosan kita dinten punika nyariosaken ing bab kados pundi para sakabat sami kaget awit Gusti Yesus ingkang sampun kasiksa, seda lan kasarekaken punika, ujug-ujug rawuh ing satengahing para sakabat. Mekaten ugi Gusti Yesus paring salam : “ Tentrem rahayu anaa ing kowe kabeh!” Para sakabat boten namung kaget, ananging ugi ajrih lan mangu-mangu awit tumraping para sakabat saestu mokal menawi wonten manungsa ingkang sampun seda lajeng gesang malih, ujug-ujug rawuh lan ngandika.

 

Isi.

Gusti Yesus ingkang sampun wungu saking sedanipun pancen saged ndadosaken para sakabat kaget. Estunipun prekawis punika sampun boten ndadosaken para sakabat kaget, punapa malih dados ajrih lan mastawi bilih ingkang dhateng punika memedi. Awit ing piwucalipun Gusti Yesus, ing kitab Toret, kitab para nabi lan Jabur ugi sampun wonten pameca bilih Sang Mesih badhe rawuh, nandhang sangsara, seda lan wungu malih. Para sakabat boten kengetan lan boten mangertos  ing bab sedayanipun ndadosaken gadhah pamanggih bilih ingkang dhateng punika memedi. Ananging saged ugi awit saking kasisahanipun para sakabat ing bab sedanipun Gusti, ndadosaken para sakabat boten saged mikir ing bab Gusti Yesus ingkang wungu. Kejawi saking punika, secara kamanungsan, tamtunipun inggih mokal menawi wonten manungsa ingkang sampun pejah kok lajeng gesang malih.

Prekawis-prekawis ingkang ngageti  para sakabat tamtunipun boten namung nalika Gusti Yesus ngatingal ing satengahing para sakabat kemawon. Ing waosan 1 kacariosaken bab Petrus lan Yokanan nyarasaken tiyang lumpuh ing plataran Pedaleman Suci punika ugi dados prekawis ingkang ngedab-edabi lan ugi ngageti tiyang kathah ing ngrika. Boten namung tumrap tiyang lumpuh ingkang sampun kasarasaken kemawon, ananging ugi tumrap tiyang sanes ingkang sami ningali. Awit tiyang-tiyang kalawau boten nyangka bilih Petrus lan Yokanan saged nindakaken prekawis punika. Pramila, nalika Petrus lan Yokanan dipun adili, para pangagenge tiyang Yahudi sami pitaken kanthi panguwaos saking pundi dene Petrus lan Yokanan saged nindakaken kaeraman punika. Tiyang kathah sami mangertos sinten Petrus lan Yokanan punika, ingkang dipun anggep boten gadhah kesagedan punapa-punapa kejawi “namung” dados pandherekipun Gusti Yesus. Tumrap Petrus lan Yokanan tamtunipun prekawis punika ugi saged dados kaeraman awit saged ngraosaken lan mangertos ing bab panguwaosipun Sang Kristus ingkang paring kesagedan nyarasaken tiyang lumpuh punika.

Kaeraman sanesipun inggih kados ingkang kaserat ing waosan 2. Nalika kita mangertos menawi kita punika dados para putranipun Allah. Prekawis punika ugi saged dados kaeraman awit kita gadhah pamanggih bilih punika mokal. Kados pundi anggen kita manungsa ingkang kebak dosa punika saged dados para putranipun Allah ingkang Maha Suci ? Ing waosan 2 pancen sampun kaserat bilih anggen kita saged dados para putranipun Allah punika awit saking kanugrahanipun Allah. Peparingipun Allah tanpa bayar. Tumrap gesanging para tiyang pitados prekawis punika saged dados kaeraman awit saking nalaripun manungsa prekawis punika mokal. Punika saged kalampahan awit Sang Kristus ingkang sampun wungu saking sedanipun punika ingkang ndadosaken kita kawilujengaken lan dados para putranipun Allah.

Ing waosan 3 kacariosaken bilih Gusti Yesus saestu mangertos ing bab raos kaget lan kaeraman ingkang dipun alami dening para sakabat. Pramila Gusti nindakaken prekawis-prekawis kados ing ngandhap punika kangge paring pitulungan supados para sakabat saged mangertos ing bab rawuhipun Gusti :

  1. Gusti Yesus nedahaken bab-bab ingkang asipat badani supados para sakabat sami pitados bilih Gusti Yesus ingkang rawuh punika sanes memedi. Antawisipun, Gusti nedahaken astanipun lan ugi ampeyanipun supados dipun cepeng dening para sakabat. Awit, menawi ingkang dhateng punika memedi, tamtunipun boten gadhah daging lan balung. Gusti Yesus ugi nyuwun tedhan supados para sakabat langkung pitados bilih ingkang rawuh punika inggih Gusti Yesus secara badani. Menawi punika memedi, tamtunipun boten badhe nyuwun tedhan.
  2. Gusti Yesus ngengetaken para sakabat ing bab piwucalipun Gusti ingkang ugi ngambali kitab-kitab Perjanjian Lami, bilih Sang Mesih pancen kedah nandhang sangsara, seda lan wungu malih.
  3. Gusti Yesus mbikak pikiranipun para sakabat supados saged ngenget-enget lan mangertos ing bab isining kitab suci. Gusti Yesus pirsa bilih ing cara ingkang kapisan lan kaping kalih dereng saged ndadosaken para sakabat mangertos lan tepang kanthi estu dhateng Panjenenganipun. Kanthi pikiran ingkang sampun kabikak, mila para sakabat ugi badhe mangertos ing bab kayektenipun Allah. Punapa ingkang dipun alami dening para sakabat, kalebet kaeraman-kaeraman lan prekawis ingkang ndadosaken raos ajrih lajeng saged dipun pahami saking punapa ingkang dados karsanipun Allah. Inggih mekaten salah satunggaling wujud sinau ing bab kawontenanipun Allah lan ugi karsanipun Allah.

Saking tigang prekawis ingkang sampun kacetha ing nginggil punika, Gusti Yesus ugi taksih paring setunggal tugas malih ingkang ugi saged dados kaeraman tumrap para sakabat. Inggih punika tugas dados seksi ing bab Sang Kristus ingkang sampun wungu lan ugi paring pawartos pamratobat lan pangapuntening dosa tumrap sedaya bangsa, kawiwitan ing Yerusalem. Tegesipun, kawiwitan saking tlatah ingkang paling celak saking gesanging para sakabat (paling celak : saged ing tlatah kulawarga, kanca, lsp).

Tugas / jejibahan ingkang kaparingaken dening Gusti punika ugi saged dados kaeraman ing gesanging para sakabat awit tamtunipun boten wonten ing anwatisipun para sakabat ingkang gadhah pemikiran badhe dados pamedhar sabda Injil. Kita sami mangertos bilih ing antawisipun para sakabat punika ingkang kathah inggih dados tiyang  pados ulam (nelayan) lan sanes tiyang ingkang wasis mucal.

Kaeraman selajengipun taksih badhe dipun alami dening para sakabat kados ingkang akserat ing Luk. 24 : 39.  Kangge nindakaken jejibahan dados seksi ing bab wungunipun Gusti lan pawartos pamratobat lan pangapuntening dosa punika, Gusti Yesus inggih paring kalengkapan dhateng para sakabat kados ingkang sampun kaprajanji dening Sang Rama. Kita sami mangertos bilih punika Sang Roh Suci. Saestu dados kaeraman malih nalika para sakabat sami mangertos bilih Roh Suci wonten ing para sakabat nalika nindakaken jejibahan / dhawuhipun Gusti. Allah paring kelengkapan dhumateng saben tiyang ingkang nindakaken tumindak sae lan ingkang leres miturut karsanipun Gusti. Peparing punika inggih namung kanugrahanipun Allah kados ingkang sampun kacarisaken ing waosan 2. Ngalami kaeraman-kaeraman ing gesang kita ugi saged dipun raosaken minangka nampi kanugrahanipun Allah menawi kita saged sinau ngayati kados dene karsanipun Gusti.

Kados dene ingkang dipun alami dening para sakabat, mila kaeraman-kaeraman ing gesang punika boten namung ndadosaken kita ajrih, kuciwa mekaten ugi sisah. Taksih wonten kathah malih kaeraman ing gesang punika ingkang mbekta kabingahan lan raos  syukur awit nampi kanugrahan saking Gusti. Dene wujuding saos syukur awit saking nampi kanugrahanipun Allah punika antawisipun arupi tumindak sae lan tresna-tinresnan ing antawisipun sesami. Paring paseksi ing bab Sang Kristus ingkang sampun wungu, paring pawartos pamratobat lan pangapuntening dosa ugi saged dados salah satunggaling wujud nresnani sesami. Kanthi mekaten saben tiyang badhe tansah gadhah pengajeng-ajeng supados saged nampi kawilujengan saking Gusti. Lah punika rawuhipun Sang Kristus ing salebeting gesang kita.

 

Panutup.

Sinau supados saged mangertos / paham ing bab Sang Kristus ingkang sampun wungu lan gesang punika estunipun dados proses ingkang boten nate rampung. Bab punika saged lumantar kaeraman-kaeraman ingkang kita alami ing salebeting gesang kita. Kaeraman-kaeraman ing gesang punika ugi saged dipun agem dening Gusti minangka salah satunggaling sarana supados kita langkung saged ngraosaken ing bab rawuhipun Gusti ing gesang kita. Pramila, menawi kita nampi kaeraman-kaeraman ing gesang punika, kita boten prelu ajrih, mangu-mangu, utawi nggresula lan nglepataken Gusti. Punapa kemawon wujuding kaeraman-kaeraman ing salebeting gesang kita, punika boten uwal saking campur-astanipun Allah.

Menawi kita ngraosaken wonten prekawis ingkang mokal kita tindakaken, boten prelu kuwatos awit Allah sampun paring kelengkapan dhumateng kita awujud Sang Roh Suci supados kita saged nglampahi. Kados dene Petrus lan Yokanan ingkang ugi kasagedaken nyarasaken tiyang lumpuh. Menawi kaeraman punika arupi kawontenan ingkang miturut kita boten nalar miturut manungsa adatipun (kados nalika Gusti Yesus ngatingal dhateng para sakabat), mugi kita saos syukur dhumateng Gusti awit Gusti sampun paring kanugrahan awujud kesempatan kangge ngalami prekawis-prekawis ingkang boten nalar miturut manungsa. Mugi sami saos syukur awit kita gadhah Allah ingkang panguwaosipun tanpa winates.

Selaku tiyang pitados ingkang ngugemi bab Gusti Yesus ingkang sampun wungu, sumangga kita tansah sumadya nampeni kaeraman-kaeraman ing salebeting gesang kita. Punapa kemawon wujudipun, sumangga kita dadosaken sarana kangge langkung saged ngraosaken rawuhipun Gusti ing prekawis punika. Sugeng nampi kaeraman ing gesang kita !  Amin.  (YM).

 

Pamuji: KPK.  269 : 4, 5.

 

Bagikan Entri Ini: