Khotbah Minggu 14 Agustus 2016

MINGGU BIASA 20
STOLA  PUTIH

 

Bacaan 1         : Yeremia 23 :23-29
Bacaan 2         : Ibrani 11: 29- 12 :2
Bacaan 3         : Lukas 12 : 49-56

Tema Liturgis  : Membangun Persekutuan dengan hikmat Allah
Tema Khotbah: “Penyertaan Tuhan dalam kesetiaan”

 

Keterangan Bacaan

Yeremia 23 :23-29

Perikop kita ini merupakan bagian dari kisah perjuangan Yeremia saat dipakai Tuhan sebagai nabi. Ia selalu memperingatkan umat Allah tentang bencana yang akan menimpa mereka karena mereka berdosa dan menyembah berhala. Nubuatan itu menjadi kenyataan pada masa Yeremia masih hidup: Nebukadnezar raja Babel merebut dan menghancurkan Yerusalem. Nabi Yeremia juga menubuatkan bahwa orang-orang itu akan kembali dari pembuangan dan keadaan bangsa Israel pulih kembali. Dan inilah yang menjadi berita sukacita meskipun umat Israel masih berada dalam masa penderitaan dan penjajahan. Bacaan kita ini memperlihatkan kegalauan hati Tuhan terhadap umatNya Israel yang telah melupakan Tuhan dan menyembah Baal (ayat 27). Mereka tidak lagi ingat akan penyertaan Allah selama ini, sampai berada dalam pembuangan dan dikuasai oleh Babel dengan raja Nebukadnezar. Tidak mudah hidup di bumi asing, di tanah pembuangan, karena orang Israel pun juga mengalami pergumulan hidup untuk memperoleh keselamatan meskipun semu. Manusiawi ketika mereka harus mengikuti Baal meskipun barangkali mereka juga ingat akan ajaran Allah Yahweh, namun situasi dan penderitaan memaksa mereka melakukan perselingkuhan dengan allah lain. Peringatan Tuhan melalui Yeremia ini lebih merupakan teguran keras dibandingkan dengan nubuatan, meskipun keduanya terjadi bersama di zaman Yeremia hidup.

 

Ibrani 11: 29- 12 :2

Penulis surat ini menganjurkan kepada para pembacanya supaya tetap menjagai iman kepada Tuhan Yesus serta setia sampai akhir. Penyebutan tokoh Perjanjian Lama seperti di ayat 32, yakni Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel serta para nabi memperjelas tujuan tentang hidup dalam kesetiaan. Persis yang dilakukan oleh tokoh-tokoh yang sangat dikenal oleh pembaca surat Ibrani bahkan kita semua. Betapa keyakinan iman yang kuat akan Tuhan Allah dalam hidup membawa mereka dikenang sebagai teladan orang setia dan kuat iman. Tantangan mengikut jalan salib sebagaimana Tuhan Yesus lakukan adalah panggilan bagi setiap pengikutnya. Jalan tidak selalu mudah, namun siapa yang setia sampai akhir dialah yang memperoleh kebahagiaan kekal yang menjadi tujuan iman kita semua.

 

Lukas 12 : 49-56

Secara umum dalam Injil Lukas Tuhan Yesus diberi tugas oleh Roh Tuhan untuk menyiarkan Kabar Baik dari Allah kepada orang miskin. Kabar Baik ini penuh dengan perhatian terhadap banyak orang dengan berbagai macam kebutuhan. Meskipun demikian tidak mudah kabar baik itu diterima oleh dunia, gambaran peperangan dalam keluarga dan pertentangan antar orang tua dan anak, sahabat dan teman mengindikasikan hal itu. Tidak mudah menerima jalan Tuhan untuk memberikan kebahagiaan keutuhan lahir dan batin karena melalui penderitaan.  Jalan salib adalah jalan penderitaan, dan tidak dengan mudah siapapun yang hendak mengikut Tuhan Yesus berjalan di dalamnya. Pergumulan batin dan sikap menghamba pada Tuhan Yesus berpadanan dengan kesiapan hidup menderita di jalan salib. Pada akhirnya salib itulah yang menjadi jalan Tuhan Yesus dimuliakan dan Tuhan atas segala ciptaan. Dan hidup orang percaya bersiap untuk masuk di jalan yang tidak mudah, jalan salib yang membawa pertentangan bagi siapapun manusianya. Yang mengikuti itulah yang akhirnya memperoleh kebahagiaan kekal, sebab Tuhan Yesus yang kita sembah telah memberikan teladan untuk melakukannya lebih dulu. Jalan salib, jalan penderitaan sekaligus jalan menuju kebahagiaan kekal.

 

Benang Merah Tiga Bacaan

Ketiga bacaan di atas menunjukkan pola mengenai kesetiaan, perjuangan untuk menjalani hidup sebagai orang percaya dan pengharapan akan masa bahagia bersama Tuhan. Di dalamnya ada tuntutan untuk tetap belajar setia, bekerja sungguh-sungguh, di dalamnya tetap membawa pengharapan bahwa Tuhan memiliki rencana yang indah atas hidup kita. Tetaplah memandang Tuhan Yesus yang memberikan penyertaan dan pengharapan itu melalui jalan penderitaan, kesetiaan dan kasihNya yang sungguh untuk siapapun yang percaya dan menyerahkan hidup, kerja, dan ucapan syukurnya kepada Nya.

 

RANCANGAN KHOTBAH:  Bahasa Indonesia

 

Pendahuluan

Menjelang hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang telah kita alami selama 71 tahun ini kita merasakan banyak perkembangan telah terjadi. Saluran komunikasi begitu lancar, teknologi mengitari kita, banyak kemudahan telah didapatkan, sarana dan prasarana cukup tersedia di negri yang dilintasi garis katulistiwa ini. Tentu ini tidak terbayangkan saat perjuangan sebelum kemerdekaan, di mana Indonesia masih belumlah ada, dan kehidupan begitu sederhana. Semua tentu diperoleh dengan perjuangan dan susah payah demi mendapatkan apa yang diidam-idamkan oleh para pendahulu kita. Sebuah negri yang penuh dengan susu dan madu, penuh kebahagiaan, di mana semua orang bisa saling memberi dan menerima kasih juga kebersamaan sebagai anak bangsa. Membangun kemudahan di banyak sektor mulai pendidikan, pekerjaan, juga pembangunan jiwa bagi bangsa yang besar ini. Kini harapan itu menampakkan hasilnya dan kita pun boleh mensyukuri setiap berkat dan karunia Tuhan bagi bangsa ini

 

Isi

Saudaraku yang mengasihi Tuhan,

Tidak ada sesuatu yang tiba-tiba saja ada tanpa perjuangan untuk mendapatkan, pasti ada harga yang harus dibayar untuk sebuah cita-cita. Kebersamaan dalam gereja, kemudahan beribadah di gedung gereja atau tempat ibadah yang layak pasti memerlukan perjuangan, pengorbanan, juga kerja keras setiap pasamuan yang juga terjadi di GKJW. Pastilah banyak cerita suka dan duka ketika kita memutuskan untuk membangun gedung gereja misalnya. Siapapun yang beribadah dalam sebuah tempat ibadat di seantero GKJW ketika melihat gedung dan semua peralatan yang asri dan indah, di dalamnya ada cerita besar. Cerita tentang kesungguhan, tentang kesulitan, tentang dukungan, juga tentang sebuah kesetiaan membangunnya sampai selesai dan bisa dinikmati sekarang ini.

Israel sebagai contoh umat Tuhan mengalami pergumulan ketika menghadapi masa-masa sulit dalam bersekutu di zaman pembuangan Babel. Tentu mereka ingin merasakan hidup bebas lagi di tanah milik pusakanya. Tanah kelahiran dan tempat mereka mengerti dan memahami bahwa Tuhanlah yang memberikannya. Sebagaimana tanah kelahiran kita di mana kita terpanggil untuk selalu pulang di saat hari raya atau saat liburan akhir tahun tiba. Tanah terjanji itulah yang selalu dirindukan oleh semua penduduk Israel yang saat itu dalam pembuangan di Babel. Kebebasan menjalani kehidupan riil juga spiritual bisa dilakukan dengan indah di negri sendiri, bukan di tanah yang asing betapa pun indahnya di tanah buangan itu. Penderitaan bersama yang dialami membuat kesadaran baru dan pengharapan mesianik akan keselamatan dan Israel baru yang bahagia. Peringatan untuk bertobat dan kembali mengandalkan Tuhan yang Esa menjadi penting. Kesetiaan menjadi pokok utama dalam rangka ketaatan kepada Tuhan. Ingatlah bahwa berkat akan dicurahkan dalam kesetiaan dan ketaatan kita kepada Tuhan. Kesetiaan orang-orang pilihan Tuhan seperti Simson, Gideon, Daud sebagaimana disitir dalam surat Ibrani lebih pada panggilan untuk mengikuti jalan ketaatan itu.

Bukan dengan kekayaan atau kepandaian seseorang dikenang dan menjadi inspirasi hidup, namun oleh karena kesungguhan dan kesetiaannya menjalani panggilannya. Panggilan hidup itu banyak hal, antara lain : bagaimana tetap setia dan jujur dalam pekerjaan, memberi contoh profesional dalam pelaksanaan tugas seperti tepat waktu, berkata lugas dan tegas sesuai yang dirasakan, bekerja keras juga cerdas, dan bermotivasi bahwa semua panggilan itu untuk melayani Tuhan. Ini yang membuat kita tidak kecewa ketika pelayanan yang sudah dilakukan mungkin mendapatkan kritik atau tidak bisa memuaskan banyak orang.

Saudaraku yang mengasihi Tuhan Yesus Kristus,

Panggilan Tuhan atas orang percaya adalah untuk mengabarkan kabar sukacita, yaitu Injil Yesus Kristus. Sukacita karena Tuhan Yesus berkenan memberikan keselamatan dan kelepasan dari ketakutan manusia terdalam yaitu dosa. Setiap perbuatan dosa harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan pada akhirnya nanti. Namun keselamatan yang diberikan Tuhan itu tidak melalui jalan yang mudah. Jalan salib dilalui Tuhan Yesus dengan setia, itu sebabnya panggilan kita adalah memenuhi amanat Tuhan juga melalui jalan salib. Artinya tidak mudah, banyak tantangan, cobaan, dan ujian kesetiaan dalam menjalankan amanat Tuhan Yesus. Salib itulah yang tetap ditanggung oleh orang percaya sampai kapanpun.  Bacaan di  Lukas pasal 12 ini menjelaskan konsekuensi sebuah ketidaktaatan menjalani perintah Tuhan. Meski berat dan jalannya berliku, menjalani jalan salib memerlukan kesetiaan sampai akhir. Dalam konteks kedatangan Tuhan Yesus kembali menemui para pekerjanya, maka yang tahu apa yang menjadi keinginan/kehendak tuannya serta menyelesaikan dan kedapatan setia sampai akhir akan memperoleh ganjaran  (ayat 48).

Di pihak lain ada konsekuensi yang harus diterima ketika panggilan yang dipercayakan itu tidak dilakukan dengan baik ada sanksi. Istilah yang dipakai Tuhan Yesus ada di ayat sebelumnya yakni ayat 48 yang menjadi konteks keseluruhan pengajaranNya ini. Semakin banyak diberi talenta maka semakin besar tanggung jawabnya. Semakin dipercaya maka semakin bertanggung jawab termasuk menerima segala resikonya. Termasuk di dalamnya tantangan bahkan di dalam keluarga sendiri, orang terdekat kita. Bukan berarti Tuhan Yesus melarang berhubungan dengan keluarga, namun ketaatan kepada Tuhan harus lebih besar dari pada keterikatan dengan keluarga. Ini pentingnya hidup setia kepada Tuhan dan kebenaranNya melebihi cinta kita kepada keluarga sekalipun.

Seperti bangsa Israel yang tetap memiliki pengharapan kembali hidup dalam negaranya sendiri. Mereka menjagai pengharapan itu dengan kesungguh-sungguhan untuk hidup benar dan pada akhirnya disebut sebagai sisa-sisa Israel di masa kemudian. Umat yang kudus, yang diberkati, dan memperoleh kesempatan kembali hidup di Bait Allah yang dibangun kembali ketika pembebasan tiba di zaman Ezra. Pengharapan itu tidak pernah putus dan mereka meyakini bahwa dalam penyertaan Tuhan tidak pernah gagal. Dalam pengharapan muncullah kesungguhan dan ketaatan, ketaatan membawa berkat Tuhan, dan itu artinya kebahagiaanlah yang terjadi. Demikian pula dalam keluarga kita, masyarakat kita yang menantikan kesejahteraan yang nyata, mari kita mulai dari keluarga kita masing-masing. Mulai jujurlah pada anggota keluarga, beranilah berbicara mengenai kebenaran dan hiduplah dalam ketaatan kepada Tuhan, dan meneladan hidup Tuhan Yesus yang hidupnya memberi pengharapan. Kita yakin dalam kesungguhan kita memiliki pengharapan, dan sungguh diberkati Tuhan. Percayalah masih ada pengharapan baik untuk kehidupan dan masyarakat di mana kita berada. Inilah panggilan kita semua sebagai umat yang mengandalkan Tuhan namun juga berani berkata jujur, berpikiran positif, dan bersungguh bekerja keras membangun kehidupan yang lebih baik. Di dalamnya kita yakin bahwa berkat Tuhan dilimpahkan dalam niatan baik, pengharapan positif, serta kesungguhan melakukannya hanya karena Tuhan dan penyertaanNya.

 

Penutup   

Belajar setia, bertanggung jawab dan memenuhi komitmen adalah bagian dari memberlakukan karya Tuhan dalam hidup kita. Meskipun perjalanan kehidupan tidak selalu berjalan mulus, kita yakin bahwa pengharapan atas kemurahan Tuhan menguatkan kita. Tanpa pengharapan kita tidak akan pernah menuju pada tujuan dan cita-cita. Demikian pula pengharapan atas iman dan percaya kita. Selamat merayakan pengharapan yang di dalamnya memberikan tanggung jawab untuk tetap setia menjalani jalan Tuhan, bersungguh bekerja dalam kesetiaan pada Tuhan yang sudah tahu apa yang kita perlukan. Amin. (LUV)

 

Nyanyian: KJ 337

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Bebuka

Nyelaki dinten kardikaning negari ingkang sampun kita alami 71 taun dangunipun menika kita ngraosaken indhak-indhakaning kawontenan. Piranti komunikasi lancar sanget, teknologi ngupengi kita, kathah prekawis ingkang kita alami kanthi gampil sanget, sarana dan prasarana cumawis kanthi cekap ing negari kita. Kawontenan ingkang sekeca mekaten menika tamtu boten ginambaraken nalika perjuangan nyelaki kamardikaning negari rikala samanten, sedaya menika dereng wonten, pigesangan taksih sarwa prasaja sanget. Sedayanipun tamtu dipun alami kanthi pambudidaya ingkang sengkut kangge nggayuh menapa ingkang dipun idham-idhamaken dening para leluhur kita. Satunggaling negari ingkang kebak susu lan madu, kebak kabegjan, temah sedaya tiyang saged peparing lan nampeni katresnan lan patunggilan minangka setunggal bangsa. Sedaya sami ngupadi kasaenan ing sedaya babaganing bangsa, wiwit saking pasinaon, padamelan, ugi mbangun jiwa bangsa ingkang ageng menika. Pangajeng-ajeng menika sampun ketingal wujudipun. Ingkang menika, prayogi kita saos sokur atas sadhengah berkah lan kanugrahan saking Gusti ingkang tumrah dhateng bangsa kita menika.

 

Isi

Boten wonten kasaenan ingkang dumadagan kelampahan tanpa wonten pambudidaya (perjuangan). Sedaya gegayuhan mesthi wonten pitumbasipun. Patunggilan ing greja, pangabekti ingkang tintrim ing griya pamujan ingkang sae mesthi mbetahaken pambudidaya ingkang sengkut, malah pangurbanan, ugi paladosan ingkang kenceng saking sedaya pasamuwan ing GKJW. Tamtu kathah prekawis ingkang mbingahaken lan mrihatosaken nalika kita mbangun griya pamujan. Sinten kemawon ingkang ngibadah ing greja ing saindhenging GKJW nalika sami mirsani wewangunan lan sedaya prabotipun ingkang sae lan sesawangan ingkang endah, mesthi ing ngriku wonten cariyos ingkang ageng. Cariyos bab pakewet, panyengkuyung, kasetyan lan tumemening pambudidaya anggenipun yasa greja ngantos rampung lan kita samangke saged ngraosaken sekecanipun.

Bangsa Israel dados conto minangka umatipun Gusti ngalami momotaning gesang nalika ngadhepi mangsa pakewet anggenipun sami tetunggilan rikala jaman pambcalan ing Babil. Bangsa menika tamtu kepengin ngraosaken gesang ingkang mardika malih ing tanah tumah dharahipun. Tanah kelairan lan papan dunungipun dipun yakini minangka peparingipun Gusti. Menika kados dene kita kumedah wangsul dhateng tanah kalairan kita ing saben riyadin utawi preian warsa enggal. Tanah prajanjian menika ingkang tansah dipun kangeni dening sedaya umat Israel ingkang saweg wonten ing tanah pambucalan Babil. Kamardikan ngalami pigesangan ing sanyata kalebet ugi gesanging karohanen saged dipun alami kanthi sekeca ing negarinipun piyambak, sanes ing tanah manca nadyanta endah tanah pambucalan menika. Kasangsaran ingkang dipun alami sesarengan nuwuhaken kesadaran enggal lan pangajeng-ajeng bab rawuhipun Sang Mesih ingkang mitulungi rahayu lan yasa Israel enggal ingkang kebak kabingahan. Piweleh supados mratobat lan ngandelaken Gusti dados prekawis ingkang wigatos sanget. Kasetyan dados prekawis utami kangge mujudaken pambangun turut dhumateng Gusti. Swawi sami enget bilih berkah badhe katumrahaken ing salebeting kasetyan lan pambangun turut dhumateng Gusti. Kados kasetyanipun para abdinipun Gusti: Simson, Gideon, Dawud anggenipun nedahaken pambangun turutipun dhumateng Gusti.

Sanes karana kasugihan utawi kapinteranipun tiyang menika dipun enget-enget lan dados inspirasi (tuladha) gesang, nanging karana anggenipun temen-temen lan setya netepi timbalanipun. Timbalaning gesang menika kathah, ing antawisipun: setya lan jujur ing padamelan, tumemen nindakaken jejibahan kanthi boten telat, wicanten kanthi blaka lan teges, makarya kanthi sengkut lan wicaksana, sarta tansah ngrumaosi bilih timbalanipun menika kagem lelados mring Gusti. Menika ingkang ndamel kita boten kuciwa menawi paladosan ingkang katindakaken dipun paido utawi boten saged maremaken tiyang kathah.

Timbalanipun Gusti dhateng tiyang pitados nggih menika mawartosaken kabar kabingahan, nggih menika Injilipun Gusti Yesus Kristus. Kabar menika arupi kabingahan karana Gusti Yesus karsa paring karahayon lan pangluwaran saking rehing dosa ingkang nggegirisi. Saben tumindak dosa kedah dipun akeni ing ngarsanipun Gusti kanthi cumadhang nampeni pituwasipun. Nanging karahayon peparingipun Gusti menika boten lumantar margi ingkang gampil. Margining salib dipun lampahi dening Gusti Yesus kanthi setya. Pramila timbalan kita inggih netepi pakaryanipun Gusti ugi lumantar margining salib. Tegesipun boten gampil, kathah tantangan, pacoben, lan ujian tumrap kasetyan kita netepi timbalanipun Gusti Yesus. Salib menika kedah tetep dipun panggul dening tiyang pitados ngantos wekasanipun.

Waosan ing Lukas 12 menika nedahaken temahanipun lampah boten miturut nindakaken prentahipun Gusti. Nadyan awrat lan marginipun menggak-menggok, lumampah ing margining salib mbetahaken kasetyan ngantos pungkasan. Menawi Gusti Yesus manggihi para abdinipun, sinten ingkang mangertos lan setya nindakaken karsanipun Gusti ngantos pungkasan mesthi badhe pikantuk ganjaranipun (ayat 48).

Nanging menawi timbalanipun Gusti ingkang kapitayakaken menika boten katindakaken kanthi sae ugi mesthi wonten temahanipun, sanksi. Kasebataken bilih saya kathah dipun paringi saya kathah dipun pundhuti (dituntut). Saya pinitaya, saya ageng tanggel jawab ingkang kedah dipun pikul, saya ageng risikonipun. Kalebet ugi tantangan saking lebeting kulawarga piyambak, tiyang ingkang paling raket kaliyan kita. Menika boten ateges bilih Gusti boten ngersakaken kita sesambetan kaliyan kulawarga, nanging pambangun turut dhumateng Gusti kedah langkung ageng tinimbang sesambetan kaliyan kulawarga. Menika wigatosing gesang setya dhumateng Gusti sarta kayektenipun ingkang nglangkungi katresnan kita dhateng kulawarga.

Tiyang-tiyang Israel ingkang tetep nggadhahi pangajeng-ajeng wangsul gesang ing negarinipun, ngukuhi pangajeng-ajengipun kanthi saestu gesang ing kayekten, wusananipun sinebut sisa-sisa Israel. Menika umat ingkang suci, ingkang binerkahan, sarta pikantuk wewengan (kesempatan) gesang malih ing Padaleman Suci ingkang dipun yasa malih sasampunipun mardika ing jamanipun Ezra. Pangajeng-ajengipun boten nate pupus lan sami pitados bilih pitulunganipun Gusti boten nate gagal. Ing salebeting pangajeng-ajeng tuwuh watak tumemen lan pambangun turut, pambangun turut ndhatengaken berkahipun Gusti, temah kabegjan lan kabingahan ingkang dumadi.

Lah mekaten ugi kulawarga lan masyarakat kita ngajeng-ajeng kagebjan lan kabingahan ingkang nyata. Kawiwitan saking kulawarga, sumangga tumindak jujur, wantun njejegaken kayekten, mbangun turut dhumateng Gusti, sarta nulad gesangipun Gusti Yesus ingkang paring pangajeng-ajeng. Kita yakin bilih ing watak tumemen kita nggadhahi pangajeng-ajeng, lan saestu binerkahan dening Gusti. Sumangga sami pitados bilih taksih wonten pangajeng-ajeng ingkang sae kagem brayat lan masyarakat kita. Lah menika timbalan kita sedaya minangka umat ingkang ngendelaken Gusti lan wantun tumindak jujur, tansah menggalih sae, kanthi sengkut makarya mbangun pigesangan ingkang langkung sae. Ing salebeting gesang mekaten menika, berkahipun Gusti katumrahaken.

 

Panutup   

Sinau setya, tanggel jawab lan netepi kasagahan, menika dados perangan mujudaken pakaryanipun Gusti wonten ing gesang kita. Nadyan lampahing pigesangan menika boten sarwi gampil, kita yakin bilih pangajeng-ajeng tumrap kamirahanipun Gusti nyantosakaken gesang kita. Tanpa pangajeng-ajeng kita boten badhe saged dumugi ing gegayuhan kita. Mekaten ugi pangajeng-ajeng atas kapitadosan kita. Sugeng nguri-uri pangajeng-ajeng ingkang nuwuhaken raos tanggel jawab netepi gesang ing marginipun Gusti kanthi setya. Swawi makarya kanthi tumemen lan setya dhumateng Gusti ingkang nguningani sawetahing kabetahan kita. [terj. st]

 

Pamuji: KPK 310

 

Bagikan Entri Ini: