Khotbah Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2016

HUT Kemerdekaan RI ke -71
STOLA  MERAH

 

Bacaan 1         : Yeremia 25 :30-38
Bacaan 2         : —
Bacaan 3         : Lukas 19 : 45-48

Tema Liturgis  : Membangun Persekutuan dengan hikmat Allah
Tema Khotbah:  “Aku bersyukur atas negeri Indonesia”

 

Keterangan Bacaan.

Yeremia 25 : 30-38

Hari pembalasan yang ditampakkan di perikop kita ini begitu mengerikan, Raja Babel sang Raja Nebukadnezar sebenarnya dipakai Tuhan untuk mengingatkan Israel atas ketidaktaatan kepada Tuhan Allah (ayat 3-6) , namun setelah 7 tahun menjajah Israel, raja ini mendapatkan balasannya (ayat 9). Ini yang menjadi nubuatan dan disampaikan untuk umat Israel  yaitu masa depan indah yang akan datang. Pada masa itu akan ada suatu ikatan janji yang baru dengan Allah. Umat TUHAN akan mentaati janji itu tanpa ada sosok berwibawa yang mengingatkan mereka. Sebab janji itu akan tertulis di dalam hati mereka (Yeremia 31:31-34), berkat anak cucu tak terhitung, demikian juga dengan tempat tinggal yang penuh dengan kesuburan di mana matahari dan bulan menerangi. Hal pengampunan dan penerimaan Tuhan atas umat Israel yang bebas menjadi sukacita semuanya. Inilah masa depan yang indah, penuh harapan di dalam pemerintahan Tuhan sendiri.

Lukas 19 : 45-48

Bukan kabar yang menyenangkan bagi para pemegang kekuasaan Bait Allah ketika Tuhan Yesus mengusir orang yang berjualan dan praktik pengurus bait Allah yang koruptif di sana. Penukaran mata uang dengan uang khusus bait Allah membuat para imam dan penguasa Bait Suci bisa bersikap manipulatif, karena untuk membeli persembahan berupa burung dan binatang lainnya harus dengan uang tersebut. Sikap inilah yang dibongkar Tuhan Yesus, dengan mengembalikan Bait Allah sebagai rumah doa (ayat 46), bukan sarang penyamun. Bait Allah dibebaskan dari praktik koruptif manusia, kepentingan sesaat segelintir kelompok yang mengatasnamakan agama bahkan Tuhan. Sayangnya Tuhan Yesus tidak berkenan dengan perbuatan nista tersebut. Hidup manusia harus dibebaskan dari keserakahan dan niatan tidak benar, apalagi kalau hendak menghadap Tuhan dalam ibadah. Ibadah adalah pembebasan dari niatan yang buruk, kita bersihkan dulu hati kita sebelum kita menerima kebebasan dari ketakutan, dosa, bahkan maut karena Tuhan Yesus datang untuk membebaskan dan membahagiakan manusia.

Benang Merah Tiga Bacaan

Kedua bacaan di atas berpola penghukuman Tuhan yang tidak bisa ditangguhkan dan ditolak atas mereka yang membangkang. Hukuman dan sanksi itu jelas. Penguasa Bait Allah yang disebut penyamun oleh Tuhan Yesus, ini sebuah penghukuman berupa penamaan terhadap mereka yang pastinya sangat memalukan. Pada dasarnya kebersihan hati dan motivasi yang benar ketika beribadah kepada Tuhan menimbulkan perkenanan Tuhan. Sebaliknya keserakahan, motivasi yang buruk dan menguntungkan diri sendiri tidak akan mendapatkan berkat, namun mendatangkan laknat bahkan hukuman Tuhan yang tak bisa dihindari.

 

RANCANGAN KHOTBAH:  Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Selamat hari Kemerdekaan, semoga dirgahayu bangsa Indonesia, panjang umur negri tercinta Indonesia. Kita bersyukur boleh menikmati kemerdekaan 71 tahun lamanya dari sejak proklamasi dicanangkan. Jika dibandingkan dengan usia manusia maka usia ini adalah masuk adi yuswo. Sangat matang, namun apakah semua cita-cita proklamasi itu telah menjadi kenyataan? Pasti kita bisa menjawab dengan berbagai macam jawaban. Ada yang menjawab sudah meski dengan catatan, namun pasti juga banyak yang mengatakan belum. Artinya semuanya masih dalam proses menuju cita-cita dan belum akan tuntas. Bahkan negara besar pun tidak akan tuntas mewujudkan cita-cita kemerdekaannya. Yang penting bukan soal tuntasnya, namun proses menuju dan mengisinya dengan hal baik menuju cita-cita bangsa.

Isi

Saudaraku yang mengasihi Tuhan Yesus,

Pengalaman Israel dijajah oleh Raja Nebukadnezar memberikan kenangan pahit, Tidak mudah hidup dalam suasana penjajahan yang pasti tidak memperoleh kebebasan seperti halnya negara merdeka. Hal ini hampir sama keadaannya dengan bangsa Indonesia ketika mengalami penjajahan baik zaman Belanda maupun zaman Jepang. Tidak ada kebebasan dalam meraih pendidikan, berpolitik, menentukan nasib sendiri, bahkan beribadah tidak semudah sekarang.  Pengharapan para pendiri bangsa ini pastilah negeri yang gemah ripah loh jinawi, serba berkecukupan dan penuh damai sejahtera.  Pengharapan mereka tidak sia-sia, barangkali tidak terbayang kemudahan seperti yang kita alami sekarang. Ketika Jepang takhluk kepada sekutu, bisa diibaratkan kemenangan Israel dengan penghukuman terhadap pasukan Babel di bawah raja Nebukadnezar. Betapa Tuhan sayang kepada umatNya Tuhan melindungi umat terjanji yang mau kembali bertobat ke jalan Tuhan.

Tentu saja umat yang sudah diberikan kebebasan sebagaimana zaman Tuhan Yesus di mana Bait Allah menjadi pusat ibadah bangsa Israel kala itu. Semua umat Israel bebas untuk beribadah kepada Tuhan karena rumah Ibadah diberikan keleluasaan oleh pemerintah Romawi. Kesempatan kebebasan ini digunakan secara manipulatif dan serakah oleh para pengurus Bait Allah. Dengan berjualan seperti yang dilakukan di Bait Allah membuat tempat kudus ini sama saja dengan pasar umum. Ditambah lagi dengan semacam penukaran uang, di mana umat yang mau membeli binatang kurban harus menggunakan mata uang bait Allah. Nilai penukaran itu ditentukan oleh pengurus Bait Allah dengan sekehendak hati.  Praktik korup inilah yang ditolak Tuhan Yesus dengan mengusir semua pedagang di sana (ayat 45). Tidaklah heran jika para imam kepala dan ahli Taurat merasa tertampar dengan ungkapan bahwa mereka lah yang menjadikan Rumah Tuhan menjadi sarang penyamun. Teguran yang harusnya membawa mereka semakin menyadari kesalahan dan mensyukuri nikmat kebebasan Romawi meski sebenarnya semu, alih –alih demikian, mereka justru berusaha membinasakan Tuhan Yesus (ayat 47).

Kedatangan Tuhan Yesus memberikan harapan bagi umat yang tertindas, Israel dijajah oleh Romawi namun juga dijajah oleh kaumnya sendiri di bait Suci. Kehadiran Tuhan Yesus membuat banyak orang terpikat dan dikuatkan kehidupannya. Meskipun di masa penjajahan, Tuhan Yesus memberikan harapan, tetapi juga pengajaran bagaimana harus tetap hidup benar dalam beribadah di Bait Allah.  Peringatan bahwa rumah Tuhan adalah rumah doa menegur para pengurus bait Allah agar kembali ke jalan yang benar. Bukan malah membuat jadi sarang penyamun, sebuah teguran keras yang amat membuat mereka malu. Anehnya bukannya sadar diri, namun malah berniat jahat mau membinasakan Tuhan Yesus karena kepentingannya terganggu. Meskipun mereka tidak menemukan cara saat itu namun tetap mencari sampai akhirnya bisa melalui hasutan sebagaimana kita lihat dalam kisah penyaliban Tuhan Yesus.

Saudaraku yang mengasihi Tuhan

Bukan kemerdekaan semu yang kita terima seperti halnya Israel, mereka seolah bebas di Bait Allah namun sebenarnya di bawah pengawasan Romawi. Itu pun mereka memanfaatkan dengan jalan tidak benar secara manipulatif. Sehingga di antara sesama bangsa justru melakukan penjajahan atas saudaranya sendiri. Hari ini kita belajar bahwa kemerdekaan, kebebasan dari penjajahan membawa kita bukan untuk menjajah sesama anak bangsa. Pengetahuan, kepandaian, keleluasaan kekuasaan harusnya bisa digunakan untuk kebaikan dan kesejahteraan bersama. Inilah panggilan dan ucapan syukur kita. Karena kemerdekaan yang didamba oleh para pendahulu kita ini pastilah untuk semua anak bangsa. Oleh karenanya mari kita rawat bersama kemerdekaan ini dengan mengisinya sebaik mungkin.

Mari kita bersyukur dengan bersikap disiplin karena taat bukan karena takut. Menggunakan helm bukan karena nanti ada polisi, namun karena unsur safety, keselamatan dan keamanan. Begitu pula belajar tertib berlalu lintas karena dengan melakukannya kita juga menyelamatkan orang lain. Mari kita lakukan langkah sederhana mensyukuri kesempatan kemerdekaan ini. Bersikap jujur dan bersedia berkorban, gemar untuk memberi, karena sebenarnya hidup kita ini adalah pemberian. Bukan bersikap mencari keuntungan sendiri. Percayalah bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar jika minset pemikirannya adalah : hidup untuk saling berbagi dan memberi. Semangat gotong royong masih ada di Jemaat-Jemaat desa yang sangat menghangatkan hati. Kepanitiaan sidang dan acara grejawi yang lainnya bisa menjadi wahana untuk saling berbagi dan memberi tanpa mencari keuntungan diri sesaat.  Setidaknya inilah langkah kongkret untuk mengisi kemerdekaan dengan penuh syukur melalui perbuatan nyata dan bisa dirasakan.

Penutup

Kita bisa memberi tanpa mengasihi, namun mengasihi tidak mungkin tidak memberi. Kasih Tuhan Yesus kepada kita telah memberikan pengharapan dan kekuatan untuk juga berbagi kebahagiaan. Karena kasih Tuhan Yesus pula kita diberikan negri yang indah dan berkelimpahan. Mari kita memberikan yang terbaik untuk negri yang sudah 71 tahun merdeka ini. Bersyukurlah kalau kita berkesempatan memberi untuk negri tercinta Indonesia. Sebagai sesama anak bangsa mari kita buat ucapan syukur atas negri pemberian Tuhan ini sebagai negri di mana berkat Tuhan tercurah untuk sesama, ya sesama anak bangsa tanpa melihat apa latar belakangnya dan siapa mereka. Karena di mana kita bersyukur, di situlah berkat Tuhan dicurahkan. Trima kasih Tuhan atas karunia negriku Indonesia. Amin. [LUV]

Nyanyian: KJ 336 / KPK 317

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Bebuka

Sugeng dinten kamardikan, mugi jaya bangsa Indonesia, panjang umur nagri kita Indonesia. Kita saos sokur saged ngraosaken kamardikan 71 taun dangunipun wiwit proklamasi kaundhangaken. Menawi kabandhingaken kaliyan umuripun manungsa, umur 71 menika kalebet adi yuswa. Sampun saestu “mateng”, nanging menapa idham-idhamaning proklamasi menika sampun dados kasunyatan? Kita mesthi saged mangsuli kanthi maneka warni wangsulan. Wonten ingkang mangsuli “sampun” nadyan mawi catatan, tamtu ugi kathah ingkang mangsuli “dereng”. Tegesipun sedaya taksih ing salebeting proses tumuju dhateng idham-idhaman lan dereng tuntas. Malah nadyan negari ageng boten badhe tuntas mujudaken gegayuhaning kamardikanipun. Ingkang wigatos sanes saged tuntas menapa boten, nanging proses ingkang sae ngiseni kamardikan tumuju gegayuhaning kamardikan menika ingkang wigatos.

Isi

Lelampahanipun Israel dipun jegi dening prabu Nebukadnezar nuwuhaken kenangan pahit. Tamtu boten sekeca gesang ing swasana penjajahan, boten wonten kamardikan (kebebasan) kados ing negari ingkang mardika. Menika memper kaliyan kawontenanipun bangsa Indonesia nalika ngalami penjajahan ing jaman Walandi lan Jepang. Boten wonten kamardikan pikantuk pendidikan, politik, mranata gesang pribadi, ugi ngibadah. Pangajeng-ajengipun para pejuang kamardikaning negari menika tamtu negari ingkang gemah ripah loh jinawi, murah sandhang lan pangan, tata tentrem lan raharja. Pangajeng-ajeng menika sanyata boten nglaha, sawatawis sampun kasembadan. Nalika Jepang teluk dhateng sekutu, saged dipun ibarataken kaunggulanipun Israel klayan paukuman dhateng bala tantranipun Babil. Saiba anggenipun Gusti nresnani lan ngreksa sarta ngayomi umat piniji ingkang purun mratobat wangsul ing marginipun Gusti.

Ing jaman Gusti Yesus, kamardikan sampun kaparingaken dhateng umatipun Gusti, temah Padaleman Suci dados punjering pangibadahipun bangsa Israel. Sedaya umat Israel pinaringan kamardikan dening pamarentah Rum kangge ngabekti dhumateng Gusti ing griya pamujan. Emanipun wewengan mardika menika dipun ginakaken kanthi manipulatif (nggorohi) lan srakah dening pengurus Padaleman Suci, srana sadean kewan lan uba rampe kurban. Temah papan suci menika dados sami kaliyan pasar. Saya malih kanthi wonten ijol-ijolan arta. Umat ingkang badhe tumbas kewan lan uba rampe kedah migunakaken mata uang Bait Suci, ingkang reginipun dipun tetepaken dening pengurus Bait Suci sapikajengipun piyambak. Patrap korup menika ingkang dipun lawan dening Gusti Yesus klawan nundhung sedayang dagang saking ngriku (ayt 45). Tamtu kemawon para imam lan ahli Toret rumaos kados dipun besèt pasuryanipun karana kadakwa minangka ingkang ndamel Bait Suci dados “susuhe maling”. Piweleh menika jebul boten ndamel tiyang-tiyang menika sami ngrumaosi lepatipun, nanging malah mbudidaya mrejaya Gusti Yesus (ayat 47).

Rawuhipun Gusti Yesus nuwuhaken pangajeng-ajeng tumrap umat ingkang katindhes; Israel ingkang dipun jajah dening Rum nanging ugi dening kaum bangsanipun piyambak ing Bait Suci. Rawuhipun Gusti Yesus ndamel tiyang kathah kesengesem lan kasantosakaken gesangipun. Ing satengahing penjajahan Gusti Yesus paring pangajeng-ajeng, ugi piwulang kedah gesang ing kayekten anggenipun ngabekti dhumateng Gusti Allah. Dhawuh bilih Padaleman Suci menika griya pamujan melehaken para pengurus Bait Suci kinen wangsul dhateng margining kayekten. Nanging elokipun, tiyang-tiyang menika malah nepsu lan badhe numpes Gusti Yesus karana kapetinganipun dipun ganggu. Nadyan rikala samanten boten manggih cara, nanging tiyang-tiyang menika tetep ngupadi margi murih kasembadaning sedya srana hasutan, “kong kalikong” kados ing cariyos Gusti Yesus sinalib.

Sanes kamardikan palsu ingkang kita alami kados dene Israel, dene tiyang-tiyang mardika ing  Bait Suci nanging sejatosipun gesang ing rehing Rum. Lan menika dipun ginakaken kanthi boten leres. Temahan, ing antawisipun sesami tunggal bangsa nindakaken penjajahan dhateng sedherekipun piyambak.

Dinten menika kita sami sinau bilih kamardikan saking penjajahan sanes mbekta kita ngereh sesami tunggil bangsa. Kawruh, kapinteran lan kekuasaan kedahipun dipun cakaken murih kasaenan lan kaharajaning gesang bebrayan. Menika timbalan lan panuwun soukur kita, awit kamardikan ingkang dipun idham-idhamaken dening para leluhur tamtu kagem sedaya warga nnagari menika. Awit saking menika, sumangga kita njagi lan ngiseni kamardikan menika klayan kasaenan lan kautaman.

Sumangga kita saos sokur kanthi gesang disiplin karana taat sanes karana ajrih. Contonipun, ngagem helem boten karana ajrih yen wonten polisi, nanging murih kawilujengan. Srana tertib berlalu lintas kita njagi kawilujenganipun tiyang sanes. Mangga kita saos sokur atas kamardikan menika srana tumindak jujur lan cumadhang kekurban, weweh dhateng tiyang sanes, karana gesang menika inggih peparing. Sampun ngantos kita tumindak namung pados keuntungan sendiri. Bangsa Indonesai badhe dados bangsa ingkang ageng menawi paugeranipun: urip iku kanggo andum lan weweh. Gregeting gotong royong taksih saged dipun panggihaken ing Pasamuwan-pasamuwan ing padhusunan ingkang mongkogaken manah. Kepanitiaan Sidang lan kegiatan greja sanesipun dados wahana kangge weweh lan andum tanpa pados keuntungan sawatawis. Menika conto-conto nyata ingkang saged katindakaken ngiseni kamardikan kanthi saos sokur.

Panutup   

Tiyang saged weweh tanpa katresnan. Nanging katresnan mokal tanpa weweh. Katresnanipun Gusti Yesus dhateng kita maringaken pangajeng-ajeng lan kekiyatan kangge andum kabingahan. Karana sih katresnanipun Gusti Yesus ugi kita pinaringan negari ingkang endah lan sugih. Sumangga kita ugi nyaosaken ingkang sae kangge negari kita ingkang sampun mardika menika. Sokur menawi kita pikantuk wewengan lan kasagedan kekurban kagem negari kita menika. Sumangga mujudaken sokur kita srana mbudidaya supados negari menika saestu dados berkahipun Gusti dhateng sedaya tiyang tanpa mawang golongan, suku lan agaminipun. Ing pundi kita saos sokur, ing ngriku berkahipun Gusti katumrahaken. “Sembah nuwun Gusti atas kenugrahan negari Indonesia.” [terj. st]

Pamuji: KPK 317

 

Bagikan Entri Ini: