SuaraMu Kudengar Khotbah Minggu 13 Mei 2018

Minggu Panggilan / Undhuh-Undhuh
Stola Putih

 

Bacaan 1         : Kisah Para Rasul 1 : 1 5 – 26
Bacaan 2         : 1 Yohanes 5 : 9 – 13
Bacaan 3         : Yohanes 17 : 6 – 19

Tema Liturgis : Merayakan Hidup Dengan Bersyukur
Tema Khotbah: SuaraMu ku dengar

 

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 1 : 15 – 26

Kesaksian Lukas dalam bacaan hari ini tentang pergantian peran Yudas Iskariot yang telah jatuh dalam kejahatannya sampai meninggal dunia. Para Rasul berkumpul dan berunding, dengan kesepakatan bahwa harus ditambahkan kepada kami seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan para rasul dan selama Tuhan Yesus bersama-sama, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan para rasul, untuk menjadi saksi dengan para rasul tentang kebangkitan-Nya. Lalu mereka mengusulkan dua orang: Yusuf yang disebut Barsabas dan yang juga bernama Yustus, dan Matias. Mereka semua berdoa dan meminta kepada Tuhan siapa diantara kedua orang tersebut yang dipilih dan berkenan dihadapan Tuhan.  Lalu mereka membuang undi bagi kedua orang itu dan yang kena undi adalah Matias dan dengan demikian ia ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul itu. Artinya, ada sebuah proses panggilan yang dilakukan mulai standart yang ditetapkan, berdoa, dan membuang undi. Yang menarik adalah doa dapat disandingkan dengan membuang undi. Apa itu membuang undi? Menurut Kamus Alkitab, Undi merupakan suatu cara yang lazim di antara orang Ibrani untuk membuat keputusan, dan yang berlaku sampai ke masa PB. Tetapi, cara penyelenggaraannya tidak pernah digambarkan. Orang percaya bahwa Tuhan menyatakan pilihanNya melalui undian. Contoh : Kisah terpilihnya Saul jadi raja (1 Sam.10:19-26); Para serdadu yang membagi pakaian Yesus (Mark.15:24). Artinya, Tuhan bisa memanggil setiap orang dengan cara apapun.

1 Yohanes 5 : 9 – 13

Bacaan ini sudah sangat jelas, menyatakan tentang keIlahian Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Yesus sebagai penyataan Allah yang imanen, kiranya dapat dipegang teguh oleh manusia. Melalui surat ini, ingin ditegaskan supaya manusia menyadari bahwa mereka memiliki kehidupan kekal, jika mereka percaya kepada Yesus-Anak Allah (ayat 13).

Yohanes 17 : 6 – 19

Dalam Pembacaan Injil hari ini, Yesus berdoa bagi murid-murid-Nya. Ia tidak mendoakan murid-murid-Nya diambil dari dunia. Ia tidak berdoa agar para murid lepas dari kesulitan dan tantangan hidup. Di sini menunjukkan bahwa kekristenan tidak pernah dihayati sebagai suatu kelompok yang menarik diri dari kehidupan dunia. Karena kekristenan harus ada di tengah dunia untuk menjadi garam yang menggarami dan terang yang menerangi. Dengan kata lain, kita bukan menarik diri dari dunia, dan juga tidak meleburkan diri menjadi sama dengan dunia.

Dalam doa-Nya Yesus juga berdoa kepada Bapa agar para murid dikuduskan dalam kebenaran. Dalam doa-Nya itu Ia memohon agar Bapa memelihara mereka. ”Ya, Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu…” (17:11). Ayat ini menyatakan suatu permintaan kudus kepada Bapa supaya para murid itu dilindungi dari segala yang jahat. Yesus mengatakan kepada Bapa-Nya bahwa murid-murid itu akan kehilangan pemeliharaan-Nya secara pribadi, seperti yang sedang dilakukan-Nya. Dengan penuh kasih, Ia menyerahkan pemeliharaan milik-Nya kedalam tangan Bapa.

Hal yang sangat menonjol dalam doa-Nya adalah suatu kerinduan dan harapan agar para murid menjadi satu. Ia tidak berdoa agar murid-muridNya bersatu untuk melawan orang lain. “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu” (17:11). Kesatuan merupakan kerinduan hati Yesus yang paling dalam. Dia menghendaki supaya kesatuan itu sungguh-sungguh mencerminkan seperti kesatuan yang ada di antara Dia dan Bapa-Nya.

Mungkin hal pertama yang dapat kita lakukan adalah membangun persekutuan berdasarkan saling mengasihi. Hanya dengan kehidupan yang saling mengasihi satu sama lain, akan memampukan kita hidup dalam persatuan dan persekutuan yang sesungguhnya. Kita mesti berusaha sedapat mungkin berbuat kebajikan kepada orang-orang di sekitar kita tanpa membedakan suku, ras, atau bahasa. Mungkin dapat juga kita lakukan terlebih dahulu menghilangkan segala prasangka negatif terhadap orang-orang yang kita anggap berbeda dengan kita. Tanpa persatuan, kita tidak layak disebut sebagai murid-murid Kristus. Kiranya kerinduan Tuhan Yesus dalam doa-Nya menjadi kenyataan dalam hidup kita.

Benang Merah Tiga Bacaan

Kesadaran bahwa Allah memanggil siapapun dan bisa memakai siapapun untuk ambil bagian dalam karya pelayananNya. Setiap orang yang dipanggil dalam karyaNya, hendaknya juga percaya bahwa karena Anugrah Allah melalui kehadiran Yesuslah yang akan memampukan dan telah memberi jaminan hidup kekal. Maka, wujudnyatakanlah panggilan pelayanan seperti doa Tuhan Yesus, supaya para murid menjadi garam dan terang – mewujudkan kesatuan hati dengan kasih dengan sesama.

 

RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan; bisa dikembangkan sesuai konteks jemaat)

 

Pendahuluan

Teringat syair lagu di NKB 240, “Kuutus Kau” yang bertema panggilan pelayanan itulah menjadi titik berangkat refleksi bacaan. Syair lagu di NKB 240, “Kuutus Kau” pada bait 1 :

Kuutus ‘kau mengabdi tanpa pamrih. Berkarya t’rus dengan hati teguh.
Meski dihina dan menanggung duka, Kuutus kau mengabdi bagi-Ku
Kar’na Bapa mengutus-Ku, Kuutus ‘kau

Semangat panggilan nyanyian itu senada dengan bacaan hari ini yang mengemakan panggilan dalam melayani Tuhan di dunia ini. Pertanyaannya : sudah dan maukah kita respon panggilanNya dalam hidup?

Isi

Pada bulan dan minggu-minggu ini, kita mulai memasuki tahapan pemilihan dauran Penatua dan Diaken untuk masa pelayanan 2019 – 2021. Walau sebenarnya, pelayanan itu tidak dibatasi waktu. Namun, hal tersebut terkait penataan secara organisatoris sebagai pejabat khusus gereja. Secara Teologis, tugas dan tanggung jawab pelayanan adalah seumur hidup. Allah memanggil setiap kita untuk bersama ambil bagian dalam pelayanan, apapun bentuknya. Yang menarik dalam setiap dauran, ada sebuah istilah yang melekat yaitu “rebutan” bukan rebutan ingin menjadi, tapi rebutan “emoh” alias tidak mau. Ironis tentunya, sebuah panggilan pelayanan ditolak karena alasan-alasan yang selalu dibuat logis. Berangkat dari teks hari ini, kita refleksikan makna panggilan tersebut.

Melayani Tuhan itu apa? Pelayanan atau melayani Tuhan artinya pekerjaan dalam pelayanan gerejawi yang adalah kepunyaan Tuhan dilimpahkan atau dipercayakan kepada kita. Hal ini merupakan sesuatu yang luar biasa, karena kita menjadi rekan kerja Allah dalam mewujudkan kasih karya Allah di tengah dunia. Tuhan Yesus bahkan berdoa untuk para murid dan kita supaya semua mempunyai kesatuan hati untuk saling melayani dan menjadi berkat untuk sesama. Maka, seperti pekerjaan pelayanan yang dilakukan oleh Yesus, demikian juga pekerjaan pelayanan gerejawi merupakan pengutusan Yesus kepada kita. Kita melakukan pelayanan bukan sekedar rasa tertarik dan bukan karena ambisi pribadi, melainkan karena kita diutus oleh Tuhan yang empunya pekerjaan ini.

Matias merupakan orang yang dipilih untuk bersama melayani dan tidak menolak. Sikap ini mengingatkan, bahwa saat kita mempercayakan hidup dan kemampuan diri kita kepada Tuhan Yesus, yang telah menebus kita maka Tuhan akan memampukan. Status kita adalah sebagai utusan yang dipanggil melayani Dia, maka kita tidak bekerja untuk diri kita sendiri dan tidak bekerja sendiri. Maka, disatu sisi kita dipercayai dan ditanggungjawabi sebuah tugas. Dan disisi lain, kita ditopang, dimotivasi, diikutsertakan, dipakai, dimantapkan, diberi visi dan ditempatkan dalam jaringan kerja oleh Dia yang mengutus kita. Dengan demikian, panggilan Allah dalam hidup kita bukanlah hal yang sederhana dan remeh, juga tanggungjawab pelayanan kita bukanlah hal sederhana tapi berharga dan berarti. Maka persembahan hidup kita kepada Tuhan melalui apa yang ada di dalam diri kita itu sangat berharga untuk kemulyaan nama Tuhan. Kiranya lagu pujian dari NKB NKB 240, “Kuutus Kau” pada bait 1 :

Kuutus ‘kau mengabdi tanpa pamrih. Berkarya t’rus dengan hati teguh.
Meski dihina dan menanggung duka, Kuutus kau mengabdi bagi-Ku
Kar’na Bapa mengutus-Ku, Kuutus ‘kau

Kita dengar dan hayati alunannya sambil menikmati secangkir teh atau kopi panas dan bergumam dalam hati dengan suara : Ku Jawab ya..ya..ya…(2x), Ku Jawab Ya Tuhan (2x), ku Jawab ya… ya… ya…

Penutup

Perenungan hari ini kita ingat :

  1. Kita dipanggil untuk ambil bagian dalam karya pekerjaan pelayanan di dunia ini
  2. Setiap kita bisa dipanggil dan dipakai oleh Tuhan untuk mewujudkan karyaNya, tanpa memandang status social, kemampuan, dan pangkat. Semua bisa dipakai oleh Tuhan
  3. Kekuatan doa Tuhan Yesus bagi kita yang dipakaiNya dan saat kita percaya bahwa keselamatan melalui Tuhan Yesus telah nyata maka kita respon panggilanNya sebagai syukur dalam hidup

 

Nyanyian: KJ. 33 : 1-3

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi 

 

Pambuka

Kula inget syair pujian ing NKB 240, “Kuutus Kau” ingkang ngadah Tema tumbalan peladosan punika saget dados refleksi ing  waosan. Syair pujian ing NKB 240, “Kuutus Kau” pada bait 1 : 

Kuutus ‘kau mengabdi tanpa pamrih. Berkarya t’rus dengan hati teguh.
Meski dihina dan menanggung duka, Kuutus kau mengabdi bagi-Ku
Kar’na Bapa mengutus-Ku, Kuutus ‘kau

Semangat timbalan saking pepujian punika, selaras kaliyan waosan kita dinten punika ingkang ngadah gema timbalan nderek ngeladosi Gusti Allah ing satengah-tengahipun ndonya punika. Pitakenanipun : sampun lan punapa kita purun mireng timbalanipun Gusti Allah ing gesang?

Isi

Wonten ing wulan lan sasi punika, kita sampun lumebet ing tahapan pemilihan Daur Pinisepun lan Diakenipun pasamuwan kangge daur ing tahun 2019-2021. Sejatosipun, peladosan punika mboten dipun watesi wekdal. Nanging, sedaya perkawis punika kados punapa ingkang sampun katata dening pranata greja bab pejabat khusus greja. Sacara Teologis, tugas lan tanggel jawab peladosan punika wonten ing sauruting lampah gesang kita. Gusti Allah nimbali kita supados sami sesarengan mundut tanggel jawab ing peladosan, punapa kemawon wujudipun. Ingkang menarik, wonten ing proses dauran punika mesti katha ingkang rebutan, inggih rebutan “emoh” alias mboten kersa. Temtu punika dados keprihatinan kita sami, timbalanipun Gusti Allah wonten ing peladosan dipun tolak amargi katha alas an-alasan ingkang dipun damel logis. Saking waosan kita dinten punika, kita bade ngegilut makna saking timbalan punika.

Ngladosi Gusti punika punapa? Peladosan utawi ngeladosi Gusti punika ngadah artos pendamelan ing peladosan greja punika kagunganipun Gusti ingkang dipun paringaken utawi dipun pitadosaken dumateng kita. Punika temtu bab ingkang endah sanget, amargi kita punika dados rowang gawenipun Gusti allah kangge wujudaken sih rahmatipun Gusti Allah wonten ing satengah-tengahipun ndonya. Gusti Yesus ugi ndedonga kangge para sakabat lan ugi kita supados sedaya ngadah satunggal manah lan raos nderek lelados lan ngaldosi lan ugi dados berkat kangge sesami. Saking punika, supados pendamelan peladosan ingkang kados dipun tindakaken dening Gusti Yesus, mekaten ugi pendamelan peladosan gerejawi punika pangutusan Gusti Yesus dumateng kita sami. Kita nindakaken peladosan mboten naming kita tertariklan mboten amargi ambisi pribadi, nanging sedaya punika amargi kita sampun dipun utus Gusti Yesus ingkang kagungan peladosan punika.

Matias punika pribadi ingkang sampun kapilih lan mboten nolak timbalan punika. Sikap punika ngengetaken, bilih kita purun masrahaken gesang kita kanthi pitados lan ngaturaken sedaya kesagetan kita dening Gusti Yesus, ingkang sampun nebus kita temtu bade paring kemampuan lan kasagetan dumateng kita sami. Kita punika naming utusan ingkang dipun timbale supados ngeladosi Gusti Allah, bilih mekaten temtu kita mboten nindakaken peladosan kangge diri kita piyambak lan ugi mboten bade mlampah piyambak. Wonten ing satunggal sisi, kita dipun paring kapitadosan lan dipun paring tanggel jawab tugas. Lan ing sisi ingkang sanes, kita punika dipun topang, dipun motivasi, dipunderekaken, dipun mantepaken, lan dipun paring visi lan dipun lebetaken wonten ing jaringan pendamelan dening Gusti ingkang ngutus kita. Kanthi mekaten, timbalan Gusti Allah wonten ing gesang punika mboten bab ingkang sederhana lan remeh, ugi tanggel jawab peladosan punika sanes bab ingkang sederhana nanging ngadah aji lan ngadah artos ingkang ageng sanget. Saking punika, pisungsung gesang kita kagem Gusti Gusti Allah punika saget kita aturaken saking punapa ingkang wonten ing diri kita, amargi punika ngadah aji ingkang ageng kagem kaluhuranipun Gusti Allah. Mugi saking pujian NKB 240, “Kuutus Kau” pada bait 1: 

Kuutus ‘kau mengabdi tanpa pamrih. Berkarya t’rus dengan hati teguh.
Meski dihina dan menanggung duka, Kuutus kau mengabdi bagi-Ku
Kar’na Bapa mengutus-Ku, Kuutus ‘kau

Saget kita raos-raosaken kanthi mireng pepujian punika kanthi ngunjuk the utawi kopi panas lan ing manah kita memuji : Ku Jawab ya..ya..ya…(2x), Ku Jawab Ya Tuhan (2x), ku Jawab ya… ya… ya…

Panutup

Saking sabda pangandikanipun Gusti dinten punika, sumangga kita ingget :

  1. Kita dipun timbale nderek lelados wonten ing pendamelan pakaryanipun Gusti Allah ing ndonya puniki
  2. Sedaya pribadi kita dipun timbale lan saget dipun agem dening Gusti Allah wujudaken pakaryanipun, mboten kanthi mandang status social, kasagetan, lan ugi pangkat. Sedaya saget dipun agem dening Gusti Allah
  3. Kakiyatan pandonganipun Gusti Yesus kangge kita ingkang dipun agem lan kangge sedaya sok sintena kita ingkang pitados bilih kaslametan saking Gusti Yesus punika sampun nyata lan kita mireng timbalanipun Gusti ingkang dados wujud syukur wonten ing gesang

Pamuji: KPK. 137  

 

Bagikan Entri Ini: