Berpulih dengan Membangun Ketaatan Baru Khotbah Minggu 22 Februari 2026

9 February 2026

Minggu Pra Paskah 1
Stola Ungu

Bacaan 1: Kejadian 2 : 15 – 17; 3 : 1 – 7
Mazmur: Mazmur 32
Bacaan 2: Roma 5 : 12 – 19
Bacaan 3: Matius 4 : 1 – 11

Tema Liturgis: Bertobat, Memulihkan Rumah Tuhan
Tema Khotbah: Berpulih dengan Membangun Ketaatan Baru

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 2 : 15 – 17;  3 : 1 – 7
Dalam konteks historis dan budaya, kisah Taman Eden ini bukan sekadar cerita anak-anak. Kisah ini mencerminkan pandangan dunia Timur Kuno tentang asal-usul kejahatan dan penderitaan. Taman Eden sering kali diinterpretasikan sebagai “taman sukacita” atau “taman kenikmatan“, sebuah tempat yang sempurna di mana manusia hidup dalam harmoni total dengan Tuhan dan ciptaan. Tuhan menempatkan Adam di taman itu dengan satu tugas penting: “untuk mengolahnya dan memeliharanya” (Kej. 2:15). Istilah aslinya adalah le’ovdah ule’shomrah. Le’ovdah memiliki konotasi kerja keras yang produktif, sementara ule’shomrah mengandung makna “menjaga” atau “melindungi” dari bahaya. Ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan tidak hanya untuk bersenang-senang tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga ciptaan Tuhan, termasuk menjaga dirinya dari godaan.

Godaan ular dalam pasal 3 tidak datang dari luar taman, melainkan dari dalam. Ular dalam budaya Timur Tengah Kuno sering kali melambangkan sesuatu yang licik, berbahaya, dan tidak dapat dipercaya. Ia tidak langsung menyangkal perintah Tuhan, melainkan mengajukan pertanyaan yang meragukan, “Sungguhkah Tuhan berfirman…?” Strategi ini secara perlahan mengikis kepercayaan Hawa kepada TUHAN. Godaan ini berfokus pada keinginan (nechmad lemar’eh) dan hikmat (lehas’kil), yaitu hasrat untuk menjadi “seperti TUHAN”, yang merupakan bentuk kesombongan yang paling mendalam. Adam dan Hawa tidak hanya melanggar larangan makan buah, tetapi juga melanggar tanggung jawab mereka untuk menjaga diri mereka sendiri dan taman dari kejahatan. Pelanggaran ini adalah inti dari “kerusakan rumah Tuhan” yang pertama, yaitu rusaknya hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.

Roma 5 : 12 – 19
Memahami konteks sosial-historis surat Paulus kepada jemaat di Roma sangatlah penting. Paulus menulis untuk mempersatukan komunitas Kristen di Roma yang mengalami ketegangan antara orang-orang Yahudi dan non-Yahudi. Dalam perikop ini, ia menggunakan argumen teologis yang sangat akrab bagi orang Yahudi tentang dosa Adam untuk menjelaskan dampak universalnya bagi seluruh umat manusia. Paulus secara strategis membandingkan Adam dan Kristus. Adam, sebagai kepala representatif umat manusia, membawa dosa dan maut melalui satu tindakan ketidaktaatannya. Frasa Yunani dia henos anthropou (melalui satu orang) menekankan bahwa tindakan tunggal Adam memiliki konsekuensi universal bagi semua keturunannya. Konsep hamartia (dosa) di sini bukan hanya merujuk pada tindakan, melainkan sebuah kondisi keberdosaan yang diwariskan.

Namun, Paulus tidak berhenti pada keputusasaan. Ia melanjutkan dengan argumen kontras yang kuat, yang menjadi inti dari misi yang diemban Kristus. Jika dosa Adam membawa maut, maka ketaatan Kristus membawa pembenaran dan kehidupan. Di’ hēnos dikaiōmatos (melalui satu tindakan pembenaran) mengacu pada ketaatan sempurna Kristus hingga mati di kayu Salib. Perbandingan ini menunjukkan bahwa Yesus, sebagai “Adam yang baru,” tidak hanya membatalkan efek dosa Adam, tetapi juga menawarkan sesuatu yang jauh lebih besar: charin (kasih karunia) yang melimpah dan dōrean (karunia) pembenaran. Pemulihan “rumah Tuhan”, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan terjadi karena Kristus tidak hanya menggantikan ketidaktaatan Adam, tetapi juga menyediakan dasar yang baru bagi hubungan itu, yang sepenuhnya didasarkan pada kasih karunia dan bukan pada perbuatan manusia.

Matius 4 : 1 – 11
Kisah pencobaan Yesus di padang gurun ini sejajar dengan pengalaman Israel di padang gurun selama 40 tahun setelah keluar dari Mesir. Angka 40 hari dan 40 malam yang Yesus habiskan di padang gurun mengingatkan kita pada 40 tahun bangsa Israel diuji di tempat yang sama. Ini adalah sebuah pengulangan sejarah, di mana Yesus, sebagai “Israel yang sejati,” menghadapi godaan yang sama, yang gagal dihadapi oleh Israel di masa lalu. Padang gurun dalam tradisi Yahudi adalah tempat kesusahan dan ujian, tetapi juga tempat di mana Tuhan menyediakan pertolongan. Yesus tidak lari dari ujian, tetapi menghadapinya dengan sengaja, dipimpin oleh Roh.

Setiap godaan iblis merupakan serangan strategis yang mengincar ketaatan Yesus. Pencobaan pertama tentang makanan adalah ujian atas kebutuhan fisik, tetapi pada dasarnya adalah godaan untuk bergantung pada kuasa-Nya sendiri daripada percaya pada pemeliharaan Bapa. Pencobaan kedua, untuk melompat dari Bait Allah, adalah godaan untuk mencari validasi dan kemuliaan dari dunia, seolah-olah menguji janji Tuhan. Yesus mengalahkan kedua godaan ini dengan ketaatan mutlak pada Firman Tuhan, yang merupakan fondasi dari keputusan untuk memilih jalan yang benar.

Pencobaan ketiga adalah puncaknya. Iblis menawarkan kepada Yesus semua kerajaan di dunia, dengan syarat Ia menyembah iblis. Ini adalah pengulangan godaan Adam dan Hawa di mana mereka ingin memiliki kuasa dan kemuliaan “seperti Tuhan” tanpa harus tunduk pada-Nya. Iblis menawarkan jalan pintas untuk mendapatkan apa yang sebenarnya menjadi milik Yesus. Tetapi dengan tegas Yesus menolak godaan ini dengan ketaatan (Mat. 4:10). Pilihan ketaatan ini sepenuhnya memulihkan hubungan yang telah dirusak oleh ketidaktaatan Adam, dan membuktikan bahwa pemulihan rumah Tuhan hanya dapat terjadi melalui ketaatan yang sempurna.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Ketiga bacaan ini terjalin oleh satu benang merah: narasi tentang godaan, kejatuhan, dan pemulihan melalui ketaatan. Melalui kisah Taman Eden, dapat ditemukan bahwa ketidaktaatan satu orang (Adam) membawa dosa dan merusak harmoni antara Allah, manusia, dan seluruh ciptaan. Beralih ke padang gurun, di mana ketaatan sempurna dari satu orang (Yesus) mampu mengalahkan godaan, dapat menjadi sumber pemulihan (harmoni) antara Allah, manusia, dan seluruh ciptaan. Nasihat Paulus kepada Jemaat Roma mempertegas hal ini secara teologis, menunjukkan bahwa keruntuhan universal yang disebabkan oleh Adam kini diperbaiki secara universal oleh Kristus. Dengan demikian, ketiga teks ini secara progresif mengajarkan bahwa pertobatan (meninggalkan ketidaktaatan) dan pemulihan (kembali kepada ketaatan) bukanlah sekadar tindakan individu, melainkan bagian dari sebuah narasi besar yang dimulai di Eden dan disempurnakan di salib, yang memungkinkan kita untuk memulihkan hubungan dengan Tuhan, yaitu “rumah Tuhan” yang telah rusak.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Pernahkah kita merasa hidup ini seperti sebuah rumah yang sedang kita bangun, namun fondasinya terasa rapuh? Kita sibuk menata setiap ruangan —karier yang cemerlang, keluarga yang harmonis, dan hubungan yang hangat. Namun, di tengah semua kesibukan itu, kita menyadari ada retakan-retakan kecil yang muncul di mana-mana. Kita tahu ada sesuatu yang tidak beres, tetapi kita terus saja menambal retakan itu dengan kesibukan lain, berharap semuanya akan baik-baik saja. Namun, jauh di dalam hati, kita tahu “rumah” itu tidak kokoh, kita terus mengulangi kesalahan yang sama, terjebak dalam kebiasaan buruk yang merusak, dan akhirnya merasa hampa.

Ini bukan hanya cerita, ini adalah kenyataan hidup kita. Kita dibesarkan dalam dunia yang seolah-olah menawarkan kebebasan tak terbatas. “Ikuti kata hatimu,” kata dunia, tanpa pernah menjelaskan konsekuensinya. Di layar ponsel kita, hidup orang lain tampak begitu sempurna, penuh tawa dan kebahagiaan. Tanpa sadar, kita membandingkan diri kita, merasa semakin kosong dan kehilangan arah. Pilihan-pilihan kecil yang tidak jujur pada diri sendiri, perlahan-lahan meruntuhkan fondasi yang kita bangun. Kita mungkin sukses di mata orang, tetapi di dalam batin, kita tahu ada sesuatu yang rusak dan perlu diperbaiki. Kita perlu berpulih.

Kita hidup di tengah masyarakat yang terus-menerus mendefinisikan ulang apa arti keberhasilan dan kebahagiaan. Sering kali, definisi itu membawa kita pada jalan yang jauh dari apa yang seharusnya. Kita merasa lelah karena terus-menerus memenuhi tuntutan, baik dari orang lain maupun dari diri sendiri, yang membuat kita kehilangan kendali atas hidup. Akibatnya, kita menjadi pasif, membiarkan diri kita terbawa arus, dan mengorbankan hal-hal yang paling berharga. Ini adalah momen di mana kita perlu berhenti dan bertanya: siapa sebenarnya yang memimpin hidup ini? Apakah kita benar-benar bebas, ataukah kita hanya menukar satu bentuk perbudakan dengan yang lain?

Isi
Menjalani kenyataan hidup yang penuh dengan godaan sering kali membuat kita putus asa, hingga membuat kita memilih jalan pintas yang kita harapkan dapat mengubah kenyataan pahit itu seketika menjadi kenyataan yang manis dan membahagiakan. Sebagaimana yang dituliskan oleh Matius 4:1-11 tentang kisah pencobaan Tuhan Yesus di padang gurun. Di tengah kondisi-Nya yang lemah setelah berpuasa empat puluh hari, Yesus dihadapkan pada tiga pencobaan yang menargetkan kebutuhan dan identitas-Nya. Pencobaan pertama adalah mengubah batu menjadi roti, yang menyerang kebutuhan fisik-Nya. Pencobaan kedua adalah melompat dari Bait Allah untuk membuktikan kekuasaan-Nya, yang menyerang keinginan-Nya akan pengakuan dan validasi. Dan pencobaan terakhir adalah menyembah iblis untuk mendapatkan semua kerajaan di dunia, yang menyerang hasrat-Nya akan kekuasaan. Melalui semua itu, Yesus menunjukkan bahwa ketaatan-Nya bukanlah tindakan pasif, melainkan sebuah perjuangan aktif dan penuh kesadaran. Yesus mengalahkan setiap godaan dengan jawaban yang sama: “Ada tertulis,” sebuah tindakan yang menegaskan bahwa Dia memilih untuk tunduk pada otoritas Firman Tuhan, bukan pada hasrat atau logika diri-Nya.

Sikap ketaatan Yesus ini sangat kontras dengan apa yang terjadi di Kejadian 2:15-17; 3:1-7. Di Taman Eden, Adam dan Hawa hidup dalam kelimpahan. Mereka tidak berada dalam kondisi lemah atau kelaparan. Namun, godaan yang datang pada mereka justru tidak menyerang kebutuhan fisik, melainkan keinginan untuk menjadi “seperti Tuhan.” Ular tidak memaksa mereka; ia hanya mengajukan pertanyaan yang meragukan Firman Tuhan dan membangkitkan keinginan di dalam hati mereka. Adam dan Hawa, yang seharusnya menjaga dan memelihara Taman Eden dan diri mereka, justru memilih tidak taat. Mereka tidak menanggapi godaan dengan Firman Tuhan, melainkan dengan keraguan yang akhirnya membuat mereka jatuh. Jika ketaatan Adam dan Hawa adalah sebuah pilihan, maka ketidaktaatan mereka adalah sebuah keputusan yang merusak hubungan mereka dengan Tuhan, sesama, dan ciptaan.

Dari dua kisah ini, kita dapat melihat pola yang jelas: godaan selalu datang untuk mematahkan ketaatan kita, baik melalui kekurangan (seperti Yesus di padang gurun) atau melalui kelimpahan (seperti Adam dan Hawa di Taman Eden). Paulus dalam Roma 5:12-19 menguatkan pola ini secara teologis. Ia menjelaskan bahwa “oleh satu orang, dosa masuk ke dalam dunia, dan oleh dosa itu juga maut.” Tindakan ketidaktaatan Adam telah merusak seluruh umat manusia, menciptakan sebuah kondisi universal di mana setiap kita cenderung tidak taat dan terjebak dalam dosa. Kita mewarisi keruntuhan ini, sehingga “rumah Tuhan” di dalam hati kita menjadi rusak. Paulus menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang kebal dari kondisi ini.

Namun, kabar baiknya, Paulus juga mengatakan bahwa “oleh satu perbuatan kebenaran, semua orang beroleh pembenaran untuk hidup.” Kristus adalah “Adam yang baru.” Melalui ketaatan-Nya yang sempurna hingga mati di kayu Salib, Ia telah membatalkan efek dari ketidaktaatan Adam. Ketaatan Kristus tidak hanya mengembalikan kita ke posisi awal, tetapi juga memberikan kita karunia yang melimpah dan pembenaran. Kita tidak dipanggil untuk memulihkan diri kita sendiri dengan kekuatan kita, melainkan untuk menerima anugerah pemulihan itu dan mulai membangun hidup baru yang didasarkan pada ketaatan kepada Firman-Nya, mengikuti teladan Kristus yang telah menang atas setiap godaan.

Penutup
Pada akhirnya, kita kembali pada pertanyaan di awal: “Mengapa sering kali kita terjebak untuk terus mengulangi kesalahan yang sama?” Jawabannya terletak pada warisan ketidaktaatan yang telah merusak “rumah Tuhan” di dalam hati kita. Kisah Adam dan Hawa, serta penjelasan Paulus, mengingatkan kita akan kondisi manusia yang rentan. Namun, kisah pencobaan Tuhan Yesus di padang gurun adalah sebuah pengharapan bagi kita: bahwa pemulihan itu sangat mungkin terjadi, ketika kita mau berjuang untuk berpulih.

Mari kita mengambil langkah ketaatan yang baru hari ini. Jika Adam memilih ketidaktaatan, dan Yesus memilih ketaatan, maka kita pun harus membuat pilihan yang sama seperti Yesus. Jangan biarkan hidup ini menjadi sekadar lingkaran retakan yang terus-menerus ditambal. Masa Pra-Paskah ini adalah kesempatan kita untuk berpulih, untuk meninggalkan jalan pintas dan memulai pembangunan ulang “rumah Tuhan” di dalam diri kita. Marilah kita mengakui kelemahan kita, menerima pemulihan yang ditawarkan oleh Kristus, dan bersama-sama membangun ketaatan yang baru. Amin. [YEP].

 

Pujian: KJ. 436  Lawanlah Godaan

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Punapa panjenengan nate rumaos bilih gesang ingkang kita lampahi punika kados griya ingkang taksih kita bangun, ananging pondasinipun taksih kraos ringkih? Kita sibuk nata saben ruangan—panyambut damel ingkang sae, brayat ingkang harmonis, lan pasrawungan ingkang kebak ing karukunan. Nanging, ing satengah-tengahing sadaya kalawau, kita mangertosi bilih wonten retak-retak alit ingkang kita panggihi ing pundi-pundi papan. Kita sejatosipun mangertosi bilih wonten babagan ingkang mboten leres, ananging kita namung saged ngupadi nembel retakan kalawau ngangge kesibukan lintunipun, lajeng nggadhahi pangajeng-ajeng bilih sadayanipun badhe sae-sae kemawon. Ananging, wonten ing salebeting manah kita, kita mangertosi bilih “griya” punika mboten kiyat. Kita sacara terus-terusan ngambali kalepatan ingkang sami, kejeglong wonten ing pakulinan awon ingkang sansaya ngrisak, lan pungkasanipun ngraosaken gesang tanpa isi.

Bab punika sanes namung cariyos apus-apus, nanging saestu kasunyatan ingkang kita lampahi. Kita dipun lairaken ing alam donya ingkang kados-kadosipun maringi kamardikan tanpa wates. “Lakonana apa kang dadi kekarepaning atimu”, tanpa nate njlentrehaken punapa ingkang dados konsekuensi-nipun. Wonten ing layar HP kita, kita ningali kawontenan gesangipun tiyang sanes katon sampurna, kebak ing kabingahan lan kabegjan. Tanpa sadhar, kita mbandhingaken gesang kita piyambak, lajeng rumaos sansaya tanpa isi lan kesasar. Pilihan-pilihan alit ingkang mboten jujur dhateng kawontenan gesangipun piyambak, sekedhik mbaka sekedhik saged ngrisak pondasi ingkang sampun kita wangun. Mbok menawi kita katingal sukses ing paningalanipun tiyang sanes, ananging wonten ing batin kita piyambak, kita mangertosi bilih wonten bab ingkang risak ingkang kedah kita dandosi. Kita kedah pulih.

Kita gesang ing satengah-tengahing masyarakat ingkang sacara terus-terusan nggantos definisi punapa sejatosipun sukses lan kabegjan punika. Asring, definisi punika mbeta kita dhateng margi ingkang sansaya tebih saking margi ingkang kedah kita liwati. Kita ngrasosaken sayah amargi sacara terus-terusan nyekapi tuntutan, sae ingkang kalair saking tiyang sanes utawi dhiri kita piyambak, punika ingkang ndadosaken kita kecalan kendali dhateng gesang kita piyambak. Satemah, kita dados pasif, namung saged pasrah kabeta lampahipun donya, ugi ngorbanaken bab-bab ingkang paling mirunggan. Sapunika, dumugi wancinipun kita jumeneng lan niti pirsa: sinten sejatosipun ingkang mimpin lampahing gesang kita? Punapa saestu kita sampun dados tiyang ingkang mardika, utawi namung nggantos satunggal wujud perbudakan dados wujud sanesipun?

Isi
Nglampahi kasunyatan gesang ingkang kebak pacoban asring ndadosaken kita semplah, ngantos damel kita milih margi pintas ingkang kita ajab saged ngubah kasunyatan pait punika dados kasunyatan ingkang manis lan ngremenaken. Kados ingkang dipun serat ing Matius 4:1-11 nyariyosaken pacobaning Gusti Yesus ing ara-ara samun. Ing satengah-tengahing kahanan ingkang ringkih sasampunipun siyam sekawan dasa dinten sekawan dasa dalu, Gusti Yesus dipun adhepaken kaliyan tigang pacoban ingkang ngincimaken kabetahan lan jatidhiri-Ipun. Pacoban ingkang kapisan inggih punika ngewahi sela dados roti, ingkang nyerang kabetahan fisik-Ipun. Pacoban ingkang kaping kalih inggih punika mlumpat saking Pamaradan Suci saperlu mbuktekaken panguwaos-Ipun, ingkang nyerang kekarepan-Ipun bab pangaken lan validasi. Pacoban pungkasan inggih punika kersaa Panjenenganipun nyembah iblis saperlu angsal sadaya karajan ing donya, ingkang nyerang kekarepan-Ipun bab panguwaos. Ngewrat sadaya punika, Gusti Yesus nedahaken bilih ketaatan-Ipun sanes tindakan pasif, ananging setunggaling perjuangan aktif lan kebak ing kasadharan. Gusti Yesus ngasoraken saben pacoban kaliyan wangsulan ingkang sami: “Wonten kaserat,” satunggaling tumindhak ingkang negesaken bilih Panjenenganipun milih manut dhateng panguwaos Sabdaning Gusti, sanes dhateng kekarepan utawi logika dhiri-Ipun piyambak.

Pilihan manut miturutipun Gusti Yesus punika benten sanget kaliyan punapa ingkang kalampahan ing Purwaning Dumadi 2:15-17; 3:1-7. Ing Taman Eden, Adam lan Hawa gesang ing kaluberan. Mboten wonten ing kahanan ringkih utawi kaliren babar pisan. Ananging, pacoban ingkang dipun aben-ajengi punika malah mboten nyerang kabetahan fisik, ananging kekarepan dados “kados Gusti.” Ula mboten meksa; ula namung ngajukaken pitakenan ingkang ndadosaken kekalihipun mangu-mangu dhateng Sabdaning Gusti lan nuwuhaken kekarepan wonten ing salebeting manahipun. Adam lan Hawa, ingkang samesthinipun njagi lan nggulawentah Taman Eden lan dhiripun piyambak, malah milih mboten manut. Kekalihipun mboten nanggapi pacoban ngginakaken Sabdanipun Gusti, ananging ngginakaken pikajengipun piyambak kepara ing pungkasanipun dhawah. Menawi ketaatan Adam lan Hawa punika kita sebat dados satunggaling pilihan, pramila mboten taatipun Adam lan Hawa punika dados kaputusan ingkang ngrisak pasrawungan kekalihipun kaliyan Gusti, sesami, lan titah sadayanipun.

Saking kalih cariyos punika, kita saged ningali pola ingkang cetha: pacoban punika dugi kangge mutungaken ketaatan kita, sae punika lumantar kakirangan (kados Gusti Yesus ing ara-ara samun) utawi lumantar kaluberan (kados Adam lan Hawa ing Taman Eden). Paulus ing Roma 5:12-19 paring paneges sacara teologis. Piyambakipun mratelakaken bilih “saking setunggal tiyang, dosa mlebet ing donya, lan saking dosa punika ugi pejah.” Tindakan mboten taatipun Adam sampun ngrisak sadaya umat manungsa, damel sadaya manungsa ingkang gesang ing alam donya mboten saged ngadhepi pacoban. Kita marisi karisakan punika, saengga “Padalemanipun Gusti” wonten ing manah kita dados risak. Paulus negesaken bilih mboten wonten setunggal tiyang ingkang kebal saking kahanan punika.

Nanging, warta saenipun, Paulus ugi dhawuh bilih “saking setunggal pakaryan kabeneran, sadaya tiyang angsal kabenaran kangge gesang.” Sang Kristus punika “Adam ingkang enggal.” Lumantar ketaatan-Ipun ingkang sampurna ngantos pejah ing salib, Panjenenganipun sampun mbatalaken efek saking mboten taatipun Adam. Ketaatanipun Sang Kristus mboten namung ngunduraken kita dhateng posisi awal, ananging ugi maringi kita sih kanugrahan ingkang luber lan kawilujengan. Punika dhasar saking “Berpulih dengan Membangun Ketaatan yang Baru.” Kita mboten dipun timbali kangge mulihaken dhiri kita piyambak ngginakaken kakiyatan kita, ananging lumantar nampi kanugrahan pamulihan punika lan miwiti mbangun gesang enggal ingkang dipun dhasaraken kasetyan dhumateng Sabdanipun Gusti, ndherek tuladhanipun Sang Kristus ingkang sampun menangi saben pacoban.

Panutup
Ing pungkasanipun, kita wangsul malih dhateng pitakenan ingkang sampun kaserat ing wiwitan: “Kenging punapa kita asring kejeglong kangge ngambali kalepatan ingkang sami sacara terus-terusan?” Wangsulanipun dumunung ing warisan mboten taat ingkang sampun ngrisak “griya Gusti” ing salebeting manah kita. Cariyos Adam lan Hawa, ugi katrangan Paulus, ngemutaken kita babagan kahananipun manungsa ingkang ringkih lan gampil dhawah wonten ing pacoban. Ananging, cariyos pacobaning Gusti Yesus ing ara-ara samun punika dados setunggaling pangajeng-ajeng kangge kita: bilih pamulihan punika saestu saged kalampahan, nalika kita purun merjuang kangge pulih.

Sumangga kita mendhet lampah kasetyan ingkang enggal dinten punika. Menawi Adam milih mboten wanuh, lan Gusti Yesus milih wanuh, pramila kita ugi kedah damel pilihan ingkang sami kados dene Gusti Yesus. Sampun ngantos gesang kita punika namung dados satunggaling retakan ingkang terus-terusan dipun tambal. Mangsa Pra-Paskah punika dados satunggaling wekdal kita kangge pulih, kangge nilaraken margi pintas, lan miwiti mangun malih “Padalemanipun Gusti” ing salebeting dhiri kita. Sumangga kita ngakeni kakirangan kita, nampi pamulihan ingkang dipun tawaraken dening Sang Kristus, lan sesarengan mbangun ketaatan ingkang enggal. Amin. [YEP].

 

Pamuji: KPJ. 124  Kula Sestu Ndherek Gusti

Renungan Harian

Renungan Harian Anak