Menjadi Garam dan Terang: Merawat Keutuhan Ciptaan Khotbah Minggu 8 Februari 2026

26 January 2026

Minggu Biasa 4 | Penutupan Bulan Penciptaan
Stola Hijau

Bacaan 1: Yesaya 58 : 1 – 12
Mazmur: Mazmur 112 : 1 – 10
Bacaan 2: 1 Korintus 2 : 1 – 16
Bacaan 3: Matius 5 : 13 – 20

Tema Liturgis: Dipanggil untuk Merawat Keutuhan Ciptaan
Tema Khotbah: Menjadi Garam dan Terang: Merawat Keutuhan Ciptaan

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 58 : 1 – 12
Kitab Yesaya 56 – 66 dikenal sebagai bagian Yesaya Trito (Yesaya III), ditulis setelah pembuangan di Babel (sekitar abad ke-6 SM). Umat Israel sudah kembali ke Yerusalem, tetapi hidup mereka masih diliputi kesulitan: kota hancur, kemiskinan merajalela, ketidakadilan sosial terjadi dimana-mana, dan ibadah yang dangkal. Pasal 58 menegur umat yang tekun beribadah (puasa, doa, ritual) namun gagal mempraktikkan keadilan sosial. Tuhan melalui nabi Yesaya menegaskan bahwa ibadah sejati bukan sekadar ritual, melainkan tindakan kasih dan keadilan.

Umat Israel setelah kembali dari pembuangan Babel, mereka begitu bersemangat membangun kembali kehidupan rohani mereka. Mereka mencari Tuhan, berpuasa, berdoa, bertanya tentang hukum-hukum Allah, seolah-olah rindu mendekat kepada-Nya. Secara lahiriah, tampaknya bangsa Israel adalah bangsa yang saleh dan religius, tetapi Tuhan yang melihat hati, menyingkapkan kenyataan yang lebih dalam: ibadah mereka ternyata tidak sejalan dengan cara mereka hidup. Mereka memang berpuasa, tetapi pada hari puasa itu mereka tetap mencari keuntungan bagi mereka sendiri. Mereka memang menundukkan kepala, mengenakan kain kabung, dan tidur di atas abu, tetapi dalam kesehariannya mereka masih menindas para pekerja, masih bertengkar, dan mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. Dengan kata lain, ibadah mereka hanyalah ritual kosong semata tanpa transformasi hidup.

Melalui nabi Yesaya, Tuhan menegur dengan suara lantang bagaikan sangkakala. Ia menolak puasa yang hanya menampilkan kesalehan lahiriah tetapi tidak membawa perubahan nyata dalam relasi sosial. Tuhan tidak terpesona oleh kepala yang tertunduk atau tubuh yang terbungkus kain kabung. Yang Ia rindukan adalah hati yang luluh dan tangan yang terulur untuk menolong sesama. Maka Tuhan mendefinisikan ulang makna puasa sejati, yaitu bukan sekadar menahan diri dari makanan dan minuman, melainkan melepaskan belenggu kelaliman, membebaskan orang tertindas, memberi makan orang lapar, menyediakan rumah bagi yang miskin, menutupi tubuh yang telanjang, dan tidak berpaling dari saudaranya sendiri.

Di sini kita melihat bahwa bagi Allah, ibadah tidak bisa dipisahkan dari kasih kepada sesama. Hubungan vertikal dengan Tuhan harus terwujud dalam hubungan horizontal dengan sesama manusia. Ketika umat melaksanakan ibadah sejati yang demikian, janji-janji Tuhan pun mengalir: terang mereka akan merekah seperti fajar, luka-luka mereka akan cepat sembuh, doa-doa mereka akan dijawab, dan hidup mereka akan dituntun serta dipelihara oleh Tuhan. Bahkan dalam kegelapan sekalipun, hidup mereka akan bersinar bagaikan tengah hari, dan mereka akan seperti taman yang terus-menerus disirami. Lebih jauh lagi, Tuhan menjanjikan pemulihan yang bersifat komunal. Mereka yang hidup dalam kasih dan keadilan akan menjadi pembangun kembali reruntuhan, pemulih dasar-dasar generasi, dan pembaru jalan bagi orang banyak. Artinya, ibadah sejati tidak hanya membawa berkat pribadi, tetapi juga membawa pemulihan sosial yang menyentuh kehidupan bangsa secara luas.

Yesaya 58:1–12 dengan demikian berbicara keras kepada umat di segala zaman: Tuhan menolak kemunafikan religius. Ia tidak terkesan dengan ibadah yang indah tetapi kosong dari kasih. Yang Ia kehendaki adalah ibadah yang diwujudkan dalam keadilan sosial, dalam solidaritas terhadap yang lemah, dan dalam kepedulian kepada sesama manusia. Hanya di sana terang umat Tuhan akan bersinar dan hanya di sana pemulihan sejati akan terjadi.

1 Korintus 2 : 1 – 16
Ketika Paulus menulis suratnya kepada jemaat di Korintus, ia sedang menghadapi komunitas yang terpecah karena berbagai pengaruh duniawi. Kota Korintus sendiri dikenal sebagai kota kosmopolitan yang makmur, pusat perdagangan, dan juga pusat retorika, serta filsafat Yunani. Di sana, kemampuan berbicara indah, retorika yang mengesankan, dan hikmat filsafat sangat dihargai. Tidak heran jika Jemaat Korintus, yang hidup dalam atmosfer budaya seperti itu, tergoda menilai pelayanan Paulus dengan ukuran dunia: kefasihan bicara, kekuatan logika, atau daya tarik retorika. Namun Paulus dengan tegas mengingatkan bahwa ia datang ke Korintus bukan dengan keindahan kata-kata atau kepandaian filsafat. Ia tidak membangun imannya di atas retorika manusia, tetapi di atas kesaksian tentang Yesus Kristus yang disalibkan. Salib – sebuah simbol kebodohan bagi orang Yunani dan batu sandungan bagi orang Yahudi – justru menjadi inti pemberitaan Paulus. Dengan demikian, iman jemaat tidak boleh berdiri di atas hikmat manusia, melainkan di atas kuasa Allah yang menyelamatkan.

Bagi Paulus, Injil bukanlah suatu teori filsafat yang dapat diperdebatkan dengan logika manusia, melainkan sebuah pewahyuan ilahi yang hanya dapat dimengerti dengan pertolongan Roh Kudus. Hikmat yang ia ajarkan bukan berasal dari dunia ini, bukan pula dari penguasa-penguasa zaman ini yang akan lenyap, melainkan hikmat Allah yang tersembunyi sejak semula dan kini dinyatakan di dalam Kristus. Hikmat itu tidak bisa dijangkau oleh kecerdasan manusia semata, sebab Allah merencanakan keselamatan jauh melampaui akal budi manusia. Paulus lalu mengutip nubuat, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah timbul dalam hati manusia, semua itu disediakan Allah bagi mereka yang mengasihi Dia.” (Ay. 9). Artinya, keselamatan di dalam Kristus adalah karya Allah yang melampaui semua daya nalar manusia. Hal ini hanya dapat disingkapkan oleh Roh Kudus, sebab hanya Roh Allah yang menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam hati Allah.

Seperti halnya hanya roh seseorang yang mengetahui isi hati orang itu, demikian pula hanya Roh Allah yang mengetahui pikiran Allah. Karena itu, Paulus menegaskan bahwa kita yang percaya telah menerima Roh yang berasal dari Allah, bukan roh dunia. Dengan demikian, kita dimampukan untuk mengerti karunia Allah dan mengajarkannya bukan dengan kata-kata hikmat manusia, melainkan dengan pengajaran yang diajarkan oleh Roh. Roh Kuduslah yang memampukan orang percaya memahami hal-hal rohani. Tetapi Paulus juga menyadari bahwa manusia duniawi, yang hidup tanpa Roh, tidak akan dapat menerima hal-hal yang berasal dari Roh Allah. Bagi mereka, semua itu tampak sebagai kebodohan. Hanya manusia rohani, yakni mereka yang hidup dipimpin oleh Roh Kudus, yang dapat menilai segala sesuatu dengan benar. Pada akhirnya, Paulus menutup bagian ini dengan pernyataan penuh kekuatan, “Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.” (Ay. 16). Dengan itu ia menegaskan bahwa orang percaya, melalui Roh Kudus, sungguh-sungguh dapat masuk dalam relasi dengan Allah dan mengerti maksud-Nya.

1 Korintus 2:1–16 menegaskan bahwa iman Kristen tidak dibangun atas dasar kepandaian manusia, tetapi atas dasar kuasa Allah yang dinyatakan dalam salib Kristus. Hanya melalui Roh Kudus, orang percaya dapat mengerti hikmat Allah yang tersembunyi dan hidup sebagai manusia rohani. Pada akhirnya, kita dipanggil untuk memiliki pikiran Kristus, yaitu cara pandang yang dituntun oleh kasih, kerendahan hati, dan kuasa salib.

Matius 5 : 13 – 20
Injil Matius 5 adalah bagian dari Khotbah di Bukit, salah satu ajaran Yesus yang paling mendasar mengenai hidup sebagai murid. Setelah menyampaikan Ucapan Bahagia (Mat. 5:1–12), Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dengan gambaran identitas murid-murid-Nya, yaitu garam dunia dan terang dunia. Lalu Ia menegaskan relasi-Nya dengan Hukum Taurat dan para nabi.

Yesus berkata, “Kamu adalah garam dunia.” Garam pada zaman itu memiliki dua fungsi utama, yaitu memberi rasa dan mengawetkan makanan. Dengan perumpamaan ini, Yesus menegaskan bahwa keberadaan murid-murid-Nya di dunia seharusnya membawa kualitas hidup yang berbeda, memberi rasa bagi dunia yang tawar, dan mencegah kebusukan moral serta spiritual. Namun ada peringatan serius: jika garam kehilangan rasa asinnya, ia tidak berguna lagi. Artinya, murid Kristus yang kehilangan identitas dan kesaksian imannya tidak akan berpengaruh apa-apa, bahkan bisa menjadi batu sandungan.

Yesus juga berkata, “Kamu adalah terang dunia.” Terang berfungsi menghalau kegelapan dan menuntun orang pada jalan yang benar. Murid Kristus dipanggil untuk hidup transparan, sehingga orang lain dapat melihat karya Allah melalui perbuatan mereka. Seperti kota di atas gunung yang tidak bisa disembunyikan, demikianlah kesaksian orang percaya seharusnya nyata. Seperti pelita yang ditempatkan di atas kaki dian untuk menerangi seisi rumah, demikian pula kehidupan Kristen mesti memberi dampak bagi lingkungan sekitarnya. Tujuannya bukan untuk memuliakan diri sendiri, melainkan supaya orang lain “melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di surga.

Setelah berbicara tentang identitas murid, Yesus mengantisipasi pertanyaan besar, Apakah ajaran-Nya berarti membatalkan hukum Taurat? Ia menegaskan, “Jangan kamu sangka Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Di sini Yesus menunjukkan hubungan-Nya yang unik dengan Taurat. Ia bukan revolusioner yang menolak hukum Allah, tetapi Mesias yang menggenapi maksud terdalam hukum itu. Taurat menantikan pemenuhannya, dan dalam Kristus, seluruh kehendak Allah dijalankan secara sempurna. Karena itu, Yesus menekankan bahwa tidak ada satu iota atau satu titik pun dari Taurat yang akan lenyap sebelum semuanya terjadi. Dengan kata lain, hukum Allah tetap berotoritas sampai tuntas rencana-Nya digenapi.

Lalu Yesus memberi peringatan: siapa yang mengabaikan perintah terkecil sekalipun dan mengajarkannya demikian kepada orang lain akan disebut yang terkecil dalam Kerajaan Surga. Tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan hukum itu akan disebut besar. Puncaknya, Yesus menyatakan bahwa kebenaran para murid harus melampaui kebenaran ahli Taurat dan orang Farisi, jika mereka mau masuk ke dalam Kerajaan Surga. Ini adalah pernyataan radikal. Orang Farisi dan ahli Taurat terkenal ketat dalam memelihara hukum, tetapi Yesus menyingkapkan bahwa kebenaran yang Allah kehendaki bukan sekadar kepatuhan lahiriah, melainkan kebenaran yang lahir dari hati yang diubahkan. Dengan demikian, kebenaran yang Yesus maksud bukan soal kuantitas aturan yang ditaati, tetapi kualitas hidup yang berakar dalam kasih, kemurnian hati, dan ketaatan sejati kepada Allah.

Matius 5:13–20 mengingatkan bahwa identitas murid Kristus adalah garam dan terang dunia, dipanggil untuk menghadirkan rasa dan cahaya dalam dunia yang tawar dan gelap. Kesaksian hidup menjadi sarana supaya orang memuliakan Allah. Yesus menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk membatalkan Taurat, melainkan untuk menggenapinya. Dengan demikian, kebenaran yang dikehendaki Allah bukanlah ketaatan lahiriah seperti orang Farisi, melainkan kebenaran sejati yang lahir dari hati yang diubahkan.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Ketiga bacaan menegaskan bahwa iman sejati selalu berbuah pada tindakan nyata yang memulihkan kehidupan.

  • Yesaya 58:1–12 menegur ibadah yang hanya berhenti pada ritual tanpa kepedulian. Ibadah sejati adalah membebaskan yang tertindas, memberi makan yang lapar, dan memulihkan yang hancur. Inilah panggilan untuk merawat keutuhan hidup sosial dan ciptaan.
  • 1 Korintus 2:1–16 menegaskan bahwa hikmat Allah, yang dinyatakan dalam salib Kristus, hanya dapat dimengerti melalui Roh Kudus. Roh yang sama memberi kita “pikiran Kristus” untuk melihat ciptaan bukan dengan kacamata keserakahan dunia, melainkan dengan kasih dan tanggung jawab.
  • Matius 5:13–20 mengingatkan bahwa murid Kristus adalah garam dan terang dunia. Artinya, orang percaya dipanggil menjadi saksi yang menjaga dunia dari kebusukan moral dan kerusakan ciptaan, serta memancarkan terang kasih Allah melalui perbuatan yang nyata.

Dengan demikian, benang merahnya adalah: Allah memanggil umat-Nya untuk mewujudkan iman dalam kasih, keadilan, dan kesaksian hidup, dengan cara merawat, memulihkan, dan menjaga keutuhan ciptaan. Kita menjadi garam dan terang yang menghadirkan syalom Allah, dengan pikiran Kristus yang membimbing kita untuk hidup selaras dengan kehendak Sang Pencipta.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Pernahkah saudara semua melihat sebuah bendungan atau sungai yang dulu airnya jernih dan penuh ikan, tetapi kini menjadi keruh, kotor, bahkan berbau? Ada banyak faktor penyebabnya, seperti sampah yang dibuang sembarangan, limbah pabrik, atau penebangan liar di hulu. Yang menarik, kerusakan itu tidak terjadi sekaligus, melainkan perlahan-lahan, dimulai dari ketidakpedulian kecil.

Hidup kita sebagai umat Allah dan panggilan kita untuk merawat ciptaan sering kali juga seperti itu. Bumi tidak rusak seketika, tetapi pelan-pelan karena keserakahan dan kelalaian manusia. Bulan Penciptaan yang kita rayakan selama sebulan penuh adalah saat kita merenung, “Apakah ibadah dan kehidupan kita sungguh-sungguh merawat ciptaan, atau justru ikut mempercepat kerusakannya?”

Isi
Nabi Yesaya menegur bangsa Israel yang beribadah dengan sungguh-sungguh secara lahiriah: mereka berpuasa, mereka berdoa, bahkan mereka bertanya kepada Tuhan, “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya?” (Ay. 3). Tetapi Tuhan menjawab keras: ibadahmu sia-sia karena tidak berdampak pada kehidupan sehari-hari. Mereka masih menindas sesama, masih mencari untung sendiri, masih saling berkelahi dan bertengkar. Di sini kita melihat, bagi Tuhan ibadah sejati bukan hanya soal ritual, melainkan tindakan yang membawa pemulihan relasi dengan sesama, dengan masyarakat, bahkan dengan ciptaan. Yesaya menegaskan: ibadah sejati adalah “membuka belenggu kelaliman, melepaskan tali kuk, memerdekakan orang yang tertindas, dan mematahkan setiap kuk.” (Ay. 6).

Bagi kita di zaman ini, ibadah sejati juga berarti melepaskan “kuk” yang membebani bumi: rakus akan energi, membuang sampah sembarangan, menebang hutan tanpa memikirkan generasi mendatang. Bukankah semua ini adalah bentuk penindasan terhadap ciptaan? Maka ibadah sejati menuntun kita untuk ikut serta dalam restorasi ciptaan: menjaga sungai, merawat tanah, mengurangi konsumsi plastik, dan memilih gaya hidup sederhana. Itulah bentuk “puasa” kita hari ini: menahan diri agar bumi tetap lestari. Dan janji Tuhan jelas, “Tuhan akan menuntun engkau senantiasa… engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik, dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.” (Ay. 11). Dengan kata lain, siapa yang hidup dalam ibadah sejati akan menjadi sumber berkat, bukan sumber kerusakan.

Apakah mudah? Tentu saja tidak. Diperlukan kesungguhan dan hikmat yang dari Tuhan, supaya kita mampu melakukannya. Kita bisa belajar dari rasul Paulus. Ketika ia menulis suratnya kepada Jemaat Korintus, ia berhadapan dengan budaya yang sangat mengagungkan filsafat, retorika, dan kecerdasan intelektual. Tetapi Paulus menolak mengandalkan kata-kata indah. Ia justru memberitakan Kristus yang tersalib, sesuatu yang dianggap lemah dan bodoh oleh dunia, namun di situlah letak hikmat Allah yang sejati.

Apakah artinya bagi kita dalam konteks penciptaan? Dunia modern kita sering kali melihat bumi ini dari perspektif “hikmat dunia”: Alam dianggap hanya sebagai sumber daya yang bisa dieksploitasi demi keuntungan ekonomi. Semua diukur dari profit, efisiensi, dan pertumbuhan. Tetapi dengan “pikiran Kristus”, kita melihat ciptaan dengan kacamata berbeda: bumi bukan sekadar aset, melainkan rumah bersama. Sungai bukan sekadar air, melainkan sumber kehidupan. Tanah bukan sekadar lahan, melainkan tubuh ibu yang menopang kita. Roh Kudus menyingkapkan kepada kita bahwa seluruh ciptaan ada dalam kasih karunia Allah. Maka dengan pikiran Kristus, kita belajar hidup dengan kebijaksanaan ekologis: memilih cukup daripada serakah, berbagi daripada menimbun, merawat daripada merusak. Ini bukan sekadar etika manusiawi, tetapi bagian dari hidup baru dalam Kristus. Paulus menutup bagian ini dengan berkata, “Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.” (Ay. 16). Artinya, kita dipanggil untuk melihat dunia dengan mata Kristus, mata yang penuh belas kasih, penuh kesadaran, penuh penghargaan terhadap karya ciptaan Allah.

Sebagai orang percaya, kasih memang hendaknya senantiasa menjadi dasar kita bertindak, karena itulah yang diteladankan oleh Tuhan Yesus sendiri. Lebih lagi kalau kita melihat dalam bacaan kita, ada identitas baru yang melekat pada setiap pengikut Kristus. Dalam Injil Matius 5:13-20, Yesus memberikan identitas kepada murid-murid-Nya: “Kamu adalah garam dunia, kamu adalah terang dunia.” Identitas ini bukan pilihan, melainkan panggilan. Garam yang asin mencegah kebusukan, memberi rasa, dan menjaga makanan tetap awet. Jika garam kehilangan asinnya, ia tidak berguna lagi. Demikian pula terang: ia tidak bisa disembunyikan, fungsinya adalah memberi cahaya supaya orang lain bisa berjalan dengan aman.

Dalam konteks perawatan ciptaan, garam berarti mencegah kebusukan dunia: menahan laju kerusakan, mengingatkan orang agar tidak serakah, dan menjaga harmoni dalam ciptaan. Terang berarti memberi teladan nyata: memperlihatkan gaya hidup yang ramah lingkungan, berani bersuara untuk keadilan ekologis, dan menginspirasi orang lain untuk turut peduli.

Yesus juga menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan menggenapinya (Ay. 17). Artinya, panggilan kita bukan hal baru, melainkan kelanjutan dari kehendak Allah sejak awal: manusia diciptakan untuk mengusahakan dan memelihara bumi (Kej. 2:15) menjadi garam dan terang, dengan menghidupi panggilan itu dalam konteks kita sekarang.

Penutup
Kita menutup Bulan Penciptaan bukan untuk berhenti, melainkan untuk memulai langkah nyata. Selama sebulan kita merenungkan, berdoa, dan belajar, sekarang waktunya kita menjadi garam yang menjaga dunia dari kebusukan. Menjadi terang yang memberi harapan bagi bumi yang semakin gelap. Mari kita jadikan ibadah kita tidak berhenti di gedung gereja saja, tetapi menjadi kesaksian di sawah, di ladang, di rumah, di sekolah, di tempat kerja. Mari kita pakai pikiran Kristus untuk melihat bumi sebagai taman Allah yang harus kita rawat. Mari kita jadikan hidup kita doa yang hidup: menjaga air tetap bersih, tanah tetap subur, udara tetap segar, dan sesama tetap bermartabat.

Jika kita hidup demikian, orang lain akan melihat perbuatan kita dan memuliakan Bapa di surga. Dan dunia ini, rumah kita bersama, akan menjadi taman yang indah, tempat di mana seluruh ciptaan bisa bernapas lega dalam damai sejahtera Allah. Amin. [dvd]

 

Pujian: KJ. 260  Dalam Dunia Penuh Kerusuhan

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Punapa panjenengan nate mirsani bendhungan utawi lepen ingkang rumiyin toyanipun bening lan kathah ulamipun, nanging sapunika dados butek, reged, malih ambunipun mboten kepenak? Kathah prekawis ingkang saged dados sababipun: sampah ingkang dipun bucal sacara sembarangan, limbah saking pabrik, utawi penebangan alas ing bagian inggil. Ingkang kedah kita raos-raosaken, karisakan punika mboten dumados kanthi dumadakan, nanging alon-alon, kawiwitan saking pepilihan alit-alit ingkang dipun lirwakaken.

Kados mekaten gesang kita minangka umatipun Gusti Allah saha timbalan kangge ngenget lan ngopeni titahipun. Bumi punika mboten risak kanthi sekedhap, nanging alon-alon amargi keserakahan saha manungsa kesupen kaliyan tanggel jawabipun. Wulan Tumitahing Jagad ingkang kita rayakaken sakwulan punika dados wekdal kangge kita sesarengan ngenget lan ngraos-raosaken, “Punapa pangibadah saha gesang kita punika saestu ngopeni titahipun Gusti utawi punapa kita malah ndadosaken karisakanipun titahipun Gusti punika langkung rikat?”

Isi
Nabi Yesaya ngandika kanthi teges, nimbali bangsa Israel ingkang sejatinipun sampun ngayahi ibadah kanthi temen ingkang kasat mripat: sami pasa, sami ndedonga, malah sami atur pitaken dhumateng Gusti, “Kados pundi, kok kula pasa nanging Paduka mboten maringi kawigatosan?” (Ay. 3). Nanging wangsulanipun Gusti teges sanget: ibadahmu punika mubal, amargi mboten gadhah pangaribawa dhateng gesang saben dinten. Bangsa Israel taksih nganiaya sapepadanipun, taksih ngudi bathi piyambak, taksih sami padu lan benten-bentenan tiyang. Ing ngriki katingal cetha, miturut Gusti, ibadah sejati punika mboten namung prekawis ritual, nanging lampah ingkang mbekta katresnan lan pamulihan relasi kaliyan pepadha, kaliyan bebrayan, saha kaliyan sadaya titah. Nabi Yesaya netelakaken: ibadah sejati punika “mbikak belenggu kalaliman, mbebasaken kuk, ngluwari tiyang ingkang kacethak, sarta mecahaken saben kuk.” (Ay. 6).

Kagem kita ing zaman sapunika, ibadah sejati tegesipun mbebasaken “kuk” ingkang awrat dhumateng bumi: keserakahan dhateng energi, mbucal sampah sacara sembarangan, utawi nebang alas tanpa mikir generasi ing tembe ngajeng. Punapa punika sanes mangun panindhesan dhumateng titah? Mila ibadah sejati punika nuntun kita kangge tumut andil wonten ing karya pamulihan ciptaan — ngreksa lepen, ngopeni lemah, ngirangi sampah plastik, lan milih gesang prasaja. Punika wujud “pasa” kita ing dinten punika: ngendaleni dhiri supados bumi tetep lestari. Lan janjinipun Gusti cetha: “Gusti badhe nuntun panjenengan tansah… panjenengan badhe kados taman ingkang karesiki kanthi sae, kados sumber toya ingkang mboten nate ngecewakaken.” (Ay. 11). Tegesipun, sinten ingkang gesang ing ibadah sejati, piyambakipun punika dados sumber berkah, mboten sumber karisakan.

Punapa punika gampil? Mesthi mboten. Dipun betahaken niat ingkang temen lan kawicaksanan saking Gusti, supados kita saged nglampahi. Kita saged sinau saking Rasul Paulus. Nalika Paulus nyerat seratipun dhumateng pasamuwan Korinta, piyambakipun pinanggih kaliyan budaya ingkang ngluhuraken filsafat, retorika, lan kacaketan intelektual. Nanging Paulus mboten gumantung dhumateng tembung endah. Piyambakipun malah martosaken Kristus ingkang kasalib, ingkang dipun wastani ringkih lan bodho dening donya. Nanging wonten ngriku, kawicaksanan sejati saking Gusti Allah kasumurup.

Tegesipun kangge kita wonten ing konteks wulan tumitahing jagad punika: donya modern asring ningali bumi saking kawicaksananing donya: alam dipun anggep namung minangka sumber daya ingkang dipun eksploitasi kangge bathi sacara ekonomi. Sadaya dipun ukur saking keuntungan, efisiensi, lan pertumbuhan. Nanging kanthi “pikiran Kristus”, kita mirsani titahipun Gusti kanthi pangrasan beda: bumi punika sanes aset, nanging griya bebarengan; lepen sanes namung banyu, nanging sumber gesang; lemah sanes namung lahan, nanging badanipun ibu ingkang nyangga gesang kita. Roh Suci paring pangertos dhumateng kita bilih sadaya titah wonten ing pangayoman sih-rahmatipun Gusti Allah. Mila kanthi pikiran Kristus, kita sinau nglampahi kawicaksanan ekologis: milih cekap tinimbang serakah, milih bareng tinimbang numpuk, milih ngopeni tinimbang ngrusak. Punika mboten namung etika manungsa, nanging dados perangan gesang enggal wonten ing Sang Kristus. Paulus ngendika kanthi cetha, “Nanging kita kagungan pikiran Kristus” (Ay. 16). Tegesipun, kita dipun dhawuhi kangge mirsani donya kanthi paningalipun Kristus — paningal ingkang kebak welas asih, kawicaksanan, saha ngajeni karya titahipun Gusti Allah.

Kados tiyang pitados, katresnan punika prayogi dados dhasar lampahing gesang, amargi punika ingkang sampun katuladhakaken dening Gusti Yesus piyambak. Malih, menawi kita mirsani ing Injil Matius 5:13-20, Gusti Yesus maringi identitas dhumateng para sakabat, “Kowe iku padha dadi uyahing bumi, kowe iku padha dadi pepadhanging jagad.” Identitas punika sanes pilihan, nanging timbalan. Uyah ingkang asin saged nyegah bosok, maringi rasa, lan ngreksa dhaharan tetep awet. Menawi uyah sampun mboten asin, mboten migunani malih. Mekaten ugi pepadhang: mboten saged dipun dhelikaken, tugasipun maringi cahya supados tiyang sanes saged lumampah kanthi wilujeng.

Wonten ing konteks pangreksan titah, uyah tegesipun nyegah bosokipun donya: nyegah karisakan, ngelingaken tiyang supados mboten serakah, lan ngreksa harmoni wonten ing titah. Pepadhang tegesipun maringi tuladha nyata: ngetingalaken gaya gesang ingkang rukun kaliyan lingkungan, wantun ngendika kangge kaadilan ekologis, saha dados inspirasi kangge tiyang sanes supados ngraosaken prihatos.

Gusti Yesus ugi netelakaken bilih Panjenenganipun rawuh ing donya sanes kangge ngicali hukum Torah, nanging kangge nggenapi (Ay. 17). Tegesipun, timbalan kita punika sanes prekawis enggal, nanging pancen sambunganing karsanipun Gusti wiwit rumiyin: manungsa dipun titahaken supados nggarap lan ngreksa bumi (Purwaning Dumadi 2:15). Dados uyah lan pepadhang punika nguripi timbalan wau wonten ing zaman kita sapunika.

Panutup
Kita nutup Wulan Tumitahing Jagad punika sanes kangge mandheg, nanging supados miwiti lampah nyata. Sawulan kepengker kita sampun ngraos-raosaken, ndedonga, saha sinau; sapunika wekdalipun kita dados uyah ingkang ngreksa donya saking raos bosok, saha dados pepadhang ingkang maringi pangajeng-ajeng tumrap bumi ingkang sansaya peteng.

Mangga, ibadah kita mboten namung mandheg wonten ing griya pasamuwan, nanging ugi dados kaseksen ing sawah, ing tegal, ing griya, ing pawiyatan, saha ing papan pakaryan kita. Mangga kita ngginakaken pikiran Kristus kangge mirsani bumi minangka tamanipun Gusti Allah ingkang kedah kita rimati. Mangga gesang kita dados pandonga ingkang gesang: ngreksa banyu tetep resik, lemah tetep subur, hawa tetep seger, saha pepadha tetep nggadhahi martabat.

Menawi kita gesang mekaten, tiyang sanes badhe mirsani lampah kita lan ngluhuraken Allah Sang Rama ing swarga. Lan donya punika, griya kita bebarengan, badhe dados taman ingkang endah, papan ing pundi sadaya titah saged ambegan lega wonten ing tentrem rahayu saking Gusti Allah. Amin. [dvd].

 

Pamuji: KPJ. 339  Iba Dennya Mbingahaken

Renungan Harian

Renungan Harian Anak