Stop Berkeluh-Kesah dan Tetap Optimis Menghadapi Tantangan Hidup Khotbah Akhir Tahun 31 Desember 2018

Kebaktian Tutup Tahun
Stola Putih

 

Bacaan 1: I Raja-raja 3:5-15.
Bacaan 2: Yohanes 8:12-20.

Tema Liturgis: Kristus Hadir dan Menjadi Dasar Hidup!
Tema Khotbah: Stop Berkeluh-Kesah Dan Tetap Optimis Menghadapi Tantangan Hidup.

 

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah).

I Raja-raja 3:5-15

‘Bagian: Doa Salomo memohon hikmat’.

Ketika Allah memberi kesempatan kepada Salomo untuk meminta sesuatu, Salomo meminta hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat. Salomo meminta agar dapat memimpin dengan baik dan membuat keputusan benar (6-9). Kita dapat meminta hal yang sama kepada Allah (Yakobus 1:5). Perhatikan bahwa Salomo meminta hati yang faham menimbang perkara (ketajaman) untuk dapat menyelesaikan pekerjaannya. Salomo tidak meminta agar Allah menyelesaikan pekerjaannya baginya. Kita sebaiknya tidak meminta Allah menyelesaikan bagi kita apa yang Ia ingin lakukan melalui kita, tetapi kita minta Allah memberi kita kebijaksanaan untuk mengetahui apa yang harus kita lakukan (bagaimana melakukannya) dan kemampuan untuk mengikuti-Nya.

Salomo minta hati yang penuh hikmat dan pengertian, dan bukan kesejahteraan, namun justru Allah memberinya kekayaan dan umur panjang (11-14). Meskipun Allah tidak berjanji memberi kekayaan bagi mereka yang mengikuti-Nya, tetapi Ia memberi kita apa yang kita perlukan jika kita menempatkan Kerajaan-Nya, kehendak-Nya, dan hukum-hukum-Nya sebagai hal yang utama (Mat.6:31-33). Menempatkan kekayaan sebagai yang utama malah akan menyisakan rasa tidak puas, sebab meskipun kita mendapat kekayaan yang melimpah, kita akan tetap ingin sesuatu yang lebih lagi. Tetapi jika kita menempatkan Allah dan pekerjaan-Nya sebagai yang utama, Ia akan memuaskan kita lebih daripada yang kita butuhkan.

Salomo menerima ‘hati yang penuh hikmat dan pengertian’ dari Allah (12). Salomo bijaksana dalam memerintah bangsa, tetapi ia gagal dalam mengatur rumahtangganya. Kebijaksanaan adalah  kemampuan melihat dengan tepat apa yang terbaik dan memiliki karakter yang kuat untuk melaksanakannya. Salomo tidak selalu berbuat bijaksana dalam hidupnya (11:6).

Yohanes 8:12-20

Yesus berbicara di bagian Bait Suci dimana persembahan ditempatkan (8:20), dimana lilin dinyalakan untuk menggambarkan tiang api yang memimpin umat Israel melalui padang gurun (Ay.12; Kel.13:21-22). Dalam konteks ini, Yesus menyebut diri-Nya Terang dunia. Tiang api mempresentasikan kehadiran, pemeliharaan, dan bimbingan Allah. Yesus membawa kehadiran, pemeliharaan, dan bimbingan Allah. Apakah Dia terang bagi dunia kita juga?

Apa arti mengikut Kristus? (12). Seperti seorang tentara mengikuti komandannya, dengan cara demikian sebaiknya kita mengikut Kristus, komandan kita. Sebagai seorang hamba mengikut tuannya, demikian juga sebaiknya kita mengikut Kristus, Tuan kita. Sebagaimana kita mengikuti nasihat seorang konselor yang kita percaya, demikian juga kita mengikuti perintah Yesus sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci. Sebagaimana kita taat hukum negara kita, demikian juga kita seharusnya taat hukum Kerajaan Sorga.

Para Farisi berpikir bahwa Yesus adalah seorang pembohong (13-14). Yesus menawarkan kepada mereka pilihan ketiga: Ia memberitakan tentang kebenaran. Para Farisi menolak-Nya, mereka tidak pernah mengakui-Nya sebagai Mesias dan Tuhan. Jika kita ingin tahu siapa Yesus, kita jangan menutup pintu sebelum melihat dengan jujur. Hanya dengan pikiran terbuka kita akan tahu kebenaran bahwa Ia adalah Mesias dan Tuhan.

Para Farisi memperdebatkan bahwa klaim Yesus itu cacat secara hukum sebab Ia tidak memiliki saksi-saksi lain (13-18). Yesus merespon bahwa kesaksian yang menegaskan-Nya adalah Allah sendiri. Yesus dan Bapa membuat dua kesaksian, jumlah yang dibutuhkan oleh hukum (Ulangan 19:15).

Bait perbendaharaan berlokasi di istana bagian perempuan (20). Di area ini, 13 kotak disediakan untuk menerima uang persembahan. Tujuh (7) kotak untuk pajak Bait Suci dan enam (6) kotak yang lain untuk persembahan bebas. Pada kesempatan lain, seorang janda menempatkan uangnya di salah satu kotak-kotak ini, dan Yesus mengajar sebuah pelajaran mendalam dari perbuatannya (Lukas 21:1-4).

Benang Merah Dua Bacaan

Doa kita seringkali berisi permintaan-permintaan. Hal penting dan utama yang perlu kita miliki adalah hati yang penuh hikmat, faham untuk dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sehingga dapat membuat keputusan yang baik dan benar, seperti yang diminta oleh Salomo, sehingga ia dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana. Salomo tidak menempatkan kesejahteraan jasmani sebagai hal yang utama.

Mengikut Kristus membutuhkan kemampuan menempatkan kepatuhan sebagai hamba menjadi hal utama. Sebab Tuhan Yesus yang membawa kehadiran, pemeliharaan, dan bimbingan Allah bagi kita. Menempatkan pola berpikir menurut diri kita sendiri, seringkali akan menimbulkan konflik dan penolakan bagi kehadiran kebenaran-Nya. Kita perlu membuka diri, berproses bersama-Nya, agar kita mampu menghadapi kenyataan hidup.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan. Sila dikembangkan sesuai konteks jemaat)

Pendahuluan

Hari ini, Senin tanggal 31 Desember 2018 merupakan hari terakhir di tahun 2018 ini. Apa yang patut kita lakukan di hari ini? Baik, jika kita bersedia melihat ulang perjalanan hidup kita di sepanjang tahun 2018 yang segera akan kita tinggalkan dan membuat komitmen untuk kita lakukan di tahun 2019 yang esok hari akan datang.

Ada sebuah mutiara kata, yang berbunyi: “Kehidupan adalah serangkaian masalah. Namun kita bebas memilih untuk mengeluh atau memecahkan masalah-masalah itu” (M.Scott Peck, 1936-2005, Penulis Amerika).

Berkaitan dengan mutiara kata tersebut, apa yang akan kita pilih ketika kita menghadapi serangkaian masalah atau tantangan? Bukankah seringkali kita berkeluh-kesah? Sebaiknya hal itu kita tinggalkan dan kita ganti dengan kesediaan memecahkan dan menemukan solusi atas berbagai masalah/tantangan yang akan kita hadapi.

Firman Tuhan ini menolong kita untuk berhenti berkeluh-kesah!

 

Isi

‘Apa sebenarnya yang kita butuhkan?’.

Doa kita seringkali berisi berbagai permintaan/permohonan. Kita memohon anak-anak kita sehat, belajar dengan giat, dan tidak nakal. Kita memohon keluarga kita tercukupi semua kebutuhan. Kita memohon orangtua kita baik-baik saja. Kita memohon bangsa dan Negara kita aman. Yah, ada banyak permohonan. Tentu saja, hal itu tidak salah. Namun, itu semua sebenarnya merupakan kebutuhan fisik/jasmani saja. Padahal, diri kita terdiri dari jiwa dan raga, rohani dan jasmani. Seringkali kita sulit membedakan antara apa yang sebenarnya kita butuhkan dan apa yang menjadi keinginan kita. Jika kita membiarkan diri dengan selalu memenuhi keinginan kita saja, maka kita akan merasa lelah, sebab keinginan itu tidak akan pernah ada akhirnya.

Ketika Allah memberi kesempatan kepada Salomo untuk meminta sesuatu, Salomo meminta hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat. Salomo meminta agar dapat memimpin dengan baik dan membuat keputusan benar (6-9). Kita dapat meminta hal yang sama kepada Allah (Yakobus 1:5). Perhatikan bahwa Salomo meminta hati yang faham menimbang perkara (ketajaman) untuk dapat menyelesaikan pekerjaannya. Salomo tidak meminta agar Allah menyelesaikan pekerjaannya baginya. Kita sebaiknya tidak meminta Allah menyelesaikan bagi kita apa yang Ia ingin lakukan melalui kita, tetapi kita minta Allah memberi kita kebijaksanaan untuk mengetahui apa yang harus kita lakukan (bagaimana melakukannya) dan kemampuan untuk mengikuti-Nya.

Salomo minta hati yang penuh hikmat dan pengertian, dan bukan kesejahteraan, namun justru Allah memberinya kekayaan dan umur panjang (11-14). Meskipun Allah tidak berjanji memberi kekayaan bagi mereka yang mengikuti-Nya, tetapi Ia memberi kita apa yang kita perlukan jika kita menempatkan Kerajaan-Nya, kehendak-Nya, dan hukum-hukum-Nya sebagai hal yang utama (Mat.6:31-33). Menempatkan kekayaan sebagai yang utama malah akan menyisakan rasa tidak puas, sebab meskipun kita mendapat kekayaan yang melimpah, kita akan tetap ingin sesuatu yang lebih lagi. Tetapi jika kita menempatkan Allah dan pekerjaan-Nya sebagai yang utama, Ia akan memuaskan kita lebih daripada yang kita butuhkan.

Kebijaksanaan adalah  kemampuan melihat dengan tepat apa yang terbaik dan memiliki karakter yang kuat untuk melaksanakannya. Ternyata, Salomo tidak selalu berbuat bijaksana dalam hidupnya (11:6).

Jadi, kita perlu tahu bahwa ada hal yang lebih penting dan utama yang perlu kita miliki, yakni hati yang penuh hikmat, faham untuk dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sehingga dapat membuat keputusan yang baik dan benar, seperti yang diminta oleh Salomo. Untuk itulah, Salomo dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana. Salomo tidak menempatkan kesejahteraan jasmani sebagai hal yang utama. Hati merupakan tempat konflik dalam diri kita: pergumulan antara baik – buruk, benar – salah, dll. Kita perlu memelihara hati, sebagai sumber ide, ucapan, dan perilaku kita agar tetap terkendali dengan baik.

 

‘Tetap optimis menghadapi tantangan hidup’.

Mengikut Kristus membutuhkan kemampuan menempatkan kepatuhan sebagai hamba menjadi hal yang utama, karena Tuhan Yesus yang membawa kehadiran, pemeliharaan, dan bimbingan Allah bagi kita.

Tuhan Yesus berbicara di bagian Bait Suci dimana persembahan ditempatkan (8:20), dimana lilin dinyalakan untuk menggambarkan tiang api yang memimpin umat Israel melalui padang gurun (Ay.12; Kel.13:21-22). Dalam konteks ini, Tuhan Yesus menyebut diri-Nya sebagai Terang dunia. Tiang api mempresentasikan kehadiran, pemeliharaan, dan bimbingan Allah atas umat-Nya. Tuhan Yesus membawa kehadiran, pemeliharaan, dan bimbingan Allah. Apakah Tuhan Yesus sebagai terang bagi dunia kita juga?

Menempatkan pola berpikir menurut diri kita sendiri, seringkali akan menimbulkan konflik dan penolakan bagi kehadiran kebenaran-Nya. Kita perlu membuka diri, berproses bersama-Nya, agar kita mampu menghadapi kenyataan hidup.

Apa arti mengikut Kristus? (12). Seperti seorang tentara mengikuti komandannya, dengan cara demikian sebaiknya kita mengikut Kristus, komandan kita. Sebagai seorang hamba mengikut tuannya, demikian juga sebaiknya kita mengikut Kristus, Tuan kita. Sebagaimana kita mengikuti nasihat seorang konselor yang kita percaya, demikian juga kita mengikuti perintah Tuhan Yesus, sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci. Sebagaimana kita taat hukum negara kita, demikian juga kita seharusnya taat hukum Kerajaan Sorga.

Jika kita ingin tahu siapa sebenarnya Tuhan Yesus, maka kita jangan menutup pintu sebelum melihat dengan jujur. Hanya dengan pikiran terbuka kita akan tahu kebenaran bahwa Ia adalah Mesias dan Tuhan.

Penutup

Stop berkeluh-kesah dan tetap optimis menghadapi tantangan hidup. Amin.

 

Nyanyian: KJ. 260:1,2,3.

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Dinten menika, Senin tanggal 31 Desember 2018 dados dinten pungkasan ing tahun 2018 menika. Menapa ingkang patut kita tindakaken ing dinten menika? Sae, menawi kita purun ningali wangsul lumampahing gesang kita ing tahun 2018 ingkang sekedhap malih badhe kita tilaraken lan sae menawi kita purun ndamel komitmen kangge kita tindakaken ing tahun 2019 ingkang ing mbenjing enjing badhe kita papagaken.

Wonten mutiara kata, ingkang ungelipun: “Kehidupan adalah serangkaian masalah. Namun kita bebas memilih untuk mengeluh atau memecahkan masalah-masalah itu” (M.Scott Peck, 1936-2005, Penulis Amerika).

Gandheng kaliyan mutiara kata kasebat, menapa ingkang badhe kita pilih rikala kita ngadhepi maneka warni masalah utawi tantangan? Mbokmenawi kita malah asring berkeluh-kesah? Prayoginipun bab menika saged kita tilaraken lan kita gantos kaliyan rila lan cumadhang ngrampungaken sarta manggihaken solusi tumraping sedaya masalah/tantangan ingkang kita adhepi.

Sabdanipun Gusti menika mbiyantu kita mandheg utawi mboten malih berkeluh-kesah!

Isi

‘Menapa sejatosipun ingkang kita betahaken?’.

Pandonga kita asring isi maneka warni panyuwunan, ingkang kita anggep dados kabetahan kita. Kita nyuwun anak-anak kita sehat, sinau kanthi giyat, lan mboten nakal. Kita nyenyuwun brayat kita kacekapan sedaya kabetahanipun. Kita nyenyuwun tiyang-sepuh kita kawontenanipun sae lan sehat terus. Kita nyenyuwun bangsa lan negari kita aman. Nggih, kita gadhah kathah panyuwunan. Tamtu kemawon, bab nyenyuwun menika mboten klentu utawi lepat. Namung, sedaya kalawau rak estunipun dados kabetahaning raga kemawon. Padhahal, dhiri kita menika rak arupi jiwa lan raga, rohani lan jasmani. Asring kita ewet mbedakaken antawisipun menapa ingkang saestu kita betahaken lan menapa ingkang namung dados pepenginan kita. Menawi kita ngimbaraken dhiri kaliyan tansah nyobi nyekapi pepenginan kita kemawon, ing selajengipun kita badhe rumaos kesel, sebab pepenginan menika mboten badhe nate wonten pungkasanipun.

Rikala Gusti Allah maringi kesempatan dhateng Sang Prabu Suleman menapa ingkang badhe kasuwun, Sang Prabu Suleman nyuwun manah ingkang saged nenimbang prakawis supados saged ngakimi umat Paduka kalayan saged mbedakaken punapa ingkang sae lan ingkang awon. Sang Prabu Suleman nyuwun supados saged mimpin kanthi sae lan ndamel keputusan kanthi leres (6-9). Kita dipun parengaken nyuwun bab ingkang sami dhumateng Gusti Allah (Yakobus 1:5). Cobi kita gatosaken, bilih Sang Prabu Suleman nyuwun manah ingkang paham nenimbang perkawis (ketajaman) supados saged ngrampungaken pedamelanipun. Sang Prabu Suleman mboten nyuwun supados Gusti Allah ngrampungaken pedamelanipun kangge piyambakipun. Prayoginipun kita mboten nyuwun Gusti Allah ngrampungaken tugas peparingipun dhateng kita, ananging kita nyuwun Gusti Allah maringi kita kawicaksanan kangge mangertosi menapa ingkang kedah kita tindakaken (bagaimana melakukannya) lan kemampuan kangge ngetut wingking Panjenenganipun.

Sang Prabu Suleman nyuwun manah ingkang kebak kawicaksanan lan pangertosan, lan mboten kesejahteraan, ananging Gusti Allah malah maringi kasugihan lan umur panjang (11-14). Senadyan Gusti Allah mboten aprajanji maringi kekayaan dhateng para tiyang ingkang pitados lan ngetut wingking Panjenenganipun, ananging Panjenenganipun maringi kita menapa ingkang kita betahaken menawi kita mapanaken Kratonipun, karsanipun, lan angger-anggeripun dados bab ingkang utami (Mat.6:31-33). Mapanaken kekayaan dados bab ingkang utami malah badhe nilaraken raos mboten puas, sabab senadyan kita nampi kekayaan ingkang melimpah, kita badhe tetep kepingin bab-bab ingkang langkung inggil malih. Ananging menawi kita mapanaken Gusti Allah lan pakaryanipun dados bab ingkang utami, Panjenenganipun badhe muasaken kita langkung kathah katimbang kaliyan ingkang kita betahaken.

Kawicaksanan menika rak kemampuan ningali kanthi pas/tepat menapa ingkang paling sae lan gadhah karakter ingkang kiyat kangge nindakaken. Pranyata, Sang Prabu Suleman mboten tansah saged nindakaken  kawicaksanan ing salebeting gesangipun (11:6).

Menawi mekaten, kita perlu sumerep bilih wonten bab ingkang langkung penting lan utami ingkang perlu kita gadhahi, inggih menika manah ingkang saged nenimbang prakawis supados saged ngakimi umat Paduka kalayan saged mbedakaken punapa ingkang sae lan ingkang awon, kados ongkang dipun suwun dening Sang Prabu Suleman. Pramila, Sang Prabu Suleman dipun kenal dados pemimpin ingkang wicaksono. Sang Prabu Suleman mboten mapanaken kesejahteraan jasmani minangka/dados bab ingkang utami. Manah menika rak panggenanipun konflik ing salebeting dhiri kita: pergumulan antawisipun sae – awon, leres – salah, lsp. Kita perlu ngopeni manah, minangka sumber ide, pangucap, lan tingkah-laku kita supados tetep terkendali dengan baik.

 

‘Tetep optimis nghadhepi tantangan gesang’.

Ndherek Gusti Yesus Kristus menika mbetahaken kemampuan mapanaken sikep patuh selaku abdi, dados perkawis ingkang utami, sebab Gusti Yesus menika ingkang ngasta rawuhipun, pangrimatipun, lan tuntunanipun Gusti Allah kangge kita.

Gusti Yesus memucal lan dhawuh ing Pedaleman Suci, ing pundi kotak pisungsung kapapanaken  (8:20), ing pundi lilin dipun urubaken kangge nggambaraken tugu geni ingkang mimpin umat Israel nglangkungi ara-ara samun (Ay.12; Kel.13:21-22). Gandheng kaliyan konteks menika, Gusti Yesus nyebut dhirinipun minangka Pepadhanging Jagad. Tugu geni mempresentasikan kehadiran, pemeliharaan, dan bimbingan Allah atas umat-Nya. Menapa Gusti Yesus ingkang dados Pepadhanging jagad ugi kangge kita?

Mapanaken pola berpikir miturut dhiri kita piyambak, asring badhe nuwuhaken konflik lan penolakan bagi kehadiran kebenaran-Nya. Kita perlu mbikak dhiri, berproses kaliyan Panjenenganipun, supados kita mampu ngadhepi kasunyataning gesang.

Menapa artosipun ndherek Gusti Yesus Kristus? (12). Kados tentara ingkang kanthi tertib manut prentah komandanipun, inggih kanthi tata cara mekaten kedahipun kita ndherek Gusti Yesus Kristus, komandan kita. Minangka abdi ndherek bendaranipun, mekaten ugi anggen kita ndherek Gusti Yesus Kristus, Bendara kita. Kados kita ngestokaken nasehat sang konselor ingkang kita pitados, mekaten ugi kita manut prentahipun Gusti Yesus, kados ingkang kaserat ing Kitab Suci. Kados kita taat hukum negari kita, mekaten ugi kita kedahipun taat dhateng hukum Kraton Swarga.

Menawi kita kepengin sumerep sinten ta Gusti Yesus menika, kita sampun nutup kori saderengipun kita kanthi tulus lan jujur mandeng Panjenenganipun. Namung kanthi pikiran tinarbuka, kita badhe sumerep kaleresan bilih Panjenenganipun menika Sang Mesih lan Gusti.

Panutup

Stop berkeluh-kesah lan tetep optimis ngadhepi tantangan gesang. Amin.

 

Pamuji: KPK. 166:1,2,3,4.

 

Bagikan Entri Ini: