Khotbah Minggu 19 Maret 2017

PRA PASKAH 3
STOLA  UNGU

 

Bacaan 1         : Keluaran 17:1-15
Bacaan 2         : Roma 5:1-11
Bacaan 3         : Yohanes 4:5-42

Tema Liturgis  : “Taat Melakukan Kehendak Allah”
Tema Khotbah :  Apakah Masih Ada Keraguan akan kuasa Tuhan?

 

Keterangan Bacaan

Keluaran 17:1-16

Perjalanan bangsa Israel menuju tanah Kanaan, tanah perjanjian, tidak serta merta berjalan dengan mulus dan lancar. Ada saja tantangan yang dihadapi oleh bangsa ini. Pada bacaan ini, paling tidak ada dua tantangan berat yang dihadapi oleh bangsa Israel. Pertama adalah tantangan alam. Ketika di Rafidim, mereka diperhadapkan pada kondisi alam, dimana tidak ada sumber air. Kebutuhan pokok untuk minum tidak terpenuhi. Keadaan ini tentunya akan mempengaruhi kondisi fisik mereka. Secara fisik kondisi mereka akan menjadi semakin lemah. Secara mental juga demikian, emosi mereka naik karena situasi ini. Mereka menjadi bersungut-sungut. Hubungan mereka dengan Musa sang pemimpinpun menjadi tegang, dan pertengkaranpun terjadi. Kondisi iman (spiritual) merekapun menjadi lemah. Mereka protes kepada Tuhan, dan mempertanyakan keberadaan-Nya: “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” Kedua adalah serangan orang Amalek. Orang Amalek dikenal orang yang jahat, kejam dan suka menindas.

Di tengah tantangan berat yang dialami oleh bangsa Israel, TUHAN tetap berkarya. Ketika mereka menghadapi kondisi alam, yang tanpa air, Tuhan mencukupkannya. Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai memukul sungai Nil dan pergilah. Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum.” Demikian juga ketika mereka menghadapi orang Amalek, TUHAN juga berkarya. Dengan Tongkat Allah, Musa, Harun, Hur, dan Yosua serta bangsa Israel dapat mengalahkan orang Amalek. Bukti bahwa kemenangan bangsa Israel atas orang Amalek adalah karya Tuhan nampak dari nama mezbah: “TUHANlah panji-panjiku!” dan pengakuan Musa: “Tangan di atas panji-panji TUHAN! TUHAN berperang melawan Amalek turun-temurun.”

 

Roma 5:1-11

Rasul Paulus menekankan bahwa, peranan Tuhan Yesus Kristus sangat penting dalam kehidupan umat percaya. Karena Dia, umat percaya hidup dalam damai sejahtera dengan Allah. Oleh Dia orang percaya beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini.  Kata Yunani yang dipakai untuk jalan masuk adalah “prosagoge”. Kata ini biasa dipakai untuk memperkenalkan atau mengantar seseorang ke hadapan raja. Kata ini juga untuk menerangkan sikap datang beribadah kepada Allah. Dalam bahasa Yunani modern kata ini dipakai untuk menunjuk tempat kapal berlabuh, yaitu pelabuhan. Karena Yesus Kristuslah kita mencapai pelabuhan kasih karunia Allah, dan mengenal damai sejahtera, bukan karena apa yang kita lakukan. Dengan demikian meski dalam situasi dan kondisi menderita, orang percaya akan tetap bermegah, karena hal tersebut akan menimbulkan ketekunan, tahan uji serta berpengharapan. Dalam kandisi apapun, baik masih seteru dengan Allah maupun tidak orang percaya tetap selamat, dan semua itu karena Tuhan Yesus Kristus. Rasul Paulus menekankan: jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!

 

Yohanes 4:5-42

Perikop ini menceritakan tentang pertemuan Tuhan Yesus dengan seorang perempuan Samaria. Meskipun orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria, Tuhan Yesus yang adalah orang Yahudi  tidak menutup diri bagi siapapun, termasuk orang Samaria. Meski Ia berbeda kebangsaan dengan perempuan Samaria, Tuhan Yesus tetap bergaul dengannya. Ia mengingikan kasih karunia Allah juga dirasakan oleh orang non Yahudi, termasuk Samaria. Bahkan ia menawarkan air kehidupan. Bahkan ia menawarkan air kehidupan. Tawaran Tuhan Yesus kepada perempuan Samaria ini merupakan tawaran kasih Allah yang diungkapkan kepada semua orang, tanpa membedakan latar belakang seseorang, baik itu suku, gender dan status. Selain termasuk suku Samaria yang dibenci orang Yahudi,  setatusnya sebagai perempuan adalah rendah di mata orang Yahudi. Terlebih lagi, tidak pantas seorang perempuan yang tidak terhormat berbicara dengan seorang Rabi (guru). Awalnya perempuan Samaria meragukan Yesus, karena Ia adalah orang Yahudi. Namun kemudian ia percaya. Kepada perempuan Samaria, Tuhan Yesus mengaskan bahwa Ia adalah mesias. Setelah pertemuannya dengan Tuhan Yesus, perempuan Samaria menceritakan kepada orang Samaria lainnya. Dan ketika orang-orang Samaria sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Ia pun tinggal di situ dua hari lamanya. Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya.

 

BENANG MERAH TIGA BACAAN

Perjalanan kehidupan orang percaya diwarnai dengan berbagai tantangan. Tantangan yang dihadapi seringkali terasa sangat berat, sehingga mempengaruhi kondisi mental, sosial bahkan spiritual/ iman. Dalam situasi menghadapi tantangan, iman kepada Tuhan dapat menjadi lemah. Dan muncul keraguan akan kekuasaan Tuhan. Tetapi kuasa Tuhan tetap nyata dapat dirasakan kehadiranNya dan tak perlu diragukan lagi. Kuasa dan kehadiran Allah sangat nyata dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Kehadirannya dapat dirasakan oleh semua orang, tidak hanya dirasakan oleh orang Yahudi, tetapi juga orang Samaria. Setiap orang yang percaya kepadaNya hidup dalam damai sejahtera dengan Allah.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Pertengahan tahun lalu, kita mendengar dan menyaksikan sebuah berita tentang seseorang yang mempunyai kemampuan menggandakan uang. Ia adalah seorang laki-laki dengan inisial DKTP. Ia tinggal di sebuah padepokan di sebuah kabupaten di Jawa Timur. Ia mempunyai pengikut yang cukup banyak dari berbagai daerah di Indonesia. Apakah ia mempunyai kehebatan yang luar biasa? Ya, itulah pengakuan dari para pengikutnya. Mereka percaya akan kehebatan DKTP. Hal itulah yang membuat para pengikutnya tetap bertahan di padepokan meski yang bersangkutan sudah ditetapkan pihak yang berwajib menjadi tersangka kasus pembunuhan dan penipuan. Menurut salah seorang pengikutnya, dengan inisial H, DKTP mempunyai kemampuan mengeluarkan uang di balik badannya. Tidak hanya uang, ia juga mempu mengeluarkan makanan, buah-buahan, bahkan jam tangan.

Pantas saja jika banyak orang yang mengandalkan kemampuannya. Paling tidak dengan kemampuannya itu seseorang dapat mengatasi persoalan ekonominya. Hanya dengan menyetorkan mahar kepada DKPT, uang dapat berkembang. Luar biasa bukan! Tetapi belakangan diketahui bahwa saku jubah yang dipakai DKTP diduga cukup besar dan menampung uang jutaan rupiah, bahkan ditemukan uang palsu. Hal itu diketahui ketika pihak yang berwajib melakukan penyelidikan pada penjahit jubah tersebut. (sumber: detik.com) Apakah bapak, ibu dan saudara percaya dengan kemampuan dan kehebatannya? Atau meragukannya?

 

Isi

Tentunya kita tidak boleh percaya begitu saja dengan kemampuan DKTP, apalagi sudah ada indikasi unsur penipuan, uang palsu dan bahkan pembunuhan para pengikut. Tetapi dengan kuasa (kemampuan) dan kehebatan Tuhan dalam mengatasi persoalan umatNya, apakah bapak, ibu dan saudara-saudara masih meragukanya? Meskipun Tuhan Allah sudah berkarya begitu luar biasa dalam kehidupan kita, tetapi tidak menutup kemungkinan kita juga meragukanNya. Kenyataan ini terjadi dalam kehidupan bangsa Israel.

Tentunya bangsa Israel sudah merasakan kemampuan dan kehebatan Tuhan yang luar biasa. Mereka sudah dibebaskan dari perbudakan di Mesir. Mereka menyaksikan sendiri, bagaiamana Tuhan menuntun mereka menyeberangi laut Teberau. Tuhan mengubah air pahit menjadi manis. Dan juga memberi makan dengan manna, ketika mereka kelaparan. Tetapi apakah yang terjadi dalam kehidupan bangsa Israel? Mereka tetap meragukan kemampuan dan kuasa Tuhan. Ini terjadi ketika mereka diperhadapkan pada persoalan  dan tantangan dari alam, yakni tidak mendapatkan air minum. Mereka menjadi bersungut-sungut. Mereka bersitegang dengan Musa sang pemimpin. Bahkan mereka mempertanyakan penyertaan Tuhan. Mari kita perhatikan ekspresi bangsa Israel dalam mengungkapkan kekesalannya: “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” Dari sini nampak bahwa kondisi iman (spiritual) merekapun menjadi lemah. Mereka protes kepada Tuhan, dan mempertanyakan keberadaan-Nya.

Sebetulnya kita tidak perlu ragu terhadap kuasa Tuhan. Karena Tuhan tidak menutup diri terhadap siapapun juga, termasuk kita. Hal tersebut dapat kita lihat dalam kisah perempuan Samaria. Awalnya keraguan terhadap Tuhan Yesus juga nampak dalam diri seorang perempuan Samaria. Hal itu dilatarbelakangi oleh kebangsaan yang berbeda degan Tuhan Yesus. Ia seorang Samaria, Yesus seorang Yahudi. Namun, Yesus yang seorang Yahudi tidak menutup diri terhadap orang Samaria. Ia menginginkan kasih karunia Allah juga dirasakan oleh orang non Yahudi, termasuk Samaria. Bahkan Ia menawarkan air kehidupan. Tawaran Tuhan Yesus kepada perempuan Samaria ini merupakan tawaran kasih Allah yang diungkapkan kepada semua orang, tanpa membedakan latar belakang seseorang, baik itu suku, gender dan status. Selain termasuk suku Samaria yang dibenci orang Yahudi,  setatusnya sebagai perempuan adalah rendah di mata orang Yahudi. Terlebih lagi, tidak pantas seorang perempuan yang tidak terhormat berbicara dengan seorang Rabi (guru). Perempuan Samaria yang awalnya meragukan Yesus, kemudian ia percaya. Ia mengatakan bahwa Yesus adalah seorang nabi. Kepada perempuan Samaria, Tuhan Yesus menegaskan bahwa Ia adalah mesias. Setelah pertemuannya dengan Tuhan Yesus, perempuan itu menceritakan kepada orang Samaria lainnya, sehingga lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya.

Percaya akan kuasa Tuhan Yesus sangatlah penting. Oleh karena itulah Rasul Paulus menekankan bahwa, peranan Tuhan Yesus Kristus sangat penting dalam kehidupan umat percaya. Karena Dia, umat percaya hidup dalam damai sejahtera dengan Allah. Oleh Dia orang percaya beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini.  Kata Yunani yang dipakai untuk jalan masuk adalah “prosagoge”. Kata ini biasa dipakai untuk memperkenalkan atau mengantar seseorang ke hadapan raja. Dalam bahasa Yunani modern kata ini dipakai untuk menunjuk tempat kapal berlabuh, yaitu pelabuhan. Karena Yesus Kristuslah kita mencapai pelabuhan kasih karunia Allah, dan mengenal damai sejahtera, bukan karena apa yang kita lakukan.

Dengan demikian meski dalam situasi dan kondisi menderita, orang percaya akan tetap bermegah, karena hal tersebut akan menimbulkan ketekunan, tahan uji serta berpengharapan. Dalam kondisi apapun orang percaya tetap selamat, dan semua itu karena Tuhan Yesus Kristus. Rasul Paulus menekankan: “jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” Bangsa Isarel juga merasakan kasih dan kuasa Tuhan itu. Keraguan mereka dijawab dengan kuasa dan karya Tuhan yang luar biasa. Ketika mereka kehausan, Tuhan memberikan air. Bahkan ketika mereka diserang oleh orang Amalek, Tuhan memberikan kemenangan.

 

Penutup

Sebagai orang percaya kita memang masih diperhadapakan pada berbagai persoalan hidup yang kadang kala menekan diri kita. Ketika itu terjadi, kitapun bersungut-sungut marah dan bersitegang dengan orang-orang di sekitar kita serta protes kepada Tuhan. Kita bahkan mencari alternatif lain untuk mengatasi persoalan hidup kita. Tetapi hari ini kita diingatkan agar kita tidak meragukan kuasa Tuhan dalam menolong dan mengatasi persoalan kita.  Mari kita mantapkan iman kita dengan lagu rohani dengan judul “TIADA KURAGU LAGI”, karya Lisna G. Arifin.

Tiada kuragu lagi ‘tuk mengikutMu Yesus
Tiada kuragu lagi ‘tuk melayaniMu
Walau banyak rintangan dan badaipun menerjang
Tiada kuragu lagi untuk selamanya

Korus:

Yesus, Yesus, sahabatku, Penolong dalam hidupku
Kuingin semua orang mengenalMu,
Engkau jalan kebenaran dan membri hidup yang kekal
Bagi tiap orang yang percaya pada-Mu.

Tuhan memberkati. Amin. [SWT]

 

Nyanyian: KJ 364


RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pembuka

Ing tengahing taun kepengker, kita mireng lan mirsani pawartos ngingingi salah satunggaling tiyang ingkang kagungan kadigdayan, inggih punika ndadosaken yatra sangsaya kathah. DKTP, punika sebatanipun. Priyantun jaler ingkang manggen ing padhepokan, ing salah satunggaling kabupaten ing Jawa Timur. Piyambakipun kagungan pandherek radi kathah, saking dhaerah-dhaerah ing Indonesia. Punapa piyambakipun kagungan panguwaos lan kadigdayan ingkang ngeram-eramaken? Nggih, punika pengakening pandherekipun. Pandherekipun pitados kadigdayanipun DKTP. Perkawis punika ingkang ndadosaken para pandherekipun tetep manggen ing padhepokan senaosa DKTP sampun dipun tetepaken dados tersangka ing bab raja pati lan apus-apus. Miturut salah satunggaling pandherekipun, inggih punika H, DKTP saged ngedalaken yatra saking badanipun. Mboten namung yatra, ugi saged ngedalaken tetedhan, woh-wohan, lan ugi jam tangan.

Pantes kemawon menawi kathah tiyang ingkang ngendelaken kadigdayanipun. Kanthi kadigdayanipun tiyang saged ngrampungaken momotan bab ekonomi.  Kanthi ngempalaken yatra minangka mahar dhateng  DKTP, yatra saged dados tikel kathah. Ngeram-eramaken sanget. Nanging selajengipun dipun mangertosi bilih sak jubah ingkang dipun agem DKTP, radi ageng lan saged nyimpen yatra ngatos jutaan. Perkawis punika dipun mangertosi saking pihak berwajib, rikala ngawontenaken penyelidikan dhateng penjahitipun (sumber: detik.com). Punapa bapak, ibu, lan para sedherek pitados dhateng kadigdayan lan kaunggulanipun DKTP? Utawi malah mangu-mangu?

 

Isi

Tamtunipun kita mboten pikantuk enggal pitados dhateng kadigdayanipun DKTP, punapa malih wonten anggepan wontenipun apus-apus, yatra palsu lan raja pati tumrap pandherekipun. Nanging dhateng panguwaos lan kadigdayanipun Gusti kangge ngrampungaken momotaning gesangipun para umat, punapa bapak, ibu, lan para sedherek taksih mangu-mangu? Senaosa Gusti Allah sampun makarya kanthi ngeram-eramaken ing gesang kita, nyatanipun kita taksih kagungan raos mangu-mangu. Perkawis punika kedadosan ing gesangipun bangsa Israel.

Sejatosipun bangsa Israel sampun ngraosaken panguwasa lan kadigdayanipun Gusti Allah ingkang ngeram-eramaken. Bangsa Israel sampun pikantuk pangentasan saking Mesir. Bangsa Israel nekseni piyambak anggenipun Gusti Allah nuntun rikala nyebrang seganten Teberau. Gusti Allah ndadosaken toya ingkang pahit dados tawa. Gusti Allah ugi paring tetedhan arupi manna, rikala bangsa Israel sami keluwen. Nanging punapa ingkang dipun lampahi dening bangsa Israel? Bangsa Israel taksih mangu-mangu kaliyan kadigdayan lan panguwasanipun Gusti Allah. Punika kedadosan rikala bangsa Israel dipun adhepaken awratipun alam, mboten pikantuk toya. Bangsa Israel sami nggrundel, sami madoni nabi Musa sang pemimpin. Sumangga kita pirsani kados pundi raosing manahipun bangsa Israel: “Pangeran Yehuwah iku ana ing satengah kita apa ora?” Ketingal sanget bilih iman kapitadosanipun bangsa Israel saweg mboten kiyat.

Sejatosipun kita mboten perlu mangu-mangu tumrap panguwaosipun Gusti. Gusti mboten nate nutup dhiri dhateng sinten kemawon, kalebet kita. Perkawis punika saged kita pirsani saking wanita Samaria. Saderengipun wanita saking Samaria punika mangu-mangu dhateng Gusti Yesus. Punika kadhasaran bangsa ingkang benten, antawisipun wanita saking Samaria kaliyan Gusti Yesus minangka tiyang Yahudi. Nanging Gusti Yesus mboten nutup dhiri tumrap tiyang Samaria. Panjenenganipun ngersakaken sihrahmatipun Gusti Allah ugi dipun raosaken dhening tiyang-tiyang non-Yahudi, kalebet tiyang Samaria. Gusti Yesus ugi nawakaken toyaning gesang. Toyaning gesang punika wujuding sih rahmatipun Allah ingkang katujokaken dhateng sedaya tiyang, tanpa mbedakaken suku, gender (kawaosa: jènder) lan kalenggahan. Kejawi kalebet tiyang Samaria ingkang mboten dipun remeni dhening tiyang Yahudi, tiyang wau ugi wanita, ingkang kagungan drajad ing ngandap, lan mboten pantes pirembagan kaliyan sang guru. Wanita saking Samaria, wiwitanipun mangu-mangu dhumateng Gusti Yesus, nanging selajengipun pitados. Piyambakipun matur bilih Gusti Yesus punika nabi. Gusti Yesus negesaken bilih panjenenganipun punika Mesias. Sasampunipun pepanggihan kaliyan Gusti Yesus, wanita wau nyariyosaken bab Gusti Yesus dhateng tiyang  Samaria sanesipun, matemah kathah tiyang ingkang pitados dhateng Gusti Yesus.

Pitados dhateng panguwasanipun Gusti Yesus dados perkawis ingkang wigatos. Mila saking punika Rasul Paulus negesaken bilih Gusti Yesus minangka pribadi punika wigatos sanget. Rasul Paulus nerangaken bilih Gusti Yesus punika ingkang njalari kita pikantuk margi (kang anjog). Tembung Yunani kangge margi (kang anjog) inggih punika prosagoge. Tembung punika kaagem kangge nepangaken utawi ndherekaken salah satunggaling tiyang wonten ing ngarsanipun ratu. Tembung punika kangge nerangaken tindak-tanduk anggenipun ngabekti dhumateng Gusti. Ing basa Yunani modern, tembung punika kangge nerangaken papanipun baita/ kapal, inggih punika pelabuhan. Awit saking sang Kristus kita saged dumugi ing “pelabuhan” sih rahmatipun Allah, ngraosaken tentrem rahayu, mboten awit saking pandamel kita. Punika ateges bilih wonten pakaryanipun Allah kangge ngarahaken manungsa nanggapi lan nggatosaken kawicaksanan saking Gusti.

Mila, sinaosa ing kawontenan ingkang ewet lan mrihatosaken, tiyang pitados tansah bingah salebeting kasisahan, awit mangertos bilih kasisahan ndadosaken sabar, lan sabar dodos keparengipun Gusti Allah, lan punapa ingkang dados keparengipun Gusti Allah nuwuhaken pengajeng-ajeng. Kados pundi kemawon kawontenan kita, Gusti tansah paring kawilujengan. Bangsa Israel sampun ngraosaken sihrahmatipun Gusti punika. Raos mangu-mangunipun dipun wangsuli kaliyan pakaryan ingkang ngeram-eramaken sanget. Rikala ngelak, Gusti Allah paring toya, lan rikala bangsa Amalek nempuh perang, Gusti Allah paring menang.

 

Panutup

Minangka tiyang pitados, kita pancen taksih dipun adhepaken kaliyan momotaning gesang ingkang awrat. Rikala prahara nempuh ing gesang, kita nggrundel, nesu, dhawah ing ndredah kaliyan tiyang ing sakiwa tengen kita, lan ugi nutuh (protes) dhateng Gusti. Mboten namung punika, kita ugi pados margi sanes kangge ngrampungaken momotaning gesang kita. Nanging dinten punika kita dipun engetaken supados kita mboten mangu-mangu kaliyan panguwaosipun Gusti, ingkang saged paring pitulungan dan ngentasaken kita saking momotaning gesang. Sumagga kita antepaken kapitadosan kita kaliyan lagu rohani kanthi irah-irahan “TIADA KURAGU LAGI”, anggitanipun Lisna G. Arifin.

Tiada kuragu lagi ‘tuk mengikutMu, Yesus
Tiada kuragu lagi ‘tuk melayaniMu
Walau banyak rintangan dan badaipun menerjang
Tiada kuragu lagi untuk selamanya

Korus:

Yesus, Yesus, sahabatku, penolong dalam hidupku
Kuingin semua orang mengenalMu,
Engkau jalan kebenaran dan membri hidup yang kekal
Bagi tiap orang yang percaya pada-Mu.

Gusti mberkahi kita. Amin. (SWT)

Pamuji: KPK 116

 

Bagikan Entri Ini: