Pemahaman Alkitab I
Semester II
Bulan: Juli – Bulan Keluarga
Tema: “Berakar dalam Altar, Berbuah dalam Latar”
Bacaan : Ester 4:1-17
Penjelasan Teks
Kitab Ester terjadi di zaman Raja Ahasyweros, raja Persia. Ester, seorang gadis Yahudi yatim piatu, diangkat menjadi ratu menggantikan Wasti. Identitas Ester sebagai seorang Yahudi sengaja disembunyikan oleh pamannya sekaligus pengasuhnya, Mordekhai. Hal ini bisa dipahami karena orang Yahudi statusnya sebagai orang buangan.
Pasal 4 merupakan titik balik dari kisah ini karena rencana pembunuhan massal oleh Haman, seorang pembesar kerajaan yang membenci orang Yahudi. Ketika Mordekhai mengetahui perintah raja (yang digerakkan oleh Haman) untuk membunuh semua orang Yahudi, ia langsung meratap dan mengenakan kain kabung serta abu. Ia menunjukkan kesedihan dan kepedulian mendalam terhadap bangsanya.
Mordekhai mengirim pesan kepada Ester melalui pelayannya, menyampaikan situasi darurat ini. Ia meminta Ester menghadap raja dan memohon untuk bangsanya. Namun, ada satu persoalan besar: menghadap raja tanpa diundang bisa dihukum mati. Ester takut. Apalagi, sudah 30 hari ia tidak dipanggil raja.
Mordekhai menantang Ester: “Jangan pikir bahwa karena kamu di istana, kamu akan selamat.” (ayat 13). Mordekhai mengingatkan Ester : “Siapa tahu, justru untuk saat seperti inilah engkau dijadikan ratu.” (ayat 14). Inilah kalimat kunci pasal ini. Mordekhai menolong Ester melihat bahwa kedudukannya bukan kebetulan, tapi bagian dari rencana Allah.
Mendengar perkataan pamannya itu, Ester berubah sikap. Ia menyadari bahwa tanggung jawab besar menyertai kepercayaan yang ia terima. Ia meminta semua orang Yahudi di ibu kota berpuasa bersama selama tiga hari. Ia juga akan berpuasa. Setelah itu ia akan mengambil risiko besar: masuk menghadap raja meskipun itu bisa berarti kematian. Ester berkata: “Kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.” Inilah momen keberanian dan iman. Ester sadar bahwa untuk menyelamatkan orang lain, ia harus rela menanggung risiko.
Melalui bacaan ini pelajaran yang dapat kita ambil:
- Tuhan menempatkan kita di posisi tertentu dengan tujuan. Di sekolah, di rumah, di komunitas—Tuhan bisa pakai kita untuk jadi berkat, bahkan jika kita merasa “biasa saja”.
- Keberanian bukan berarti tidak takut, tapi tetap bertindak meski takut. Seperti Ester, kita bisa memilih untuk taat meski ada risiko. Misalnya: membela teman yang dibully, berkata jujur saat ditawari mencontek, atau tidak ikut tren negatif.
- Dukungan doa dan kebersamaan sangat penting. Ester tidak bertindak sendiri. Ia minta dukungan doa (puasa). Dalam pelayanan dan kehidupan sehari-hari, kita perlu komunitas yang saling mendoakan dan menguatkan.
- Iman adalah percaya bahwa Tuhan bekerja bahkan dalam situasi sulit.Tuhan tidak disebut secara langsung dalam kitab Ester, tapi jelas terlihat bahwa Dia bekerja di balik layar. Demikian juga dalam hidup kita.
Pertanyaan Untuk Mendalami Teks
- Apa yang dilakukan Mordekhai saat mendengar keputusan raja untuk memusnahkan orang Yahudi?
- Mengapa Ester ragu untuk menemui raja?
- Apa yang dikatakan Mordekhai yang membuat Ester berubah pikiran?
- Apa keputusan penting yang diambil Ester?
- Pernahkah kamu berada dalam situasi di mana kamu harus memilih antara melakukan yang benar tapi sulit, atau diam demi kenyamanan diri sendiri?
- Apakah kamu percaya bahwa Tuhan bisa memakai kamu di tempat kamu berada saat ini? Dalam hal apa?
- Saat kamu takut, bagaimana kamu bisa belajar untuk tetap percaya dan berani?