Pemahaman Alkitab II
Semester II
Bulan: Agustus – Bulan Pembangunan GKJW
Tema: “Membangun Budaya Kritis Apresiatif”
Bacaan: Markus 10:17-27
Penjelasan Teks
Dalam bagian ini, Yesus bertemu dengan seorang pemuda yang kaya. Ia datang kepada Yesus berlari-lari dan berlutut, tanda bahwa dia serius dan menghormati Yesus. Ia menyebut Yesus “Guru yang baik” dan bertanya tentang hidup kekal. Yesus menjawab dengan menyebut beberapa perintah dari Hukum Taurat—semuanya berkaitan dengan hubungan antarsesama: jangan membunuh, jangan mencuri dan menghormati orang tua. Pemuda itu menjawab dengan mantap bahwa semua itu telah diturutinya sejak ia masih muda. Itu berarti bahwa orang kaya ini menjaga dengan baik cara hidupnya sebagai sebagai orang beriman kepada Tuhan. Sebetulnya orang kaya ini sangat mengagumkan.
Yesus menatap dia dengan kasih, lalu berkata: “Masih ada satu hal lagi yang belum kau lakukan: juallah segala milikmu dan berikanlah kepada orang miskin…” Ini adalah ujian hati. Bukan karena kekayaan itu salah, tapi karena kekayaannya menjadi pusat hidupnya—melebihi Tuhan. Yesus mengajak dia mengikuti-Nya—sebuah panggilan untuk hidup total dalam relasi dengan Tuhan, bukan hanya menaati aturan.
Lalu bagaimana reaksi orang kaya itu ketika mendengar perkataan Yesus? Yach…orang kaya itu menunduk dan pergi dengan sedih, sebab hartanya banyak. Ia telah berjuang sepanjang hidupnya untuk mengumpulkan harta tetapi Yesus memberi perintah untuk menjual apa yang dia miliki. Orang kaya itu datang dengan antusias, tapi pergi dengan kecewa. Kenapa? Karena harta miliknya lebih besar dari keinginannya untuk ikut Tuhan..
Melihat reaksi orang kaya itu yang tidak rela menjual harta bendanya yang membuat ia belum bisa mengasihi Tuhan dengan lebih sungguh, Yesus berkata kepada para murid-Nya : “Betapa sukarnya orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah!” Para murid terkejut karena dalam budaya Yahudi, kekayaan dianggap tanda berkat Tuhan. Yesus memakai gambaran ekstrem: unta masuk lubang jarum, untuk menunjukkan mustahilnya seseorang masuk surga dengan kekuatan dan usahanya sendiri. Namun ayat 27 adalah puncaknya: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.” Artinya, keselamatan bukan hasil usaha kita, melainkan anugerah dari Allah—dan Allah sanggup mengubah hati siapa pun, bahkan hati yang terikat oleh kekayaan atau hal duniawi.
Pertanyaan Untuk Mendalami Teks
- Apa yang ditanyakan oleh orang kaya kepada Yesus?
- Bagaimana tanggapan Yesus terhadap pertanyaan itu?
- Apa reaksi orang kaya setelah mendengar jawaban Yesus?
- Mengapa Yesus mengatakan bahwa sukar bagi orang kaya masuk Kerajaan Allah?
- Apa arti dari kalimat “segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah”?
- Apa hal yang kamu “sayangi” atau kamu anggap penting dalam hidupmu saat ini?
- Apakah hal itu pernah menjadi “penghalang” dalam hubunganmu dengan Tuhan?
Jika Yesus berkata kepadamu, “Satu hal lagi…”, kira-kira hal apa yang Tuhan minta kamu lepaskan atau serahkan kepada-Nya?