Diingatkan dan Mengingatkan Pancaran Air Hidup 8 Oktober 2021

Bacaan: Ulangan 5 : 22 – 33 | Pujian: KJ. 446 : 1
Nats: “Maka lakukanlah semua itu dengan setia, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri.” (Ayat 32).

“Kok dekorasinya jadi seperti ini, padahal konsep dekorasi waktu rapat kemarin kan tidak seperti ini?” teriak seorang ketua panitia natal dengan nada penuh kemarahan. Ia merasa marah karena tim dekorasi merubah konsep dekorasi dan itu tentunya berdampak pada rangkaian acara yang telah dipersiapkan. Akhirnya dengan sedikit keterpaksaan tim dekorasi merombak hasil dekorasi dan menata ulang dekorasi agar sesuai dengan hasil kesepakatan rapat dan tidak mempengaruhi rangkaian acara yang telah dipersiapkan. Cerita ini menggiring saya untuk berpikir, “Seperti itu ya, kadang hidup manusia bersama Allah, berapa kali Allah harus mengulang-ulang pengajaran-Nya agar manusia sampai akhirnya taat dan paham dengan apa yang menjadi kehendak-Nya.”

Seperti bangsa Israel yang sering gagal melakukan konsep yang diberikan Allah kepada mereka. Mereka sering berjalan sesuai kemauan mereka sendiri tanpa peduli dengan apa yang menjadi konsep Allah atas diri mereka. Namun yang menjadi istimewa adalah Allah melalui abdi-abdi-Nya tidak bosan-bosan untuk terus mengingatkan mereka (Ul. 5:32-33), meskipun terkadang respon bangsa Israel ketika menerima ulangan pengajaran itu belum sampai pada tataran kesadaran dan ketulusan. Hal ini ditunjukkan dengan berulangkali mereka jatuh dan menjauh dari Allah.

Keseriusan memperhatikan setiap peringatan dari Tuhan dan kesediaan diri untuk terus mentaati ‘konsep Allah’ atas kehidupan ini merupakan sebuah bentuk cerminan kesungguhan relasi bersama dengan Dia. Di sisi yang lain, Allah tak henti-hentinya memberikan kesempatan demi kesempatan dan terus memperingatkan manusia ketika mereka jatuh pada sebuah penyimpangan. Pertanyaannya, “Masih berkenankah manusia-manusia ini untuk mengingatkan kepada yang lain ketika mereka membuat kecewa, ingkar akan kesepakatan, dan mendukakan hati Tuhan?” Jika Allah yang tak pernah ingkar berkenan untuk terus memberikan kesempatan agar manusia mampu memperbaiki diri, maka seharusnya kita juga mau memberikan kesempatan kepada sesama kita agar mereka pun mampu memperbaiki diri mereka! Amin. [gus].

 “Aku mengingatkan dengan cinta karena Allah mengingatkanku dengan cinta.”

 

Bagikan Entri Ini: