“Biasanya” Pancaran Air Hidup 8 November 2023

8 November 2023

Bacaan: Amsal 16 : 21 – 33 | Pujian: KJ. 251 : 1, 2
Nats: “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada Tuhan.” (Ayat 33)

Sadarkah kita ada satu kata yang kerap membuat kita menjadi orang yang terjebak pada situasi yang sama, bahkan cenderung tidak mengalami perubahan atau juga kemajuan, yaitu kata “biasanya”. Kata ini mengakar pada kebanyakan orang yang enggan untuk mengalami perubahan. Seolah-olah sudah mendarah daging dengan apa yang menjadi kebiasaan turun temurun, walaupun disadari bahwa hal itu tidaklah baik bagi kehidupannya, tetapi itulah yang terjadi.

Dalam bacaan kita hari ini, penulis Amsal mengajak kita untuk menilik kehidupan kita dengan sebuah keterlibatan “Hikmat” yang menjadikan manusia berpengertian, bijaksana, berakal budi. Hikmat akan menuntun kita pada kesadaran untuk melibatkan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan kita, sehingga kita tidak terjebak pada kata “biasanya”.Percayalah bahwa kata-kata memiliki kuasa yang dapat membangun atau menghancurkan, membahagiakan atau menyedihkan. Karena setiap kata yang diucapkan dapat mendorong seseorang melakukan sebuah tindakan yang positif atau negatif. Itulah sebabnya penulis Amsal menyampaikan setiap hal tentang kata-kata kepada umat Tuhan. Penulis Amsal mengajak kita agar menyampaikan perkataan yang membawa manfaat bagi sesama, bukan perkataan yang dapat menghancurkan lingkungan bahkan tatanan sosial kehidupan kita.

Hal utama yang perlu kita sadari agar setiap perkataan kita membawa dampak baik bagi sesama, lingkungan, dan masyarakat adalah hati kita. Hati yang kita isi dengan nilai-nilai dan kebenaran yang berasal dari Tuhan, yang menjadikan kita bijak dan berpengertian. Hati yang dilingkupi oleh terang Ilahi, yang membawa sukacita besar bagi kita dan sesama. Selain hati,  hal lain yang harus kita perhatikan, yaitu kesabaran dan penguasaan diri. Kesabaran dan penguasaan diri akan menjadi kontrol emosi kita, sehingga kita tidak mudah menyakiti atau membuat situasi menjadi tambah runyam di tengah persoalan yang terjadi. Kesadaran akan hal-hal tersebut akan memudahkan kita terus bertumbuh menjadi pribadi yang baik. Mari senantiasa melibatkan Tuhan di sepanjang hidup kita. Mari kita menjadi manusia yang terus melibatkan Tuhan dan hikmat-Nya. Jangan terjebak pada kata “biasanya”, melainkan mari terus berupaya melakukan yang terbaik bagi kemuliaan Tuhan. Amin. [SWS].

“Menjadi luar biasa di dalam Tuhan.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak