Bacaan: 2 Yohanes 1 : 1 – 13 ǀ Pujian: KJ. 392
Nats: “Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengan dari mulanya.” (Ayat 6)
“Mulat sarira hangrasa wani,” bagi kita orang Jawa pasti mengerti dengan istilah Jawa tersebut. Kalimat tersebut memiliki arti: seseorang perlu bersikap mawas diri dan berupaya menanamkan keberanian dalam hidupnya sehari-hari. Perjalanan hidup orang beriman seringkali berjumpa dengan realitas yang membuat dirinya “ditantang” untuk berani mengambil sikap yang berpengaruh pada jalan hidupnya. Sikap inilah yang dikemudian hari menjadi sebuah identitas diri, yang menentukan arah langkah hidup berikutnya.
Bagi orang Kristen, identitas Allah adalah cinta kasih. Hal ini seharusnya juga menjadi identitas kita. Cinta kasih Allah menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus, sang Anak yang telah mencintai manusia secara tuntas. Untuk mencintai manusia, Tuhan Yesus menanggung resiko: ditolak, diperlakukan semena- mena, dihina, dan tidak dipahami. Namun, Ia tidak kehabisan inisiatif untuk mengasihi. Begitu pun bagi orang Kristen yang mempunyai cinta kasih Allah dalam dirinya, dia tidak akan pernah patah hati untuk mengasihi sesamanya. Pokok ajaran inilah yang menjadi inti dalam surat Yohanes yang kedua ini.
Lalu sekarang, bagaimana kita memelihara ajaran ini dalam kehidupan nyata kita? Bila kita hidup sebagai pengikut Kristus, yang sekaligus juga menghayati ungkapan “Mulat sarira hangrasa wani,” kedua hal tersebut dapat menjadi sebuah kombinasi yang baik bagi kita. Ada hal-hal baik yang saling melengkapi dan mengisi dalam setiap perjalanan hidup kita. Karena itu, janganlah gentar dengan identitas diri kita sebagai pengikut Kristus. Identitas yang sejati adalah ketika kita mampu menghayati dengan sungguh-sungguh makna terdalam dari cinta dan kasih. Terlebih kita mampu menyatakannya melalui laku hidup dan sikap kita sehari-hari. Mari menjadi pribadi-pribadi yang berani menyatakan cinta kasih Allah itu melalui hidup saling mengasihi. Amin. [cito].
“Hidup adalah sebuah proses yang senantiasa menggali kehendak Tuhan atas hidup.”