Bacaan: Imamat 15 : 25 – 31 | Pujian: KJ. 35
Nats: “Tetapi, jika perempuan itu sudah tahir dari lelehannya, ia harus menghitung tujuh hari lagi, sesudah itu barulah ia menjadi tahir.” (Ayat 28)
Ketika kita mengalami suatu musibah yang mengakibatkan luka secara fisik, hal itu tentu menimbulkan ketidaknyamanan. Segala upaya akan kita usahakan demi mendapat kesembuhan. Untuk sembuh dan pulih dari luka fisik pastinya membutuhkan proses yang lama. Bayangkan seseorang jatuh dan terluka di lututnya. Pada awalnya, luka itu perih dan membuatnya sulit berjalan. Ia membersihkan luka itu, memberi obat, dan menutupnya dengan perban. Namun meskipun sudah diberi obat terbaik, luka itu tidak langsung sembuh keesokan harinya. Artinya perlu proses untuk pulih dan sembuh.
Kitab Imamat diberikan Allah kepada bangsa Israel untuk menata kehidupan mereka ketika mereka baru keluar dari Mesir. Bangsa Israel harus hidup kudus sesuai dengan standar Allah. Imamat 15 secara khusus memuat hukum mengenai kebersihan ritual. Jadi ketika seorang perempuan mengalami pendarahan abnormal (Ay. 25), ia dianggap najis secara ritual. Pada zaman itu darah adalah lambang kehidupan. Sehingga darah yang keluar dalam jangka panjang menandakan kondisi rapuh dan dianggap butuh pemulihan. Karena itu, najis ritual menyebabkan seseorang terasing dari komunitas dan tidak bebas beribadah. Ketidakmurnian ini juga membuat seseorang tidak diperbolehkan masuk ke kemah suci. Maka untuk kembali pulih, perempuan itu harus menjalani masa tujuh hari setelah pendarahannya berhenti. Bahkan setelah tujuh hari ia harus mempersembahkan kurban bakaran dan kurban penghapus dosa untuk pemulihan total.
Begitu pula dengan kehidupan kita saat ini, terkadang ada masa di mana kita mengalami pendarahan rohani dalam hidup. Saat pergumulan datang, itu membuat kita merasa tidak berdaya. Saat luka batin timbul dalam diri kita, luka itu membuat kita jatuh dalam dosa dan terasing dari Tuhan. Kita sering memaksa diri “harus cepat pulih”, tetapi Tuhan menunjukkan bahwa beberapa luka perlu waktu untuk pulih. Tuhan bisa saja memulihkan perempuan itu dalam sekejap, tetapi Dia memilih memberi rentang waktu tujuh hari sebelum ia dinyatakan tahir. Karena setiap proses yang Tuhan izinkan bukan untuk menghukum, tetapi untuk mendekatkan kita pada-Nya. Pemulihan itu butuh proses, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan kita di dalam proses itu. Amin. [Yefta].
“Tuhan akan memulihkan dan menyembuhkan, setialah dalam prosesnya.”