Nafsu Dosa Pancaran Air Hidup 8 Desember 2025

8 December 2025

Bacaan: Yesaya 24 : 1 – 16  |  Pujian: KJ. 436
Nats: “Bumi lisut dan layu, ya, dunia merana dan layu, langit dan bumi merana bersama. Bumi cemar karena penduduknya, sebab mereka melanggar hukum-hukum, melangkahi ketetapan dan mengingkari perjanjian abadi.” (Ayat 4-5)

Dalam pandangan hidup Jawa, antara masyarakat, alam, dan alam adikodrati (dunia yang berhubungan dengan kekuatan-kekuatan gaib) merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta atau dalam diri manusia direfleksikan sebagai pola sebab-akibat. Bencana bisa terjadi ketika manusia gagal menjaga harmonisasi dengan alam dan alam adikodrati.

Yesaya memperingatkan pemimpin Israel akan penghakiman Allah. Ada harga mahal yang harus dibayar atas pemberontakan dan pelanggaran mereka terhadap perjanjian dengan Allah. Allah akan memakai bangsa Asyur dan Babel untuk menghukum Yerusalem apabila mereka tetap menyembah berhala dan menindas orang miskin. Kehancuran akan menyertai kota-kota angkuh, yang meninggikan dirinya di atas Tuhan, jahat dan tidak adil. Itulah gambaran penduduk kota Yerusalem, Asyur, dan Babel sebagai model manusia pemberontak. Akibat dosa-dosa mereka, tanah tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Tidak ada lagi sukacita karena semua orang akan mengalami dampak terburuk dari penghukuman Tuhan. Keadilan Tuhan akan datang seperti api pemurnian yang menghanguskan sekaligus menahirkan bangsa-bangsa yang bebal. Namun Yesaya berpegang pada pengharapan akan janji pemulihan ketika pertobatan dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Cara masyarakat Jawa menghormati alam semesta memberi ruang bagi alam untuk ada dalam keteraturan. Hidup bukan hanya tentang kita, tetapi juga yang lain. Perilaku manusia mempengaruhi keberlangsungan alam. Keserakahan, dan kecenderungan untuk mengeksploitasi, membuat manusia tidak peduli akibatnya. Dosa telah merasuk setiap sendi kehidupan manusia, mendorongnya melakukan apapun demi keuntungan meski harus merugikan bahkan menindas sesama. Pada masa adven ini, kita dipanggil untuk bertobat baik secara pribadi maupun bersama. Harmonisasi kehidupan yang hancur karena manusia yang berbuat dosa, mengajak kita bergerak untuk meninggalkan keangkuhan, kesombongan, serta hasrat menguasai dan menindas sesama. Pemulihan atas bumi bukan hanya angan, tetapi mewujud nyata karena kehendak Tuhanlah yang terlaksana. Amin. [wdp].

“Nafsu dosa menghancurkan kehidupan, tetapi pertobatan sejati adalah awal dari pemulihan.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak