Bacaan: 2 Timotius 1 : 13 – 18 | Pujian: KJ. 344
Nats: ‘’Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus.’’ (Ayat 13)
Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris yang berbunyi ‘’Standing on the shoulders of giants’’ yang memiliki pengertian bahwa kita yang hidup pada masa kini, bisa memiliki ilmu pengetahuan, itu dikarenakan jasa dari para pendahulu kita yang sudah memulai terlebih dahulu. Istilah ini dipopulerkan oleh ilmuwan asal Inggris yaitu Sir Issac Newton melalui surat yang ia tulis pada tahun 1675. Isinya mengandung sebuah pesan yang mengajarkan kepada kita untuk menjadi sosok yang rendah hati dan tidak jumawa atas segala pencapaian kesuksesan kita. Dibalik keberhasilan kita, ada sosok lain yang berjasa mempersiapkan jalan dari kesuksesan kita.
Demikian pula dengan kehidupan iman kita. Kita bisa memiliki pengenalan akan Kristus tentu karena adanya jasa dari pihak lain. Pihak lain itu seperti orang tua, anggota keluarga, komunitas beriman (Pendeta, katekit, sesama warga jemaat), rekan kerja atau sekolah bahkan bisa dari pihak-pihak yang tidak kita duga sama sekali. Hal yang sama juga nampak pada bacaan Alkitab hari ini yang hendak menekankan pada peranan Timotius yang menjaga tradisi sebagai wujud iman. Perlu diingat bahwa Timotius dapat melakukan kesemuanya itu karena peranan para pendahulunya yaitu neneknya Lois, ibunya Eunike dan juga bapa rohaninya Rasul Paulus. Tanpa keberadaan pribadi-pribadi tersebut nampaknya akan cukup sulit mendapatkan karakter dari Timotius seperti sekarang ini.
Dalam suasana bulan Ekumene ini, kita kembali diingatkan untuk senantiasa memelihara relasi atau hubungan terhadap para pendahulu-pendahulu yang telah berjasa bagi kita. Sekalipun mereka sudah tidak bersama lagi dengan kita, namun kenangan, ajaran, dan peranan mereka tetap kita kenang dan tidak kita lupakan. Salah satu wujud penghormatan kita terhadap pendahulu kita adalah dengan meneruskan dan mengembangkan karya-karya yang telah mereka rintis. Misalnya kita melanjutkan upaya GKJW membangun Persaudaraan Sejati dengan umat lintas agama yang dipelopori oleh Alm. Pdt. Wismoady Wahono. Upaya tersebut kita dilakukan agar terbangun nilai-nilai toleransi, persaudaraan, dan kerukunan di tengah kehidupan bersama, terlebih demi kemuliaan nama Tuhan. Amin. [ads].
“Jangan menjadi kacang yang lupa pada kulitnya!”