Bacaan: Keluaran 13 : 17 – 22 | Pujian: KJ. 406
Nats: “Tetapi, Allah menuntun bangsa itu melalui jalan memutar di padang gurun menuju ke Laut Teberau.” (Ayat 18a)
Kita semua pasti menyukai jalan yang lurus, mudah, dan cepat. Jika kita ingin mencapai tujuan dengan cepat, naluri kita adalah mencari jalan pintas atau melalui jalan tol yang bebas hambatan. Namun, bagaimana jika Allah Sang Penuntun Agung memilihkan kita jalan yang memutar? Pasti akan ada tanda tanya besar dalam pikiran kita.
Bacaan kita hari ini memberikan gambaran yang mengejutkan tentang cara Allah memimpin umat-Nya Israel, keluar dari perbudakan Mesir. Menurut ayat 17, Allah sengaja menuntun bangsa Israel menghindari jalan pintas melalui daerah Filistin, di mana bangsa Filistin dikenal sebagai bangsa yang mahir berperang. Sedangkan bangsa Israel belum siap mental dan fisik untuk berperang. Sekalipun jalan ini adalah jalur terpendek yang bisa dilalui sekitar 11 hari saja untuk sampai ke Kanaan. Tuhan Allah justru menuntun bangsa Israel melalui jalan memutar. Kata “berputar” (Ibrani: ‘wayyal berarti membelokkan) menunjukkan bahwa ini adalah keputusan yang disengaja. Allah tahu keterbatasan umat-Nya. Dia tahu bahwa jika mereka langsung dihadapkan pada perang besar, mereka akan “menyesal dan ingin kembali ke Mesir” (Ay. 17), maka Allah memilih jalur yang lebih sulit secara geografis, yaitu padang gurun tetapi lebih aman secara emosional dan spiritual. Jalan berputar ini bukanlah tanda kelalaian Allah, melainkan tanda perhatian Allah dan cara Allah mempersiapkan bangsa Israel secara mendalam. Ini adalah strategi Allah untuk melindungi umat-Nya dan melatih mereka untuk bergantung pada tuntunan-Nya, walaupun jalan tersebut terasa lebih sulit dan tidak logis menurut akal manusia.
Dalam dunia pendidikan Kristen, YBPK GKJW, saat ini sedang menghadapi berbagai tantangan. Tantangan tersebut meliputi kompetisi yang ketat dengan sekolah negeri dan swasta lainnya, perubahan kurikulum yang cepat, perkembangan teknologi yang menuntut adaptasi, serta menjaga identitas dan nilai-nilai Kristiani di tengah arus sekularisasi. Sama seperti Allah menghindari peperangan agar Israel tidak kembali ke Mesir, YBPK mungkin harus menempuh jalan berputar yang tidak selalu mudah atau populer, misalnya: berpegang teguh pada etika dan integritas Kristiani daripada sekadar mengejar keuntungan material atau popularitas semata. Meskipun harus menghadapi padang gurun berupa kesulitan dan keterbatasan, semangat untuk terus bergerak maju, berinovasi serta melayani tidak boleh pudar. Bersama tuntunan Allah, YBPK pasti mampu menjalaninya. Amin. [garlic].
“Tak ada tekanan, tak ada berlian.”