Bacaan: Bilangan 21 : 4 – 9 │ Pujian: KJ. 32
Nats: “Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.” (Ayat 9).
Abraham Maslow menyatakan bahwa manusia memiliki 5 kebutuhan, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan, dan kebutuhan akan aktualisasi-diri. Sifat dari kebutuhan tersebut saling terkait dan bersifat hirarkis ke atas. Kita tidak mungkin mampu mencapai tahap aktualisasi diri, apabila kebutuhan kita masih di tingkat fisiologis, dan selanjutnya.
Bilangan 21:4-9 mengisahkan umat Israel yang menggerutu dan protes kepada Musa. Mereka melupakan berkat Tuhan yang baru saja mereka alami. Mereka tidak menghargai pemeliharaan Tuhan. Mereka menganggap Manna sebagai makanan hambar. Mereka tidak bersyukur sama sekali, padahal makanan itu yang membuat mereka bertahan hidup. Akibat dari kekecewaan ini dan sikap bersungut-sungut mereka, kali ini Tuhan menghukum mereka dengan mengirimkan ular tedung untuk memagut mereka. Banyak di antara mereka yang mati karenanya. Kemudian mereka bertobat dan meminta Musa berdoa bagi mereka. Sangat menarik pengampunan Allah dinyatakan dengan cara memerintahkan Musa untuk membuat Ular Tembaga yang diletakkan pada sebuah tiang. Bagi mereka yang telah dipangut ular, mereka diperintahkan untuk melihat ke arah Ular Tembaga itu supaya selamat.
Perintah Tuhan itu sepertinya tidak sesuai nalar manusia. Bagaimana mungkin orang yang dipagut ular Tedung bisa selamat hanya dengan memandang ular Tembaga di atas tiang. Tetapi itulah jalan yang Allah sediakan bagi bangsa Israel. Peristiwa itu merupakan gambaran dari apa yang akan terjadi kemudian di dalam Yesus Kristus. Dimana Yesus Kristus rela mati di atas kayu salib untuk menggenapi karya keselamatan Allah. Dengan kata lain, orang percaya akan selamat dari dosa jika memandang Yesus Kristus yang tersalib. Tidak hanya itu, waktu kita mengarahkan pandang kita pada Yesus Kristus yang bangkit, maka kehidupan kita yang sulit dapat kita lalui dengan kekuatan dan anugerah Allah. Jika kita hanya melihat pada diri kita sendiri, maka yang ada hanyalah kelemahan, kekecewaan dan penyesalan. Tetapi jika kita memandang pada Yesus Kristus, maka kita akan beroleh kekuatan, pengampunan, dan hidup yang bermakna. Amin. [Mts].
“Allah bukan hanya menyelamatkan kita, tetapi juga menganugerahkan suatu kehidupan baru.”