Bacaan: Yesaya 29 : 1 – 12 | Pujian: KJ. 67
Nats: “… engkau akan melihat kedatangan TUHAN Semesta Alam dalam guntur, gempa dan bunyi dahsyat, dalam puting beliung dan badai, dalam nyala api yang memakan habis.” (Ayat 6)
Tahun 1992, film Doraemon: Nobita dan Kerajaan Awan dirilis dengan mengangkat pesan mendalam tentang hubungan antara manusia dan alam. Dalam film itu, manusia digambarkan telah semena-mena terhadap alam, sehingga makhluk-makhluk alam lain merasa perlu mengadili dan membalas perlakuan tersebut. Namun di akhir cerita, muncullah Kibo, pohon kecil yang pernah diselamatkan Nobita dan kini telah menjadi Menteri Alam. Dalam persidangan semesta itu, Kibo berdiri dan berkata, “Memang bumi terus mengalami kerusakan, tetapi masih ada manusia yang sadar bahwa alam harus dilindungi. Memang lambat, tetapi itu pasti. Mari kita beri kesempatan sekali lagi.” Kalimat ini bukan sekadar pembelaan bagi Nobita dan kawan-kawannya tetapi juga seruan bagi kita bahwa harapan masih ada dan kesempatan memperbaiki dunia masih terbuka.
Nada serupa juga kita jumpai dalam Yesaya 29:1-12. Melalui Yesaya, Allah menyatakan keprihatinan-Nya atas bangsa Yehuda yang tidak setia kepada-Nya. Ketidaksetiaan itu tidak hanya merusak hubungan antara Allah dengan manusia saja, tetapi juga dengan sesama. Karena itu, hukuman dinyatakan Allah melalui kehadiran-Nya dalam rupa guntur, gempa, puting beliung, badai, dan nyala api. Gambaran bencana dan malapetaka yang akan menimpa Yehuda. Namun, dibalik hukuman itu Allah turut menyertakan undangan pertobatan. Allah tidak menutup pintu pemulihan bagi umat-Nya. Di balik keprihatinan-Nya, Allah tetap menantikan umat-Nya untuk kembali.
Memang relasi antara manusia kerap diwarnai ketegangan, sebab manusia sering menempatkan diri sebagai pusat dan penguasa atas ciptaan, apalagi saat dihimpit oleh berbagai kebutuhan hidup, dan minimnya kesadaran akan spiritualitas lingkungan. Akibatnya alam menjadi korban dan pada akhirnya manusia jugalah yang menanggung deritanya. Karena itu, kita dipanggil untuk terlibat aktif memulihkan relasi ini. Pemulihan relasi ini bukan hanya sebagai kewajiban moral, namun juga panggilan dan kesadaran iman untuk terus merawat seluruh ciptaan, sebagaimana Allah merawat dunia ini. Kiranya damai sejahtera Allah terjadi di tengah dunia ini. Amin. [RAL].
“Meski aku kecil dan lemah, aku ingin melindungi teman-temanku, dan sesama ciptaan”-Kibo dalam film Doraemon