Bacaan: Lukas 14 : 25 – 33 | Pujian: KJ. 375
Nats: “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Ayat 33).
Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga berencana untuk bepergian dengan moda transportasi Kereta Api. Salah satu syarat untuk bisa menggunakan moda transportasi tersebut adalah setiap penumpang harus menjalani Swab Antigen. Sebenarnya hal ini biasa saja, lumrah selama masa pandemi seperti ini. Akan tetapi, salah seorang anggota keluarga kami adalah anak berusia di bawah 3 tahun. Bisa dibayangkan betapa sulitnya bagi seorang anak usia tersebut untuk bisa duduk tenang menjalani proses Swab Antigen. Maka gagallah kami memenuhi persyaratan tersebut dan harus mempertimbangkan alternatif lainnya.
Saat ini sangatlah lumrah, untuk dapat mengakses sebuah layanan tertentu, kita harus terlebih dahulu memenuhi persyaratan tertentu. Untuk menjadi murid Yesus-pun rupanya ada syaratnya juga. Syarat utamanya adalah melepaskan diri dari segala miliknya, termasuk membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudaranya laki-laki/ perempuan bahkan dirinya sendiri (bdk Luk 14:26). Sepintas lalu syarat ini terlihat sangat berat untuk bisa dipenuhi. Bahkan seolah-olah Yesus mengajarkan kebencian kepada orang-orang terdekat dari mereka yang hendak menjadi murid-murid-Nya. Tidak, tentu tidaklah demikian. Yesus sama sekali tidak mengajarkan kebencian. Yesus hanya ingin menilai kesungguhan hati mereka yang akan mengikuti Dia.
Kemelekatan terhadap sesuatu hal, baik harta bendawi, anggota keluarga atau hal lain-lainnya yang sifatnya lebih dari kemelekatan kepada Tuhan, bisa menjadi faktor penghambat dalam mengikut Tuhan. Contohnya adalah ketika seseorang melekat kepada Mamon (uang/ harta) maka akan menjadi sangat sulit bagi orang seperti itu untuk bisa mengabdi kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh (bdk. Mat 6:24). Tuhan tidak ingin dibandingkan dengan apapun juga yang berpotensi memikat hati dan iman seseorang untuk beralih kepada sesuatu yang lain. Penyangkalan diri menjadi syarat mutlak untuk menjadi murid-murid-Nya (bdk. Mat. 16:24; Mrk. 8:24 dan Luk. 9:23). Amin. [DK].
“Sangkal diri, pikul salib”