Bacaan: Hakim-Hakim 16 : 23 – 31 | Pujian: KJ. 29 : 1 – 4
Nats: “Berserulah Simson kepada Tuhan, katanya: ”Ya Tuhan Allah, ingatlah kiranya kepadaku dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah, supaya dengan satu pembalasan juga kubalaskan kedua mataku itu kepada orang Filistin.” (Ayat 28)
Pada masa sekarang ini, begitu banyak orang yang menganggap remeh sebuah pertobatan. Seperti halnya seorang yang sedang menyantap rujak pedas yang membuat “kapok lombok”, demikian pula kita dalam “menyantap” dosa. Banyak dari kita yang seakan-akan kapok untuk berbuat dosa, namun tak berselang lama, kita tetap saja kembali berbuat dosa. Entah dengan alasan bahwa justru dari dosa itulah sumber penghidupan atau sumber kepuasan kita, sehingga seakan-akan hal ini mengerdilkan kuasa Tuhan yang menjadi sumber kehidupan dan yang mampu mengubahkan hidup seseorang.
Zaman hakim-hakim adalah zaman dimana tidak ada seorang pun yang memiliki wibawa sebesar Musa dan Yosua. Saat itu orang Israel hidup terpencar di berbagai penjuru tanah Kanaan. Secara formal mereka tidak memiliki pemimpin/raja; yang ada hanyalah pemimpin informal yang muncul sebagai penyelamat, yang kemudian disebut sebagai hakim. Pada masa Simson menjadi hakim, bangsa Israel sedang dalam bahaya besar, karena ditindas bangsa Amon dari bagian Timur dan bangsa Filistin di bagian Barat. Bagian bacaan kita pada saat ini, memperlihatkan situasi dimana Simson pada akhirnya berhasil ditangkap, setelah dikalahkan oleh bujuk rayu Delila. Kelemahan Simson dalam hal penguasaan diri terhadap lawan jenis menjadi celah dosa yang menjatuhkannya. Namun di akhir hidupnya, Simson dengan sungguh bertobat kepada Allah. Pertobatan yang dilakukannya dengan sepenuh hati membuat Allah menjawab doa Simson. Simson mendapatkan kekuatannya kembali. Pada akhirnya, ia merelakan dirinya tewas bersama dengan raja-raja kota itu dan seluruh orang Filistin yang ada di dalamnya. Secara tidak langsung, ia pun berhasil menyelamatkan bangsa Israel dari marabahaya.
Kesabaran Allah bukanlah kesabaran yang permisif dalam menolerir dosa. Ketiadaan komitmen untuk mendedikasikan diri pada Allah, justru akan membawa kita kepada kebinasaan. Karena itu, pertobatan dengan sepenuh hati perlu kita lakukan. Percayalah, sedalam apapun dosa yang kita lakukan, jika kita dengan sepenuh hati bertobat dan meninggalkan segala pikat dosa yang menjerat, maka Allah akan menolong dan memelihara langkah hidup kita selanjutnya. Amin. [YAH].
“Pertobatan yang sungguh diikuti dengan perubahan sikap dan laku hidup yang sungguh.”