Bacaan : Matius 15 : 1 – 9 | Pujian : KJ. 356
Nats: “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.” (Ay. 9)
Ada sebuah peribahasa Jawa yang terkenal, “mburu Uceng kelangan dheleg”, arti harafiahnya “Memburu ikan uceng tapi malah kehilangan ikan dheleg/Gabus”. Keduanya adalah ikan sungai, tetapi berbeda ukuran. Rata-rata ikan uceng berukuran kecil, kira-kira seukuran jari. Sedangkan ikan gabus berukuran sebesar lengan orang dewasa hingga yang paling besar bisa mencapai belasan kilogram. Karena itu peribahasa ini digunakan untuk mengingatkan orang yang seringkali mencari hal kecil sampai kehilangan hal yang lebih besar.
Orang Farisi dan Ahli Taurat dalam bacaan hari ini serupa itu. Apa yang mereka ingatkan kepada Yesus dan murid-muridnya mungkin hal yang nampaknya baik: mencuci tangan sebelum makan dengan cangkir khusus dengan dua gagang. Dalam tradisi Yahudi disebut netilat yadayim. Sebuah tradisi yang diturunkan dari Kitab Imamat. Namun mengapa Yesus justru mengatakan tanggapan yang negatif kepada tradisi tersebut? Bukan pada tradisinya, tetapi pada niat dibalik sikap orang Farisi dan Ahli Taurat. Mereka mengingatkan itu bukan untuk kebaikan, tetapi sekadar untuk mencari kesalahan Yesus dan murid-murid-Nya, berusaha menjatuhkan Yesus dihadapan pengikut-pengikut-Nya. Ada udang di balik batu dan udangnya berbau busuk. Mereka hanya ingin menjatuhkan Yesus. Jika hal yang baik itu didasari oleh niat yang baik karena kasih mungkin beda ceritanya. Nyatanya justru sebaliknya.
Karena itu Yesus mengatakan percuma ibadah mereka kepada Tuhan, karena sebenarnya yang mereka ajarkan perintah manusia. Mereka justru meninggalkan kasih, penerimaan, penghormatan kepada orang lain. Menggantinya dengan kebencian. Maka marilah berhati-hati dengan sikap demikian, jangan-jangan kita pun tanpa sadar sering mburu uceng kelangan dheleg. Bangga dengan prestasi kita sendiri sampai tidak peduli kepada orang lain. Bangga pada kemenangan kita, lalu merendahkan mereka yang kalah. Bangga dengan iman kita tapi diam-diam membenci orang yang kira anggap kurang beriman. Bangga dengan ibadah kita tapi lupa mengasihi setiap hari. Lalu mengatakan yang seolah-olah baik, tapi nyatanya cuma menyindir saja. Mari mencari kehendak Allah dan melakukannya di atas segalanya. (gide)
“Marilah mencari kebaikan bersama-sama yang lain.”