Ingin Tuhan Melihat Renungan Harian 4 Januari 2019

Bacaan : Kisah Para Rasul 7 : 44 – 53 |  Pujian: KJ 387
Nats:
Langit adalah takhta-Ku, dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku. ….” [ayat 49a]

Ayu sedang asyik mengerjakan aktivitas yang diberikan oleh pamong pratama kepadanya. Kali ini aktivitasnya adalah menggambar wajah Yesus. Setelah selesai, Ayu menyerahkan gambarnya kepada pamong dan siap-siap bermain bersama dengan teman-temannya. Melihat gambar Ayu, sang pamong heran lalu memanggil Ayu untuk bertanya. “Ayu kenapa di gambarmu Yesus memiliki banyak mata?” tanya pamong. Dengan polosnya Ayu menjawab “Iya, karena Yesus bisa melihat kemana-mana. Yesus bisa melihat aku, bisa melihat Devi temanku. Bahkan Yesus bisa melihat orang di tempat lain juga. Berarti kan Yesus punya banyak mata untuk melihat”.Sebuah konsep sederhana dari seorang anak bahwa Yesus bisa ada dimana-mana dan melihat siapa saja dimanapun tempatnya.

Tuhan tidak bisa dibatasi dalam sebuah tempat saja. Itu yang hendak disampaikan Stefanus dalam pembelaannya ketika dituduh telah menghina Bait Allah dan Hukum Taurat (Kis 6:13-14). Dalam pembelaannya Stefanus menjelaskan tentang nabi-nabi dalam Perjanjian Lama yang hidup di berbagai tempat dan merasakan anugerah Tuhan di sana. Kutipan dari kitab Yesaya yang disampaikan dalam pembelaan Stefanus menguatkan bahwa kuasa Tuhan tidak terbatas dan tidak dapat dibatasi oleh satu tempat saja atau oleh salah satu bangsa saja. Anugerah Tuhan bisa dirasakan oleh siapapun dan dimanapun, asal mereka benar-benar setia menjalankan perintah Tuhan dengan sepenuh hati. Tidak seperti orang munafik yang dari luar nampak baik, tetapi ternyata malah tidak menuruti perkataan nabi dan juga perintah Tuhan, malah berusaha membatasi kuasa Tuhan untuk kepentingannya sendiri (ay.52-53).

Iya, kuasa Tuhan tidak terbatas dan tidak dapat dibatasi oleh apapun juga. Seperti gambar yang dibuat Ayu, juga seperti yang dialami oleh para nabi Perjanjian Lama dalam pembelaan Stefanus. Kita dapat merasakan kuasa Tuhan yang tak terbatas itu dalam kehidupan kita asalkan kehidupan kita benar-benar bersandar kepada kehendak Tuhan bukan kepada keinginan kita sendiri. Hidup kita senantiasa menjadi berkat bagi sesama dan jangan lagi berbuat jahat karena ingat…Tuhan melihat!![cha]

Besar kuasa-Nya dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan.

 

Bagikan Entri Ini: