Menanti Dengan Tekun, Sehati Di Dalam Doa Pancaran Air Hidup 4 Desember 2025

4 December 2025

Bacaan: Kisah Para Rasul 1 : 12 – 17, 21 – 26  |  Pujian: KJ. 400
Nats: “Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama, dengan beberapa perempuan serta Maria ibu Yesus, dan saudara-saudara Yesus.” (Ayat 14)

Bagi sebagian orang, menanti bukanlah perkara yang mudah. Salah satu ungkapan yang sering kita dengar, yaitu “menanti adalah hal yang membosankan.” Ungkapan ini muncul karena ketidaksabaran dalam hal menanti sesuatu. Tetapi sebenarnya ada hal positif yang didapatkan dalam proses menanti, yaitu menghasilkan kesetiaan dan buah dari kesetiaan dapat mendatangkan kebahagiaan jika yang dinanti adalah sesuatu yang diharapkan.

Dalam perikop hari ini, kita membaca bagaimana para rasul diperhadapkan pada sebuah penantian. Mereka menantikan janji Bapa, yaitu janji akan menerima kuasa Roh Kudus (Ay. 8) dan janji akan kedatangan Tuhan Yesus kembali (Ay. 11). Lalu bagaimanakah mereka menantikannya? Mereka menanti dengan taat. Ketaatan pada perintah Tuhan Yesus ditunjukkan oleh para murid dengan cara mereka kembali ke Yerusalem (Ay. 4). Setibanya di Yerusalem, mereka menuju ke sebuah rumah yang biasa mereka pakai untuk mengadakan pertemuan. Di tempat itu, mereka bertekun sehati dalam doa (Ay. 13-14). Doa dalam kehidupan jemaat mula-mula merupakan bagian yang sangat penting. Suasana penantian akan janji Tuhan juga digunakan oleh para murid untuk memilih pengganti Yudas Iskariot, untuk menggenapi jumlah 12 rasul. Petrus mengambil inisiatif untuk memimpin pemilihan tersebut. Ia juga memberikan beberapa kriteria calon pengganti Yudas (Ay. 21-22). Ada dua orang yang memenuhi kriteria tersebut, yaitu Yusuf yang disebut Barsabas, yang juga bernama Yustus dan Matias. Proses pemilihan dilakukan dengan membuang undi. Cara memilih dengan membuang undi telah lama dipraktikkan dalam kehidupan orang Israel (Bil. 26:55). Sebelum membuang undi, mereka semua bersatu di dalam doa (Ay. 24), sehingga ketika Matias terpilih melalui pengundian itu, mereka percaya bahwa itu adalah ketetapan Allah dan pilihan Allah sendiri.

Konteks kita saat ini tentu berbeda dengan konteks para murid Yesus. Saat ini kita sedang menantikan kedatangan Tuhan Yesus kembali. Apakah yang harus kita lakukan dalam penantian ini? Mari kita tetap bertekun dan sehati berdoa bersama saudara-saudara kita seiman. Percayalah Roh Kudus memberi kita kuasa untuk melakukan kehendak-Nya dan menjadi saksi-Nya. Mari menanti kedatangan Tuhan dengan menjaga hidup kita seturut dengan kehendak-Nya. Amin. [RA].

“Ketekunan dalam penantian menunjukkan kekuatan iman dan kesabaran ”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak