Janji dan Harapan: Kau Berjanji, Aku Percaya, lantas Aku Berharap! Renungan Harian 4 Desember 2019

Bacaan :  Yesaya 54 : 1 – 10  |  Pujian: KJ. 72 : 3, 5
Nats:
“… seperti Aku telah bersumpah kepadanya (Nuh)  …, bahwa Aku tidak akan murka terhadap engkau, lagi.” (Ay. 9)

Korelasi janji dengan harapan adalah …? Bahwa di dalam setiap janji terkandung harapan. Memberikan janji sama dengan memberikan harapan. Menerima janji artinya menerima harapan. Namun jangan dilupakan bahwa di antara janji dan harapan, ada yang namanya “percaya”! Harapan akan muncul jika seseorang percaya terhadap janji yang diberikan. Sebaliknya, jika orang tidak percaya kepada suatu janji, pasti dia tidak akan mempunyai harapan terhadap janji itu. Dalam hal ini percaya berkorelasi dengan kecewa. Saat orang berjanji lantas dipercaya, maka munculah harapan, ketika harapan itu tidak terwujud sesuai janji, maka muncullah kecewa. Di sinilah si pemberi janji disebut PHP (pemberi harapan palsu). Muaranya adalah kekecewaan, kehancuran, sehingga tidak lagi ada kepercayaan.

Sebab itulah Allah memberikan jaminan terhadap janji yang diberikan kepada umat-Nya (ay. 9). Dalam pemahaman lain, ayat 9 ini juga menjadi semacam “segel” terhadap perjanjian yang telah dibuat oleh Allah dengan umat pilihan-Nya. Bahwa “pelangi” adalah meterai kekal terhadap kontrak perjanjian yang telah dibuat kedua belah pihak pada masa lampau. Dan pelangi selalu muncul di langit dan tetap tampak indah sampai jaman milenial ini. Artinya perjanjian Allah dan Nuh berlaku kekal sampai saat ini, walaupun teruji pada masa pengkhianatan umat-Nya dan kemurkaan Allah yang besar, sampai mendatangkan hukuman. Namun Allah teringat kepada perjanjianNya lantas mengambil kembali dan memperbaharui umatNya (ayat 6-7).

Jadi bila seseorang kehilangan pengharapan, hakekatnya orang itu kehilangan rasa percaya. Hilang pengharapan kepada Allah, karena hilang percaya kepada janji Allah. Betulkah kita masih percaya kepada Allah? Buktikan dengan; masihkah kita percaya kepada Allah?  Mengapa kita bisa hilang percaya kepada janji Allah? Karena kita mempunyai harapan yang salah terhadap janji itu. Misalnya janji tentang keskesuksesan hidup, dipahami sebagai kelebihan yang diukur secara materi; harta uang kekuasaan popularitas, bukan dalam arti terpenuhinya segala kebutuhan hidup, yang artinya terpenuhi kebutuhan manusia untuk menjaga kelangsungan hidupnya! (wa-one)

Kecewa, hilang harapan, hilang rasa percaya terjadi karena kita  salah memahami sebuah janji!

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •