Bacaan: Pengkhotbah 2 : 1 – 17 | Pujian: KJ. 405
Nats: “Aku melihat bahwa hikmat lebih bermakna daripada kebodohan, seperti terang lebih berguna daripada kegelapan.” (Ayat 13)
Apa saja material terbaik untuk membangun bangunan yang kokoh? Jawaban teknologi AI berdasarkan hasil pencarian di Google adalah beton bertulang, besi, baja, batu kali/batu gunung, dan bata. Semakin kuat material tersebut, tentu harganya pun juga semakin mahal. Semakin mahal harganya, maka semakin baik pula kualitasnya. Dalam membangun suatu hunian jangka panjang, tentu kita semua megupayakan material yang terbaik agar bangunan tersebut benar-benar kokoh, tahan lama, tahan gempa, anti bocor, dsb. Hunian tersebut menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk kita berlindung. Ibarat memilih material terbaik untuk membangun hunian yang kokoh, membangun hidup dan persekutuan pun juga haruslah demikian.
Raja Salomo yang telah belajar dari berbagai peristiwa dalam hidupnya, berefleksi bahwa nasib semua orang berhikmat ujung-ujungnya akan sama saja dengan nasib semua orang bodoh. Semua akan mati! Ia menyadari bahwa dirinya berhikmat. Ia mencoba mencari makna hidup dalam berbagai kesenangan dan kenikmatan. Semua kesenangan duniawi telah dicobanya: Makanan, minuman, rumah dengan segala kemewahannya, pelayanan dari para hamba, kedudukan, kekuasaan, dan berbagai jenis harta kekayaan. Bahkan banyaknya istri dan gundik untuk memberikannya kepuasan seks pun sudah dicobanya. Namun pada ujungnya, Salomo mengaku dengan mulutnya bahwa segala sesuatu hanyalah kesia-siaan seperti menjaring angin; tak ada keuntungan apapun di bawah matahari.
Melalui refleksi dan pengakuan Raja Salomo, dapat kita menyimpulkan bahwa segala kenikmatan dan kesenangan di dunia ini bukanlah material terbaik. Sifat dari semuanya itu semu, tidak kokoh, tidak tahan lama, dan tidak kuat. Menjadikan kenikmatan dan kesenangan dunia sebagai material untuk membangun diri sendiri dan kehidupan persekutuan kita adalah pilihan yang keliru. Bila suatu saat bencana kehidupan melanda, maka bangunan itu akan hancur dengan mudahnya. Akhirnya, material terbaik untuk membangun hidup adalah hal-hal yang bersifat abadi dan tidak sia-sia, yaitu Firman Tuhan dan segala upaya mewujudkannya di dalam segala peristiwa kehidupan kita. Karena, karakter seseorang yang tumbuh dalam Firman Tuhan adalah karakter yang mahal, berkualitas, kokoh, kuat, tahan dalam berbagai cobaan, dan tidak sia-sia. Amin. [Prst].
“Bangunan yang baik terbentuk dari material-material yang terbaik.”