“Signalling” – Hanya Kulit Bukan Isi Pancaran Air Hidup 4 Agustus 2022

Bacaan: Roma 9 : 1 – 9 | Pujian: KJ. 424 : 3
Nats:
“Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar.” (Ayat 8).

Seorang profesor di bidang marketing di sebuah universitas ternama di Indonesia, membuat sebuah konten Youtube yang menarik. Dalam kontennya tersebut, ia menyampaikan sebuah istilah yakni: “SIGNALLING”. Istilah ini biasa digunakan dalam dunia marketing akhir-akhir ini. Kata SIGNALLING bisa diterjemahkan sebagai memberi isyarat. Artinya seseorang memberi isyarat tentang sesuatu hal tertentu kepada orang lain misalnya: status sosialnya, kekayaannya, kecantikannya dsb, agar memperoleh pengakuan dan penghargaan. 

Kebanggaan sebagai orang Israel – suatu bangsa terpilih – juga menjadi isyarat bagi orang atau bangsa lain tentang kualitas diri seseorang atau bangsa kepada orang atau bangsa lainnya. Maka proses ini menjadi sangat penting agar seseorang mendapatkan penghargaan dari orang lain. Akan tetapi signalling ini juga dapat membawa kita kepada sesuatu yang semu. Kulitnya luarnya tampak baik tetapi isinya tidak. 

Beberapa waktu yang lalu, saya merasa terkejut ketika melihat sebuah konten Youtube tentang bagaimana terjadinya proses make-up (rias wajah) yang disebut make-over. Bagi saya yang awam, perbedaan istilah ini tentu memiliki makna yang sangat dalam. Make-over tentu bukanlah proses rias wajah yang biasa-biasa saja. Pastilah ada maksud untuk merubah tampilan yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa atau jelek menjadi sangat cantik. Hal seperti ini bisa saja membius para perempuan yang kemudian digiring untuk berbondong-bondong membeli produk make-up tertentu. 

Belum lagi gempuran iklan produk tas, sepatu atau asesoris pendukung lainnya, yang mendorong orang untuk terus membelinya demi meraih trend “kesempurnaan” ragawi. Semuanya itu bisa terjadi karena adanya dorongan untuk melakukan SIGNALLING agar dirinya dipandang dan dipuji oleh orang lain sebagai orang terpandang, tampan atau cantik dsb. Sungguh ironis bukan.

Penulis Kitab Roma menegaskan bahwa keistimewaan seseorang bukan karena apa yang tampak dari kulit luarnya. Tetapi kualitas sesungguhnya justru apa yang ada di balik kulit tersebut. Yang disebut sebagai anak-anak Allah bukanlah orang Israel karena faktor keturunan (bdk ay.6). Kualitas anak Allah yang sesungguhnya adalah mereka yang memiliki karakter yang sama dengan Bapanya. Amin. [DK].

“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”

 

Bagikan Entri Ini: