Bacaan : Mikha 4 : 1 – 5 | Pujian : KJ. 445
Nats: “Biarpun segala bangsa berjalan masing-masing demi nama allahnya, tetapi kita akan berjalan demi nama TUHAN Allah kita untuk selamanya dan seterusnya.” (Ay. 5)
Sebagai manusia yang lemah, kita pasti pernah mengalami kegagalan, baik dalam hal usaha di pekerjaan, berelasi dengan sesama, termasuk berelasi bersama dengan Tuhan. Tidak banyak orang mau menyadari kerapuhannya dan kegagalannya dalam berelasi dengan Allah. Karena memang kenyataannya manusia seringkali merasa sempurna dan merasa sudah melakukan banyak hal, padahal belum tentu apa yang dilakukan itu didasari dengan kerendahan hati.
Dalam Kitab Mikha, kita dapat melihat di bagian awal di pasal 1 sampai 3 dimana isi atau tema besarnya adalah tentang sebuah kegagalan dalam hidup beriman. Bangsa Israel menjadi bangsa yang patut mendapat hukuman karena kejahatan dan dosa mereka. Sementara itu di pasal 4, tema yang diangkat ialah tentang sebuah pengharapan umat Allah. Di pasal 6 dan 7 berkisah tentang Tuhan yang menggugat umat Israel karena dosanya. Dan di bagian akhir ditekankan tentang Tuhan yang mengampuni orang-orang yang mengakui dosanya. Dari tema-tema yang ada di kitab Mikha ini setidaknya kita dapat melihat bahwa Tuhan Allah adalah Bapa yang memerintah dengan adil. Ada relasi yang begitu indah termasuk ada sebuah pengharapan dibalik sebuah kegagalan.
Keindahan dari sebuah kegagalan dapat kita nikmati dan kita rasakan ketika kita sudah benar-benar menjaga komitmen dan kesetiaan kepada Tuhan dalam perjalanan hidup kita. Sebuah komitmen yang tidak hanya dilakukan untuk satu keinginan saja melainkan sebuah komitmen yang menguatkan kita untuk berada dalam pengharapan kepada Tuhan. Hidup taat dan setia sampai menantikan karya Allah yang menjadi nyata dalam kehidupan kita memang membutuhkan suatu perjuangan yang terus menerus. Maka di masa Adven ini bersama-sama kita menjalani hidup dengan taat dan setia. Kegagalan di masa lalu biarlah menjadi cerita kelam yang membawa semangat perubahan. Pengharapan untuk masa depan biarlah selalu ada seiring dengan karya Allah yang selalu melingkupi kita dan membawa kita pada proses belajar menyelami serta terus menanti karya-Nya yang indah di dalam kehidupan kita. (ASN)
“Jangan berhenti berharap sebab Tuhan saja tidak pernah berhenti berkarya dalam hidup kita. Maka berpeganglah hanya pada-Nya!”