Bacaan: Mazmur 112 : 1 – 10 | Pujian: KJ. 466A
Nats: “Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; ia pengasih, penyayang, dan adil.” (Ayat 4)
Dalam beberapa waktu terakhir, isu gempa megathrust di belahan selatan Pulau Jawa menciptakan ketakutan bagi wisatawan lokal dan ketidakpastian pendapatan ekonomi bagi pelaku usaha di sektor wisata pantai. Sebab bagi warga yang mengandalkan pariwisata sebagai sumber penghasilan, kabar ini membawa dampak besar. Wisatawan mulai berkurang, dan omset pendapatan warga pun menurun. Banyak di antara para warga yang bertanya, “Bagaimana cara bertahan hidup di tengah kondisi yang sulit ini?” Ketidakpastian ini, menuntut mereka untuk memiliki keteguhan hati dan kepercayaan kepada Tuhan yang senantiasa menopang.
Mazmur 112 mengajarkan tentang berkat bagi orang yang takut akan Tuhan. Mereka yang hidup dalam kebenaran tidak akan goyah, bahkan ketika badai kehidupan datang menerpa. Ayat 6 menyatakan, “Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya.” Tuhan memberikan perlindungan dan keteguhan bagi mereka yang mengandalkan-Nya. Dalam ketidakpastian ekonomi dan kehidupan, iman kepada Tuhanlah yang menjadi jangkar yang kokoh. Orang benar bukan hanya diberkati tetapi diberikan kesempatan untuk melatih diri dalam sekolah kehidupan, sehingga mereka dapat tetap mengucap syukur, dan kedamaian bisa diraih saat mereka menghadapi tantangan.
Dalam Bulan Pembangunan GKJW saat ini, kita diajak untuk melihat pentingnya kesatuan visi dalam menghadapi tantangan bersama. Ketika jemaat dan pemimpin gereja saling menopang, membangun, dan memperjuangkan kesejahteraan bersama, kita dapat melewati masa sulit dengan penuh pengharapan. Gereja bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga wadah kebersamaan, tempat kita menguatkan satu sama lain. Bersama, kita bisa menciptakan kesatuan untuk menghadapi berbagai kesulitan. Mazmur 112 menegaskan bahwa orang benar tidak takut akan kabar buruk, hatinya teguh karena percaya kepada Tuhan. Saat ini marilah kita tetap berpengharapan dan tidak gentar menghadapi tantangan. Dalam situasi apa pun, marilah kita tetap bersandar pada Tuhan, bersatu dalam membangun kesejahteraan keluarga, jemaat, serta masyarakat dengan penuh kasih dan daya juang. Amin. [yopi].
“Orang yang berpegang pada kebenaran Tuhan, tak dibiarkan terkapar kala menghadapi guncangan.”