Hidup Itu Pilihan Renungan Harian 3 Januari 2018

Bacaan: Amsal 1 : 20 33 | Pujian: KJ. 355 : 1
Nats:
“…., maka mereka akan memakan buah perbuatan mereka, ….”(ayat 31a )

Hidup seseorang merupakan hasil dari pilihan-pilihan yang telah dibuatnya. Tidak bisa kalau dikatakan bahwa hidupnya ini karena nasib atau takdir semata.

Penulis kitab Amsal ini menggambarkan hikmat itu seperti seorang yang pergi mengabarkan berita ke tempat-tempat yang ramai (jalan, lapangan, di atas tembok, dan di pintu gerbang) yang memungkinkan kabar yang disampaikan itu bisa didengar orang banyak. Amsal juga mengatakan tentang konsekuensi bagi orang-orang yang mengabaikan nasihatnya dengan datangnya bencana dan bagi orang-orang yang memerhatikan janji untuk menyingkapkan kebenaran dan keadilan.

Kepada siapakah ia memperdengarkan suaranya? Kepada orang yang tidak berpengalaman, pencemooh, dan orang bebal. Ada kesamaan dalam ketiganya, yaitu mereka yang tidak mau berubah, sudah merasa paling pandai,  dan tidak peduli. Kita termasuk yang mana?

Pada hakekatnya Allah adalah sumber hikmat. Jika manusia diciptakan segambar dengan Allah, maka manusia dipastikan akan dianugerahi hikmat yang dari Allah itu, sehingga dimungkinkan manusia mengembangkan kehidupan yang benar di hadapan Allah. Karena jatuh ke dalam dosa,  manusia kehilangan kemuliaan dan hormat dari Allah termasuk di dalamnya kehilangan hikmat itu.

Pada dasarnya setiap manusia memimpikan kehidupan yang dijalaninya merupakan kehidupan yang berkualitas dan punya makna. Tetapi pada kenyataannya manusia tidak mau melewati proses yang benar. Allah bukan diktator. Allah selalu memberi kebebasan kepada manusia untuk mengolah pikiran, hati, dan karsanya. Kasih kita kepada Allah tidak mungkin berdampingan dengan kesukaan kita akan dosa. Kita harus memutuskan hubungan dengan dosa dan menyerahkan diri secara total kepada Allah. Pastikan bahwa semua segi kehidupan kita terbuka pada arahan dan pimpinan Roh Kudus saja. Mari kita hidup dengan hikmat yang dari Allah saja. (DYRA)

‘Hikmat tidak abstrak, tetapi real, yaitu kemampuan menjalani kehidupan berdasarkan kebenaran Allah’

 

Bagikan Entri Ini: