Bacaan: Mazmur 121 : 1 – 8 | Pujian: KJ. 392
Nats: “TUHANlah Penjagamu, TUHANlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.” (Ayat 5)
Dalam kehidupan keluarga, entah kita sebagai orang tua, anak, kakak atau adik tentunya ada kepercayaan yang terbangun karena sebuah ikatan. Rasa percaya itu harus dimiliki oleh setiap anggota keluarga, misalnya adik percaya kepada kakaknya bahwa sang kakak akan melindunginya, suami kepada istrinya bahwa istri mampu mengelola keuangan rumah tangga, dsb. Rasa percaya itu muncul bukan berdasarkan kewajiban, tetapi sebuah kesadaran untuk memperjuangkan kehidupan keluarga yang baik sesuai kehendak Tuhan. Jika dalam suatu keluarga tidak ada rasa percaya satu sama lain, maka akan terjadi berbagai persoalan, seperti komunikasi yang tidak baik, saling meragukan, dan tidak memiliki tujuan yang sama.
Bacaan Mazmur 121:1-8, mengingatkan kita tentang keyakinan dan kepercayaan yang dimiliki manusia kepada Tuhan. Tuhan digambarkan sebagai Sang Penolong, yang tidak hanya menolong manusia ketika ada dalam kesusahan, tetapi Sang Penolong yang “tidak akan membiarkan kakimu goyah”, yang artinya Sang Penolong yang selalu menyertai dan melindungi umat. Tuhan Allah adalah penolong yang tidak terbatas oleh waktu dan jarak. Ia adalah penolong yang sejati. Setiap manusia yang berlindung kepada-Nya, Tuhan Sang Penolong Sejati selalu ada bagi umat-Nya dan tidak akan pernah meninggalkan mereka. Penjagaan-Nya kepada umat-Nya abadi, mulai dari lahir sampai pada kesudahan hidup. Tuhanlah Sang Penolong Sejati.
Jika Tuhan adalah penolong sejati, maka kita harus menyadari keberadaan diri kita sebagai umat yang ditolong-Nya. Maka secara sadar kita harus memiliki keyakinan dan menaruh kepercayaan kepada Tuhan Sang Penolong kita. Sama seperti sebuah keluarga, rasa percaya itu tidak diberikan hanya satu arah, tetapi dua arah, dimana rasa “saling” percaya akan semakin menguatkan di antara mereka. Tuhan telah mempercayakan tugas panggilan kepada kita untuk kita kerjakan, yakinlah Ia yang akan menjaga dan menolong kita. Mari kita menaruh rasa percaya kepada Tuhan agar pertolongan dan penyertaan Tuhan selalu kita rasakan. Dengan demikian kita akan selalu mampu menjalankan setiap tugas panggilan kita dengan penuh damai sejahtera. Amin. [AB].
“Percayalah, sebab pertolongan-Nya nyata dalam hidup kita.”