Bertobat Pancaran Air Hidup 28 Agustus 2026

28 August 2026

Bacaan: Yeremia 15 : 1 – 9  |  Pujian: KJ. 24a
Nats: “Engkau sendiri telah menolak Aku, demikianlah firman TUHAN, telah membelakangi Aku. Maka Aku mengacungkan tangan-Ku dan membinasakan engkau; Aku sudah jemu berbelas kasihan.” (Ayat 6)

Titeni, enteni, antemi adalah kata-kata yang menggambarkan seseorang telah mendapati suatu hal yang tidak menyenangkan dalam hidupnya. Ia sedang menunggu momentum yang tepat untuk mengambil sikap pembalasan lalu memberinya pelajaran pada orang yang telah melukainya. Narasi ini pernah heboh menggemparkan publik dalam berita nasional, yaitu pada peristiwa Serda Ucok dkk yang memberi pelajaran kepada preman di Lapas Cebongan.

Bacaan kita saat ini menunjukkan narasi yang sama dengan cerita di atas. Tuhan Allah merasa jemu untuk mengingatkan bangsa Israel dan peringatan-Nya itu tidak direspons sama sekali oleh bangsa Israel. Pelanggaran dosa yang dilakukan secara turun temurun dan struktural menyebabkan Tuhan Allah enggan memberi belas kasihan kepada mereka. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan Allah sedang terluka dan lelah akibat dosa dan pelanggaran yang dilakukan umat-Nya secara terus menerus. Ia menunjukkan sikap-Nya yang adil dan tegas dalam bertindak kepada umat-Nya. Bahkan syafaat yang disampaikan Musa dan Samuel tidak bisa mengubah sisi ketegasan dan keadilan Tuhan Allah. Dalam situasi ini kita juga melihat sisi penerima Firman Tuhan Allah, yang berpengharapan supaya hukuman itu tidak terjadi.

Maka dalam situasi krisis seperti itu ada hal yang perlu kita lakukan secara pribadi maupun komunal, yaitu tetap berdoa sembari melakukan pertobatan. Hal ini penting dan mutlak kita lakukan, karena Allah lebih melihat kejujuran daripada kesalehan palsu. Kejujuran di hadapan Allah lebih utama karena melalui itu, di tengah krisis kita bertumbuh dalam iman dan pengharapan akan belas kasih Tuhan. Ketika Tuhan menegur kita, mari kita menyadari kesalahan dan dosa yang telah kita lakukan. Belajar dari kisah hidup bangsa Israel yang enggan bertobat, maka janganlah kita mengeraskan hati, namun mari membuka hati kita untuk kembali kepada Tuhan. Kita jujur mengakui dosa dan pelanggaran kita dan bertobat di hadapan-Nya. Hanya dengan bertobat, Tuhan akan mengampuni kita dan hidup kita akan dipulihkan kembali. Amin. [Dya].

“Sekalipun kejujuran itu pahit, namun manis buahnya.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak