Bacaan: Yesaya 60 : 8 – 16 | Pujian: KJ. 408
Nats: “… sebab dalam murka-Ku Aku telah mengajar engkau, tetapi dalam kerelaan-Ku Aku menyayangi engkau.” (Ayat 10b)
Di era sekarang ini, parenting menjadi isu yang banyak menarik perhatian publik dibandingkan pada era sebelumnya. Kesadaran dan kepedulian akan hak-hak anak adalah salah satu alasannya. Anak tidak lagi dipandang sebagai objek panggulawentah, melainkan juga subjek dari proses panggulawentah itu sendiri. Oleh karena itu, parenting model “banking system” banyak mendapatkan kritik karena sering kali melahirkan kekerasan pada anak. Akan tetapi, parenting model “liberalism system” yang membebaskan juga berdampak kurang baik bagi perkembangan anak. Lalu parenting seperti apa yang tepat?
Bangsa Israel menggambarkan Allah sebagai Bapa dalam kehidupan mereka, di mana Allah digambarkan seperti “orang tua” yang mendidik anak-anaknya supaya bertumbuh dan berkembang dengan baik. Begitu pula dengan bangsa Israel. Akan tetapi, didikan Allah tidak selalu diperhatikan dan diindahkan oleh bangsa Israel, sehingga Allah bersikap tegas kepada mereka, yaitu dengan menyerahkan mereka kepada bangsa Babel. Bukan karena Allah tidak cinta atau sayang, justru sikap tegas itu dilakukan Allah supaya bangsa Israel menyadari akan kesalahannya dan kembali menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak-Nya. Akhirnya, hasil dari ketegasan Allah membuahkan hal baik, dimana banyak bangsa menaruh hormat kepada bangsa Israel. Bangsa-bangsa lain melihat bangsa Israel sebagai bangsa yang kuat dan besar. Hal itu terjadi karena sikap tegas Allah dalam mendidik dan mengajar bangsa Israel.
Menyaksikan pertumbuhan anak dengan penuh kesulitan memang menjadikan hati orang tua sedih dan sakit, sehingga tidak sedikit yang berusaha menjaga supaya anak mereka selalu bertumbuh dalam kondisi “aman” dan “nyaman”. Hal itu tentu saja tidak salah, namun ketegasan untuk membiarkan anak merasakan “kesulitan” menjadi penting diperhatikan. Sekali lagi, bukan bersikap membebaskan anak tanpa batasan maupun bersikap keras kepada anak agar tidak merasakan tantangan, melainkan harus tegas supaya anak bisa merasakan dan belajar dari setiap kondisi yang dialaminya. Maka, parenting model “kite system” (sistem layang-layang) yang didasari sikap tegas perlu dipertimbangkan. Tidak mudah dan mungkin sulit. Akan tetapi, itulah wujud “pengorbanan” orang tua yang bisa menciptakan ketangguhan bagi anak. Amin. [7us].
“Jangan mengikat kambing terlalu kuat supaya tidak mati, tetapi jangan juga terlalu longgar supaya tidak lepas.”