Bahagia dalam Derita Renungan Harian 26 Januari 2021

Bacaan : Kisah Para Rasul 5 : 33 – 42 | Pujian : KJ. 401 : 1, 4
Nats:
Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus.” (Ay. 41)

Bergembira ketika sesuatu yang menyenangkan terjadi dalam kehidupan kita adalah hal yang lumrah. Namun, bergembira ketika sedang mengalami peristiwa menyedihkan, tidak semua orang bisa melakukannya. Malahan, banyak orang berusaha mengejar kebahagiaan dengan berbagai cara. Apalagi dunia ini menawarkan banyak hal yang seolah-olah menjanjikan kebahagiaan. Di tengah situasi demikian, panggilan untuk hidup menderita dalam Kristus menjumpai tantangan yang besar.

Pada masa perjuangan Gereja mula-mula, para rasul mengalami penderitaan hebat. Tekanan, penindasan, fitnah, bahkan penganiayaan adalah hal biasa. Baru saja keluar dari penjara, mereka harus kembali menghadapi sidang Mahkamah Agama Yahudi. Gamaliel, seorang Farisi yang kewibawaannya diakui di kalangan para Sanhedrin menasehati agar rasul-rasul itu tidak dijatuhi hukuman. Nasehatnya: “Tunggu dan lihat, waktu akan membuktikan apakah pekerjaan mereka benar-benar berasal dari Allah. Jika tidak, para rasul dan pengikutnya akan lenyap dengan sendirinya. Secara manusiawi, mereka menghadapi situasi dan penderitaan yang semakin berat. Namun Allah meneguhkan mereka dengan selalu menyertai dan menolong secara ajaib.

Seiring berjalannya waktu, iman kita akan teruji oleh berbagai macam pergumulan dan pencobaan. Keberanian untuk tetap hidup dalam kekudusan dan kebenaran bisa membuat kita terasing dari cara pandang dunia ini. Semakin ingin hidup sesuai kehendak Allah, semakin besar pula peluang untuk menderita. Namun beranikah kita menanggung semua itu? Seperti para rasul, penyertaan Roh Kudus meneguhkan kita untuk menghadapi tantangan. Keteladanan Tuhan Yesus menginspirasi kita untuk berani menderita. Karena dibalik penderitaan demi nama Kristus, ada pengharapan akan kehidupan kekal. Sehingga penderitaan karena Kristus merupakan sumber sukacita sejati. Lagi pula, Tuhan tidak akan meninggalkan dan membiarkan kita berjuang seorang diri. Ia pasti menyertai. (wdp)

“Menderita karena Kristus menjadi sumber sukacita bagi mereka yang melihat hidup ini sebagai perjuangan memikul salib untuk memenangkan pertandingan iman.”

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •