Bacaan : 2 Timotius 1 : 3 – 7 | Pujian : KJ. 246
Nats : “Sebab, Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan penguasaan diri.” (Ayat 7)
Rick Warren berpendapat bahwa, “Kerendahan hati bukanlah memandang diri kurang, tetapi kurang memandang diri.” Kerendahan hati adalah kemampuan diri mengenali kekurangan dan keterbatasan diri, sehingga kita dimampukan untuk berperilaku jujur, baik hati, dan tidak sombong. Kerendahan hati bukanlah memandang diri rendah atau kecil sehingga kita tidak percaya diri untuk melakukan banyak hal. Namun terkadang kita merasa tidak berharga dan merasa pengetahuan yang kita miliki tidak seberapa. Misalnya dalam kegiatan Pemahaman Alkitab, beberapa warga sering kali merasa malu untuk berbicara karena merasa tidak layak dan tidak mampu. Tetapi pada akhirnya, apa akibat dari keragu-raguan itu?
Rasul Paulus menulis surat kepada anak rohaninya, Timotius, saat ia sedang dalam penjara. Paulus sangat yakin bahwa Timotius akan meneruskan panggilan pelayanannya setelah ia mati. Tetapi situasi yang dihadapi oleh Timotius tidaklah mudah, ia harus menghadapi penyesat-penyesat yang menyusup di tengah-tengah jemaat Efesus yang ia layani. Paulus tahu apa yang sedang dialami oleh Timotius, oleh karena itu ia menguatkan Timotius agar tetap setia dan teguh pada kebenaran Firman Tuhan, kendati dia masih muda. Paulus menasihatkan bahwa Allah tidak memberikan roh penakut dan ragu-ragu di dalam menjawab panggilan-Nya, tetapi roh yang penuh kuasa, yang memberikan kekuatan dan keberanian. (Ay. 7). Di sinilah Paulus mengingatkan Timotius agar dia tetap kuat dalam menghadapi para penyesat, mampu mengendalikan dirinya, dan selalu bersikap rendah hati dalam melakukan segala tugas pelayanan yang dipercayakan padanya.
Firman Tuhan senantiasa menyapa kehidupan kita setiap hari. Firman Tuhan tidak hanya kita pahami melalui kegiatan Pemahaman Alkitab saja, tetapi lebih dari itu untuk kita lakukan dalam hidup kita setiap hari. Janganlah kita ragu akan kebenaran Firman-Nya. Keragu-raguan hanya akan membuat kita berada di tempat yang sama dan tidak menghasilkan apapun. Mari kita selalu mengingat bahwa Roh Kudus selalu memampukan kita untuk berani melayani dan bersaksi kepada dunia. Mari kita menjadi pribadi yang rendah hati. Fokus kita hanyalah kepada Tuhan, sehingga kita sadar siapa kita di hadapan-Nya dan apa panggilan hidup kita. Amin. [66]
“Kesadaran diri siapa kita dan siapa Tuhan menjadi kekuatan dan keberanian untuk kita berkarya.”