Kuduslah Tuhan Pancaran Air Hidup 26 Februari 2022

26 February 2022

Bacaan: Mazmur 99 : 1 – 9 | Pujian: KJ. 7 : 1, 4
Nats:
Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah kepada tumpuan kaki-Nya! Kuduslah Ia! (Ayat 5)

Mari tinggikan Tuhan Allah kita, sembah sujud di tumpuan kaki-Nya!
Mari tinggikan Tuhan Allah kita, Kuduslah nama-Nya!

Di atas adalah penggalan syair pujian yang ditulis oleh Juswantori Ichwan, menurut Mazmur 99. Jika dinyanyikan secara utuh, pujian tersebut mengungkapkan mengapa Allah patut ditinggikan. Tumpuan kaki Tuhan menggambarkan keberadaan manusia yang tidak sebanding dengan betapa agung dan mulia-Nya Tuhan, sehingga manusia harus sujud menyembah-Nya dalam kerendahan. Dalam pasal 99, sebanyak tiga kali Pemazmur menyebutkan betapa kudusnya Tuhan (ayat 3, 5, dan 9). Oleh karena kekudusan-Nya, manusia patut memuliakan Tuhan dengan nyanyian syukur bagi nama-Nya. Menyanyikan syukur dalam hal ini tentu bukan dimaknai secara sempit pada pengertian: menyanyikan pujian rohani, melainkan memuliakan Tuhan dalam segenap hidup dengan didasari penghayatan bahwa Tuhan adalah Raja yang Kudus.

Sebagai Raja yang Kudus, Ia telah melakukan dan menegakkan kebenaran, serta bertindak berdasarkan kasih dan kemurahan-Nya. Ia memerintah dengan belas kasih dan benar-benar memperhatikan seruan umat-Nya. Bahkan menuntun umat-Nya untuk hidup dalam tuntunan perintah-Nya yang membawa keselamatan. Ia Tuhan yang mengampuni, tetapi juga Tuhan yang bertindak dengan keadilan-Nya, yang tak segan menghukum umatNya yang hidup dalam dosa. Meskipun Tuhan adalah Raja yang duduk di takhta maha tinggi, pengalaman iman orang percaya membuktikan bahwa Ia sangat dekat, menyapa, dan tetap membersamai umat-Nya. Dalam pribadi-Nya yang demikian itu, umat haruslah menghormati Tuhan dan merendahkan diri di hadapan-Nya.

Maka dalam kehidupan kita, pemuliaan dan pengagungan Tuhan semestinya kita dasari dengan pengenalan akan pribadi Allah yang kudus, yang bertindak dalam kasih, kebenaran, dan keadilan bagi kita. Ia yang berkenan menyucikan kita dari segala dosa, Ia juga memanggil kita untuk hidup dalam kekudusan dan bertindak sebagaimana teladan-Nya. Dengan demikian, kita memuliakan Tuhan bukan sekadar dengan menyanyikan pujian dan ibadah saja, melainkan dengan laku hidup kudus yang berkenan bagi-Nya. Memelihara kekudusan adalah panggilan hidup yang melekat di dalam diri kita, yang memungkinkan Tuhan benar-benar dipermuliakan dalam setiap tindakan hidup kita. Amin. [wdp].

“Kekudusan hidup adalah bentuk pengagungan, penghormatan dan bakti umat kepada Allah yang Maha Kudus.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak