Hikmat Dan Kehidupan Pancaran Air Hidup 26 Desember 2025

26 December 2025

Bacaan: Amsal 4 : 7 – 15  |  Pujian: KJ. 53
Nats: Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu.(Ayat 13)

Ketika sedang berhenti di sebuah traffic light, saya menyaksikan sebuah kecelakaan antara sebuah mobil dan sepeda motor. Kejadian bermula ketika lampu lalu lintas sudah menunjukkan warna hijau, sehingga sepeda motor di belakang saya langsung tancap gas, sekalipun di depan masih ada beberapa kendaraan yang belum menyeberang secara penuh. Akibatnya, sepeda motor tadi menyenggol bagian belakang mobil dan membuat pengemudinya terjatuh. Menggunakan istilah orang Jawa, pengendara sepeda motor itu bener ketika lampu lalu lintas berwarna hijau berarti melaju, tetapi tidak pener ketika tetap menancap gas kencang padahal di depannya masih ada kendaraan yang belum tuntas menyeberang. Artinya, dalam berkendara di jalan raya, berorientasi pada hal yang bener saja tidak cukup, melainkan juga perlu berorientasi pada hal yang pener, supaya senantiasa beroleh keselamatan.

Dalam Amsal 4:7-15, hikmat digambarkan begitu besar peranannya dalam memelihara dan menjaga kehidupan manusia, sehingga manusia harus memilikinya agar selamat. Hikmat menuntun manusia agar selalu hidup di jalan lurus serta tidak menyimpang dari jalan yang benar. Hikmat harus dipegang sebagai sebuah didikan yang senantiasa mengarahkan manusia pada kehidupan. Oleh karena itu, hikmat harus selalu dipelihara dalam kehidupan manusia, tidak boleh dilepaskan, dan tidak boleh ditinggalkan. Sebagai sebuah didikan, hikmat tidak hanya mengajarkan tentang sesuatu yang bener, melainkan juga sesuatu yang pener. Sebab, hikmat berasal dari Sang Kebijaksanaan Sejati.

Di era post-truth, kebenaran bersifat sangat personal. Bahkan, didukung dengan semangat post-modernism, kebenaran menjadi hal yang cair dan tidak bisa ditentukan ketunggalannya, sehingga bahaya relativisme sering kali menghantui kehidupan umat manusia, yaitu ketika segala kepastian berubah menjadi ketidakpastian. Dalam kondisi yang demikian, sulit memisahkan mana “kehidupan” mana “kematian”, karena keduanya berjalan berdampingan. Karena itu, hikmat menjadi hal yang harus kita miliki supaya kita dapat mengerti dengan bener dan pener dalam bersikap dan bertindak. Peristiwa Natal adalah momen kelahiran. Kelahiran berarti kehidupan. Kehidupan berarti relasi. Maka, hikmat akan selalu menuntun kita untuk “memelihara” relasi, bukan “membunuh” relasi. Sebab, inkarnasi Yesus adalah wujud relasi Allah yang menghidupkan, bukan yang membinasakan. Amin. [7us].

Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” –  Amsal 1:17

Renungan Harian

Renungan Harian Anak